Penerapan Dinar dan Dirham dalam Ekonomi Modern

Ekonomi monetaris yang bekerja saat ini bersifat inflasionis (in itself). Dan dengan demikian harga-harga barang, berdasarkan ekonomi gelembung, mengalami kenaikan harga yang drastis. Daya beli masyarakat semakin turun. Selain itu inflasi mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi investasi, kenaikan biaya modal, dan ketidakjelasan ongkos serta pendapatan di masa yang akan datang. Dalam ekonomi gelembung iklim investasi menjadi sangat buruk tetapi menjadi iklim yang sangat menarik bagi spekulasi.

Semenjak Bank Syariah diperkenalkan, sebagai alternatif Bank Islam, di tengah sistem ekonomi yang inflasionis, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat. Selain itu Bank Islam menghadapi beberapa kendala teknis dengan para nasabah deposan yang bertindak sebagai shâhib al-mâl karena nilai modal yang diterimanya di kemudian hari lebih kecil dari nilai yang sebenarnya. Belum lagi beban utang negara menjadikan pajak diterapkan kepada penabung/pemodal (shâhib al-mâl) menjadi terasa berat membebani. Konflik juga dapat terjadi antara Bank Islam dengan nasabah murâbahah karena kasus inflasi mengakibatkan ketidakmungkinan Bank Islam menaikan harga jual murâbahah, sehingga nasabah tidak membayar harga menurut kenaikan inflasi. Dan Bank Islam serta merta tidak dapat menerapkan qirâd secara utuh karena nilai mata uang yang selalu harus menghadapi inflasi.

Permasalahan tersebut menimbulkan reaksi para ahli ekonomi Islam maupun pengamat, seperti Mahathir Muhammad, Hifzu Rab, ‘Umar Vadillo, ‘Imran N. Hosein, Ahamed Kameel Mydin Meeradan lain-lain yang menyerukan penerapan kembali dînâr dan dirham sebagai mata uang alternatif dan jalan keluar penyelesaian kasus-kasus transaksi inflasioner di dunia ekonomi modern. Mereka beralasan bahwa mata uang logam mulia dînâr dan dirham dapat menjamin keamanan transaksi karena keduanya memberikan keseimbangan nilai terhadap setiap komoditas yang ditransaksikan. Gagasan ini memberikan akses terwujudnya ekonomi makro yang kuat dengan dukungan penuh mata uang yang berbasis kekuatan riil materialnya.

Alur gagasan tidak berhenti pada bentuk penerapan saja. Mereka juga mengungkapkan bahwa sistem mata uang dînâr dan dirham sangat mempengaruhi kekuatan struktur akad-akad mu‘âmalah, karena dapat menghindarkan risiko-risiko penggerusan nilai yang diakibatkan oleh inflasi. Dengan demikian, alur gagasan tersebut berpendapat bahwa keadilan transaksi mu‘âmalah sangat dipengaruhi oleh jenis mata uang yang digunakan.

Apabila transaksi mu‘âmalah ingin mencapai keadilan, maka transaksi tersebut dibasiskan pada mata uang yang fixed yaitu dînâr dandirham. Itulah sebabnya kehadiran mata uang dînâr dan dirham dianggap sebagai prasyarat penting untuk mewujudkan keadilan transaksi di “Bank Islam”, termasuk pula di tempat-tempat transaksi lainnya.

Atas dasar alur gagasan tersebut di atas maka munculah rencana tindakan revolusioner yang ingin mengganti kedudukan mata uang kertas dengan mata uang dînâr dan dirham.

Kendati menarik, sesungguhnya gagasan tersebut memiliki catatan. Ada tiga alasan yang dianggap sebagai catatan mengenai gagasan penerapan kedua mata uang logam mulia tersebut.

Penimbunan dan Pemalsuan

Dilihat dari sisi sejarah, penerapan mata uang dînâr dan dirham tidak selalu mengalami jalan yang mulus. Mata uang dînâr dan dirham pernah mengalami goncangan yang luar biasa sehingga mengakibatkan masyarakat kesulitan bertransaksi. Goncangan tersebut diakibatkan oleh perilaku ekonomi manusia yang destruktif dan juga oleh gejolak alam yang sangat besar. Jadi dalam sejarahnya, dînâr dan dirham juga pernah mengalami inflasi.

Perilaku destruktif itu berbentuk penimbunan (ihtikâr) dan pemalsuan mata uang (al-ghasy). Dalam kasus penimbunan, para penimbun sengaja melakukan “sabotase” suplai bahan-bahan makanan pokok sehingga harga-harga komoditas tersebut melambung tinggi. Kejadian ini selalu diungkapkan berulang-ulang dalam kitab fiqh dan tarîkh (sejarah).

Sebagai contoh, di abad ke-14 Masehi, al-Maqrîzî pernah menceritakan bahwa akibat kasus penimbunan, terjadilah inflasi, sehingga harga gandum pernah melonjak dari 400 dirham menjadi 450 dirham per liter ardib dan harga biji gandum melonjak dari 180 dirham menjadi 300 dirham per liter ardib. Akibat kejadian ini, maka harga gandum naik 12,5% dan harga biji gandum naik 66,6%. Dari kasus ini dapat diungkapkan bahwa nilai mata uang logam mulia tidak fixed sepenuhnya, tetapi dipengaruhi pula oleh supply dan demand. Dan oleh karena itu komoditas bahan pokok adalah menjadi determinan yang paling mempengaruhi dan bukan mata uangnya.

Pencemaran terhadap mata uang dînâr dan dirham juga terjadi pada kasus-kasus pemalsuan (pengurangan kadar). Dalam kasus-kasus pemalsuan, para pemalsu sengaja melelehkan zat emas dînâr dan perak dirham, mengambil emas dan peraknya lalu memasukkan zat logam lain seperti tembaga (copper), sehingga terjadilah penumpukkan emas dan perak asli di tangan pemalsu.

Keadaan ini telah menganggu “kepercayaan publik” terhadap mata uang dînâr dan dirham saat itu. Uniknya, peristiwa seperti ini tidak terjadi sekali, tetapi telah terjadi berkali-kali selama periode kekuasaan Islam klasik. Bahkan kejadian seperti ini telah merepotkan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb, sehingga ia menggagas mata uang yang terbuat dari kulit unta.

Gagasan ini sangat menarik, karena Khalifah ‘Umar RA merancang suatu “sistem moneter baru” yang tidak berbasis pada mata uang emas dan perak, tetapi pada komoditas spesifik lainnya. Seandainya bukan karena alasan kekhawatiran punahnya unta, publik di dunia Islam sudah lama menyaksikan sejarah digunakannya mata uang yang terbuat dari kulit (unta). Dan terutama pula bahwa pendekatan penegakan hukum yang militeristik dan kaku tidak dijadikan sebagai solusi.

Permasalahan pemalsuan mata uang dînâr dan dirham tersebut menjadi sangat serius karena kemudahan para pemalsu memalsukan mata uang dan kesulitan para penguasa Islam saat itu dalam memberantaskan tuntas pelaku-pelaku kejahatan tersebut. Walaupun ada penguasa Islam yang pernah berhasil menjerat pemalsu di suatu waktu, tetapi kasus tersebut selalu muncul kembali di waktu lainnya.

‘Umar Vadillo berinovasi dengan membuat dînâr 22K, yaitu emas yang tidak murni (meskipun secara syariat dînâr adalah emas murni), dengan menambahkan unsur tembaga (copper) dan perak (silver) ke dalam koin kemudian dari sisi desain (bergerigi di samping, dll) untuk melawan pemalsuan. Sehingga apabila otoritas, dalam hal ini pemerintahan Islam membuat sesuai sarannya, maka pemalsuan sudah terjadi “by design” dan menjadikan lemahnya pemalsuan pada tingkat berikutnya. Tesis ini juga membuat kerumitan tersendiri dan tidak menjamin adanya pemalsuan.

Sedangkan pihak lain menyarankan dengan menggunakan sertifikat berlisensi internasional seperti LBMA. Hal ini menimbulkan biaya yang tidak perlu (pada kasus PT Logam Mulia menimbulkan biaya sekitar IDR 150,000/sertifikat) pada dînâr sehingga juga mempengaruhi nilai dari uang itu sendiri, dan pada akhirnya berpengaruh pada efisiensi dan keandalan sebagai mata uang yang disirkulasikan.

Alternatif paling memungkinkan dalam melawan pemalsuan adalah dengan (1) menyetak dînâr yang murni sehingga jelas sifat dan keadaan bahannya. Kritik yang dialamatkan pada dînâr yang murni adalah lunaknya emas sehingga menganggu digunakannya dînâr  dalam sirkulasi pasar. Tetapi dari sisi pemalsuan hal tersebut sangat mudah diatasi.

Kemudian (2) Pendidikan muhtasib secara luas. Keberadaan muhtasib sebagai individu yang skillful dalam mengkaji kemurnian dînâr harus ada di setiap pasar dan masyarakat. Dan lebih dari itu, kecakapan mengkaji kadar harus menjadi common knowledge para pelaku pasar. Di sini peran otoritas melalui walayatul hisbah berperan penting untuk menangani pemalsuan secara cepat. Dengan demikian kebijakan pemerintahan Islam dalam menangani pemalsuan harus ditegakkan dengan bijaksana, dan ini berlaku pula bagi pelaku penimbunan komoditas. Sebagaimana dicatat di atas pendekatan penegakan hukum yang militeristik tidak disarankan.

Dan (3) Membuat desain minting koin yang tidak mudah dipalsukan dari sisi pengurangan kadar dan berat. Dari sisi teknologi yang advanced tetapi reliable dari sisi cost, mekanisme industri dan sebaran/distribusi, sangat diperlukan untuk menghadapi pemalsuan (counterfeiting).

Bencana Alam

Hal lainnya adalah kegoncangan mata uang dînâr dan dirham semakin diperparah oleh gejolak alam yang luar biasa, seperti surutnya air sungai Nil, kekeringan di Syam, dan di tempat-tempat Islam lainnya. Peristiwa ini mengakibatkan pangan menjadi langka dan memunculkan konflik di antara masyarakat. Kitab-kitab sejarah Islam klasik sering menceritakan bahwa kasus-kasus seperti ini telah menimbulkan banyak korban jiwa dan sering memaksa publik berperilaku ekstrim, yakni memakan bangkai dan sisa-sisa makanan yang sudah tidak layak lagi. Keadaan ini menjadikan economy lost akibat bencana bisa menjadi lebih besar, karena hilangnya uang-uang tersebut secara fisik.

Tentu hal ini sulit dihindarkan kecuali bahwa kita dapat menerapkan kewaspadaan terhadap bencana dan tindakan-tindakan aktif dalam memitigasi bencana dan mengurangi risiko bencana. Oleh karena itu secara spesifik, masyarakat perlu mengembangkan sendiri mekanisme lumbung yang dikelola komunitas dan menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam upaya ini. Secara umum, hal ini selaras dengan tindakan pengurangan risiko bencana, dan secara khusus menghidupkan kembali lumbung pada tingkat komunitas serta specific measurement dalam melindungi kekayaan secara individual (lumbung keluarga).

Struktur Makro dan Regulasi

Di dunia ekonomi modern, mata uang berbasis emas pernah mengalami kegagalan dalam mengimbangi perdagangan dunia. Pengalaman Bretton Woods yang membasiskan sistem pertukaran mata uang dengan emas telah membuktikan kegagalan sistem mata uang seperti ini. Dolar berbasis emas di era Bretton Woods tidak mampu memberikan jaminan stabilitas pertukaran yang baik dan memaksa Amerika Serikat melakukan pengubahan sistem mata uang dari standar emas menjadi standar kertas.

Kehancuran sistem Bretton Woods ini ditandai dengan adanya peristiwa “Nixon Shock” pada 1971. Ketika itu emas Dolar Amerika mengalami kemerosotan dari 55% menjadi 22%. Oleh karena peristiwa ini, semula satu ons emas sama dengan  35 Dolar Amerika, kemudian berubah menjadi 68 Dolar Amerika, yang berarti bahwa nilai Dolar terhadap emas tergerus hingga 94,2%.  Ini berarti bahwa negara industri besar telah kekurangan emas dalam memenuhi kebutuhan industri dan perdagangannya.

Oleh karena itu sangat penting artinya dînâr dan dirham untuk mempertimbangkan struktur ekonomi makro suatu negara. Dan menimbang kapasitas suatu negeri dalam mengelola ekonominya. Sistem monetaris yang diterapkan pada keuangan yang berbasis emas tidak akan bisa berlaku. Hal ini membutuhkan pertimbangan matang dalam industri maupun perdagangan suatu negara. Negara harus ikut campur tangan dan membangun regulasi yang relevan agar meleverage dunia swasta dan pasar. Misalnya dengan basis perekenomian sumberdaya, akan mempertimbangkan aspek-aspek penting sumber daya negara dalam mengelola perekonomian, dengan demikian strategi relevan dalam pengembangan industrinya.

Tentu hal ini bukanlah mudah dan perubahannya bersifat sistemik. Argumentasi yang paling mungkin dikemukakan sekarang adalah meskipun ada pasang naik dan surut peran mata uang berbasis emas, tetapi keandalannya berabad-abad dan milenium harus dipertimbangkan lebih. Sedangkan alternatif masa depannya memang harus dikaji lebih mendalam dan tentu saat ini sifatnya masih berupa wacana dan pemikiran.

Ekonomi berbasis sumber daya (resource-based economy) yang diterapkan secara makro nasional maupun dalam lingkup regional (local economic development) memberikan alternatif pemecahan dan bisa menjadi sistem padu terhadap tata kelola perekonomian berbasis dînâr dan dirham.  Selain itu dalam sejarah membuktikan bahwa sistem emas lebih sedikit keburukannya dibanding sistem monetaris yang menghancurkan Bretton Woods (Note: hancurnya sistem Bretton Woods karena bank sudah menerapkan ekonomi gelembung yang inflasionis melalui kertas-kertas yang beredar melebihi dari deposit emas).

Hambatan Sistem Perbankan Islam

Sedangkan alasan ketiga, perbankan Islam hari ini rupanya tidak terlalu mendukung upaya penerapan mata uang logam mulia ini. Walaupun mulut mereka menerima karena selalu terlibat dalam forum-forum dînâr dan dirham, tetapi hati mereka masih berat melakukannya. Dan hal ini wajar karena sistem yang dibangun perbankan Islam masih merupakan sistem monetaris yang mengandalkan pada gelembung ekonomi. Selain itu perbankan Islam tetap dianggap sebagai institusi profit bukan jasa yang bersifat terbuka dan bersifat komunal.

Namun demikian, kenyataannya hingga sekarang usulan-usulan tersebut tidak pernah direalisasikan dalam tindakan nyata. Sebaliknya, walaupun perbankan syariah masih menggunakan mata uang kertas, mereka tetap leluasa dalam menciptakan prestasi-prestasi keuangannya, baik dari segi peningkatan aset, peningkatan DPK, peningkatan profitabilitas, dan lain-lain.

Oleh karena itu karakteristik bank sebagai profit making center harus diarahkan kepada service offering center. Hal tersebut tidak akan bisa dilakukan ketika shareholder berkuasa dibanding community stakeholder. Sehingga praktik banking harus diarahkan kepada praktek community saving, dari dimiliki swasta menjadi milik komunitas.

Perubahan Perilaku dan Cara Berpikir

Dari uraian di atas, sesungguhnya stabilitas nilai mata uang tidak didasarkan kepada zat mata uang saja, sehingga berefek pada tindakan revolusioner yang mengubah seluruh zat mata uang dari kertas ke logam mulia emas dan perak, melainkan dengan perbaikan perilaku ekonomi manusia dan cara berpikir yang berada di sekitar mata uang tersebut.

Ciri kerusakan kepingan dînâr-dirham dan mata uang kertas tidaklah sama, tetapi keduanya sama-sama diakibatkan oleh perilaku pelaku ekonomi yang destruktif. Mata uang dînâr-dirham pernah rusak karena penimbunan dan pemalsuan, sedangkan mata uang kertas bersifat rusak hakiki karena pembungaan dan spekulasi. Krisis moneter di akhir tahun sembilan puluhan dan krisis global yang terjadi baru-baru ini, bersumber dari pembungaan dan spekulasi tersebut.

Oleh karena transisi dari ekonomi monetaris ke ekonomi yang menggunakan dînâr dan dirham haruslah juga mewaspadai cara berpikir yang berbasis keserakahan dan sifat tamak duniawi. Oleh karenanya perubahan cara berpikir dari monetaris tidak sekedar beralih ke dînâr dan dirham semata tetapi perubahan mental secara menyeluruh.

Kemudian perlu diingat bahwa, dalam sejarah, Islam pun mengungkapkan bahwa penggunaan mata uang dînâr dan dirham bukan sekedar perintah agama semata, melainkan mempertimbangkan pula produk tradisi. Oleh karena itu, jika suatu tradisi atau kebudayaan manusia menghendaki penggunaan mata uang dînâr emas dan dirham perak, maka mata uang itulah yang wajib digunakan. Nah tentu itu juga terkait dengan pemerintahan Islam setempat. Tetapi apabila suatu tradisi menghendaki penggunaan nama lain bagi mata uang yang berbeda, maka mata uang yang berbeda itulah yang digunakan. Dengan demikian pandangan Islam seperti ini lebih fleksibel dengan perkembangan pemikiran dan tradisi yang berlaku di zamannya. Jadi di satu sisi tidak terlampau mensakralisasi dînâr dan dirham,  dan di sisi lain juga mempertimbangkan “nama lain” atau “standar lain” yang diakui secara setempat, asalkan tentu saja, prinsip dasar dalam ekonomi nonmonetaris atau ekonomi dînâr dan dirham disepakati sebagai sistem ekonomi bersama.

Dukungan Para Ekonom

Sebagai catatan terakhir yang juga penting, yaitu sikap kritis terhadap penerapan mata uang dînâr dan dirham ternyata telah ditunjukkan pula oleh tokoh ekonomi lain, baik di dalam maupun di luar negeri. Tokoh-tokoh tersebut seperti Sri-Edi Swasono dalam buku berjudul Menolak Neoliberalisme dan Membangun Ekonomi Nasional dan Zubair Hasan dalam artikel ilmiah berjudul Ensuring Exchange Rate Stability: Is return to Gold (Dinar) Possible?

Mereka mengungkapkan bahwa penerapan kembali mata uang dînâr dan dirham masih bersifat imajiner, mengandung kedangkalan, dan kurang didukung oleh fakta-fakta ilmiah yang kuat. Dengan demikian, masih adanya penolakan terhadap konsep penerapan kembali mata uang dînâr dan dirham telah menjadi isu penting yang dapat mereposisi kedudukan mata uang dalam dinamika sistem keuangan di dunia Islam.

Oleh karena itu perlu dilakukan kajian terus menerus, riset aksi dan uji coba penerapan dînâr dan dirham dalam praktek muamalah dan sosial ekonomi, serta sirkulasi (tasaruf) mata uang tersebut adalah langkah paling efektif untuk mencari formulasi paling tepat rekonstruksi muamalah. Sedangkan ekonom adalah para pengamat ahli yang dapat mencermati, menilai, memberikan masukan agar masa depan menjadi lebih baik.

Satu pemikiran pada “Penerapan Dinar dan Dirham dalam Ekonomi Modern

  1. ya gagasan yang menarik adalah untuk membuat tools evaluasi penerapan dînâr dan dirham di masyarakat. Salah satunya adalah indikasi tasaruf, seberapa banyak koin berpindah dari tangan ke tangan. Karena dengan semakin meluasnya sirkulasi maka sesungguhnya dia akan efektif bekerja sebagai mata uang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s