Dirham: Mulai dari Diri Sendiri, Mulai dari yang Kecil, Lakukan Sekarang

Assalamu’alaikum,

Banyak teman dan saudara yang bertanya-tanya dan mempertanyakan bahwa Dinar/Dirham tidak praktis dan njelimet. Berbentuk koin sehingga repot dalam penyimpanan, juga rumit dalam transaksi sederhana apalagi transaksi dalam jumlah besar. Belum lagi risiko “hilang” yang tidak bisa digantikan. Ada juga yang menyampaikan bagaimana dengan “pemalsuan” seperti berkurangnya kadar (di mana dinar seharusnya 24K tapi yang beredar dianggap dinar adalah 22K), dlsb.

Bahkan ada juga yang mengatakan cadangan emas yang ada tidak mungkin menggantikan transaksi dunia saat ini yang sudah sangat besar (baca: menggelembung). Tentu banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari sisi praktis. Sebagian pertanyaan yang muncul telah diberikan tanggapan pada artikel sebelumnya.

Lihat

Penerapan Dinar dan Dirham dalam Ekonomi Modern

Berikut ini adalah tips sederhana untuk memulai mempraktekkan penggunaan dinar/dirham dalam skala individu ataupun keluarga. Prinsipnya: mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil/sederhana dan lakukan sekarang (dari KH Abdullah Gymnastiar).

Kenapa Dirham? Sering yang menjadi keberatan adalah Dinar mahal. Meskipun sejak Dinar digunakan pertama kali sampai hari ini esensinya sama, tapi karena adanya inflasi maka seolah Dinar menjadi mahal. Oleh karena itu, sebagai langkah praktis kita akan mulai dengan Dirham.

1. Mulailah dari memiliki Dirham ataupun Daniq perak.

Setidaknya kita bisa mulai dengan mengurangi kepemilikan kertas dan digital kita dengan Dirham atau lebih kecil lagi 1/6 Dirham yaitu Daniq perak. Ini adalah langkah awal untuk merasakan sendiri memegang dan “memiliki” kepingan uang perak yang sesungguhnya, sebagaimana sejarah Nusantara maupun Islam pada umumnya dan sejarah peradaban, menjadikan uang perak sebagai uang.

Dan ini merupakan tindakan nyata, tanpa harus sibuk dengan berbagai teori dan grafik-grafik data. Cukup mengurangi kepemilikan kertas dengan memiliki Dirham. Lalu untuk apa dengan itu? Setidaknya ini langkah awal, untuk menyelamatkan diri dari riba dan juga dari penggerusan kapitalisme seperti inflasi.

Untuk bisa mendapatkan Dirham atapun Daniq bisa menghubungi penyetak Dirham/Daniq maupun melalui Dinarfirst atau melalui perwakilan, bisa klik di bawah ini

Alamat kiosk Dinarfirst di Nusantara dan Dunia

2. Menyimpan Dirham secara rutin/berkala

Budaya menabung adalah budaya merencanakan masa depan. Sudah banyak himbauan untuk menabung. Orang tua bilang untuk jaga-jaga jika ada sakit ataupun bencana. Untuk jaga-jaga bagi pendidikan anak-anak. Barangkali kita tertarik dengan berbagai skema pembiayaan dan asuransi. Tapi melalui simpanan Dirham hal itu dapat diatasi dengan mudah.

Sebaiknya sisihkan sebagian dari pendapatan walaupun hanya satu Dirham perak (mungkin sekarang 26 Apr 2011 sekitar 52,800) setiap bulan untuk disimpan.

Dinarfirst telah memiliki layanan titipan Dirham dan bisa dicek secara online baik melalui yahoo messenger, BBM ataupun sms. Dan bisa dilakukan transfer antar akun jika melakukan transaksi. Semua ada fisiknya.

Apabila kita menabung dalam bentuk rupiah di Bank, tentu akan digerus oleh pajak, biaya administrasi, dan lain-lain, sedangkan bunga dari Bank tidak memenuhi besarnya inflasi yang terjadi. Artinya secara nominal uang kita berkurang. Sedangkan bila kita simpan dalam Dirham, maka dia akan tetap. Inflasi mungkin menguntungkan pemilik Dirham, tapi yang pasti uang kita selamat.

Tentang titipan Dinarfirst bisa di klik di bawah ini

Dinarfirst – Mobile Payment System For All

Dinarfirst Mobile Payment System

3. Menerima pembayaran dengan Dirham

Jika anda pegawai suatu perusahaan anda bisa memohon agar anda dibayar sebagian dalam bentuk Dirham. Sehingga anda otomatis memiliki Dirham setiap menerima upah (baik bulanan, mingguan atau harian). Bisa kita mulai dari 30% dari total penerimaan kita, yang penting kita sudah memulainya.

Jika kita pedagang atau pemberi jasa (pengusaha barang atau jasa) kita bersedia menerima pembayaran, selain rupiah, dengan Dirham (atau Dinar), sehingga kita otomatis bisa memiliki Dirham yang bebas dari riba.

4. Memberikan pembayaran dengan Dirham

Sebaliknya jika anda pengusaha dan memiliki karyawan, coba ajukan kepada karyawan anda untuk menerima sebagian pembayaran upah dengan Dirham. Bisa dari 10% sampai 30% untuk memulainya. Ajarkan karyawan untuk menabung dan bertransaksi antar mereka dengan Dirham, dari sekedar membeli pulsa ke rekan kerja yang kebetulan ‘nyambi’ jualan pulsa elektronis, ataupun jual beli baju maupun jasa mengecat rumah misalnya.

Jika kita berbelanja, akan lebih baik jika kita memiliki langganan pedagang atau supplier yang menerima Dirham sehingga Dirham tersirkulasi. Seandainya anda tetap ingin memegang Dirham, toh kita masih bisa menyisakan sebagian sebagai tabungan atau simpanan yang bisa disimpan sendiri atau dititipkan melalui Dinarfirst.

Untuk penjelasan lebih jelas klik

Dokumen Sejarah dan Penerapan Dinar/Dirham di Nusantara

Dokumen lengkap bisa diunduh/download di sini

Dan bisa klik

Membangun Muamalat Islam (ad-Dien al-Muamalat)

5. Waqaf dengan Dirham

Saat ini dorongan agar hidup kita berkah semakin kuat. Orang bilang, semakin banyak memberi, semakin besar kita menerima. Demikianlah dalam berbagai pelatihan, dari The Secret ataupun The Law of Attraction, sampe The Power of Sadaqa, dan seterusnya menyemangati kita agar peduli pada sesama, dan mengajak pada perbaikan umat.

Baitul Maal adalah semacam lumbung bagi komunitas maupun masyarakat untuk bisa menyalurkan charity. Tetapi baitul maal juga berperan untuk menggalang waqaf. Saat ini sudah ada waqaf cash dalam bentuk tunai. Jika waqaf tunai dilakukan dengan Dirham maka manfaatnya sangat besar, untuk membangun infrastruktur dan program-program pemberdayaan.

Kembali ke adagium, semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. Berikanlah waqaf melalui Baitul Maal insya Allah kita juga akan merasakan manfaatnya.

Keterangan mengenai wakaf bisa klik

Peran Wakaf dalam masyarakat

6. Membayar zakat dengan Dirham

Apabila simpanan kita dalam Dirham telah mencapai nisab, yaitu setara 200 Dirham setelah kaul satu tahun wajib dikeluarkan zakatnya 2,5%, yaitu sekitar 5 Dirham. Bayarlah harta kita dengan harta yang sesungguhnya. Salurkan melalui Baitul Maal agar harta kita bersih dan membantu sesama memperbaiki hidupnya.

Sebaik-baiknya umat Islam adalah apabila dia bisa menjadi muzakki atau pembayar zakat semuanya. Insya Allah harta bersih akan membawa barokah yang berlipat ganda.

Perhatikan link berikut mengenai Fatwa berikut

Fatwa Berat dan Kadar Dinar-Dirham Islam

Memberikan informasi bahwa nisab zakat emas adalah 20 Mitsqal dan nisab zakat perak adalah 200 Dirham.

7. Berbelanja dengan Dirham

Sebagaimana sedikit disampaikan pada poin 4. membayar dengan Dirham, mari kita kembangkan ekonomi umat dengan berbelanja dengan Dirham. Apabila pedagang, toko, suplier, penyedia barang dan jasa, menerima pembayaran dengan Dirham dan dia juga berbelanja bahan baku, jasa, dlsb dengan Dirham maka Dirham otomatis menjadi beredar dan berputar di antara umat, saling mensejahterakan dan saling menguatkan.

Bisa dimulai dari diri kita sendiri dengan suplier kita, bisa dari kita dengan pembeli jasa/barang kita. Dan kita bisa bergabung ke Saudara (Saudagar Nusantara), yang merupakan perkumpulan para

Profesional, Designer, Artist, Pengusaha, Toko, Pedagang, Warnet, BMT, Koperasi, Supplier, Toko Herbal, Publisher Islam, Toko Pakaian, Pesantren, Paguyuban, Restoran, Hotel, UKM, Kerajinan, Rumah Sakit Islam dan lainnya.

Mengenai Saudara klik

Saudara: Membangun Perdagangan Adil-Swadaya tanpa Riba dan Pasar Islam

Untuk aplikasi Saudara bisa download di sini

8. Mengajak orang lain berinteraksi (tukar menukar, bertransaksi) dengan Dirham.

Kemudian sambil bertransaksi dan berinteraksi kita juga pelan-pelan bisa mengajak orang lain untuk praktek. Kenapa tidak, ini tindakan budaya, perlahan tapi pasti. Insya Allah

Seandainya masih menolak, ya kita harus bersabar. Ingat dakwah sebaiknya dengan hikmah, dan pengajaran yang baik. Tidak mudah memang. Tetapi Allah akan membuka hati mereka, insya Allah, jika kita sabar dan tawakkal.

Barokallah…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s