Berat Dinar dalam Mitsqal dan Ukuran Berat Uang Lainnya

بِسْـــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Image

وصلى الله وسلم وبارك على سيدنا ومولانا محمد وعلى اله وبعد

Uang Dirham (دِرهم) dan Dinar (دِينَار) merupakan standar bagi uang bimetalik berbahan dasar perak (الْفِضَّة) dan emas (الذَّهب). Dirham dan Dinar merupakan alat tukar yang berlaku merupakan uang komoditas karena berdasarkan berat bahan/komoditas masing-masing. Secara literal Dirham dan Dinar adalah nama ukuran standar yang lazim ada pada uang, yaitu sebagai unit of account.

Dirham dan Dinar sendiri secara bahasa artinya adalah “unit of account“. Sehingga kita mengenal besaran 1 Dirham, 2 Dirham, 5 Dirham, dst. Tetapi Dirham dan Dinar itu ditentukan oleh Mitsqal yang artinya “unit of weight“. Artinya Dirham dan Dinar ditakar beratnya, bukan angka pertukaran dan bukan pula angka denominasinya, dinar dan dirham adalah weight-based unit of account, nilainya didasarkan berat. Dinar ditetapkan adalah 1 Mitsqal dan Dirham ditetapkan 7/10 Mitsqal. Artinya bukan nilai Dirham adalah sekian rupiah dan nilai Dinar sekian rupiah. Karena jika hanya sebatas unit of account saja maka Dinar dan Dirham hanya sebatas “unit of account” saja, dia bisa menjadi currency pada uang fiat (fiat money) yang berlaku hari ini, Dinar sebagai kurensi seperti di Iraq, Tunisia, Bahrain, Kuwait, Aljazair, Yordania, Libya, Sudan, dan Serbia; dan Dirham sebagai kurensi di UEA (Uni Emirat Arab) dan Maroko. Penduduk Makkah telah lama menggunakan Dinar dan Dirham sebagai timbangan berat bagi uang.

Berat-berat di atas berkaitan dengan atau ditakar dengan Qiroth ( قيراط ) atau Kharrub/Khurub (خروب); Dan/atau Habbat-sya’irah ( حَبَّةً شَعِيرَةً ) atau Biji Gandum Barli ( حَبَّةً شَعِير ); Atau juga dengan biji Sawi/ Khordal (خردل); Atau dengan gandum/ Khinthoh(حنطة); Atau Danaq/Dinaq/Daniq (دانيق  j.  دوانق). Selain itu dikenal pula Wasaq/Awsaq (الوسق), Awqiyah/Uqiyah (اوقية), Nasy (ناش), Nuwah (نواة), Rithl (رطل), dll., sebagai satuan lain yang bisa diperbandingkan dengan Dinar dan Dirham sebagai sama-sama satuan timbangan berat.

Daniq dikenal sebagai Danake di Persia, beratnya sekitar 1/8 shekel/syikal/mitsqal. Danake sendiri berkaitan dengan Suku (Suku = Satu Kupang) di Nusantara. Suku adalah ½ berat Satak (Satu Atak), dan Atak ½ berat Samas (Samas = Satu Masa). Masa adalah ½ berat Mitsqal.

Lihat tentang standar uang Majapahit

Mitsqal ( مِثْقَال ) adalah unit berat, sedangkan Dinar dan Dirham adalah unit penghitungan (berdasarkan berat) Mitsqal ditimbang berdasarkan berat Biji Gandum Barli dan Kacang Polong Carob. Mitsqal secara bahasa adalah ‘unit’ atau ‘satuan berat’ sebagaimana disebutkan dalam QS 099:007-008.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Kata Dinar sendiri juga berarti unit (berat) emasnya (denarii).

Ibnu Hamam dalam (SyarhFathul Qadir menyatakan:

وقال ابن الهمام في فتح القدير : والظاهر أن المثقال : اسم للمقدار المقدّر به ، والدينار اسم للمقدر به بقيد ذهبيته

Mitsqal berasal dari bahasa Arab lama yaitu مطقال (miʈqāl) yang berarti ‘berat, unit berat’, dari kata طقل (toqola) yang berarti ‘menimbang berat’, kemudian menjadi مثقال yang berarti “unit berat”. Dalam bahasa Persia kemudian diadop menjadi Urdu menjadi مصقال. Dapat dilihat dari kamus istilah tersebut di Kamus Wiki tentang Miskal. Mitsqal sederhananya berarti ‘berat’, seperti στατῂρ dalam Bahasa Yunani atau pondus dalam bahasa Latin, karena digunakan untuk menimbang berat logam mulia.

Jika dirunut sejarahnya lebih jauh lagi kemungkinan berasal dari kebudayaan Akkadian/Accadean ” šiqlu ” yang kemudian lazim digunakan dalam Bahasa Aram, Bahasa Arab dan Bahasa Ibrani. Lihat bahasan tentang siqlu di sini.  Bisa pula dalam pembahasan tentang ukuran siqlu di sini. Istilah ini sudah digunakan semenjak 3,000 SM (Burns, 1927: h. 250) dan Burns merujuk dari Hultsch, Metrologie, h. 393.

1 Mitsqal, dengan demikian, menunjuk pada satu unit berat-dasar (basic-weight) dalam pengukuran, dan diterapkan terutama pada koin yaitu alat tukar/uang, lebih spesifik uang komoditas (uang yang diukur dari berat bendanya). Namun demikian, mengenai bentuk, desain muka, patahan, dlsb tidak menjadi bagian dari pembahasan mitsqal. Masyarakat Makkah menggunakan mitsqal sejak masa jauh sebelum kenabian Muhammad ﷺ (dikatakan masyarakat Madinah mengenal wasaq, sho’  (صاع) dan mud (مد) (gantang dan cupak) yang biasa untuk mengukur volume/isi/literan/takaran (الحجم), dan Makkah mengenal mitsqalawqiyah dan qīrāth yang biasa digunakan untuk mengukur berat (الوزن)). Karena Madinah adalah wilayah pertanian dan penduduk cenderung bertani, maka lebih memerlukan literan teruntuk hasil pertanian mereka (biji-bijian, dll, termasuk air) sedangkan Makkah lebih condong pada perdagangan yang lebih memerlukan timbangan yang teliti dan sensitif (lihat Qardhawi, 1979, hal 345).

Mitsqal sebagai unit berat ditimbang dengan biji gandum Barli atau حَبَّةً شَعِيرَةً yang telah dikenal di Tanah Arab (termasuk Makkah dan Madinah) dan juga di negeri-negeri Romawi. Fiqh Islam menetapkan ijma’ bahwa 1 Mitsqal adalah 72 biji gandum Barli ukuran sedang dipotong kedua ujungnya (Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah). Akan tetapi Shekel/Syikal beratnya adalah 180 biji gandum Barli atau sekitar 11 gram untuk ukuran sekarang (http://en.wikipedia.org/wiki/Shekel). Sehingga Daniq/Danake adalah 1/8 x 11 gram atau 1.05 gram (http://en.wikipedia.org/wiki/Danake ). Dari sini dapat disimpulkan bahwa meskipun ada keterkaitan sejarah, berat Shekel dan Danake tidaklah sama dengan berat Mitsqal dan Daniq.

Dari paparan di atas, mitsqal hari ini tidak bisa hanya diketahui dengan cara membandingkan dengan satu koin historis di museum, meskipun bisa digunakan sebagai sumber sekunder. Namun menentukan berat mitsqal saat ini, dengan satuan berat yang telah disebutkan, dapat diketahui dengan melakukan penimbangan seksama atas berat bandingan yang diketahui, misalnya biji gandum Barli dan menentukan biji yang tepat sesuai Sunnah. Bahkan perlu dicatat bahwa sistem metrik pun didasarkan pada berat biji gandum Barli pula.

Ada pendapat yang mendasarkan Mitsqal dengan berat 24 qīrāth ( قيراط ) yaitu Solidus Byzantium (Bahkan Syekh Yusuf Qardawi tegas-tegas mengatakan bahwa mitsqal mengacu pada Solidus Rum). Akan tetapi, Al Maqrizi dalam Kitab Al-Ighotsah menyatakan bahwa mitsqal adalah 21 3/7 qīrāth (atau 22 dikurangi 1 biji Barli, atau 21.75). Qīrāth dikenal sebagai biji kacang polong (Ceratonia siliqua), atau dikenal sebagai siliqua dalam bahasa Latin, atau ϰϵράτιον (keration) dalam bahasa Yunani, menjadi qīrāth ( قيراط ) atau kharrubāh (خروبة) dalam bahasa Arab. Akan tetapi di masa-masa kemudian (mulai sekitar abad ke 16 Masehi) qīrāth lebih dikenal sebagai pengukur kemurnian/ketulinan logam mulia atau dikenal sebagai Karat (http://en.wikipedia.org/wiki/Carat_(purity) ).

Selain dari biji gandum Barli (حبة/ شَعِير) dan kacang polong Carob (خروب), cara lain mengetahui berapakah mitsqal bisa menggunakan pula biji Sawi (خردل) yang biasa dilakukan orang-orang Yunani yaitu setara 6000 biji sawi (dan dirham adalah 4200 biji sawi) (Al Maqrizi, An Nuqud al-‘Arabiyah). Dan selain daripada itu pula juga ditakar dengan biji gandum (حنطة).

Dinar (دِينَار) adalah satuan berat uang yang setara dengan mitsqal. Dinar disebutkan dalam QS 003:075 yang menyebutkan penggunaan Dinar oleh Kaum Ahli Kitab dan Bangsa Ummi (yang ditafsirkan sebagai bangsa Arab sebelum Nabi Muhammad ﷺ).

وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Imam As Suyuthi menyatakan bahwa orang yang pertama kali menggunakan Dinar adalah Nabi Adam AS. Lihat Jalalud-Din ‘Abdur-Rahman ibn Abi Bakr as-Suyuthi, Tafsir ad-Durrul Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur, Volume I hal. 326 menyatakan:

وأخرج ابن أبي شيبة في المصنف عن كعب قال : أول من ضرب الدينار والدرهم آدم عليه السلام

Artinya: Dikeluarkan dari Ibn Abu Syaibah dalam Al-Mushonnif dari Ka’ab berkata, “Manusia pertama yang menggunakan dinar dan dirham adalah Adam عليه السلام”.

Dirham (دِرهم) disebutkan dalam QS 012:020-021 sebagai uang/alat pembayaran, dimana ketika masih kanak-kanak, Yusuf عليه السلام “dijual” sebagai budak dengan harga dirham, di Mesir.

وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Sebagian sejarawan mengaitkan kata “dinar” dengan “dinarius” (bahasa Yunani δηνάριον (ديناريوس)) yang digunakan bangsa Romawi [lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/Gold_coins  ] dan “dirham” dengan “drachma” (δραχμή) mata uang perak Romawi yang (juga) berasal dari bangsa Persia (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Silver_coin). Sehingga kita mengenal istilah seperti al Dananir Hiraqalah الدنانيرهرقلة (Dinar Heraklius – yaitu Denarius Solidus Byzantium) dan/atau al Dananir al Qoyshoriyah الدنانيرالقيصرية (Dinar Kaisar Romawi). Istilah-istilah tersebut pada dasarnya searti.

Emas (الذَّهَبِ) dan Perak (الْفِضَّةِ) dalam QS 003:014 dinyatakan sebagai perhiasan duniawi yang menjadi cobaan bagi manusia; Padahal QS 003:091 menyatakan tidak ada nilainya emas dan perak di hadapan Allah, artinya secara hakiki emas dan perak tidak memiliki nilai intrinsik; Pemuka Yahudi dan Rahib Kristen punya hobi menimbun emas dan perak yang dilarang Allah (lihat QS 009:034-35); Emas digunakan sebagai perhiasan di surga (QS 022:023 jo 035:033); Emas juga dijadikan sebagai perhiasan duniawi (QS 043:035 jo 053 jo 071)

Emas/perak juga merupakan perhiasan (الْزُخْرُفَ) yang menjadi nama surat dalam Al Quran (43). Selain itu istilah zukhruf (الْزُخْرُفَ) disebutkan pula di QS 017:093. Lihat pula QS 007:148 tentang perhiasan sebagai kekayaan dan bisa dipertuhankan. Lihat pula QS 003:014 tentang perhiasan duniawi.

Emas dan perak menjadi pengukur harta atau maal (الْمَالِ) disebutkan di QS 009:024 sebagai godaan duniawi yang bisa memalingkan dari Allah dan RasulNya; Lihat QS 002:247 tentang pengangkatan pemimpin atas dasar wahyu bukan kekayaan atau ketenaran; Bahkan dalam QS 010:088 disebutkan kekayaan Fir’aun dan para pembesarnya yang menjadi tantangan perjuangan Nabi Musa ‘alayhissalam; Namun kekayaan juga merupakan modal perjuangan, lihat QS 017:006. Selanjutnya lihat QS 018:034 kekayaan digunakan sebagai pamer kekuatan. Dll. Istilah lain adalah kanz (كَنزٌ) atau khazanah [Seperti pada QS 011:012 dan QS 011:031.

Sistem Berat Masa Kini

A.1 Sistem Berat Metrik

Penggunaan gram sebagai satuan berat pada awalnya diperkenalkan pada sekitar tahun 1586 dan baru menjadi standar pada tanggal 20 Mei 1875 (lihat Metric Systemhttp://en.wikipedia.org/wiki/Metric_system ) dan diadopsi oleh International System of Units (http://en.wikipedia.org/wiki/International_System_of_Units ) dan dinyatakan sebagai berikut:

1 gram (g) = 15.4323583529 biji Barli (gr) atau

1 grain = 64.79891 mg = 1 biji (gr) = 0.06479891 gram (g)

lihat Unit Konversi (http://en.wikipedia.org/wiki/Conversion_of_units)

Jadi penetapan gram dalam sistem metrik menggunakan metode yang sama yaitu penimbangan biji gandum Barli. Hal ini mengundang pertanyaan mengapa komoditias ini yang digunakan sebagai takaran? Terlepas dari apa dan bagaimana penetapan gram oleh International System of Unit, penelitian mengenai biji gandum Barli menjadi menarik. Oleh karena itu pemilihan biji dalam penimbangan dilakukan secara seksama.

Prof. Dr. Kameel menyatakan bahwa berat biji Barli adalah 0.0625g, sehingga dengan 72 biji secara matematis ditemukan berat mitsqal adalah 4.5g. Lihat tulisan beliau di blognya.

Karena biji Barli dipotong kedua ujungnya, setidaknya kita hanya memiliki 95%-99% dari berat biji yang ada. Artinya sekitar 4.275 – 4.455 gram.

A.2 Mitsqal dalam Sistem Metrik

Telah dikatakan di atas bahwa ijma’ bahwa 1 unit mitsqal = 1 unit dinar.

Dinar sendiri artinya juga “unit”, unit of account, monetary unit, dlsb. Misalnya pada kata Denarius berkaitan dengan unit (denarii) yang digunakan bangsa Rum (Byzantium). Semisal uang Solidus yang beratnya 4.5 gram (atau 4.55 gram) jika berada dalam beberapa unit, misalnya 3 keping solidus disebut 3 denarii.

Untuk mengetahui berapakah berat Mitsqal dalam Sistem Metrik modern yaitu gramologi atau gram dapati dilakukan penelitian dengan menimbang Biji Gandum Barli. Selain itu penelitian dilanjutkan untuk memperkuat hasil penimbangan dengan pendekatan di antaranya:

Penimbangan biji gandum Barli. Gandum Barli yang dipilih sesuai kaidah sunnah yaitu: (a) ditumbuhkan secara organik dengan cara pertanian tradisional yang digunakan berabad-abad. (b) tumbuh di sekitar Yaman, Madinah, Etiopia/Abbysinia, dll. (c) berukuran sedang yaitu ukuran tengah dari berbagai contoh gandum Barli yang ditemukan. (d) tingkat kekeringan sedang, sebagai asumsi kekeringan biji siap olah di dalam tradisi amal Madinah (e) dipotong kedua ujung dengan cara/metode pemotongan sunnah Amal Madinah yaitu dipotong kedua ujungnya untuk pengolahan. Pemilihan biji, pemotongan biji dilakukan dengan bimbingan seorang faqih dan pengetahuan yang cukup fiqh empat madzhab terutama Fiqh Maliki dan Fiqh Perbandingan Madzhab. Beberapa jenis biji gandum Barli diketahui dan dipergunakan untuk mendapatkan akurasi berat. Namun demikian, disadari bahwa biji gandum yang beredar di Tanah Arab relatif lebih kering, dibanding biji gandum Barli yang beredar di Timur. (Tanah Hijaz sangat sulit (jadi jumlahnya terbatas) untuk bercocok tanam gandum dan beberapa diimpor dari Mesir atau Iraq/Persia). Jadi sangat dipahami jika Dinar yang beredar di Arab relatif lebih ringan dibanding kesultanan lain. (Setiap pemerintahan/ otoritas melakukan penimbangan dan dilakukan bersama ulama setempat, faqih setempat dan qadi setempat sehingga dengan penimbangan ini uang koin yang beredar meski faktanya berbeda jaman dan tempat berbeda berat tetapi tetap berlandaskan ketentuan syari’at)

Penelitian kitab-kitab klasik/tradisional yang membahas mengenai kadar dan berat Dinar dan Dirham seperti Kitab Muqoddimah Ibn Khaldun, Kitab Ighotsah dan An Nuqud dari Al Maqrizi, Al Umm dan Ar Risalah dari Imam Syafi’i, Ahkamus Sulthoniyah Imam Mawardi, Tafsir Ahkam Imam Qurthubi, Muwaththo‘ dan Mudawanah Imam Malik, Radd al-Mukhtar Fiqh Imam Abu Hanifah, Kitab Fiqh Madzhab Hanabilah, dll (daftar pustaka sebagian terlampir).

Penelitian koin koleksi museum, koin numismatik, katalog-katalog seperti The Coinage of Islam, numismatic.org, dll. Juga pustaka-pustaka baik Barat maupun Timur, modern ataupun klasik, buku ataupun jurnal ilmiah.

Wikipedia menyebutkan bahwa mitsqal:

وهو وحدة قياس وزن تعادل 4.6 غرام (4.2 غرام في مصادر أخرى) لكن يتم معادلته حاليا بوزن 5 غرامات لتسهيل الاستخدام كون هذا المقياس يستخدم عادة لقياس وزن الذهب كون الدينار الذهب الذي كان يستخدم في العصور الوسطى في العالم الإسلامي وأوروبا وغيرها وحتى مطلع القرن العشرين كان وزنه مثقالا من الذهب الصافي

“Sebuah unit pengukuran berat setara dengan 4.6 gram (4.2 gram menurut pendapat terbaru), tetapi disajikan dengan pembulatan 5 gram untuk memfasilitasi penggunaan ukuran ini yang umumnya digunakan untuk mengukur berat emas yaitu dinar emas yang digunakan pada Abad Pertengahan di dunia Islam dan Eropa dan/atau di tempat lain hingga awal abad kedua puluh adalah dan berat mitsqal adalah dari emas murni”

Berikut ini adalah ringkasan hasil penelitian.

(1) Penimbangan Mitsqal berbasis Biji Gandum Barli

Ibnu Khaldun menulis di Al-Muqaddimah (اﻟﻤﻗﺩﻤﻪ):

أما وزنه بالحبوب:  فقد قدر أكثر الفقهاء وزن الدينار الشرعي بزنة اثنتين وسبعين حبة شعير متوسطة لم تقشر وقطع من طرفيها ما امتد

“Berat (dalam emas murni) dari dinar adalah tujuh-puluh dua biji gandum habbah sya’ir (Barli) ukuran sedang dan dipotong kedua ujungnya yang memanjang.”… “Hal ini ijma’ diakui para ulama dan merupakan konsensus umum di mana hanya Ibn Hazm yang menyelisihinya.” (hal. 316).

Perhatikan foto berikut jenis gandum yang digunakan dalam penimbangan sesuai kaidah yang diberikan oleh Ibn Khaldun.

Ibn Khaldun dalam Al-Muqaddimah menetapkan bahwa ijma’ 1 mitsqal = 72 biji gandum Barli dipotong kedua ujungnya. Diperkirakan setara dengan 68-69 biji gandum Barli utuh (yang dikupas kulit luarnya) sebagaimana disebutkan dalam teks-teks tradisional lainnya.

Secara tradisional. mengukur berat didasarkan pada suatu obyek pengukur yang dianggap ‘stabil’, sehingga bisa distandarisasi. Biji gandum Barli dianggap memenuhi kaidah ini, tanpa mengabaikan pelbagai pendapat dan problematikanya (silakan unduh dokumen ini untuk riset lebih lanjut baca di sini). Penetapan berat ‘gram’, sebagaimana telah disebutkan, dan demikian pula ‘mitsqal’ menggunakan obyek ukur/pembanding yang sama.

Ibn Khaldun, Al Maqrizi, dan banyak ulama salaf sebelum beliau dan sesudahnya, menetapkan mitsqal dengan menghitung dan menimbang berat biji gandum Barli. Banyak otoritas seperti kesultanan, pemerintahan, memerintahkan ahli dari masing-masing mereka untuk melakukan penelitian dengan melakukan penimbangan didasarkan pada berat biji gandum, dan dengan pendekatan yang didasarkan pada sunnah Nabi SAW. Meski demikian, tetap terjadi perbedaan penimbangan dikarenakan beberapa sebab yang berbeda-beda. Hal ini membuktikan bahwa terjadi dinamika dan berat yang dinamis dari mitsqal.

Oleh karena itu melakukan penimbangan biji gandum Barli merupakan tradisi sangat mungkin dilakukan berpanduankan sunnah. Adalah keliru jika mendasarkan berat mitsqal hanya dari beberapa koleksi koin dan menetapkannya sebagai standar tanpa riset yang lebih mendalam. Kemudian, juga merupakan kekeliruan jika hanya mendasarkan pada koin tertua, sementara yang disebut tertua adalah “asumsi” mengingat ada kemungkinan koin yang lebih tua sebagai pembanding.

Sehingga, dari sisi metodologi, penimbangan adalah metode utama yang semestinya dilakukan sebagai manifestasi dari Amal Ahli Madinah. Sebagaimana sunnah mengamanatkan untuk menggunakan takaran dan timbangan dari Madinah dan Makkah.

Metodologi

Untuk lebih menjelaskan bagaimana metodologi yang tepat untuk penelitian ini, Ibnu Hazm menunjuk satu peristiwa yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Husain dari Walid. Ia mengatakan, “Abu Yusuf sampai kepada kami dari haji, lalu berkata, ‘Saya ingin membuktikan untuk kalian satu persoalan yang selalu menjadi fikiran saya dan sekarang sudah saya dapatkan jawabannya. Saya pergi ke Madinah, lalu saya bertanya tentang besar 1 sho’. Mereka (penduduk Madinah) menjawab, satu sho’ kami adalah sho’ Rasulullah SAW ini. Saya bertanya lagi, ‘Apa alasan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan membawakannya untukmu besok’. Lalu esoknya berkumpul lima puluh orang tua-tua yang terdiri dari Muhajirin dan Anshor membawa masing-masing literan sho’, lalu setiap mereka menceritakannya bahwa mereka menerimanya dari ayahnya, dan dari ayahnya, dan seterusnya, yang memastikan bahwa sebesar itulah satu sho’ Rasulullah SAW. Saya memperhatikannya dan semuanya sama. Lalu saya uji satu persatu, dan ternyata isinya sama. Sekarang saya sudah menemukan kejelasan pasti. (Baihaqi, Sunan al-Kubra 4:171).

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Ishaq dari Sulaiman Razi yang mengatakan, “Saya berkata kepada Malik ibn Anas (Imam Malik), Hai Abu Abdillah, berapa satu sho’ Nabi ﷺ? Ia menjawab, ‘Lima sepertiga rathl saya sudah mengukurnya’. Saya menukas, ‘Bila begitu, kau menentang syekh umat (yaitu guru Imam Malik, Imam Abu Hanifah)?’ Lalu ia berkata pada seseorang, ‘Hai fulan bawakan aku satu sho’ kakekmu besok; Hai fulan bawakan sho’ dari kakek ibumu besok; Fulan bawakan satu sho’ kakek ayahmu besok’ Esoknya terkumpullah banyak literan sho’. Kemudian Imam Malik bertanya kepada mereka, ’Mengapa kalian bawa sho’ ini?’ Mereka menjawab, ‘bahwa sho’ ini mereka terima dari ayah mereka dari ayahnya lagi, dan dengan itulah ayah-ayah mereka membayar zakat kepada Nabi ﷺ. (HR Daruquthni dan Baihaqi. Lihat Syaukani, Nailul Authar, 4:196).

Nabi Muhammad ﷺ menetapkan untuk memakai timbangan mata uang Makkah, seperti dalam sabdanya; “Timbangan adalah timbangan mata uang Makkah.”

Meneliti koin-koin koleksi merupakan metode tambahan setelah metode telaah kitab-kitab klasik, terutama kitab fiqh muamalah. Sebagai metode tambahan dia bersifat penunjang atau penguat dan bukan yang utama.

Penimbangan dilakukan beberapa kali terhadap 72 biji gandum Barli ukuran sedang dan dipotong kedua ujungnya terhadap biji gandum yang berbeda-beda. Penimbangan telah dilakukan di Bandung (2009), dari biji gandum Barli organik yang didapatkan dari pelbagai sumber sebagaiman telah disebutkan di atas.

  • Ada rentang berat yang diperoleh antara 4.377 sampai 4.566 gram, dan kemudian, secara rerata yang paling banyak muncul adalah 4.467 g
  • Berat terkecil yang didapat (4.377 g) dihasilkan dari pemotongan biji yang sangat kuat/dalam sehinga hampir merusak biji-biji tersebut.
  • Berat 4.25 g yang merupakan hipotesis awal, secara populer bersumber dari informasi mengenai berat Dinar buatan Abdul Malik ibn Marwan (yang dicetak oleh Al-Hajjaj) TIDAK DIDAPATI dalam penelitian/penimbangan terkecuali bila pemotongan dilanjutkan dengan pemotongan yang lebih dalam sehingga merusak biji-biji gandum tersebut, dan jika demikian tidak sesuai dengan cara pemotongan yang dianjurkan sunnah (yaitu pemotongan untuk pengolahan makanan).

Referensi Proses Penimbangan 

Bagaimana dengan berat “populer” mitsqal atau dinar yang 4.25 g sebagaimana pendapat Syekh Yusuf Qardhawi (yang kemudian diikuti pula Syekh Ali Gomah) dan Syekh Utsaimin? Lihat http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=5438&PageNo=1&BookID=2

  • Menurut keterangan Museum Inggris, Dinar buatan Al Hajjaj ibn Yusuf atas perintah Khalifah Abdul Malik beratnya adalah 4.25 gram yaitu lebih kecil dari pada Dinar yang beredar pada masa Nabi SAW 4.55 gram. Pengurangan berat ini konon sebagai reformasi keuangan pada saat itu atau الإصلاح النقدي . Akan tetapi Koin Abd Malik ibn Marwan dan Al Hajjaj ternyata tidak pernah diteliti serius hanya didasarkan pada informasi katalog museum dan belum pernah ditimbang ulang. [The Fourth International Conference On Bilad Al Sham; The Coinage of Syria Under The Umayyad 692-750 AD by Michael L Bates, (American Numismatic Society) p. 212-213]. Artinya pernyataan berat 4.25 gram pada koin Abdul Malik ibn Marwan belum terbukti.
  • Dalam keterangan koin Numismatik, Dinar yang dicetak Abdul Malik ibn Marwan ternyata beratnya adalah 4.461 gram. Lihat http://numismatics.org/collection/1970.63.1
  • Syekh Yusuf Al-Qardhawi menetapkan 66 biji gandum Barli (bukan 72), dengan dasar berat Dinar Abdul Malik ibn Marwan menurut katalog museum tanpa penelitian penimbangan tetapi didasarkan pada berat Poundsterling Inggris. Dan juga tidak ada pernyataan bahwa Syekh Yusuf Qardhawi menimbang sendiri 66 biji gandum tersebut (artinya Syekh Yusuf Qardhawi tidak menimbang biji bahkan menetapkan angka 66 biji didasarkan pada koin informasi yang ada. (lihat Qardawi, Hukum Zakat hal. 258, Litera AntarNusa & BAZIS DKI) Berikut teksnya.

وقال في مادة “دينار”: “وقد أجمع المؤرخون على أن الإصلاح الذي أدخله عبد الملك على العملة سنة 77 هـ (696 م) لم يمس معيار العملة الذهبية ويمكن أن نتثبت على الفور من الوزن المضبوط لهذه العملة من الدقة المتناهية التي روعيت في ضرب أقدم الدنانير التي تناولها الإصلاح ومن ثم نجد أن الدينار يزن 4.25 من الجرامات (66 حبة) وينطبق هذا انطباقًا تامًا على الوزن الفعلي للصولديرس البيزنطي الذي كان معاصرًا له في الزمن. – ثم قال: (ص 371) وما زال الشرع ينص على أن الدينار الرسمي يكون وزنه4.25 من الجرامات (66 حبة)” أ هـ (المصدر السابق ص 270). Lihat http://www.qaradawi.net/library/49/2150.html

  • Dilaporkan dalam Biography Umar ibn Abdul Aziz رضي الله عنه bahwa berat 4.25 g tidaklah komplementer dengan wazan 7/10 sebagaimana ditetapkan oleh Umar ibn Khattab رضي الله عنه. Maka dikenallah wazan 7/10.5 yang lebih tepat karena apabila berat Dirham of 2.975 g akan relevan dengan 4.46 g pada Dinar (Adh Dhoro’ib fis Sawad).
  • Disebutkan dalam Sirah Nabawiyah karya Sayyid Ali Nadwi seorang ulama kholaf bahwa ibn Marwan telah mengubahsuai Dinar dari 4.55 g (yang beredar di jaman Nabi ﷺ) menjadi 4.25 g.
  • Ibn Khaldun menyatakan bahwa Abd Malik ibn Marwan memerintahkan Al Hajjaj untuk menyetak Dinar pada tahun 74 [699/94], atau, berdasar keterangan al-Mada’ini pada tahun 75 [694/95], pada sebelum itu, Mush’ab bin az-Zubayr (adik dari Abdullah ibn Az-Zubayr), Gubernur Irak atas perintah otoritas Makkah dan Madinah telah melakukan penyetakan Dinar pada tahun 70 [689/90]. Jadi koin Abdul Malik bukanlah koin Dinar pertama yang dicetak otoritas muslim, tetapi koin pertama yang digunakan untuk melakukan reformasi keuangan pasca jatuhnya Makkah dan Madinah.
  • Arqam ibn Abi Arqam seorang sahabat Assabiqunal Awwalun di Makkah, sebelum Hijrah, dikenal sebagai ahli penempaan logam mulia. Banyak hadits meriwayatkan penggunaan Dinar dan Dirham oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat رضي الله عنه Ada dugaan bahwa Rasulullah ﷺ dan Khalifah Rasyidin رضي الله عنه telah menyetak Dinar/Dirham dalam jumlah sedikit/terbatas. Lihat di sini
  • Rasulullah SAW menggunakan Dinar dan Dirham yang dicetak oleh Romawi/Byzantium dan Persia dengan berat konsisten yaitu berat Solidus 4.5-4.55 g. Maknanya dinar yang digunakan pada masa Rasulullah ﷺ bermakna Sunnah Taqriri (atau ringkasnya Sunnah).
  • Pendapat bahwa berat Dinar adalah 20 qīrāth Syria atau 8 dawaniq karena didasarkan pada kesamaan dengan berat Dirham Kibar tidak memiliki dasar.
  • Sebagaimana disebutkan di wikipedia, bahwa pendapat 4.25 gram pada dinar adalah pendapat populer (mutaakhirin) dan menjadi semacam “keumuman” yang diikuti oleh Syekh Utsaimin dan Syekh Ali Jum’ah dari Al Azhar Mesir.

(2) Perbandingan dengan pendapat lain mengenai Mitsqal

Jika mengacu pada teks-teks tradisional lainnya, yaitu berat mitsqal setara dengan berat 68 atau 69 biji gandum Barli yang dikupas kulitnya, maka konversi matematis dengan menghitung 68 biji gandum Barli sesuai standar International System of Units adalah 4.406 g; Sedangkan 69 biji gandum Barli adalah 4.471 g. Maka dapat diperkirakan bahwa 1 Mitsqal adalah rentang antara 4.406 – 4.471 g

Jika kita menghitung biji gandum Barli utuh tanpa dipotong kedua ujungnya maka kita akan mendapati bahwa Mitsqal adalah 0.15 oz (ounce) yaitu 4.6655 g.

Sebagian orang menjelaskan bahwa ounce yang dimaksud adalah ounce umum (437.5 biji gandum Barli atau 28.35 gram, lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Ounce) bukan troy-ounce (480 biji gandum Barli atau 31.1 gram, lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Troy_ounce) yang lazim digunakan untuk logam mulia. Sangat jarang ounce dalam arti umum digunakan untuk logam mulia. Sehingga seringkali jika dikatakan ounce yang dimaksud adalah Troy-ounce. Tetapi dengan sedikit “memaksa” sebagian menetapkan mitsqal sebagai 4.2525 gram yaitu 0.15 oz dalam pengertian umum bukan logam mulia.

(3) Penghitungan Mitsqal dengan Berat Qīrāth

Mengikuti pendapat Al-Maqrizi (dalam Ighotsah)

المثقال : اثنان وعشرون قيراطًا إلا حبة بالشامي

[lihat dalam kitab beliau Imam Al-Maqriziy, Ighatsat al-Ummah bi-Kasyf al-Ghummah: Syudzur al-‘Uqud fii Dzikr al-Nuqud -اغاثة الامة – المقريزي], menyatakan dengan tegas bahwa berat 1 mitsqaladalah 22 qīrāth Syria/Syam dikurangi 1 biji di mana dijelaskan bahwa 1 qīrāth sama dengan 4 biji. Berarti berat mitsqal adalah 22 qīrāth dikurangi ¼ qīrāth. Secara umum berat 1 qīrāth adalah = 200 mg; Akan tetapi qīrāth di Mesir lebih kecil beratnya yaitu 196 mg dan qīrāth di Syria lebih besar yaitu 212 mg; Sementara qīrāth Hijaz Arab adalah 2% lebih kecil daripada qīrāth Syria, kira-kira 207.76 mg (lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Carat_(mass)  dan http://earlyworldcoins.com/articles/carats ) sehingga kita bisa kalkulasikan

1 mitsqal = 21+3/4 x 212 mg = 4611 mg = 4.6 gram

*jika mengambil qīrāth umum yang standar beratnya adalah 4.35 gram.

Al Maqrizi menulis:

“…Maka Abdul Malik menyetak dinar dan dirham, ia menetapkan berat dinar setara 22 qīrāth Syria dikurangi satu habbah (biji gandum Barli) dan berat dirham tepat sebanyak 15 qīrāth, dimana 1 qīrāth sama dengan 4 habbat, dan satu dinaq seberat 2.5 qīrāth. Ia menulis surat kepada Al Hajjaj ibn Yusuf Ats-Tsaqofi untuk menyetaknya di Iraq. Al Hajjaj menyetak dirham-dirham tersebut dan menulis pada dirhamnya, “Qul Huwa Allahu Ahad” dan melarang setiap orang lain menyetak koin-koin itu. Oleh karena itu ketika Sumayr mencetak dirham, al Hajjaj menangkapnya dan niat untuk dihukum mati. Sumayr berkata kepadanya, “Bahan material dirhamku lebih bagus/hebat dari dirhammu (maksudnya lebih berat), mengapa engkau mau menghukum mati aku?”. Walau begitu, al Hajjaj tetap pada keinginannya untuk memenggal kepala Sumayr…”

(“Mamluk Economics: A Study and Translation of Al Maqrizi’s Igathah” karya Adel Allouche, University of Utah Press, 1994, hal. 59)

Sedangkan beberapa kalangan tertentu menetapkan mitsqal setara berat Drachma besar yaitu 20 qīrāth. Sehingga anggapan ini mengatakan bahwa dinar beratnya adalah 212 x 20 = 4240 mg. Sayang hingga penelitian ini dilakukan pendapat ini tidak memiliki dasar.

(4) Kadar Emas dalam Dinar

Mengenai kemurnian bahan (emas), Ibn Khaldun menambahkan “…standar kemurnian dari beberapa koin, hasil dari proses pemurnian berulang-ulang, adalah dijadikan patokan (artinya ada keharusan/perintah untuk melakukan pemurnian sebaik-baiknya), terhadap masing-masing dinar dan dirham, secara proporsional, sebagaimana berat yang telah ditetapkan di atas” (artinya berat yang dimaksud adalah berat masing2 secara murni) (Muqaddimah hal. 261)

Dalam fiqh ditetapkan bahwa yang dimaksud bahan emas adalah dzahab yang artinya emas dan Dinar sebaiknya Dzahab-Kholis (الذهب الخـالص emas murni, fine gold). Sehingga, penghitungan mitsqal didasarkan pada bahan murninya, meski berat dinar bisa lebih besar dari mitsqal karena dihitung emas murninya saja.

Mengenai standar kemurnian logam mulia modern dimulai sejak abad ke 15 dikenal dua sistem yaitu kemurnian berdasarkan karat dengan basis 24 per-bagian (dari 1/24 bagian sampai 24/24 bagian) dan kemurnian berdasarkan prosentase logam dari 0% hingga 99.999..%. Standar ini baru dikenal kemudian meskipun teknologi pemurnian logam telah dikenal lama. Orang sering menyalahartikan sejarah bahwa sejarah standar kemurnian berhubungan dengan atau sama dengan sejarah teknologi pemurnian. Yang benar adalah bahwa di masa lalu telah ada standar kemurnian yang digunakan untuk pemurnian logam mulia sehingga “kholis” dengan standar baru yang membahas hal yang sama dengan perangkat ukuran yang berbeda. Hal serupa terjadi antara gram metric system dengan mitsqal yang meripakan standar “kuno”.

Standar kemurnian berdasarkan karat membagi logam mulia ke dalam 24 bagian disebut Karat. Dan ini berhubungan dengan sistem prosentase.

Perhatikan tabel berikut:

Kandungan Emas

Simbol

Karat

99.99%

999

24

91.66%

917

22

87.50%

875

21

75.00%

750

18

58.33%

585

14

41.67%

416

10

33.33%

333

8

Baca pengetahuan tentang emas dan perak.

Sedangkan standar kemurnian lama (tradisional) yang dikenal adalah adanya beberapa jenis di antaranya:

  • Dinar yang merupakan mitsqal yaitu emas murni/pure gold (الذهب الخـالص atau الذهب الصافي) tidak boleh ada campuran.
  • Emas dengan kemurnian tinggi (ذهب جيد) yaitu emas tua (fine gold), yaitu emas hasil proses pemurnian.
  • Emas lantakan (سبيكة ذهبية) atau Bijih emas (خامة) hasil tambang, biasanya emas muda, karena belum dicuci.
  • Emas campuran atau (poor gold) (Radi’an/ رديءا).
  • Perkakas/wadah (إناء) dan perhiasan (الْزُخْرُف).

Dalam masyarakat tradisional membedakan nilai emas dari “usia” yaitu kadar emas dalam logam. Disebut emas tua (عجوز atau الذهب القديم) karena kadar emasnya yang cukup banyak dan dominan dan disebut emas muda (الذهب الجديد) karena kadarnya yang rendah dan banyak campuran logam lain terutama perak. Semakin tua emas maka semakin berharga atau harganya semakin tinggi. Sehingga dapat dipahami bahwa kadar emas mempengaruhi nilai emas tersebut dan tidak dapat diabaikan.

Menurut penelitian Rizki Wicaksono, koin emas yang beredar sejak Abad 4 M hingga masa kenabian Muhammad ﷺ adalah 99% atau lebih. Lihat di sini.

Pendapat ini diperkuat oleh John Porteous ((1969). “The Imperial Foundations”. Coins in history : a survey of coinage from the reform of Diocletian to the Latin Monetary Union.. Weidenfeld and Nicolson. pp. 14–33) yang menyatakan koin Romawi telah menggunakan emas dengan kemurnian 99% lebih.

Termasuk koin Abdul Malik ibn Marwan memiliki kemurnian 97 % dan dicetak massal serta menggantikan koin-koin lainnya (Bernstein, The Power of Gold – The history of an obsession, p67.)

Dan yang penting ditekankan di sini adalah pandangan mengenai mitsqal yang sebagian orang membatasi pada hanya berat timbangan. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa timbangan adalah timbangan Makkah, di mana mitsqal dikenal baik (ma’ruf/ma’lum) bagi penduduk Makkah bahkan sebelum kenabian ﷺ. Dan Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa takaran adalah takaran Madinah. Takaran berbicara mengenai volume atau isi atau kepadatan. Dalam kaitan dengan Dinar dan Dirham kepadatan ini berkaitan dengan bahan logam, di mana setiap logam memiliki kepadatan yang berbeda-beda, dan dari kepadatan (BJ = Berat Jenis) inilah ketulinan/kemurnian logam ditakar/diukur. Dari data sejarah dan kitab-kitab fiqh menegaskan bahwa ketulinan menunjukkan kualitas Dinar dan Dirham. Koin Abdul Malik ibn Marwan dicatat memiliki kemurnian hingga 97%. Sedangkan koin jaman Fatimiyah di Mesir hingga 98%.

Qudamah ibn Ja’far berkata, “Ketika kekuatan bangsa Persia meredup, kekuasaan mereka melemah, perencanaan mereka rusak, dan politik mereka goncang, rusak pulalah uang mereka (yaitu pengurangan kadar atau debasement atau pengurangan berat atau devaluasi), lalu Islam tegak dan uang mereka (Persia) dari emas dan perak tidak murni (sedangkan Islam dari emas dan perak yang murni).” (Al Kharaj wa Shina’ah al-Kitabah, hal. 59).

Ibn Mas’ud رضي الله عنه, ketua Baitul Maal, memerintahkan untuk memecah uang palsu (yaitu dirham dan dinar yang kadarnya rendah) seraya mengatakan, “Itu pemalsuan yang dilakukan orang-orang ‘ajam, lalu mereka ingin memalsukan dengannya.” (Al-Baladzari, Futuhul Buldan hal. 657).

Al-Mawardi menyebutkan, “Maka ketika dirham Islam dicetak (yaitu masa Umar ibn Khattab), maka jelaslah perbedaan antara yang campuran dan yang murni.” (Ahkamus Sulthoniyah hal. 196-197)

B. Menetapkan Dirham menggunakan Prinsip Mitsqal (وزن سبعة) sebagaimana ditetapkan oleh Khalifah Umar ibn Khattab

Ibn Khaldun menyatakan

“Haruslah dipahami bahwa semenjak awal Islam dan masa kenabian ﷺ dan para sahabat, dirham resmi yang secara ijma umum diketahui bahwa setiap sepuluh dirham beratnya sama dengan tujuh mitsqal emas. Dengan demikian, dirham resmi adalah tujuh per sepuluh dinar. Satu unit emas atau mitsqal beratnya tujuh puluh dua biji gandum ukuran sedang. Maka konsekuensinya berat dirham yang adalah tujuh per sepuluh mitsqal, memiliki berat lima puluh dua per lima biji gandum. Semua ukuran berat ini diterima sebagai ijma… ” (p. 315)

Formulasi ini dikenal sebagai “wazn sab’ah” (وزن سبعة) yaitu formulasi yang pertama kali dilakukan oleh Umar ibn Khattab RA sehingga sering disebut sebagai Standar Khalifah ‘Umar ibn Khattab RA. Rumusan ini menetapkan berat Dinar adalah 7/10 Dirham. Setiap 7 Dinar beratnya sama dengan berat 10 Dirham. Akan tetapi pada masa awal Islam telah beredar beberapa jenis Dirham.

Ibn Khaldun melanjutkan,

“Dirham pra Islam ada beberapa jenis. Yang terbaik adalah Dirham Baghli (disebut juga Dirham Al-Musawwadah), dirham dengan berat delapan danaq, kemudian Dirham Thobari, dirham dengan berat empat danaq. Untuk dirham resmi mereka mengambil pertengahan antara, yaitu enam danaq. Zakat dari setiap seratus Baghli dirham dan seratus Thobari dirham ditetapkan menjadi lima dirham.” (p. 315)

Mengikuti penjelasan Ibn Khaldun, Al Maqrizi melaporkan bahwa, berdasarkan formulasi standar Kholifah Umar ibn Khattab, didapati 3 jenis Dirham/Drachma yang berasal dari Persia, sebagai berikut:

  1. Drachma Besar yaitu 20 qīrāth (di Arab disebut sebagai Dirham Kibar درهم كبار); Dirham ini beratnya hampir 1 mitsqal. Dikenal pula sebagai Dirham الدرهم البغلية atau السود المذكورة. Setara dengan 8 danaq (دوانق). Dirham Bighal menurut riwayat Baihaqi dicetak pada masa Umar ibn Khattab di mana ketika Amirul Mu’minin menaklukkan Persia termasuk mengambil kuasa alat dan pusat produksi pencetakan uang, dan mulai mencetak sendiri uang.
  2. Drachma Kecil dengan berat 10 qīrāth (dikenal sebagai Dirham Shighar درهم صغار di Arab); Dirham ini dikenal pula sebagai Dirham Thibriyah atau الطبرية العتق atau السود الوافية  karena berasal dari daerah Thibristan sebelah selatan Laut Kaspia (Qazwin). Setara dengan 4 danaq (دوانق).
  3. dan Drachma Tengah dengan berat 12 qīrāth (dikenal sebagai Dirham Wasath درهم وساط); Lebih populer disebut sebagai Dirham Jawariqiyah karena berasal dari Jurqan, sebuah desa penempa di Isfahan. Setara dengan 6 danaq (دوانق).

Disebutkan pula adanya Dirham Yamani (درهم يماني) yang beratnya 1 Daniq (دانيق). Dirham Yamani ini kemudian disebut daniq saja.

(Al Baghdadi, Serial Hukum Islam: Penyewaan Tanah Lahan, Kekayaan Gelap, Ukuran Panjang, Luas, Takaran, dan Timbangan. Al Ma’arif. Bandung, 1987; lihat juga Abu Ya’la al-Farra’, Ahkamus Sulthoniyah hal. 178; Al-Mawardi, Ahkamus Sulthoniyah hal. 196; lihat juga DR Amin Shalih, An-Nuzhum al-Iqtishadiyah fil Mishra wasy Syam, hal. 274 dan Najman Yasin, Al-Audha’ al-Iqtishadiyah fi Ashri ar-Risalah war Rasyidin, hal. 228)

Kemudian ketiga dirham itu disatukan dan dibagi rata sehingga:

(20+10+12)/3 = 42/3 = 14 qīrāth

atau

(8+4+6)/3 = 6 Danaq

 Atau sesuai riwayat dari Umar ibn Khaththab (yaitu meselaraskan dan merata-rata bighal dan thobari)

(8+4)/2 = 6 Danaq

Rumusan 14/20 ini sesuai dengan standar ‘Umar ibn Khattab RA yaitu 7/10 yang telah dibahas sebelumnya, yaitu waznu sab’ah. Diperkirakan standar ini mengikuti standar yang telah digunakan pada masa Nabi Yusuf AS (Menteri Perbendaharaan Mesir) yang menetapkan uang dinar/dirham berdasarkanRaqim (الرَّقِيمِ) dan Wariq (الوَرِيقِ Perak) sejak jaman Nabi Idris AS (QS 018:009 dan 019) [Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rashad Al-Qurtubi (d.450 H), Tafsir Ahkam, Bab Kitab Zakat Adz-Dzahab wa Al-Waraq, Beirut-Libanon: Penerbit Darul Gharbi Al-Islami, Cet.2, 1988, Jilid 2, p. 355- 422].

Namun dipahami bahwa rumusan tersebut hanya digunakan sebagai pembandingan saja. Sebagaimana dibahas di atas, Dinar adalah 1 mitsqal dan setara dengan 22 qīrāth dikurangi satu biji.

Jika kita mengambil 20 qīrāth (Syria) sebagai berat Dinar maka Dinar akan kurang dari 1 mitsqal hakiki, yaitu dalam gram adalah 4 – 4.24 g dan akibatnya Dirham menjadi 14 qīrāth atau 2.8 – 2.968 g. Dikarenakan tidak ada dalil yang cukup kuat, maka ukuran tersebut dianggap sebagai ghoyru-mitsqali atau non-mitsqal. Meskipun demikian Dinar dan Dirham dalam berat demikian juga banyak ditemukan dalam koin numismatik, koin koleksi dan koin museum (katalog). Hal ini cukup beralasan karena berat 20 qīrāth setara dengan 8 danaq, di mana memang Dinar adalah 8 Daniq emas.

Jadi, berdasarkan pendapat Al Maqrizi mengenai berat Dinar dalam qīrāth akan didapatkan = 15/21.75. Sehingga dapat disimpulkan bahwa berat Dirham adalah 15 qīrāth (atau 3.18 g) dan bukan 14 qīrāth sebagaimana penghitungan wazan di atas karena Dinar bukan 20 qīrāth melainkan 22 qīrāth dikurangi satu biji habbat-sya’ir (¼ qīrāth)

Wazan Sab’ah dari Dirham/Dinar = 15/21.75 qīrāth

Al Quran menjelaskan bahwa Nabi Idris AS adalah orang yang pertama kali memulai penambangan emas dan perak yang pada saat itu disebut Raqim (الرَّقِيمِ lihat QS 018:009) dan Wariq (الوَرِيقِ lihat 018:019; jo QS Maryam [019]: 056; dan Al-Anbiya’ [021]: 085). Wahhab bin Munabbih melaporkan dalam kitabnya Ibn Katsir, Qishotul Anbiya’, bahwa Nabi Idris AS adalah manusia yang membuat koin emas dan perak.

Penggunaan perbandingan dengan menggunakan danaq/daniq kurang lazim. Jika kita mengabaikan perumusan rerata Dirham dari pembandingan tiga jenis drachma dan berandai-andai menggunakan hanya basis daniq maka:

  • Danaq adalah 2.5 qīrāth. 1 qīrāth = 212 mg. Sehingga Danaq adalah 530 miligram (sedangkan Danake 1.05 gram).
  • Dinar adalah sama dengan Drachma besar atau 8 Danaq = 4240 miligram
  • Dirham adalah 7/10 dari 8 Danaq, berarti 5.6 Danaq atau dibulatkan jadi 6 Danaq = 2968 – 3180 mg. Di tempat lain disebutkan 1 daniq adalah 2 1/3 khorrub, maka 1 Dirham adalah 16 biji khorrub.

Dr. Abd Rahman Fahmi meneliti ukuran uang Islami (Shonjus Sikkah fi Fajril Islam) mengatakan bahwa di Mesir timbangan biji khorrub adalah 194 miligram, maka 1 Dirham adalah 16 x 194 yaitu 3.01 gram.

Ibnu Abidin (madzhab Hanafi) menyebutkan adanya dirham ‘urfi dalam kitabnya Sakhul Anhar yang merupakan pendapat mengenai dirham yang sah menurut batasan syari’at. Madzhab Syafi’i menulis risalah tentang ukuran dirham, mitsqal, rithl dan mikyal. Mereka menetapkan adanya dirham syar’i menurut berat biji sawi dan dengan penyesuaian dengan dirham Raja Qatibayi’.

Ali Pasya Mubarak mengatakan bahwa dirham beratnya 3.12 gram (al-Khuthuth at-Taufiqiyah, jilid 20:33 dan Dairah al-Ma’arif jilid 9:228). Zambaur mengatakan bahwa dirham besarnya 3.184 gram (lihat Tahrir Wazn al-Mitsqal wa ad-Dinar wad Dirham)

Al Baladzari menjelaskan, “Kaum Quraisy menimbang perak dengan ukuran dirham; dan menimbang emas dengan ukuran dinar; Mereka memiliki sya’irah dengan nilai seperenampuluh dirham, auqiyah dengan nilai empat puluh dirham, dan nawah dengan nilai lima dirham, serta nasy sama dengan setengah auqiyah. Mereka melakukan jual beli dengan tibr (تبر) sesuai nilai-nilai tersebut. Maka ketika Rasulullah ﷺ diutus menetapkan nilai-nilai tersebut kepada mereka” (Al Baladzuri, Futuhul Buldan, hal 543-554). Tibr adalah emas dan perak yang belum dicetak menjadi uang (artinya bahannya, intrinsik), jika telah dicetak menjadi dinar dan dirham disebut ‘ain (عين) yang secara literal berarti kontan/in-cash (Lisanul ‘Arab).

Catatan:

Diskusi riset ini hanya membahas mengenai berat Dinar dan Dirham dan tidak membahas mengenai nilai dan/atau perbandingan nilai Dinar dan Dirham. Dari segi engineering penimbangan ada toleransi ketepatan sbb;

Komoditas

Toleransi Ketelitian

Emas

±0.01g

Perak

±0.1g

Gandum

±100g

Garam

±200g

Setiap skala ketepatan memerlukan kejituan/ketepatan di semua bahagian penimbang yang bersesuaian dengannya. Artinya tidak berguna kita guna ketepatan +/-0.01g atas garam.

C. Kesimpulan mengenai Mitsqal

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَنْظَلَةَ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَالْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّةَ

Diriwayatkan kepada kami oleh Ahmad bin Sulaiman, ia berkata; diriwiyatkan bahwa Abu Nu’aim berkata; Dari Sufyan dari Hanzhalah dari Thawus dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنه; dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Takaran (kadar/kualitas) mengikuti takaran penduduk Madinah, dan timbangan (berat/kuantitas) mengikuti timbangan penduduk Makkah” (Sunan Nasa’i: 2473 juga 4517; Muwaththo’ 1374; Sunan Abi Dawud 2899)

Jadi jelas mengikuti timbangan Makkah dan takaran Madinah, bukan Damaskus, atau Syria atau Mesir, dll. Pun “sebetulnya” bukan gram atau troy-ounce. Jika dalam gram atau ounce tidak lebih dari konversi yang dinamis.

Al-Khathabi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan timbangan dalam hadits di atas adalah timbangan emas dan perak secara khusus, bukan timbangan lain. Artinya, bahwa timbangan yang berkaitan dengan urusan zakat adalah sesuai timbangan penduduk Makkah, yaitu dirham (ستة دوانق, atau 6 daniq); dikarenakan dirham di sebagian lain beragam timbangannya, baik di Syam/Damaskus maupun di Mesir dan Baghdad. Dan penduduk Madinah bermuamalah dengan dirham dengan hitungan (bukan timbangan) hingga kedatangan Rasulullah ﷺ. Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan tentang kisah Barirah, “Jika keluarga kamu mau jika aku menghitung dirham kepada mereka dengan sekali hitungan, niscaya aku akan melakukan,” lalu Rasulullah ﷺ memberikan bimbingan kepada mereka timbangan di dalamnya, dan menjadikan tolok ukur dengan timbangan penduduk Makkah terhadap dirham lain yang timbangannya berbeda dengannya dari berbagai daerah.  (Ma’alim as-Sunan bi Hasyiyah Sunan Abu Dawud (3:633-634), dan bandingkan An-Nawawi, Majmu’ 5:502, di mana Ibnu Hajar berkata (dalam Fathul Bari 5:228-229) tentang hadits Barirah tersebut, “Di dalamnya terdapat penjelasan bahwa penghitungan dirham yang sah dan diketahui timbangannya adalah mencukupi dari timbangan. Sedangkan anggapan Al-Muhib Thabari bahwa penduduk Madinah bermuamalah dengan dirham dengan hitungan sampai kedatangan Rasulullah ﷺ kurang lebih 8 tahun. Tapi boleh jadi perkataan Aisyah رضي الله عنها  ini berarti: “Aku serahkan dirham kepada mereka dengan sekali penyerahan”, dan yang dimaksud bukan dalam hakikat penghitungan. Hal ini dikuatkan perkataan Aisyah dalam jalan Umrah dalam bab setelahnya: “Aku menuangkan kepada mereka harga kamu dengan sekali penuangan.” Dan di antara yang menunjukkan penggunaan timbangan adalah: “Bahwa Abdurrahman ibn Auf ketika menikah dan Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: ‘Berapakah kamu memberikan mahar kepadanya?’ Ia menjawab, ‘Timbangan nuwah dari emas’ (HR Bukari 5167 dan Muslim 1424 lihat pula Sunan An Nasa’i dan catatan dari As-Sindi 7:284)

Dinar dan Dirham dalam sejarah memiliki berat dan kemurnian yang beragam sebagaimana dilaporkan oleh Ibn Khaldun:

“Kerajaan-kerajaan Muslim setelah itu menjadi besar dan berkembang. Kondisi-kondisi yang berbeda menjadikan spesifikasi dari nilai dan berat dirham dan dinar yang beragam, dan dalam kaitannya dengan hukum syara’, dalam kerangka menetapkan hukum yang tetap terhadap nilai dinar dan dirham.”

Sebagaimana kita ketahui sekarang dari pelbagai pustaka, koleksi museum dan katalog bahwa berat Dinar berkisar antara 4.2 g – 4.8 g. Dengan demikian sangat penting artinya setiap otoritas untuk meneliti mitsqal dengan menimbang biji atau pendekatan lain ketimbang hanya menengok “contoh” koin yang telah ada. Karena dengan hanya mengambil koin sampel bisa membawa pada kekeliruan. Rasio berat di atas untuk membedakan antara berat koin mistqali dan non-mitsqali atau ghoyru mitsqali.

Dari hasil uji berat dengan penimbangan biji gandum Barli sampel dan studi pustaka berat mitsqal ke dalam gram diperkirakan antara 4.37 – 4.67 gram, meski ada fakta pengukuran lain yaitu hingga 4.80 gram, di mana rata-rata dapat disimpulkan adalah 4.44 gram. Sedangkan berat Dirham adalah 7 /10 x 4.44 gram yaitu 3.11 gram.

Oleh sebab itu Dinar, dilihat dari sisi beratnya, atau timbangannya, dapat dibagi menjadi dua jenis.

  • Pertama, Dinar Mitsqali (الدينار مثقالي) yaitu berat uang emas yang berada dalam lingkup berat mitsqal sebagaimana diteliti di atas (4.37 – 4.67 gram).
  • Kedua, Dinar Ghoyru Mitsqali (الدينار غير مثقالي) atau Non-Mithqali Dinar yaitu uang emas yang beratnya di luar range berat mitsqal, baik itu lebih besar/berat atau lebih kecil/ringan.

Mengenai adanya koin historis Dinar dengan berat 3.8 – 4.25 gram adalah fakta historis mengenai Dinar dengan berat kecil atau kemungkinan masuk kategori non mitsqali sebagaimana disebutkan di atas.

Sedangkan Dirham mengacu pada Dinar/Mitsqal dengan pembandingan berat 7/10.

Dinar dipandang dari sisi kadarnya, atau takarannya, dapat dibagi menjadi dua pula yaitu yang mitsqali yaitu derajat kemurnian terbaik dari dinar dan ghoyru mitsqali yang kemurniannya kurang dari 97%. Takaran berbicara mengenai volume atau kepadatan atau BJ (berat jenis) bahan logam, yang menentukan isi atau konten atau muatan dari logam tersebut, termasuk alloy. Jadi meskipun suatu dinar telah memenuhi kaidah berat (timbangan) haruslah memperhatikan kaidah kemurnian (takaran) dari dinar tersebut.

Mitsqal adalah menurut timbangan Makkah dan takaran Madinah

Jika ada pertanyaan apakah sah menggunakan berat dinar yang non-mitsqal? Hal ini dapat saja terjadi karena dalam beberapa kurun sejarah ditemukan dinar dengan berat mulai dari 3.8 – 4.25 gram pula, di mana nisab zakatnya lebih dari 20 dinar tapi 22-24 dinar, tergantung dari berat masing-masing kepingan dinar dalam ukuran mitsqal.

D. Konversi ukuran lama ke dalam Gram

Dengan adanya ukuran yang jelas mengenai mitsqal dalam gram juga perbandingannya terhadap Dirham dengan wazn sab’ah, maka kita mengetahui dan menghitung berat dari denominasi yang ada pada masa Rasulullah ﷺ, menggunakan sistem metrik.

D.1 Fraksi Uang Emas dalam Sistem Metrik

Takaran

Mitsqal

Gram

Dinar (دينار)

1

4.443

Nuwah (ذهبي نواة)

3.5

15.55

Daniq (دانيق)

1/8

0.555

Uqiyah (اوقية)

4

17.76

Troy ounce / سبعة دنانير

7

31.11

Dinarayn (دينارين)

2

8.88

Nisfu Dinar (نصف دينار)

½

2.22

D.2 Fraksi Uang Perak dalam Sistem Metrik

Dalam ukuran lama kita mengenal rithl yaitu 12 awqiyah, sedangkan 1 uqiyah/awqiyah adalah 40 dirham. Dan nasy adalah 20 dirham atau ½ awqiyah, sedangkan nawat/nuwah adalah 5 dirham (jadi tidak ada istilah khomsah). [lihat DR Ali Abd Wahid Wafi, al-Iqtishad as-Siyasi, hal. 140-144 dan DR Abd Aziz Mar’i, an-Nuzhum an-Naqdiyah wal Mashrofiyah, hal 11-15. Lihat juga Al Maqrizi, an-Nuqud al-‘Arabiyah, hal. 25; Al Baladzari, Futuhul Buldan hal. 543-554; Ibn Hajar, Fathul Bari 9:143). Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa rithl Mesir = 144 dirham, rithl Baghdad = 128 4/7 dirham. Berdasarkan perbandingan Rithl Baghdad : Rithl Mesir = 9:10.

Takaran

Dirham

Gram

Dirham (درهم)

7/10 Mitsqal

3.11

Wasaq/Awsaq (الوسق)

40

124.4

Nuwah (نواة)/ Khomsah/خمسة دراهم

5

15.55

Daniq (دانيق)

1/6

0.52

Awqiyah/Uqiyah (اوقية)

40

124.4

Troy ounce / عشرة دراهم

10

31.11

Dirhamayn (درهمين)

2

6.22

Nisfu Dirham (نصف (درهم

½

1.55

Nasy (ناش)

20

62.2

Rithl (رطل)

480

1492.8

Rithl Baghdad (البغدادي)

128.57

399.85

Rithl Mesir (المصري)

144

447.84

E. Penerapan Dinar and Dirham

  • Al Quran menyatakan dalam QS 009:034, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ Allah telah melarang manusia menimbun emas dan perak. Makna dari menimbun (al-kanz) adalah menyimpan tanpa ada tujuan tertentu dan untuk mendapatkan keuntungan atau laba, bukan menyimpan karena alasan darurat, persiapan sesuatu misalnya membayar ongkos naik haji, dlsb yang masuk dalam kategori Tabungan (al-iddikhar). Menabung diperbolehkan dengan ketentuan dan syarat tertentu, termasuk di antaranya dalam sisi jumlah, sisi waktu dan sisi kegunaan. Imam Al Ghazali mengingatkan bahwa emas dan perak sebaiknya digunakan melalui perdagangan dan pertukaran dari tangan ke tangan sehingga emas dan perak beredar di antara manusia, baik beriman ataupun tidak.

Simpanan Uang

Emergency/ Kesehatan
Pendidikan
Rencana Nikah + Mahar
Naik Haji / Umroh
Pembangunan Rumah
Modal Usaha / Pensiun

Baca penjelasan Imam Al Ghozali tentang Dinar dan Dirham

  • Sebagai medium pertukaran atau alat tukar yang dipertukarkan di antara manusia (shorf), Dinar dan Dirham berfungsi sebagai uang komoditas dalam perdagangan dan pasar terbuka. Dinar dan Dirham telah digunakan sebagai alat tukar (tashoruf ) semenjak masa Nabi Yusuf ‘alayhissalam (lihat QS 012:020). Rasulullah ﷺ telah menggunakan Dinar dan Dirham di pasar. Diriwayatkan oleh Abi Bakrah, “Rasul Allah ﷺ melarang menjual perak dengan perak dan emas dengan emas kecuali setara (nilai, berat dan kadar). Beliau ﷺ membolehkan membeli perak dengan emas berdasarkan kemauan, dan membolehkan menjual emas dengan perak berdasarkan kemauan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Pertukaran menggunakan Uang

    Jual Beli (Barang/Jasa)
    Utang Piutang (Murobahah)
    Gadai (Rahn)
    Pembiayaan Proyek (Mudhorobah)
    Modal Usaha
    Kongsi Bisnis (Musyarokah)
    Titipan (Wadi’ah)
    Upah / Gaji (Nafaqoh)
    Biaya Operasional (Infaq)
    Waqaf Tunai
    Charity / Sedekah

    Baca adab jual beli dan keutamaan jual beli

  • Mahar. Sebagaimana diteladankan/dicontohkan oleh ‘Abdur-Rahman ibn Awf رضي الله عنه , tatkala menikah, beliau menikah dengan mahar 1 Nuwah emas (emas dengan berat setara dengan 5 Dirham atau 15.55 gram atau 3.5 Dinar) [lihat Musnad Ahmad 13361; Sahih Muslim 2557; Sunan Darimi 2107; Sunan Nasa’i 3319; Sahih Bukhari 5907; Muwatta 999; Sunan Abi Dawud 1804; dll]
  • Sebagai pengukuran ketika audit zakat, penghitungan dan pembayaran. Dinar dan Dirham digunakan untuk menentukan batasan/besaran nisab, yaitu batasan/besaran minimal dari penghitungan zakat maal bagi petugas zakat (‘amil) ketika melakukan audit zakat dari calon muzakki. Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa nisab zakat adalah 20 Dinar  [Sunan Ibn Majah 1781; Muwaththo’ 528] atau setara dengan 5 Awqiyah [Musnad Ahmad 13646 & 10606]. Zakat juga diukur nisabnya dengan perak sebanyak 200 Dirham [Sunan Darimi 1573; Musnad Ahmad 673, 1170; Sunan Abi Dawud 1343] atau setara dengan 5 Wasaq [Sunan Darimi 1579].Baca artikel tentang fungsi mengembalikan pilar zakatNisab Zakat Harta:

    Emas

    Perak

    20 Dinar

    200 Dirham

    5 Awqiyah

    5 Wasaq

    Nisab Zakat Harta dalam Gram Emas

    Dinar

    Nisab Zakat (20 Dinar)

    Mitsqal

    3.8

    76

    Non Mithqal

    3.9

    78

    4.125

    82.5

    4.25 22K

    77.8

    4.25

    85*

    4.374

    87.48

    Mithqal

    4.44

    88.8

    4.45

    89

    4.464

    89 2/7

    4.5

    90

    4.55

    91 (?)

    4.68

    93.6

    4.8

    96*

    Non Mithqal

    4.9

    98 (?)

    *Nisab Zakat Harta dalam Gram Perak menyesuaikan dengan rasio 7/10. Untuk berat emas 85 gram dan 96 gram sebagian ulama memasukkannya sebagai berat 20 mitsqal, dalam arti bahwa berat dinar 4.25 gram dan 4.8 gram termasuk mitsqal. Hal ini dapat diterima karena sifatnya ‘urfi. Namun dinar kurang dari itu dan/atau lebih dari itu adalah ijma’ tidak sesuai mitsqal atau non-mitsqal.

  • Islam mewajibkan pembayaran diyat menggunakan emas dan perak sebagai alat ukur, dengan menentukan berat spesifik dengan besaran tertentu dari emas dan perak. Diyat yang harus dibayarkan adalah 1,000 Dinar Emas disetor ke Baitul Maal atau jika dalam bentuk perak setidaknya 12,000 Dirham Perak. Diriwayatkan dari Ibn Abbas رضي الله عنه  bahwa suatu hari seseorang dari Bani ‘Ady terbunuh. Kemudian Rasulullah ﷺ menetapkan diyat 12,000 Dirham kepada pelaku. (HR Ashabus Sunan). Juga diriwayatkan dari Abu Bakr ibn Muhammad ibn Amr ibn Hazm dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ telah menulis surat kepada Amir di Yaman. Dalam surat itu, Rasulullah ﷺ menulis, “Bahwa jika jiwa seorang mu’min diambil (terbunuh) maka berlaku denda diyat 100 onta… Dan bagi mereka yang memiliki uang dinar, maka (diyatnya) 1,000 Dinar.” (HR An Nasa`i). Dari ‘Amr ibn Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, “Nilai diyat pada masa Rasulullah ﷺ adalah 800 Dinar dan 8,000 Dirham. Dan Diyat Ahli Kitab pada waktu itu adalah separuh diyat kaum muslimin. Ini berlangsung hingga masa Umar menjadi khalifah. Maka Umar berdiri menyampaikan khutbah dan mengatakan, ‘Ketahuilah unta telah mahal! Maka aku menetapkan diyat kepada pemilik emas sebanyak 1,000 dinar, dan kepada pemilik perak sebanyak 12,000 dirham.” (HR Abu Dawud 4542). Al Mushonnaf melaporkan: “Maka ketika pada masa Umar harga unta mahal dan emas turun, maka Umar menetapkan diyat sebanyak 12,000 dirham dan 1,000 dinar.” (Abdurrazaq, Al Mushonnaf 9:291,294-296). Dalam ketentuan fiqh Islam terdapat beberapa pendapat yang berbeda.

    Diyat

    Dinar

    Dirham

    Masa Rasulullah ﷺ

    800

    8,000

    Ahli Kitab

    400

    4,000

    Masa Umar RA

    1,000

    12,000

  • Islam menetapkan untuk memotong tangan pencuri sebagai hadd/hukuman. Islam menetapkan batas minimal nilai barang yang dicuri sehingga hukum mencuri dapat diterapkan, yaitu ¼ (Seperempat) Dinar, atau Tiga 3 (Tiga) Dirham. Diriwayatkan dari ‘A’isyah رضي الله عنها , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jangan potong tangan pencuri terkecuali dia mengambil (benda yang setara) seperempat dinar atau lebih.” (HR Khamsah [Lima Imam Muhaddits]).
  •  

    Dinar

    Dirham

    Batas Minimal Mencuri sehingga terkena Hadd

    0.25

    3

  • Selain untuk menentukan nisab, Dinar dan Dirham juga digunakan untuk menentukan asnaf penerima zakat, contohnya batasan “miskin” (poverty threshold) yang berhak menerima zakat. Di Bagian Pertama Bab Sedekah, Kitab Muwaththo’, telah diriwayatkan dari Nabiﷺ, bersabda “Setiap orang yang memintamu (dari Baitul Maal) sedangkan ia memiliki satu uqiyah atau setara dengannya maka sesungguhnya ia meminta dengan paksa (tidak boleh).” Salah seorang sahabat mendengar sabda Nabi ﷺ seperti itu, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia memiliki seekor onta yang harganya lebih dari satu uqiyah, maka ia menghentikan niatnya untuk meminta sedekah (bagian zakat) dari Baitul Maal. Pada petang hari itu juga, Nabi, ﷺ, mengiriminya gandum barli dan kismis dan berkata, ini dari Allah SWT agar dia mendapatkan kelonggaran. *Imam Malik RA menjelaskan bahwa 1 Uqiyah adalah 40 Dirham.

 

Dinar

Dirham

Indikator Miskin (boleh menerima zakat) memiliki uang kurang dari

<4

<40

Selanjutnya baca lima langkah menerapkan dinar dan dirham.

F. Istilah-istilah Uang dalam Islam

Dawud (1999, 3) dan Syabir (1999, 175) menyebut ada 3 istilah yang mengacu pada ‘uang’ yaitu nuqud, atsman dan fulus. Ada pula istilah ‘umlah yang artinya mata uang atau kurensi.

F.1 Nuqud (نقود)

Naqd (j. nuqud). Al-Sayyid ’Ali (1967, 44) mengartikannya dengan “semua hal yang digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi, baik Dinar emas, Dirham perak maupun koin dari tembaga.” Sementara Al-Kafrawi (1407, 12) mendefinisikannya dengan “segala sesuatu yang diterima secara umum sebagai media pertukaran dan pengukur nilai”.

Sementara itu, Qal’aji (DR M. Rawas Qal’aji, al-Fikr al-Iqtishadi ‘inda Umar ibn al-Khaththab, Majalah As Sunnah wa as-Sirah, edisi 3, 1408/1988, hal. 23) mengemukakan definisi yang memberikan penekanan pada aspek legalitas di samping juga memperhatikan aspek fungsi sebagaimana definisi di atas. Ia mengatakan, “nuqud adalah sesuatu yang dijadikan harga (tsaman) oleh masyarakat, baik terdiri dari logam atau kertas yang dicetak maupun dari bahan lainnya, dan diterbitkan oleh lembaga keuangan pemegang otoritas.” Atas dasar definisi ini ia berpendapat, seandainya masyarakat dalam melakukan transaksi menggunakan unta sebagai alat pembayaran, unta tersebut tidak dapat dipandang sebagai uang (nuqud) melainkan hanya sebagai badal (pengganti) atau ‘iwadh (imbalan). Hal itu karena sesuatu yang dipandang sebagai uang harus memenuhi sekurang-kurangnya dua syarat. Pertama, substansi benda tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara langsung melainkan hanya sebagai media untuk memperoleh manfaat; dan kedua, dikeluarkan oleh otoritas untuk menerbitkan uang yang sah.

Dalam peradaban Islam dikenal pelbagai jenis nuqud di antaranya Dinar, Dirham, Riyal, Daniq, Rufiyah atau Rufee, Ringgit, Tahil (Tayl), Qirsy, Junaih, dll.

F.2 Atsman (أثمان)

Tsaman (j. Atsman dikenal pula sebagai tsamaniyah),dilihat dari sudut bahasa, menurut Al-Ashfahani (1961,82) atsman memiliki beberapa arti; antara lain qimah, yakni nilai sesuatu, dan “harga pembayaran barang yang dijual” yakni sesuatu dalam bentuk apa pun yang diterima oleh pihak penjual sebagai imbalan dari barang yang dijualnya; sedangkan dalam tataran fiqih, kata itu digunakan untuk menunjukkan sertifikat kepemilikan emas dan perak; Tsaman dirilis oleh “goldsmith” yang memiliki emas sebagai surat pinjaman/jaminan emas atau perak yang disimpan. Dalil pembolehan penggunaan uang kertas adalah tsaman ini, yaitu catatan nilai (nilai nominal) yang dibackup atau dijamin dengan kepemilikan emas atau perak (nilai intrinsik), sehingga lembaran catatan tersebut diqiyas dengan emas atau perak sesuai yang tertulis (nominal) pada lembaran tersebut.

F.3 Fulus (فلوس)

Fils / Fals (j. Fulus) digunakan untuk pengertian logam bukan emas dan perak yang dibuat dan berlaku di tengah-tengah masyarakat sebagai “receh” atau pecahan kecil dan lokal. Di Afrika dan Eropa banyak menggunakan tembaga, sedangkan Sumatera dan Afrika Utara ditemukan banyak menggunakan bahan nikel atau timah, Cina dan Jawa menggunakan bahan perunggu atau gongso, sedangkan Amerika menggunakan tumbaga, yaitu tembaga/copper bercampur emas.

E.4 ‘Umlah (العملة)

‘Umlah secara literal berarti karensi atau mata uang (currency). Umlah memiliki dua makna;

– pertama, satuan mata uang atau kurensi yang berlaku di negara atau wilayah tertentu, misalnya ‘umlah yang berlaku di Yordania adalah Dinar dan di Indonesia adalah Rupiah;

– kedua, uang sebagaimana dimengerti bahwa rupiah di Indonesia dianggap sebagai uang per sekarena alasan kepraktisan tapi membuat masyarakat salah kaprah. Karena mata uang (kurensi) berbeda dengan uang. Uang (money) berbeda dengan mata uang (currency).

E.5 Qirthas (قرطاس) atau النقود الورقية

Qirthas secara bahasa berarti kertas. Kertas adalah bahan baku untuk menyetak kurensi atau’umlah dan diberlakukan sebagai uang secara legal tender. Bahan kertas itu sendiri tidak memiliki nilai, akan tetapi nilainya ditunjukkan pada tulisan yang tertera pada muka kertas cetakan tersebut sebagaimana ‘dipaksakan’ penyetak yang biasanya adalah Bank Sentral suatu negara, tapi bisa jadi bukan bank sentral, seperti pada kasus HSBC. Oleh karena itu, fenomena uang kertas ini tidak ditemukan dalam fiqh salaf, karena sifatnya yang baharu, dan perlu pengkajian tersendiri. Dalam sejarah yang dimaksud dengan tsamaniyah bukanlah ‘umlah qirthasiyah (paper currency), karena yang pertama dianggap sebagai pengganti atau badal emas dan perak yang disimpan dalam peti penyimpanan. Kertas tsamaniyah dengan demikian dibackup/dijamin emas/perak sebagai underlying value. Keadaan tersebut telah dihapus sama sekali, bersamaan ditutupnya sistem Bretton-wood pada tahun 1971 oleh Nixon.

Taqiyuddin An-Nabhani (Muqaddimah Dustur. t-tp. 1963 atau Muqaddimah ad-Dustur aw al-Asbâb al-Mujîbah Lahu, Jilid I, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan II, 2009), berdasarkan kondisi uang kertas secara historis membagi menjadi tiga jenis uang kertas, di antaranya:

  1. Nuqud waraqiyah Ilzamiyah (inconvertible paper money / fiat money). Kertas yang sama sekali tidak dijamin oleh emas dan perak, secara substansi hanyalah kertas. Biasanya ini disebut uang keras atau uang kartal.
  2. Nuqud waraqiyah watsiqah (representative paper money). Kertas/sertifikat yang dijamin bukan oleh emas dan perak tapi yang lain, seperti prosentase kepemilikan perusahaan (saham), kontrak kerja (liability), kontrak jual atau kontrak beli, pernyataan utang (obligasi), kepemilikan barang di gudang seperti token. Kertas ini dianggap sebagai, kertas janji bayar atau promisory note.
  3. Nuqud waraqiyah na’ibah (substitution paper money). Kertas yang sepenuhnya dijamin oleh emas dan perak sesuai yang dinyatakan. Sebagian ulama menerima jenis ‘umlah atau kurensi seperti ini, sehingga sebagian ulama mengqiyaskan ‘umlah waraqiyah dengan emas dan perak. Namun prakteknya tidak ada jenis uang kertas seperti ini.

Lihat An Nabhani (An Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam. Darul Ummah. Beirut, ed. IV, 1990). Juga bisa dibaca di Abdul Qadeem Zallum, Al Amwal fi Daulatil Khilafah. Darul Ilmi lil Malayin. Beirut, ed. I, 1983).

رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً

وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى  أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

والله اعلم بالصواب

الفَقِيرٌ

Daftar Pustaka

  1. https://www.facebook.com/notes/rizki-wicaksono/kadar-solidus-bizantium/10150396637509891
  2. https://www.facebook.com/notes/rizki-wicaksono/bagaimana-bank-komersial-menciptakan-uang/10150175177454891
  3. https://www.facebook.com/notes/hayan-waruk/another-note-on-mithqal/10150330864895236
  4. https://www.facebook.com/notes/hayan-waruk/pasangan-itu-adalah-dinar-dan-dirham/10150247565640236
  5. https://www.facebook.com/notes/hayan-waruk/my-respond-to-umar-vadillos-the-question-of-24k-dinar-coins/10150168703110236
  6. http://m.dakwatuna.com/2009/11/23/4820/sejarah-penggunaan-uang-di-dunia-islam/

Kitab-kitab rujukan

  1. Kutubut Tis’ah (software 9 kitab hadits, Lidwa)
  2. Fathul Qadir, Ibnu Hamam
  3. Al Umm oleh Imam Syafi’i
  4. Qishatul Anbiya’ oleh Ibnu Katsir
  5. Tafsir Durrul Mantsur oleh Imam Suyuthi
  6. Ahkam as-Sulthoniyah oleh Imam Mawardi
  7. Al Muqaddimah, Ibnu Kholdun
  8. Ighotsatul Ummah, Imam Al Maqrizi
  9. al-Nuqud al-Qadimah al-Islamiyah, Imam Al Maqrizi
  10. al-Nuqud al-‘Arabiyah, Imam Al Maqrizi
  11. Muwaththo’ oleh Imam Malik
  12. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd
  13. At Tadzhib, Mushthofa Daibul Bigho
  14. Fiqhuz Zakat, Syekh Yusuf Qordhowi
  15. Siroh Nabawiyah, Syed Ali An Nadwi
  16. Tafsir Ahkam, Al Qurthubi
  17. Futuhul Buldan, Al-Baladzari
  18. al-Amwal, Abu Ubaid
  19. Ma’alimun Sunan, Al-Khitabi
  20. al-Majmu’, An Nawawi
  21. Al-Mushonnif, Ibn Abu Syaibah
  22. dh Dhoro’ib fis Sawad
  23. Al Baghdadi, Serial Hukum Islam: Penyewaan Tanah Lahan, Kekayaan Gelap, Ukuran Panjang, Luas, Takaran, dan Timbangan. Al Ma’arif. Bandung, 1987
  24. Dr. Abd Rahman Fahmi, Shonjus Sikkah fi Fajril Islam
  25. Ali Pasya Mubarak, al-Khuthuth at-Taufiqiyah
  26. Ali Pasya Mubarak, Dairah al-Ma’arif
  27. Ali Pasya Mubarak, Tahrir Wazn al-Mitsqal wa ad-Dinar wad Dirham
  28. DR Ali Abd Wahid Wafi, al-Iqtishad as-Siyasi
  29. DR Abd Aziz Mar’i, an-Nuzhum an-Naqdiyah wal Mashrofiyah
  30. Al Baghdadi, Serial Hukum Islam: Penyewaan Tanah Lahan, Kekayaan Gelap, Ukuran Panjang, Luas, Takaran, dan Timbangan. Al Ma’arif. Bandung, 1987
  31. Muqaddimah Dustur, Taqiyuddin An-Nabhani
  32. Nizham al-Iqtishad fil Islam, Taqiyuddin An-Nabhani
  33. Amwal fi Daulatil Khilafah, Abdul Qadim Zallum
  34. Iqtishaduna, Syed Baqir Sadr
  35. Radd al-Mukhtar
  36. Sakhul Anwar, Ibn Abidin

Lain-lain

  1. The Fourth International Conference On Bilad Al Sham; The Coinage of Syria Under The Umayyad 692-750 AD by Michael L Bates, (American Numismatic Society) p. 212-213
  2. The Coinage of Islam
  3. Bernstein, The Power of Gold – The history of an obsession
  4. John Porteous (1969). “The Imperial Foundations”. Coins in history : a survey of coinage from the reform of Diocletian to the Latin Monetary Union.. Weidenfeld and Nicolson.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s