Takaran Zakat Fitrah

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على سيدنا محمد و آل سيدنا محمد

صَدَقَةُ الْفِطْرِ atau زَكَاةَ الْفِطْرِ

Zakat Fithri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

أَنَّ رَسُوْلُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّا سِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (pada bulan Ramadhan) kepada manusia.” [Hadits Riwayat Bukhari 3/291 dan Muslim 984 dan tambahannya pada Muslim]

Dan berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri” [Riwayat Abu Dawud 1622 dan An-Nasa’i 5/50]

Zakat fithri WAJIB atas kaum muslimin, anak kecil, besar, laki-laki, perempuan, orang yang merdeka maupun hamba sahaya. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرِ أَوْ صَاعًأ مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْشَ وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma, atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka, kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin” [Hadits Riwayat Bukhari 3/291 dan Muslim 984] *Gantang adalah ukuran yang berbeda dengan Sho’ Madinah tapi di sini digunakan hanya untuk keperluan terjemah.

Sebagian ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

لَيْسَ فِيْ الْعَبْدِ صَدَقَةٌ إِلاَّ صَدَقَةُ الْفِطْرِ

“Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri” [Hadits Riwayat Muslim 982]

Hadits ini umum sedang hadits Ibnu ‘Umar khusus, sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum. Yang lain berkata. “Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri, pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia, yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang miskin.”

Zakat Fithrah adalah mengeluarkan bahan makanan pokok dengan ukuran tertentu setelah terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan (malam 1 Syawwal) dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan.

Zakat Fithrah berupa makanan pokok mayoritas penduduk daerah setempat. Untuk Indonesia dan Nusantara pada umumnya adalah beras.

Syarat sah zakat fithrah:
I. Niat. Niat wajib dalam hati. Sunnah melafadzkannya dalam madzhab Syafi’i adalah:

Niat untuk fitrah diri sendiri:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ نَفْسِي لِلَّهِ تَعَالىَ

(saya niat mengeluarkan zakat fitrah saya karena Allah Ta’ala)

Sedangkan niat untuk zakat fitrah orang lain (misalnya anaknya):

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ فُلاَنٍ أَوْ فُلاَنَةْ لِلَّهِ تَعَالىَ

(saya niat mengeluarkan zakat fitrah fulan atau fulanah karena Allah Ta’ala)

CATATAN : Anak yang sudah baligh, mampu secara fisik, tidak wajib bagi orang tua mengeluarkan zakat fithrahnya. Oleh karena itu apabila orang tua hendak mengeluarkan zakat fithrah anak tersebut, maka caranya:

  1. Men-tamlik makanan pokok kepadanya (memberikan makanan pokok untuk fithrahnya agar diniati anak tersebut).
  2. Atau mengeluarkannya dengan seizin anak.

Cara niat zakat fithrah

  1. Jika dikeluarkan sendiri, maka diniatkan ketika menyerahkannya kepada yang berhak atau setelah memisahkan beras sebagai fithrahnya. Apabila sudah diniatkan ketika dipisah maka tidak perlu diniatkan kembali ketika diserahkan kepada yang berhak.
  2. Jika diwakilkan, diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil (yaitu ‘amil) atau memasrahkan niat kepada wakil. Apabila sudah diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil maka tidak wajib bagi wakil untuk niat kembali ketika memberikan kepada yang berhak, namun lebih afdhol tetap meniatkan kembali, tetapi jika memasrahkan niat kepada wakil maka wajib bagi wakil meniatkannya.

II. Menyerahkan kepada orang yang berhak menerima zakat, yaitu ada 8 golongan yang sudah maklum.

Takaran Zakat Fithrah

Sebuah hadits diriwayatkan sbb:

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ الْفَرَّاءِ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ فَلَمْ نَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ الْمَدِينَةَ فَكَانَ فِيمَا كَلَّمَ بِهِ النَّاسَ أَنْ قَالَ لَا أُرَى مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ إِلَّا تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ هَذَا فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ لَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَدًا مَا عِشْتُ

“Ali ibn Muhammad meriwayatkan dari Waki’ dari Dawud bin Qis Al-Fara’ dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah bin Abi Sarh dari Abi Sa’id al Khudri, ‘Kami mengeluarkan zakat pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam satu sho’ dari makanan, yaitu satu sho’ dari kurma, atau satu sho’ dari gandum barli, atau satu sho’ dari quth, atau satu sho’ dari kismis…”

Dalam lain riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِصَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرِ اَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرِ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ اَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ

“Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) satu gantang makanan, satu gantang gandum, satu gantang korma, satu gantang susu kering, satu gantang anggur kering” [Hadits Riwayat Bukhari 3/294 dan Muslim 985] *kata gantang untuk menerjemahkan kata sho’ meski tidak tepat tapi untuk memahamkan. Akan dibahas rinci di bawah.

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدِ بْنِ عَمَّارٍ الْمُؤَذِّنِ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعْدٍ مُؤَذِّنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ سُلْتٍ

Dan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallalhu ‘anhuma :

فَرَضَ صَدَقَةَ َ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ سَلْتٍ

“Rasulullah mewajibkan satu sho’ gandum barli, satu sho’ korma dan satu sho’ salt”

Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 4/80 dan Al-Hakim 1/409-410

Berapakah Satu Sho’? (مقدار الصاع)

Imam Nawawi dalam Raudhah: “Telah menjadi sulit membuat batasan satu sho’ dengan timbangan, sebab pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takarannya diketahui, dan berbeda-beda ukuran timbangannya, karena beda-beda benda yang dikeluarkan daripadanya, seperti biji-bijian, kacang-kacangan, dll.”

A. Mudd

Satu sho’ sama dengan empat mudd, dan satu mudd sama dengan 6,75 Ons. Jadi satu sho’ sama dengan 27 Ons (atau 2,7 Kg). Demikian menurut madzhab Maliki. (Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Beirut, Dar al-Fikr, tt, Juz II, hal. 910).

Satu sho’ adalah empat mudd. Satu mudd sepenuh dua telapak tangan (cidukan tangan) seorang yang pertengahan (tidak terlalu besar pun tidak terlalu kecil).

مقدراً بالحجم

هو أربعة أمداد والمد أربعة حفنات من الماء بكف الرجل المتوسط ، وبالمقاييس الحديثة:

  • 2430 مللتر عن طريق قياس حجم وزنه من البر (القمح) أو 2512 مللتر بطريقة قياس حفنة الرجل

Mudd (مد) adalah takaran (مكيال), yaitu dua Rithl (menurut pendapat Abu Hanifah) atau satu sepertiga Rithl (menurut madzhab jumhur) atau sebanyak isi telapak tangan sedang, jika mengisi keduanya, lalu membentangkannya, oleh karena itu dinamailah Mudd (Subulus Salam, hal. 111).

Menurut Lisanul ‘Arab, sho’ adalah literan Madinah yang besarnya empat mudd. Dalam satu hadits dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dengan air satu sho’ dan berwudhu dengan air sebanyak satu mudd. (HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Safina, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tirmidzi juga meriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Anas, lihat Sunan Tirmidzi dinukil oleh Ahmad Syakir, jilid 1: 83)

Mudd adalah ukuran literan (volume/isi) Madinah sepenuh kedua isi tangan bila dipertemukan. Mudd sendiri secara bahasa artinya “isi kedua tangan”. 4 Mudd diperkirakan 3 s.d 3.1 liter ukuran sekarang menurut pandangan madzhab Syafi’i. Artinya diperkirakan adalah 2.67 s.d 2.76 kg*

*Catatan: beras = 0.89 kilograms/liter dan nasi = 0.68 kilograms/liter. Jika punya 1 kilogram beras kira-kira adalah 1/0.89 = 1.1 liter

Imam Nawawi dalam Raudhah menambahkan, berkata sekelompok ulama, “Satu sho’ sama dengan empat kali cidukan kedua telapak tangan, dari tangan orang yang pertengahan/sedang” (Jilid 2, hal. 301-302)

1 Mudd itu tidak lebih dari 1 1/3 rathl (Dhiyauddin Rais, Al-Kharaj fid Daulah Islamiyah, 302-303)

Fiqih Sunnah Sayid Sabiq menyatakan, 1 sho’ kira-kira 3 1/3 liter (hal. 127)

Berkata Ibn Hazm: “Penduduk Madinah tidak berbeda pendapat, satu mudd tidak lebih banyak dari satu setengah kati dan tidak lebih sedikit dari satu seperempat kati. Sebagian mengatkaan satu sepertiga kati. Ini tidak berbeda pendapat hanya perbedaan menakar bur, kurma dan Barli” (Al Muhalla, jilid 5, hal. 245).

Dengan demikian jika mengikuti pendapat jumhur, maka satu mudd dalam gram kurang lebih adalah 544 gram (dari satu sepertiga dikali 408) dan satu sho’ kurang lebih adalah 2176 gram (dari 544 dikali 4) atau 2,176 kilogram.

B. Rithl/Rathl

Rithl adalah timbangan berat menurut timbangan Makkah.

Sebagaimana tercantum dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhailli Juz II, hal. 909: “Satu sho’ menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad adalah 8 Rithl ukuran Iraq. Satu Rithl Iraq sama dengan 130 dirham atau sama dengan 3800 gram (3,8 kg). Landasannya adalah adanya riwayat dari ‘Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dengan 8 rathl dan berwudhu dengan 2 rathl.”

Sedangkan madzhab Syafi’i, Maliki dan Ahmad ibn Hanbal mengatakan sho’ adalah 5 1/3 Rathl Baghdad, sesuai timbangan penduduk Hijaz (Makkah). Riwayat ini diperkuat oleh Ibn Hazm ketika meriwayatkan dari Baihaqi dari Husain dari Walid yang mengatakan, “Abu Yusuf pergi haji dan ingin membuktikan satu sho’. Penduduk Madinah mengatakan, satu sho’ kami adalah satu sho’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  Esoknya berkumpullah 50 orang tua-tua baik dari muhajirin maupun anshor masing-masing membawa literan satu sho’. Lalu masing-masing menceritakan bahwa literan tersebut ia terima dari ayahnya dan dari ayahnya seterusnya yang memastikan itulah satu sho’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah diperhatikan semua sama dan pasti bahwa satu sho’ adalah 5 1/3 rathl (Baghdad) kurang sedikit sekali (Baihaqi, Sunanul Kubra 4:171)

Ad-Daruquthni juga meriwayatkan serupa dari Ishaq dari Sulaiman Razi yang bertemu Malik ibn Anas. Malik bin Anas mengundang beberapa orang untuk membawakan literan sho’ dari kakel-kakek mereka dan menakarnya bersama-sama. Dan ternyata benar 5 1/3 rathl. (Syaukani, Nailul Author 4:196)

Husain, rawi di atas, bertemu Imam Malik dan bertanya. Imam Malik menjawab, “Literan tidaklah ditimbang tapi ditakar dengan takaran, inilah dia”.

Ahmad ibn Hanbal mengambil literan sho’ dari Abu Nadar. Abu Nadar mengambilnya dari Zaib. Imam Ahmad mengambil miju-miju yang tidak berubah (beratnya) meski kering, lalu ditakar dengan sho’, ternyata 5 1/3 rathl. (Fiqhuz Zakat, Qardhawi)

مقدراً بالوزن

  • عند الجمهور خمسة أرطال وثلث ويساوي 2.035 كيلوغرام وذهبت هيئة كبار العلماء في السعودية إلى أن الصاع 2.600كيلوغرام وذلك بناءً على أن المد ملء كفي الرجل وكان تحقيق وزن المد لديهم هو 650 جرام تقريباً فيكون الصاع 650 × 4 = 2.600كيلوغرام

Al Fayyumi rahimahullah berkata, “Para fuqaha berkata, ‘Jika dimutlakkan istilah rithl dalam masalah furu’ maka yang dimaksud adalah rithl Baghdadi'” (al Misbahul Munir hal. 230).

Perbandingan Rathl Baghdad dg Rathl Mesir adalah 9:10. Sehingga 5 1/3 x 9 = 10 x n, maka n = 4.8 rathl Mesir, jumlah tersebut sama dengan 2176 gram gandum.

Abu Yusuf dalam al-Kharaj mengatakan “Satu wasaq 60 sho’; 5 wasaq berarti 300 sho’, sedang 1 sho’ 5 1/3 rathl. Dari ukuran ini jelas ini rathl Baghdad sesuai yang dibakukan Khalifah Harun Al Rasyid.

Oleh karena itu tidak bisa sho’ Baghdad diukur dengan rathl Madinah.” (halaman 53)

Ali Pasya menjelaskan bahwa sho’ dan mudd digunakan penduduk Iraq untuk menakar air. Sedangkan penduduk Hijaz (Madinah) menggunakan sho’ dan mudd untuk menakar biji-bijian. Sehingga 5 1/3 rathl benar jika diisi dengan biji-bijian dan 8 rathl benar jika diisi dengan air untuk mandi. Faktanya pun tidak tepat 8 rathl, kurang sedikit, tapi pasti di atas 7 rathl. Karena 5 1/3 rathl biji beratnya sama dengan 7 rathl lebih air, tapi kurang dari 8 rathl. (Fiqhuz Zakat, Qardhawi)

Dan Dr. Muhammad al Kharuf mengatakan, “Sekalipun terjadi perbedaan pendapat maka ukuran rithl Baghdadi sama dengan 408 gram” (al Idhah wa Tibyan, tahqiq oleh Dr. al Kharuf, hal. 56). Sehingga zakat fitrah adalah 408 x 5 1/3 = 2.176 kg.

C. Ukuran Lain

Sedangkan menurut al-Rafi’i dan Madzhab Syafi’i, sama dengan 693 1/3 Dirham (Al-Syarqawi, Op cit, Juz I, hal. 371. Lihat juga Al-Husaini, Kifayat al-Akhyar, Dar al-Fikr, Juz I, hal. 295; Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Dar al-Fikr, Juz II, hal. 141). Jika dikonversi satuan gram, sama dengan 2,751 gram (2,75 kg) (Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqh al Islami Wa Adilatuhu, Dar al-Fikr, Juz II hal, 911).

Dari kalangan Hanbali ada yang berpendapat, satu sho’ juga sama dengan 2751 gram (2,75 kg). Imam Hanafi ukuran satu sho’ menurut madzhab ini lebih tinggi dari pendapat para ulama yang lain, yakni 3,8 kg.

Satu sho’ itu 1/6 liter Mesir, yaitu 1 1/3 wadah Mesir (Syarah Dardiri). Diperkirakan sama dengan 2167 gram (sesuai timbangan gandum). Gandum lebih ringan daripada beras. Maka harus ditambahkan beratnya sebagai imbangan. Sebagian ulama berpegang pada takaran (volume) bukan timbangan (berat).

Ibnu Qudamah meriwayatkan dari Ahmad, “Satu sho’ Ibnu Abi Za’bin adalah lima kati dan sepertiga”. Abu Dawud mengatakan “Lebih utama menambahkan sedikit dari ukuran biasa sebagai tanda hati-hati.” (Al Mughni, Jilid 3, hal. 59).

Kitab At Tadzhib karya DR Mustofa Daibul Bigho menyebutnya 5½ kati Iraq (At Tadzhib hal 233).

Mazhab Hanafi satu sho‘ adalah delapan kati dalam arti setengah sho‘ itu sama dengan dua pertiga sho‘ menurut jumhur. Di mana separuh sho‘ madzhab Hanafi adalah satu gantang ditambah seperenam gantang Mesir, atau satu sepertiga gantang (Radd al-Mukhtar, jilid 2, hal. 83-84).

Dewan Fatwa Saudi Arabia atau al-Lajnah ad-Daimah yang diketuai Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz memperkirakan 3 Kg. (Fatawa al-Lajnah, 9/371).

Adapun Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2,040 Kg. (Fatawa Arkanil Islam, hal. 429).

1 Irdab Mesir = 128 liter (air), yaitu 96 Qadh. 1 Sho’ = 1 1/3 Qadh atau 1/6 Kaliya Mesir. 1 Kaliya = 6 Sho’ dan 1 Irdab = 72 Sho’. Maka 1 Wasaq (60 Sho’) adalah 10 Kaliya Mesir.

D. Gantang

Gantang adalah merupakan suatu alat sukatan lama. 1 gantang sukatannya bersamaan lebih kurang 2.8 kg yaitu sama dengan 4 cupak. Gantang lazimnya diperbuat dari kayu sebagaimana cupak yang biasanya diperbuat dari tempurung kelapa yang besar

Gantang adalah satu ukuran untuk isi padu (volume atau capacity) bersamaan dengan 1 galon imperial Malaysia, hampir sama dengan 4.56 liter sukatan metrik ataupun 1.2 gallon U.S. Khazanah Malaysia mentakrifkan 1 gantang sebagai 4.54609 liter dan 1 liter bersamaan dengan 0.219969 gantang.

Di Brunei, Malaysia, Sabah, Singapura dan Sarawak, abad 19-20, satu unit isi, = 1 imperial gallon (sekitar 4.56 liters atau 1.2 U.S. gallons), bersamaan 5 1/3 pound resmi (kira-kira 2.419 kg) [United Nations, 1966 dan Technical Factors…, 1972, Singapore, hal. 301]. Sumber lain menyebutkan bahwa dalam Straits Settlement satu gantang adalah 32 imperial gallons.

Di Brunei, sebagaimana laporan FAO, gantang digunakan dengan sukatan berat untuk beras (kering), bersamaan 8 paun avoirdupois, iaitu kira-kira 3.63 kg. Tetapi apabila digunakan untuk mengukur padi, gantang bersama dengan 5 1/3 paun sahaja, bersamaan2.419 kg atau sekitar 4.5461 liters. [Technical Factors…, 1972, hal 103]

Gantang di Indonesia, abad 20 – sekarang (UN, 1966), gantang adalah unit volume/isi atau unit sukatan untuk beras, dan adalah bersamaan dengan 8.5766 liter. Semasa penjajahan Belanda, gantang dikira untuk ukuran isi padu sebagai 1/14 pikul (kira-kira 8.38048 liter) tetapi apabila digunakan dengan ukuran berat adalah dikira sebagai sukatan bersamaan 6.15 kg.

Di Malaysia, satu gantang beras memiliki berat sekitar 2.54 kilogram (sekitar 5.60 pounds). [J. L. Maclean, D. C. Dawe, B. Hardy and G. P. Hettel. Rice Almanac. 3rd edition. Oxon, UK: CABI Publishing, 2002]

Di Sabah dan Sarawak, abad 20 menjadi unit berat = 5 1/3 pounds av. (sekitar 2.419 kilogram) [United Nations, 1966]

Di Brunei abad 20 gantang menjadi unit berat untuk beras = 8 pounds avoirdupois (yaitu sekitar 3.63 kilogram), kecuali jika berasnya masih berupa gabah, di mana gantang adalah unit volume kering yang memuat gabah sekitar 5 1/3 pounds avoirdupois (yaitu sekitar 2.419 kilograms). [United Nations, 1966]

Secara umum di Indonesia Timur pada abad 19th – awal abad 20th terdapat dua unit:

  • unit isi/volume, 1/14 of a pikul, sekitar 8.38048 liter [The Netherlands Indies. Buitenzorg, Java: Div. of Commerce, Dept. of Agriculture, Industry and Commerce, no date, 1928(?).]. Namun, gantang berbeda-beda tergantung dari daerahnya, contohnya: Palembang gantang = 4.91 liters, Batavia gantang = 9.595 liters, Makassar gantang untuk pasar lokal = 5.01 liters Makassar gantang untuk pasar ekspor/ keluar daerah = 7.49 liters, Borneo gantang = 13.012 liters [E. J. Blockhuys. Vade-Mecum of Modern Metrical Units. 17th edition, revised and enlarged. Tokyo: Dobunkwan, 1924. Page 49.]
  • unit berat, yaitu 6.15 kilogram

Ulama Indonesia juga banyak berbeda pendapat tentang satu sho’ seperti Kyai K.H. Muhammad Ma’shum bin Ali -Kwaron, Jombang menyatakan satu sho’ sama dengan 3,145 liter, atau 14,65 cm³ atau sekitar 2751 gram.

Sedangkan menurut hasil konversi lain yang di sebutkan dalam kitab Mukhtashor Tasyyidul Bunyan, satu sho’ setara dengan 2,5 kg. Pada umumnya (kebiasaan untuk memudahkan) di Indonesia, berat satu sho’ dibakukan menjadi 2,5 kg. Pembakuan 2,5 kg ini barangkali untuk mencari angka tengah-tengah antara pendapat yang menyatakan 1 sho’ adalah 2,75 kg, dengan 1 sho’ sama dengan di bawah 2,5 kg.

Sebab menurut kitab al-Fiqh al-Manhaj, Juz I, hal 548, 1 sho’ adalah 2,4 kilo gram (Kebanyakan berpegang pada pendapat ini). Ada juga yang berpendapat 2176 gram (2,176 kg).

Di dalam kitab al Syarqawi, op cit, juz I hal. 371, Al-Nawawi menyatakan 1 sho’ sama dengan 683 5/7 dirham. Jika di konversi dalam satuan gram, hasilnya tidak jauh dari 2176 gram. Baca juga Idrus Ali, Fiqih Kontekstual; Khulasah Istilah-istilah Kitab Kuning, Kuliah Syari’ah PP. Sidogiri, 1423 H, hal. 20-21.

E. KESIMPULAN

  1. Menurut hukum asalnya, Zakat Fitrah yang ditunaikan pada dasarnya adalah ‘tho’am‘ yaitu bahan makanan. Sebagian berupa bahan mentah sebagian berupa bahan baku atau bahan olahan. Tidak ada zakat fitrah berupa uang. Zakat Fitrah dari pelbagai komoditas bahan pangan dalam ukuran tetap, tidak melihat jenis bahannya, yaitu takaran volume/isi. Volume/isi dapat dikonversi ke timbangan berat (kg/pound, dll)
  2. Ijma’ bahwa besarnya zakat fitrah adalah 1 sho’ yaitu 4 mudd, di mana satu mudd adalah cakupan dua tangan orang ukuran sedang. http://www.sizes.com/units/mudd.htmhttp://www.sizes.com/units/saa.htm
  3. Mudd dikonversi di Indonesia dengan cupak, yaitu setengah batok kelapa. Dan sho’ dikonversi menjadi gantang, yaitu empat cupak. Akan tetapi secara umum satu cupak lebih besar daripada mudd dan sehingga satu gantang lebih besar daripada satu sho’ Lihat http://www.sizes.com/units/gantang.htm
  4. Bahan pangan yang dizakatkan diutamakan adalah bahan pangan terbaik, atau sesuai bahan pangan yang biasa kita konsumsi. Jika seseorang biasa makan kurma ajwa, maka dengan itu pula ia berzakat. Bila seseorang biasa makan beras rojolele, maka dengan itu pula ia berzakat fitrah.

Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar di Awal atau Pertengahan Ramadhan?
Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan karena kaum muslimin tidak lagi berpuasa. Itulah mengapa zakat fitrah disebut dengan kata fithri karena ada kaitannya dengan perayaan ‘Iedul Fithri. Namun masih dibolehkan jika zakat fitrah ditunaikan sehari atau dua hari sebelum hari raya. Lantas bagaimana dengan pendapat sebagian ulama yang membolehkan zakat fitrah di awal atau pertengahan bulan? Apakah seperti itu benar?

Berikut kami nukil penjelasan dari Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitab beliau Al Mughni. Beliau rahimahullah berkata,

“Jika zakat fithri dibayarkan satu atau dua hari sebelum Idul Fithri, itu sah. Ringkasnya, boleh saja mendahulukan pembayaran zakat fithri satu atau dua hari sebelum Idul Fithri, namun tidak diperkenankan lebih daripada itu.
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كَانُوا يُعْطُونَهَا قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Mereka (para sahabat) dahulu menyerahkan zakat fithri satu atau dua hari sebelum Idul Fithri.” (HR. Bukhari dan Abu Daud).
Sebagian ulama Hanabilah berpendapat boleh menyerahkan zakat fithri lebih segera, yaitu setelah pertengahan bulan Ramadhan. Sebagaimana boleh menyegerakan adzan Shubuh atau keluar dari Muzdalifah (saat haji, pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah wukuf di Arafah, -pen) setelah pertengahan malam.
Adapun Imam Abu Hanifah, beliau berpendapat boleh menunaikan zakat fithri dari awal tahun. Karena zakat fithri pun termasuk zakat, sehingga serupa dengan zakat maal (zakat harta).
Imam Syafi’i berpendapat boleh menunaikan zakat fithri sejak awal bulan Ramadhan sebab adanya zakat fithri adalah karena puasa dan perayaan Idul Fithri. Jika salah satu sebab ini ditemukan, maka sah-sah saja jika zakat fithri disegerakan sebagaimana pula zakat maal boleh ditunaikan setelah kepemilikan nishob.
Adapun menurut pendapat kami, sebagaimana diriwayatkan dari Al Juzajani, ia berkata, telah menceritakan pada kami Yazid bin Harun, ia berkata, telah mengabarkan pada kami Abu Ma’syar, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memerintahkan pada hari Idul Fithri (kata Yazid) di mana beliau bersabda,
أَغْنَوْهُمْ عَنْ الطَّوَافِ فِي هَذَا الْيَوْمِ
“Cukupilah mereka (fakir miskin) dari meminta-minta pada hari ini (Idul Fithri).” (HR. Ad Daruquthniy dalam sunannya dan Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro). Perintah mencukupi fakir miskin di sini bermakna wajib. Jika zakat fithri tersebut diajukan jauh-jauh hari, maka tentu maksud untuk mencukupi orang miskin pada hari raya Idul Fithri tidak terpenuhi. Karena sebab wajibnya zakat fithri karena adanya Idul Fithri. Itulah mengapa zakat fithri disandarkan pada kata fithri.
Sedangkan zakat maal dikeluarkan karena telah mencapai nishob. Maksud zakat maal juga adalah untuk memenuhi kebutuhan fakir miskin setahun penuh. Jadi, zakat maal sah-sah saja dikeluarkan sepanjang tahun. Adapun zakat fithri itu berbeda karena maksudnya adalah mencukupi fakir miskin di waktu tertentu. Oleh karenanya, zakat fithri tidak boleh didahulukan dari waktunya.
Jika mendahulukan zakat fithri satu atau dua hari sebelumnya, itu masih dibolehkan. Sebagaimana ada riwayat dari Bukhari dengan sanadnya dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ .
وَقَالَ فِي آخِرِهِ : وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dari bulan Ramadhan.” Disebutkan di akhir hadits, “Mereka para sahabat menunaikan zakat fithri sehari atau dua hari sebelum hari raya.” Perkataan ini menunjukkan bahwa inilah waktu yang dipraktekkan oleh seluruh sahabat, sehingga hal ini bisa disebut kata sepakat mereka (baca: ijma‘). Karena mendahulukan zakat fithri seperti itu tidak menghilangkan maksud penunaian zakat fithri. Karena harta zakat fithri tadi masih bisa bertahan keseluruhan atau sebagian hingga hari ‘ied. Sehingga orang miskin tidak sibuk keliling meminta-minta (untuk kebutuhan mereka) pada hari ‘ied. Itulah zakat, boleh saja didahulukan beberapa saat dari waktu wajibnya seperti zakat maal”.

[Al Mughni, 4: 300-301]

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s