Pendapat ulama tentang uang

Uang adalah barang budaya (hasil karya manusia) dan hanya terbatas dinar (emas) dan dirham (perak) yang dicetak sebagai uang [Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn al-Haim, Nuzhah fi Bayan Hukmi at-Ta’amul bil Fulus, hal.33]. Fulus walaupun berharga tidaklah sama dengan emas dan perak karena tidak ada zakat padanya [hal. 47]

Al Ghazali berkata tentang emas dan perak, “Di antara nikmat Allah Ta’ala adalah penciptaan dirham dan dinar, dan dengan keduanya tegaklah dunia. Keduanya adalah batu yang tiada manfaat dalam jenisnya, tapi manusia sangat membutuhkan keduanya” [Ihya’ ‘Ulumuddin, 4:96, 97-98]

Ibnu Qudamah berkata, “Sesungguhnya harga -emas dan perak- adalah nilai harta (intrinsik) dan nilai pekerjaan, yang dengan itu terjadilah mudhorobah dan syarikah, dan dia diciptakan untuk itu. Maka disebabkan keasliannya (kemurniannya) dan penciptaannya terjadilah perdagangan yang dipersiapkan untuknya.” [Al Mughni, 2:265 dan 3:17]

Al Maqrizi mengatakan, “Sesungguhnya uang yang menjadi harga barang-barang yang dijual dan nilai pekerjaan adalah hanya emas dan perak saja. Tidak diketahui dalam riwayat yang sahih dan yang lemah dari umat yang manapun dan kelompok manusia manapun, bahwa mereka di masa lalu dan masa sekarang selalu menggunakan uang selain keduanya.” [Ighotsatul Ummah fi Kasyf al-Ghummah hal. 47]. Dan “uang yang dinilai secara syar’i, akal, dan ‘urf adalah emas dan perak saja, sedangkan selain keduanya tidak layak sebagai uang.” [hal. 81]. “Sikap manusia menjadikan fulus sebagai uang adalah bid’ah yang mereka ada-adakan dan kerusakan yang mereka ciptakan; tidak ada dasarnya sama sekali dalam ajaran Nabi, dan dalam menjalankannya tidak bersandarkan pada sistem syari’ah”. [hal. 77]. “Uang selain emas dan perak menjadikan rusaknya segala urusan, kehancuran segala keadaan, dan menyebabkan manusia kepada ketiadaan dan kebinasaan.” [hal. 80].

“Fulus merusakkan nilai uang, merugikan orang-orang yang memiliki hak, mahalnya harga, terputusnya suplai, dan bentuk-bentuk kerusakan yang lain.” [Imam Nawawi, Al-Majmu’, 5:494 dan Suyuthi, Al-Hawi lil Fatwa, 1:134]

Dikutip dari DR. Jaribah ibn Ahmad Al-Haritsi, Fikih Ekonomi Umar ibn Al-Khathab, Khalifa:2003, hal 327 dan 329.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s