Ibn Khaldun tentang Pajak

Ringkasan abstraksi dari artikel lengkap, lihat sumber di bawah, pada catatan akhir, referensi dan bibliografi yang diberikan.

oleh: Foundation for Science Technology and Civilisation. Info@fstc.co.uk

Hampir empat abad berlalu setelah masa Al-Muqaddasi (meninggal 946 M), Ibn-Khaldun menapaki menjadi salah satu ilmuwan Islam, yang menghubungkan secara baik antara intelektualitas dengan kecakapan manajerial yang paripurna, untuk membangun dasar-dasar ilmu sosial, ekonomi, sejarah serta ilmu politik modern.

Berikut sebuah cuplikan catatan khusus bagi kita untuk melihat sikap Ibn-Khaldun terhadap pajak yang diterapkan terhadap petani.

Ekstrak dari Muqqadima dari Ibn Khaldun terutama pada bagian tentang penyebab yang meningkatkan atau mengurangi pendapatan kerajaan, dalam Buletin d’Etudes Arabes, Vol 7, hal 11-15, diambil dari edisi De Slane’s, jilid II, hlm 91-4;

Dalam sebuah pemerintahan/kesultanan yang baru saja didirikan, pajak jumlahnya kecil, dan mampu memberi banyak pendapatan bagi negara. Namun, ketika (kesultanan) mendekati masa akhir, mereka menjadi besar dan sehingga mendapati pendapatan negara yang sangat sedikit.

Berikut ini alasannya: jika pendiri kesultanan mengikuti jalan agama, mereka hanya menerapkan pajak berdasar wewenang hukum Tuhan (syari’at), yang mencakup zakat, kharaj (pajak tanah), dan jizyah. Jumlah masing-masing tidak terlalu sulit untuk ditentukan, karena semua orang tahu bahwa pajak atas jagung dan ternak tidaklah berat, dan jumlah itu kurang lebih sama untuk jizyah dan kharaj. Tingkat pajak tersebut ditetapkan oleh hukum syari’at sehingga tidak dapat dinaikkan seenaknya. Jika pemerintahan kesultanan didirikan atas dasar sistem kesukuan atau dengan latar belakang penaklukan negeri lain, peradaban pastilah baru muncul setelah mereka nomaden.

Dampak dari pendirian peradaban ini adalah untuk melibatkan para penguasa terhadap kebaikan, kesabaran, dan ketidakmemihakan terhadap perolehan kekayaan, kecuali dalam kasus yang jarang terjadi. Dengan demikian, pajak dan kewajiban pribadi untuk membiayai penyelenggaraan kesultanan akan kecil. Hal ini menjadi dorongan bagi masyarakat untuk melaksanakan tugas mereka dengan penuh semangat dan antusiasme. Orang-orang bekerja pada tanah mereka karena semua orang ingin agar pajak tetap menjadi ringan, dan pada gilirannya ini akan meningkatkan pendapatan negara.

Manakala pemerintahan kesultanan telah mengalami masa yang cukup panjang, di bawah penguasa yang berganti berturut-turut, kepala negara atau sultan akan membutuhkan kemampuan yang lebih mendalam dalam pemerintahan mereka, dan akan kehilangan kebiasaan mereka (dalam kaitan dengan) kehidupan nomaden. Kemudian kesederhanaan tata krama, kesabaran, dan santai yang dicirikan pada mereka lambat laun menghilang. Administrasi menjadi lebih menuntut dan kompleks; adat menetap akhirnya mendorong karyawan pemerintah menjadi kasar dan berbelit. Dan mereka semakin menjadi merasa paling berkuasa. Dan ketika mereka menikmati kesejahteraan dan kesenangan, mereka juga menikmati kehidupan yang mewah, dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan baru. Hal ini mendorong mereka untuk menaikkan pajak pada semua, termasuk petani. Mereka ingin pajak untuk membawa lebih banyak pendapatan negara. Mereka juga mengenakan pajak pada produk pertanian pada penjualan di kota-kota dan provinsi-provinsi.

Pengeluaran negara untuk barang mewah di pemerintahan meningkat secara bertahap, dan sebagai peningkatan kebutuhan negara, pajak terus naik sebagai lanjutannya, dan menjadi lebih berat ditanggung oleh rakyat. Biaya-biaya ini muncul, bagaimanapun juga, sebagai konsekuensi karena kenaikan kebutuhan secara bertahap, tanpa disadari, dan siapa yang melakukannya tetap tidak terlihat. Peningkatan ini, dengan demikian, mengambil bentuk sebagai kewajiban yang telah lama terbiasakan. Dengan berjalannya waktu, pajak tumbuh luar biasa tak tertahankan, dan menghancurkan petani terutama dorongan dan cinta mereka untuk bekerja.

Ketika mereka membandingkan biaya dan pengeluaran yang harus dibayar dengan keuntungan yang mereka peroleh, mereka menjadi kecewa; dan akhirnya pertanian ditinggalkan. Ini mengarah langsung kepada penurunan hasil pajak yang dikumpulkan oleh negara, yang kemudian mempengaruhi pendapatan negara.

Kadang-kadang, ketika kepala negara mengetahui penurunan pendapatan negara tersebut, mereka yakin bahwa mereka dapat mengatasinya dengan menaikkan pajak lebih lanjut, dan terus begitu sehingga mereka sampai pada titik dimana tidak ada keuntungan apapun yang bisa lagi diperoleh petani. Semua biaya dan pajak tidak akan meninggalkan kecuali kenestapaan dan bukan keuntungan apapun. Sementara itu, pemerintah masih saja menaikkan pajak. Pertanian akhirnya ditinggalkan. Petani meninggalkan tanah yang telah menjadi tidak berharga. Semua konsekuensi ini pada akhirnya menimpa negara …

Pembaca dengan demikian cara terbaik untuk membuat makmur pertanian adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin pajak yang dibebankan negara pada petani. Kemudian petani akan bekerja dengan semangat baru dan tahu manfaat yang besar yang mereka peroleh dari Allah Penguasa segala sesuatu.

oleh: FSTC Limited, Senin 1 Juli 2002
http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=244

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s