12 Tanda Akan Terjadinya Hiperinflasi di Amerika Serikat

Satu pertanyaan yang selalu diajukan kepada Asosiasi Inflasi Nasional (National Inflation Association) atau NIA yaitu: Apakah akan terjadi hiperinflasi? Jika ya, apakah tanda-tanda yang bisa dijadikan sebagai peringatan akan datangnya bencana tersebut? Dalam pandangan NIA, tanda-tanda penting akan terjadinya hiperinflasi, sebetulnya sudah sangat dekat. Bahkan bisa dikatakan bahwa kita sudah mendekatinya saat ini. Akan tetapi kebanyakan orang di AS dan para pengguna dollar gagal mengenalinya dengan seksama. NIA melihat akan adanya risiko yang teramat serius dari hiperinflasi yang akan terjadi pada paruh kedua dari kalender tahun ini. NIA memprediksi bahwa hiperinflasi betul-betul akan terjadi pada akhir dekade ini.

Dalam estimasi NIA, 2013 – 2015 adalah rentang waktu yang akan menjadi masa mewabahnya hiperinflasi. Orang yang hanya menunggu sampai tahun 2013 untuk bersiap-siap, tampaknya akan menjadi bagian dari mayoritas orang yang tiba-tiba kehilangan kemampuan daya beli secara drastis. Sangat esensial bagi semua masyarakat Amerika untuk mempersiapkan diri mereka sesegera mungkin dari serangan hiperinflasi.

Berikut ini adalah 12 daftar tanda-tanda terpenting akan adanya serangan hiperinflasi, yaitu antara lain:

1 ) Bank Sentral Amerika, Federal Reserve memiliki 70% dari obligasi pemerintah Amerika. Federal Reserve telah membeli 70% semua obligasi pemerintah AS. Sampai sekarang ini, AS telah berhasil mengekspor inflasinya ke seluruh penjuru dunia, dengan cara di mana mereka (negara lain) menimbun uang dolar yang sangat banyak sebagai cadangan devisa negara karena status dollar sebagai mata uang dunia. Akan tetapi, dalam beberapa bulan terakhir, bank sentral di luar Amerika yang biasanya membeli U.S. Treasury turun dari 50% menjadi 30%, dan Federal Reserve jutru telah meningkatkan kepemilikian surat utang Amerika dari 10% menjadi 70%. Ini berarti pemerintah Amerika mengalami defisit yang secara langsung mendorong inflasi di Amerika Serikat sendiri, yang kemudian akan menghancurkan standar kehidupan semua masyarakat AS.

2 ) Perusahaan Swasta AS menghentikan pembelian U.S. Treasury. Sektor swasta di AS sebelumnya adalah pembeli dari 30% obligasi pemerintah. Tapi hari ini, banyak perusahaan swasta Amerika menghentikan pembelian U.S. Treasury dan bahkan melepas  semua kepemilikan surat utang pemerintah itu. Pimco Total Return Fund yang saat ini adalah perusahaan swasta terbesar yang memiliki SUN Amerika Serikat, ternyata telah mengurangi kepemilikan akan SUN mereka sehingga menjadi nol. Memang pada saat terjadi kepanikan finansial pada tahun 2008 lalu, para investor telah membeli SUN sebagai langkah pengamanan sementara. Akan tetapi pada masa panik yang akan datang ini, NIA merasa bahwa kepemilikan logam mulia menjadi langkah paling aman dan akan menjadi pilihan utama para investor.

3 ) Cina Mengubah Cadangan Devisanya dari U.S. Dollar ke Yuan. Dolar AS menjadi acuan kurensi dunia dan cadangan devisa karena awalnya diback-up oleh emas dan AS adalah negara yang memiliki industri manufaktur terbesar di dunia. Hari ini, sejak 1971, Dolar AS tidak lagi diback-up emas dan Cina adalah negara industrial nomer wahid di seluruh dunia. Tidak ada alasan bagi dunia saat ini untuk melanjutkan transaksi produksi dan komoditas mereka dalam bentuk Dolar AS, apatah lagi semua manufaktur yang ada di seluruh dunia telah diproduksi di Cina. Cina sendiri sudah melakukan langkah-langkah posisional agar Yuan menjadi mata uang acuan bagi transaksi dunia.

Bank Rakyat Cina (Bank sentral di Cina) menyatakan pada awal bulan Maret 2011, sebuah laporan yang sama sekali tidak dipublikasikan oleh media massa arus  di dunia, bahwa mereka siap merespon kebutuhan dunia akan Yuan, jika Yuan akan digunakan sebagai kurensi reserve. Cina juga akan membuka katup yang lebar agar Yuan dapat keluar dan masuk ke Cina dengan sangat mudah (dalam berbagai investasi dan industri manufaktur). Cina berharap bahwa pada akhir 2011, semua eksportir dan importir di tapal batas perdagangan bisa mulai bertransaksi menggunakan Yuan, sebagai langkah awal dari rencana mereka untuk meningkatkan peran Yuan di dunia internasional. NIA melihat bahwa jika Cina benar-benar ingin menggantikan peran AS sebagai negara adidaya ekonomi dan pada saat yang sama Amerika pelan-pelan sedang terdorong mengikuti jejak Zimbabwe, maka yang harus Cina lakukan adalah melepaskan uang simpanan mereka sebesar $1.15 Trilyun yang berbentuk Dolar AS dan mengubahnya menjadi emas dan menggunakan emas tersebut untuk memback-up Yuan.

4 ) Jepang Mulai Melepas U.S. Treasury. Jepang adalah pemegang U.S. treasury securities kedua terbesar dengan nilai sebesar $885.9 Milyar dalam bentuk simpanan dolar AS. Meskipun Cina telah mengurangi kepemilikan mereka akan U.S. Treasury dalam masa tiga bulan ini, Jepang malah meningkatkan kepemilikan surat utang atau obligasi pemerintah AS dalam waktu tujuh bulan terakhir. Jepang memang negara yang paling konsisten menyimpan Dolar AS sebagai cadangan devisa, tapi hal itu akan segera berubah. Jepang tampaknya akan melepas setidaknya 300 Milyar Dollar yang ia miliki karena negrinya telah hancur karena bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan bencana nuklir. Dan NIA melihat bahwa simpanan dolar AS yang Jepang miliki saat ini adalah sumber utama pendanaan dari pemulihan akibat bencana tersebut. Maka titik ini akan menjadi masa sulit bagi Amerika yang membutuhkan Jepang agar mau membeli U.S. Treasury untuk menutupi defisit anggaran Amerika yang sedang terjadi.

5 ) Suku Bunga The Fed Funds tetap akan mendekati Nol. Federal Reserve telah menyatakan bahwa suku bunga Fed Funds adalah 0.00-0.25% sejak 16 December 2008 lalu, sebuah periode lebih dari 27 bulan tanpa perubahan. Hal ini sama sekali di luar dugaan. NIA melihat kejadian ini akan berakibat pada banjirnya likuiditas dolar AS.

Ketika reaktor nuklir jepang mulai overheating dua minggu lalu, karena sistem pendingin gagal bekerja karena tidak ada pasokan listrik, TEPCO telah dipaksa untuk  membuka katup pengaman panas radioaktif ke udara dalam rangka menghindari ledakan reaktor. Pasar saham Amerika saat ini bekerja sebagai katup pengaman bagi banjirnya likuiditas dolar AS. Perekon0mian AS, atas dasar semua kepentingan dan tujuan yang ada saat ini, sedang menghadapi resesi yang masif dan ekstrim. Tetapi hal ini diperparah lagi karena Fed malah menyetak lebih banyak uang kertas dollar, maka pasar saham akan terus melonjak, karena orang-orang tidak tahu lagi mau diapakan uang kertas mereka.

NIA sangat percaya bahwa emas, dan terutama perak, dapat menyimpan nilai untuk menghindari inflasi lebih baik ketimbang kemampuan equitas AS sendiri, itulah mengapa beberapa tahun terakhir ini kita dapat memprediksi penurunan rasio baik antara Dow/Gold dengan Gold/Silver. Dua rasio ini telah jatuh bebas sebagaimana diproyeksikan oleh NIA.

Indeks rasio Dow/Gold merupakan tabel informasi yang dianggap sangat penting oleh semua investor, mungkin satu-satunya yang terpenting. Dan para investor berkepentingan untuk selalu mengamati perkembangannya setiap waktu, meskipun sangat sedikit yang bisa membaca dengan baik. Dow Jones Industrial Average (DJIA) itu sendiri sebetulnya tidaklah memiliki arti apa-apa karena sesungguhnya hanya merata-rata semua pergerakan dollar dari setidaknya 30 saham perusahaan di Amerika. Dengan hanya mengacu DJIA saja, tidaklah mungkin menentukan apakah harga saham yang naik itu karena adanya perbaikan fundamental (pada industri real dan manufakturnya) ataukah memang karena ada kenaikan permintaan dari para spekulan atau investor, ataukah sebetulnya kenaikan itu terjadi justru karena suplai uang beredar meningkat.

Indeks rasio Dow/Gold memberikan ilustrasi siklus alamiah dari pertempuran antara aset “kertas” seperti saham dengan aset “keras” lainnya seperti emas. Indeks rasio Dow/Gold memberikan tren naik manakala sebuah ekonomi melihat pertumbuhan ekonomi yang nyata dan memulai tren menurun manakala fase pertumbuhan berakhir dan setiap orang mulai menahan kekayaan mereka. Dengan tingkat suku bunga pada 0%, Ekonomi AS telah berada pada kondisi di mana para investor akan menahan diri. NIA melihat bahwa indeks rasio Dow/Gold akan turun ke angka 1 persis sebelum krisis hiperinflasi berakhir. Dan ketika indeks rasio Dow/Gold turun ke angka 1, para investor akan terus menerus membeli logam mulia.

6 ) Pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (CPI) Year-Over-Year telah naik 92% dalam waktu Tiga Bulan. Pada bulan November 2010, Indeks Harga Konsumen (Consume Price Index atau CPI) yang dirilis Biro Ketenagakerjaan dan Statistik Amerika Serikat (semacam BPS AS) naik sekitar 1.1% dibanding November 2009. Pada bulan Februari 2011, Indeks Harga Konsumen merangkak sekitar 2.11% dibanding Februari 2010, lebih tinggi di atas target inflasi informal yang dipatok Fed sekitar 1.5% sampai 2%. Sebuah kenaikan Indeks Harga Konsumen (CPI) year-over-year tumbuh sekitar 1.1% pada November tahun lalu menjadi 2.11% pada Februari tahun ini berarti bahwa tingkat pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat mendekati sekitar 92% melewati periode hanya sekitar tiga bulan. Bayangkan apabila tingkat pertumbuhan Indeks Harga Konsumen year-over-year terus berjalan sebesar 92% setiap tiga bulan. Maka setidaknya antara 9 sampai 12 bulan dari sekarang kita dapat menghitung tingkat inflasi harga lebih dari 15%. Meskipun apabila BPS AS berusaha memenej dengan cara mendorong Indeks Harga Konsumen dipaksa turun sekitar 5% atau 6% saja, NIA percaya bahwa tingkat nyata dari inflasi harga akan tetap naik menjadi dua-digit pada tahun yang akan datang.

7 ) Media Massa Mainstream mengingkari target Fed. Anda mungkin mengira bahwa pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (CPI) year-over-year naik antara 1.1% sampai 2.11% melewati satu periode dari tiga bulan yang berarti peningkatan 92% akan memancing perhatian media massa, terutama karena hal itu melampau target inflasi informal yang ditetapkan Fed yaitu 1.5% sampai 2%. Daripada mengamati dan fokus pada inflasi sebagai awal dari spiral bencana tanpa kendali dan kemudian seharusnya mendorong masyarakat AS untuk bersiap-siap menghadapi hiperinflasi seperti yang telah NIA lakukan bertahun-tahun ini, media kenyataannya memilih cara lain untuk bagaimana membahasakan secara berbeda apa yang telah ditetapkan Fed di dalam targetnya.

Media massa sekarang mengklaim bahwa target inflasi informal dari Fed yaitu 1.5% sampai 2% itu didasarkan pada gambaran Indeks Harga Konsumen utama atau BLS’s core-CPI figures. Core-CPI, sebagaimana yang khalayak ketahui, adalah angka yang tidak bermakna, yaitu dengan mengeluarkan harga pangan dan energi keluar dari indeks. Cara seperti ini jelas digunakan untuk menyesatkan masyarakat, utamanya dalam situasi seperti ini. Kami, NIA, menjamin bahwa apabila kenaikan core-CPI dapat melewati 2% dan CPI normal masih di bawah 2%, media massa akan memfokuskan diri pemberitaan mereka pada angka indeks CPI yang biasa, dan mengatakan bahwa itu masih dibawah angka target yang ditetapkan Fed dan dengan demikian inflasi masih rendah, dan dengan demikian pula akan dianggap tidak ada persoalan.

Fakta dari masalah ini adalah, pangan dan energi adalah dua hal yang paling berharga bagi masyarakat, untuk bertahan hidup. Jika BPS AS hendak mengeluarkan sesuatu item dari Indeks CPI, anda pasti berpikir bahwa sebaiknya yang dikeluarkan dari indeks adalah item yang tidak dikonsumsi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. BPS AS menyatakan bahwa harga pangan dan  energi dikeluarkan dari indeks CPI karena harganya yang selalu fluktuatif tidak menentu. Namun demikian, dengan mengeluarkan kedua item tersebut dari indeks, maka angka core-CPI utamanya hanya didorong oleh rente.

Kita harus ingat dan tetap menyadari bahwa kita baru saja keluar dari gelembung “Real Estate” terbesar sepanjang sejarah dunia. Banyak sekali rumah-rumah yang siap untuk direntekan ke pasar karena tidak terbayar. NIA telah mengatakan selama bertahun-tahun bahwa menjadi tuan tanah adalah bisnis paling buruk sepanjang masa hiperinflasi, karena tidak mungkin bagi para pemilik properti untuk menaikkan harga sewa propertinya pada saat semua harga komoditas sedang mengalami inflasi. Harga pangan dan energi akan selalu naik dan lebih cepat naiknya ketimbang harga sewa properti.


8 ) Anggaran Belanja AS mengalami Defisit $222.5 Milyar pada Februari 2011 . Pemerintah AS baru saja melaporkan sebuah catatan defisit anggaran belanja pada bulan Februari 2011 yaitu sekitar $222.5 Milyar. Defisit anggaran bulan Februari ini lebih besar daripada seluruh fiskal pada tahun 2007. Faktanya, defisit anggara bulan Februari pada basis tahunan adalah sekitar $2.67 Trilyun. NIA percaya ini baru berupa preview dari defisit anggaran tahunan ke depan, dan kita akan melihat defisit anggaran tahunan akan mencapai $2.67 Trilyun setidaknya beberapa tahun ke depan ini.

9 ) Tingginya Defisit Anggaran sama dengan Prosentase Belanja. Proyeksi defisit anggaran AS pada tahun fiskal 2011 sekitar $1.645 Trilyun dan itu berarti sekitar 43% dari total proyeksi belanja pemerintah pada tahun 2011 yaitu $3.819 Trilyun. Angka ini berada pada tingkat yang sama dengan Brazil ketika defisit anggaran yang terjadi sama sebagai prosentase belanja, ketika mereka akan mengalami hiperinflasi pada tahun 1993 dan bahkan ini jauh lebih besar daripada defisit anggaran belanja Bolivia persis ketika mereka akan mengalami hiperinflasi pada tahun 1985. Jalan satu-satunya sebuah negara dapat bertahan dari defisit sebagai prosentase belanja yang sangat besar dan menghindari hiperinflasi, adalah ketika mendapatkan kucuran dana pinjaman luar negeri yang dapat menutup pengeluaran defisit. Hiperinflasi menghancurkan Brazil dan Bolivia ketika pinjaman luar negeri dihentikan dan bank sentral mulai menyetak lebih banyak uang kertas, persis yang saat ini sedang terjadi di AS.

10 ) Obama berbohong terkait Kebijakan Luar Negeri. Presiden Obama pada saat kampanye dulu berjanji adanya dukungan anti perang dan jika ia menjadi presiden akan menarik pasukan dari Iraq. NIA percaya bahwa banyak pemilih Libertarian menyentang Obama pada tahun 2008 dan mengalahkan John McCain karena mereka merasa bahwa Obama tampaknya akan mengakhiri perang yang selama ini menambah beban anggaran dan memperberat defisit anggaran AS sehingga AS kehilangan banyak tabungan sebagai pada akhirnya. Obama barangkali telah mengurangi jumlah pasukan di Iraq, tetapi kenyataanya dia menambah pasukan AS di Afghanistan, dan bahkan sekarang mengirim pasukan ke Libya tanpa alasan yang jelas.

AS sekarang mulai menganeksasi Libya, ketika Libya tidak melakukan hal apapun kepada AS dan bahkan Libya bukanlah ancaman buat AS. Obama telah menaikkan anggaran pasukan sejak dia dipilih sebagai presiden. Dan AS telah mengeluarkan biaya sekitar $1 Trilyun setiap tahun untuk belanja militer, termasuk di dalamnya adalah biaya untuk mempertahankan setidaknya 700 pangkalan militer di 135 negara di seluruh dunia. Tidak mungkin kita mempertahankan terus yang demikian ini, yaitu pangkalan militer di luar negeri, tanpa keniscayaan menghadapi hiperinflasi.

11 ) Obama Mengubah Definisi tentang Anggaran Berimbang. Dalam proyeksi anggaran Gedung Putih untuk 10 tahun ke depan, mereka tidak memproyeksikan bahwa AS akan mencapai atau setidaknya mendekati anggaran berimbang secara real. Faktanya, setelah memproyeksikan turunnya defisit anggaran sampai pada tahun 2015 (padahal NIA percaya kita tidak akan melihat perubahan besar pada defisit anggaran karena naiknya suku bunga pembayaran pada utang nasional), Gedung Putih malah memproyeksikan defisit anggaran akan kembali naik sampai tahun 2021. Obama baru saja menandatangai nota eksekutif untuk membuat apa yang disebut sebagai “Komisi Nasional Tanggung-jawab dan Reformasi Fiskal” (National Commission on Fiscal Responsibility and Reform), dengan misi untuk “mengajukan rekomendasi yang didesain untuk menyeimbangkan anggaran, dengan mengeluarkan beban pembayaran bunga utang, sampai tahun 2015”. Obama meredefinisi ulang anggaran berimbang dengan cara mengeluarkan bunga pembayaran pinjaman utang nasional, karena dia tahu bahwa bunga pinjaman akan semakin meledak dan dengan demikian menjadi tidak mungkin tercapai apa yang disebut anggaran berimbang.

12 ) AS menghadapi peningkatan Pembayaran Bunga Terbesar. Dengan inflasi AS yang ada saat ini akan menjadi spiral bencana tanpa kendali, dan NIA meyakini serta 100% menjamin bahwa kita semua tidak lama lagi akan  menyaksikan beredarnya obligasi berjangka yang sangat besar. Tidak hanya itu, setidaknya beberapa tahun ke depan, NIA percaya bahwa Bank Sentral Federal Reserve akan dipaksa menaikkan suku bunga Fed Funds sebagai upaya terakhir menghindari hiperinflasi. Ketika suku bunga jangka pendek dan janga panjang mulai naik, maka dengan demikian bunga pembayaran utang nasional juga akan naik dengan sendirinya. Dengan adanya porsi publik pada utang nasional yang setidaknya melebihi nilai $10 Trilyun, kita dapat menghitung bunga pembayaran pada utang kita akan mencapai angka $500 Milyar setidaknya pada tahun depan atau dua tahun lagi. Dan kemudian, lebih dari $1 Trilyun pada sekitar setengah dekade ke depan. Ketika bunga pembayaran pinjaman mencapai $1 Trilyun, maka sekitar 30% sampai 40% didapatkan dari penerimaan pajak pemerintah, yang porsinya naik dari pembayaran bunga pinjaman yang pada awalnya hanya 9% dari penerimaan pajak hari ini. Tidak ada satu negara pun di dunia yang memiliki bunga pembayaran pinjaman mencapai porsi 40% dari penerimaan pajak tanpa adanya hiperinflasi yang akan menyusul segera setelah itu.

Bersumber dari http://inflation.us/hyperinflationwarningsigns.html pada tanggal 26 Maret 2011

Satu pemikiran pada “12 Tanda Akan Terjadinya Hiperinflasi di Amerika Serikat

  1. Diberitakan pada tanggal 23 November –hari yang sama saat Korea Utara menyerang pulau Yeonpyeong milik Korsel, China dan Russia sepakat bahwa sebagai ganti dollar AS, kedua negara akan menggunakan mata uang-nya masing-masing dalam perdagangan bilateral.

    Munculnya kesepakatan ini tampaknya menjadi pertanda dimulainya genderang “perang mata uang” yang sesungguhnya. Jadi bukan perang mata uang dalam pengertian persaingan untuk menahan penguatan mata uang (competitive currency devaluation), seperti dipopulerkan Menkeu Brazil, Guido Mantega belum lama ini.

    AS patut was-was dengan ditandatanganinya perjanjian mata uang antara China dan Russia tersebut. Russia adalah mitra dagang China yang terbesar setelah AS. Total perdagangan antara keduanya mencapai sekitar US$40 milyar per tahun –didominasi terutama oleh migas.

    Sebelumnya dalam kerangka kebijakan internasionalisasi Yuan, China juga sudah mencapai kesepakatan serupa dengan Brazil dan ASEAN. Pada bulan September 2010, total nilai perdagangan China dan ASEAN yang sudah menggunakan Yuan telah mencapai US$30 milyar.

    Kendati baru sekitar 14% dari total perdagangan China-ASEAN yang hingga bulan September 2010 mencapai US$211,3 milyar, tren penggunaan Yuan di ASEAN terus menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Kesepakatan-kesepakatan di atas tentu akan mengurangi permintaan dollar ke depan.

    Jika tren kesepakatan mata uang seperti di atas terus berlanjut -terutama apabila diikuti negara-negara penghasil minyak, hegemoni dollar sebagai mata uang yang umum dipakai dalam perdagangan internasional jelas akan terancam.

    Sejauh ini, status dollar AS sebagai petro currency yang mendominasi perdagangan minyak belum tergoyahkan. Namun, ada kabar China dan Russia juga berencana mengajak negara-negara penghasil minyak untuk melakukan transaksi perdagangan minyak dengan menggunakan mata uang masing-masing, sebagai ganti dollar seperti yang selama ini lazim dipakai dalam transaksi jual-beli minyak.

    Bila kesepakatan ini terwujud, bukan hanya status dollar AS sebagai petro currency yang akan terancam, namun statusnya sebagai reserve currency juga akan goyah. China merupakan negara pengkonsumsi energi terbesar di dunia, sedangkan Russia adalah pengekspor minyak kedua terbesar di dunia dan gas terbesar di dunia. Posisi dollar AS tentunya akan tergerogoti jika transaksi energi mulai menggunakan mata uang lain selain dollar.

    Cepat atau lambat, hegemoni dollar AS sebagai reserve currency akan terpengaruh oleh tren kesepakatan mata uang bilateral tersebut. Bank-bank sentral dunia cenderung akan mengurangi proporsi dollar dalam komposisi cadangan devisanya masing-masing. Dengan kata lain, permintaan terhadap aset-aset dollar, terutama Treasury notes –surat utang yang diterbitkan pemerintah AS– akan cenderung melemah.

    Dalam konteks di atas, kebijakan cetak uang FED atau populer disebut Quantitative Easing tahap 2 (QE2) menjadi relevan. Dalam delapan bulan ke depan Fed akan membeli T-notes sebanyak US$600 milyar, atau rata-rata US$75 milyar per bulan (FED dalam delapan bulan ke depan akan menjadi kreditor terbesar pemerintah AS menggantikan China dan Jepang).

    Selain untuk menggerakkan kembali ekonomi AS, kebijakan ini tampaknya juga dilakukan FED untuk mengantisipasi berkurangnya permintaan T-notes terutama oleh China, yang sejak awal tahun ini terus mengurangi kecepatan pembelian T-notes-nya.

    China biasanya langsung mendaur ulang dollar yang diperolehnya dari hasil ekspor dan investasi dalam bentuk pembelian T-notes -http://thejakartapost.com/news/2003/10/23/it-end-us-dollar-supremacy.html.

    Pasokan dollar dari hasil ekspor China ke AS memang sedikit berkurang akibat masih lambatnya pertumbuhan ekonomi AS. Namun, nilai investasi terutama investasi portfolio masih cukup kencang masuk ke China. China, seperti juga negara-negara emerging markets lain menikmati serbuan modal asing yang dipicu aksi carry trade yang memanfaatkan suku bunga rendah AS untuk berinvestasi di negara-negara yang imbal hasilnya tinggi.

    Jadi menurut pandangan saya, berkurangnya investasi China di T-notes, semata-mata hanyalah pilihan ekonomi politik negara tirai bambu tersebut. China tampaknya khawatir akan masa depan dollar, dan lebih memilih untuk investasi di mata uang non-dollar atau hard asset lain seperti emas dan komoditi strategis lainnya.

    Hegemoni dollar dan perbenturan kepentingan

    Hegemoni dollar memberi AS banyak keuntungan. Infrastruktur finansial AS yang mapan dan status dollar sebagai anchor currency memberinya keleluasaan untuk menumpuk defisit fiskal dan neraca pembayaran yang besar. Risiko kurs relatif nihil karena utang berdenominasi dollar. Sementara itu, untuk keluar dari tekanan utang yang besar, AS dapat mencetak dollar (debt monetisation), sehingga nilai utang riil pemerintah AS pun berkurang.

    Namun di lain pihak, kebijakan FED tersebut tentu merugikan kreditor-kreditor AS (terutama China yang memiliki T-notes terbesar). China patut merasa dirugikan, karena dalam jangka panjang QE2 akan berdampak inflatoir dan mendorong pelemahan dollar –mata uang dimana sebagian besar aset China ditempatkan–.

    Di sinilah benturan kepentingan antara AS yang pamor ekonominya sedang turun dan China yang sedang naik daun terjadi. Pergeseran gravitasi geo-ekonomi dan geo-politik ini selalu cenderung memicu gejolak. Sejarah membuktikan bahwa perbenturan kepentingan dapat memicu konflik dagang, perang mata uang dan bahkan perang yang sesungguhnya.

    Di tengah kemungkinan kian liarnya gejolak yang terjadi akhir-akhir ini, kearifan, kerjasama dan kompromi terutama antar negara-negara besar (G-20) menjadi kata kunci. Seperti kesimpulan yang pernah saya tulis pada tahun 2004, tren ketidakseimbangan ekonomi global (global economic imbalance) cepat atau lambat akan memasuki tahap kritikal, -http://newasiaforum.org/opinion_march2004.htm.

    Untuk itu, dunia tampaknya perlu segera mengupayakan revisi radikal terhadap tatanan arsitektur finansial-nya menuju suatu arsitektur finansial baru –semacam amandemen Bretton Woods kedua (konsensus ekonomi yang disepakati tahun 1944 di Bretton Woods, New Hampshere, AS. Konsensus ini direvisi pada tanggal 15 Agustus 1971 oleh Presiden Nixon, yang menandai diakhirinya standar emas).

    diambil dari http://davidsumual.blog.kontan.co.id/2010/11/28/perang-mata-uang-what-next/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s