Lumbung ke Bank Benih

Diskusi mengenai lumbung desa, terkhusus lumbung kebutuhan pokok, masih belum tuntas. Tetapi ada satu hal penting dalam lumbung yaitu untuk mendorong pembuatan bank benih pada tingkat pedesaan. Saya pribadi mulai mengenal jaringan ini ketika bekerja di Aceh terutama dengan YBA di Aceh Tamiang yang juga merupakan kontak dengan La Via Campesina.

Akses terhadap benih menjadi salah satu permasalahan laten petani. Sejak revolusi hijau bergulir, penguasaan benih beralih dari tangan petani ke tangan perusahaan industri benih yang mengklaim atas nama teknologi penghasil keunggulan dalam hal produktivitas dan ketahanan terhadap penyakit. Dan ini adalah bagian dari tata ekonomi monetaris di bidang pertanian.

Faktanya, kemajuan teknologi tersebut bukannya semakin mensejahterakan petani. Teknologi yang seharusnya bermanfaat bagi petani sebagai subjek dari kegiatan pertanian tersebut malah justru menjadi pundi penghasil kekayaan bagi para pemilik modal. Petani semakin tergantung terhadap benih hibrida yang semakin hari harganya semakin melangit. Sebagai contoh, data terakhir menyebutkan bahwa  Industri benih jagung hibrida di Indonesia masih dikuasai oleh PT DuPont. Sebagai pemimpin pasar, dengan produk benih jagung hibrida merek Pioneer, DuPont menguasai market share hingga 35%. Perusahaan yang memilki pasar utama  di Jawa yang mencapai 80-82% ini dalam 10 tahun telah memiliki 27 jenis varietas jagung hibrida yang sudah dikembangkan sebagai hasil kerjasama dengan balai penelitian benih pemerintah.

Sebagai modus alternatif , SPI telah mendirikan Pusat Perbenihan Nasional di Bogor Jawa Barat (Juni 2009). Titis Priyowidodo, koordinator Pusat Perbenihan SPI menyebutkan bahwa pusat perbenihan nasional ini merupakan tempat memproduksi benih-benih lokal untuk kepentingan petani terutama petani anggota SPI. Sampai saat ini terdapat 52 jenis calon benih di bank benih SPI. Benih-benih tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia yang di dapatkan melalui pertukaran dengan anggota SPI di wilayah lain maupun dari petani di negara lain anggota La Via Campesina (Organisasi Petani Internasional).

Benih-benih tersebut disimpan di ruang penyimpanan, untuk selanjutnya calon benih ini akan ditanam di lahan konservasi dan diproduksi sesuai dengan kebutuhan anggota. Penanaman ini bertujuan untuk mengindentifikasikan karateristik benih yang nantinya akan digunakan sebagai bahan kodifikasi dan pelabelan.  Sampai saat ini, baru empat jenih benih yang telah di tanam dilahan konsevasasi, yaitu bayam, pepaya, bengkoang dan kacang tanah.

Titis menambahkan bahwa Bank Benih SPI telah memproduksi dan  menyalurkan delapan benih tanaman ke petani anggota SPI di Bogor, diantaranya adalah bayam, pepaya, kacang tanah, bengkoang, padi ciherang, situ bagending, pandan wangi dan metik susu. Proses penyalurannya dilakukan melalui koperasi. Selain itu juga, anggota SPI di wilayah lain juga telah mengakses benih dari Bank Benih.

“Kebutuhan akan benih anggota kita sangat besar, sampai saat ini kita belum bisa memenuhi semua permintaaan anggota dibasis, untuk itu bank benih melakukan pembelian benih dari petani penangkar eksternal yang juga merupakan anggota SPI  untuk memenuhi permintaan tersebut”, Ujar Titis.Untuk meningkatkan mutu benih yang dihasilkan, bank benih terus melakukan pendidikan kepada petani-petani penangkar benih dibasis dan menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga riset perbenihan.

7 Langkah Pembibitan: Sumber Yayasan IDEP Bali

Apa itu Bank Benih?

Suatu wadah/kegiatan petani miskin tertindas baik perempuan dan laki-laki untuk menyimpan, tukar-menukar, berbagi pengetahuan, saling meminjam, menyumbang, melestarikan, mengembangkan dan menjual benih/bibit local sebagai gerakan social terorganisir anti neoliberalisme-monopoli untuk mencapai kedaulatan pangan, keadilan dan kesejahteraan petani.

Apa Tujuan Bank Benih?

  • Mengoleksi dan memperbanyak benih yang diperlakukan secara tradisional.
  • Mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati.
  • Mengurangi kelalaian system penyimpanan benih.
  • Meningkatkan pilihan pemakaian ke-anekaragam-an hayati.
  • Sebagai tempat bagi para petani untuk bertukar benih dan informasi secara tradisional.
  • Untuk meyakinkan bahwa benih-benih tersebut telah diadaptasikan dan dikaitkan dengan system pasar tradisional, sehingga dapat mencegah potensi hilangnya ke-anekaragam-an gen.
  • Tempat penyimpanan plasma bagi pengembangan tanaman local sebagai pelengkap dari bank resmi yang fasilitasnya lebih modern.

Apa fungsi Bank Benih?

  • Bank benih diperuntukkan penyimpanan, pendistribusian serta pemasaran.

Prinsip Bank Benih

  1. Mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian dengan memanfaatkan sumberdaya local (seperti : benih/bibit unggul local, pupuk hijau, Kompos, dsb).
  2. Meningkatkan peng-anekaragaman tanaman.
  3. Mempertahankan pangan yang berkelanjutan (seperti Kecukupan giji dan kesehatan di dalamnya).
  4. Prinsip Pro Petani Miskin dan Tertindas
  • Bank Benih secara prioritas diperuntukkan dan dikelola oleh petani miskin dan tertindas itu sendiri.
  • Bank Benih dilakukan untuk memperkuat organisasi petani miskin, bukan justru melemahkannya.
  • Bank benih jangan sampai menjadi salah satu alat yang dapat digunakan secara manipulative untuk menindas kaum petani miskin tertindas.
  1. 5. Prinsip gerakan sosial
  • Bank benih mendorong ke arah munculnya kesadaran politik yang lebih luas tentang pentingnya konservasi dan pengembangan benih oleh petani itu sendiri.
  • Bank benih dikembangkan dengan cara yang tidak rumit, dapat ditiru oleh banyak pihak (Socially redupllicable), khususnya oleh petani miskin dan tertindas.
  • Mendorong lahirnya inisiatif dari petani itu sendiri, baik secara perorangan maupun secara kelompok.
  • Mendorong terjadinya kerjasama (cooperation) atas dasar solidaritas kelas petani miskin, bukan persaingan (compete each other) dan bukan melulu berdasarkan pertimbangan untung rugi ekonomi.
  • Bersifat massif-populis (melibatkan dan mengikutkan jumlah orang yang besar), tidak eksklusif-elitis (hanya dikuasai oleh beberapa orang saja).
  1. 6. Prinsip gerakan budaya
  • 1). Mendorong munculnya kreasi budaya dan inovasi teknik benih dari petani itu sendiri.
  • 2). Sebagai benih bagi terciptanya kelangsungan kehidupan petani.
  • 3). Mempunyai kesesuaian (punya akar budaya) dengan budaya pertanian setempat yang sejati (tepat guna).
  • 4). Dilakukan petani tanpa adanya paksaan. Jadi berdasarkan kesadaran sejati dari petani itu sendiri.
  • 5). Merupakan alat perlawanan budaya petani terhadap Patent yang dilakukan oleh TNC dan MNC.
  • 6). Bank benih menjadi salah satu media pendidikan bagi petani miskin dan tertindas untuk mengenal kekuatan petani yang bersifat potensial (latent) yang harus diorganisir dengan serius (manifest).

Bagaimana mempertahankan kelangsungan dari Bank Benih?

  • 1). Membentuk komunitas bank benih.

Komunitas bank benih menjadi pusat jaringan benih dan menawarkan berbagai jenis pelayanan seperti ketahanan benih, penyimpanan, distribusi benih (misalnya dengan menawarkan system peminjaman), pertukaran, penyimpanan plasma nutfah dan pengenalan, pemasaran benih dan pelayanan lain yang dibutuhkan.

  • 2). Membuat jaringan persediaan benih.

Apa yang dimaksud dengan Benih, Biji dan Bibit?

  • Biji dan benih dua hal yang tidak dapat kita campuradukkan, karena biji belum dapat dikatakan benih.
  • Dikatakan BIJI apabila tumbuh tanpa adanya campur tangan manusia.
  • Dikatakan BIJI apabila sifatnya komersial. Misalnya untuk dijual, untuk pangan ternak atau bahan baku industry.
  • Dikatakan BIJI apabila digunakan untuk objek penelitian.
  • Dikatakan BENIH apabila BIJI yang telah dikelola, diusahakan oleh manusia untuk mengembangkan tanaman menjadi lebih bermutu.
  • Dikatakan BIBIT apabila benih yang telah disemaikan telah memiliki akar, batang dan daun. Sedangkan BIJI yang hidup tanpa sepengetahuan manusia tidak dapat dikatakan BIBIT.

(Sumber : BUKU TEKNOLOGI BENIH).

Kegiatan apa saja yang akan dilakukan?

  1. 1. Melakukan pendataan Benih/Bibit. Pendataan ini dilakukan untuk melihat sejauh mana hilangnya keanekaragaman hayati di tingkat basis, nasional maupun internasional.
  2. 2. Menyusun Sertifikasi Benih. Sertifikasi ini diperuntukkan memelihara benih/bibit yang dikembangkan agar terpelihara identitasnya.
  3. 3. Kelompok Pemulia Benih. Membentuk kelompok pemulia benih/bibit dimaksudkan agar pengembangan benih/bibit terkordinir dengan baik, seperti benih masuk dan benih keluar. Kelompok pemulia benih/bibit ini juga bertanggungjawab dalam penentuan proses pembenihan yang baik. Pengembangan benih/bibit difokuskan pada kelompok pemulia walaupun pada akhirnya akan dilakukan sendiri oleh petani.
  4. 4. Pendidikan dan Latihan. Untuk berjalannya program bank benih, pendidikan dan latihan menjadi wadah utamanya. Pendidikan dan latihan ini dilakukan di tingkat aktivis dan petani.
  5. 5. Advokasi dan Kampanye. Kegiatan ini dimaksudkan untuk sebuah gerakan untuk menentang GMO (Genetic Modified Organism) sebagai salah satu dari tujuan utama kita.
  6. 6. Pengelolaan bank benih. Menurut prinsip yang ada pengelolaan benih ada di tangan petani dan Pusdiklat organisasi.

Beberapa pengertian lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Seedbank

    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s