Bulan Sabit ☪ awalnya adalah Simbol Yahudi

Penelitian modern di Kerajaan Yahudi Arab “Himyar” (390-626 M), menunjukkan bahwa Bulan Sabit ☾★ itu sebenarnya simbol Yahudi!

Penelitian modern di Kerajaan Yahudi Arab “Himyar” (390-626 M), menunjukkan bahwa Bulan Sabit ☾★ itu sebenarnya simbol Yahudi!

Sekitar 200 M, Yehudah ha-Nasi menyusun Mishna dari berbagai tulisan tafsir dan kompilasi yudisial (hukum) dari sekolah Rabinis dari abad pertama dan kedua. Pemerintah Romawi menganggap Yehudah sebagai salah seorang pejabat pemerintah mereka dan dibayar dengan status Prefek (wilayah otonom), namun demikian pemerintah juga menjadi semakin bertentangan dengan kepemimpinan Yahudi. Pemerintah berulang kali melarang penggunaan kalender Yahudi sebagai simbol nasionalisme Yahudi.

Padahal Kalender Alkitab diperlukan untuk menentukan bulan baru datangnya Sanhedrin. Pada tahun 358 M, Kaisar Theodosius melarang perayaan Sanhedrin sebagai reaksi terhadap sikap Kaisar Julian sebelumnya yang pro-Yahudi. Akhirnya sebuah aritmatika Kalender Yahudi diadopsi dan digunakan di bawah tanah dan digunakan untuk pertemuan terakhir Sanhedrin. Kemudian muncul perpecahan atas penetapan kalender Yahudi di antara orang-orang Yahudi dari Antiokhia Suriah dan Palestina sehingga memaksa patriark atau Nasi, Rabbi Hillel II, untuk mempublikasikan hasil perhitungan astronomi untuk masuk ke dalam peraturan kalender Yahudi. Orang-orang Yahudi dari Arab, bagaimanapun, tidak menerima putusan ini. Mereka terus membutuhkan peninjauan ulang bulan dan bintang-bintang. Akhirnya, apa yang semula dianggap sebagai argumen rabbi menyebabkan penggunaan sabit sebagai simbol politik identitas. Bulan sabit ini berbeda dari simbol bulan Sabaean, yaitu  miring sekitar 45 derajat untuk mencerminkan cara bulan diamati oleh seorang “saksi” akan datangnya bulan baru (rukyah).

Pada tahun 425 M, Rabi Gamliel VI, patriark terakhir meninggal dunia. Rabbi Gamliel adalah keturunan dari Tanna, Hillel I (wafat 10 M), yang merupakan keturunan Raja Daud. Rabbi Gamliel adalah seorang dokter terkenal dan dihormati oleh Kaisar Theodosius II, namun hal ini tidak mencegah Theodosius II untuk menghapuskan posisi Nasi ketika ia mengeksekusi Gamliel karena membangun kembali rumah-rumah ibadat tanpa izin kekaisaran. Gamliel meninggal tanpa seorang pewaris laki-laki, dengan demikian mengakhiri pula organisasi nasional Yahudi di Israel. 

Qushay bin Kilab bin Murrah (Qussay) (c. 400-480) adalah kakek buyut dari Shaiba bin Hasyim (Abdul-Mutallib, yang punya istri Yahudi). Dia kelima di garis keturunan kepada Nabi Muhammad SAW. Qushay adalah nenek moyang dari Quraisy. Ketika Qushay dewasa, seorang pria dari suku Khuza’a bernama Hulail (Hillel) yang juga pelindung Ka’bah, dan Na’sa (Nasi) – diberi berwenang untuk intercalate kalender. Qushay menikah dengan putrinya dan, sesuai dengan kehendak Hulail’s, memperoleh hak-hak ini setelah dia. Ia mengumpulkan Sanhedrin “balai kota”. Para pemimpin klan yang berbeda bertemu di ruang ini untuk membahas masalah-masalah sosial, komersial, budaya dan politik. Berdasarkan izin kerajaan Abu Karib As’ad Tubba ‘, Qushay membangun kembali Kabah, dan mengijinkan para kahin (dukun) Arab (keluarga Cohen) membangun rumah mereka di sekitar Ka’bah.

Ada tiga Kalender digunakan di Arab.

  • Kalender matematis, diimpor dari Babilon, dan digunakan oleh para pengungsi Yahudi Babilonia – sedikit di Arabia. 
  • Kalender antara (intercalated) digunakan oleh orang-orang Yahudi Arab dan pro-Muslim yang mengikuti keturunan Qushay. 
  • Dan kalender lunar ketat yang digunakan oleh Jurham/Jurhum, yang menolak untuk menerima interkalasi apapun. Kalender sangat lunar ini merupakan kalender resmi antara waktu dari Hillel (358 M) sampai Qushay (440 M).

Dalam Al-Quran, ayat tentang “membelah bulan” mengacu pada adanya perbedaan penghitungan dari dua kalender (intercalated dan lunar ketat), yang pada gilirannya mencerminkan perpecahan antara orang Yahudi dan proto-Muslim. Kalender lunar ketat akhirnya kembali digunakan pada tahun 622 M, tetapi 45 derajat bulan sabit terus melambangkan keutamaan Quraisy, seperti halnya burung merpati melambangkan Tubba (Tobiad) raja-raja Himyar. 

Tidak ada keraguan bahwa Islam melihat diri mereka sebagai “orang-orang Yahudi yang benar”, dan menawarkan agama mereka sebagai alternatif bentuk Yudaisme. Islam lebih mirip dengan Yudaisme selama dua generasi pertama (masa para nabi).

☾★

Sumber http://www.eretzyisroel.org/~jkatz/crescent.html

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s