Mitsqal, Waznu Sab’ah dan Ukuran Uang Jaman Nabi SAW

وَيَا قَوْمِ أَوْفُواْ الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلاَ تَبْخَسُواْ النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ وَلاَ تَعْثَوْاْ فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

[QS 011:085]

72 Butir gandum ukuran sedang utuh organik yang digunakan sebagai bahan penelitian dan kajian berat terhadap Dinar dan Dirham.

Pada masa Nabi sudah dikenal beberapa istilah pengukuran antara lain:

Mitsqal, Auqiyah/Uqiyah, Nasy, Nuwah, Qirath (قيراط) dan Habbah-sya’irah (حَبَّةً شَعِيرَةً) juga Daniq (دانيق), Dirham dan Dinar

A. Mitsqal ( مِثْقَالَ )

Mitsqal secara bahasa artinya ‘unit/berat’ (Lihat QS 099:007-008). Maka 1 mitsqal adalah satu satuan berat atau berat dasar yang jadi batu ukuran berat-berat lainnya. Mitsqal sendiri ditakar beratnya menggunakan biji gandum (حَبَّةً شَعِيرَةً) yaitu biji gandum Barley yang memang digunakan di Tanah Arab dan Romawi. Ditetapkan bahwa berat 1 Mitsqal setara dengan 72 biji gandum yang dipotong kedua ujungnya.

Mitsqal merupakan berat yang diketahui umum setara dengan 22 qirath (قيراط) sesuai berat Solidus. Ada yang mengatakan 21 3/7 qirath (22 qirath dikurangi 1 biji yang dipotong kedua ujungnya). Qirath sendiri diartikan sebagai ‘biji kacang polong (carob)’ atau ‘satuan kecil’ dan mungkin berasal dari kata Yunani κεράτιον (keration).

A.1 Gram: Pengukuran Hari Ini

Penggunaan satuan ukuran berat gram sebagai satuan berat mulai digunakan tahun 1586M dan ditetapkan standarnya 20 Mei 1875 (lihat Metric System) dan diadopsi oleh International System of Unit. Dan ditetapkan bahwa

1 gram (g) = 15.4323583529 biji gandum utuh (gr) atau

1 biji gandum = 64.798 91 mg = 1 biji gandum (gr) = 0.06479891 gram (g)

Untuk lebih jelasnya lihat Konversi unit

Sedangkan biji gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya akan mendapatkan berat  0.061713247619047625 gram

A.2 Konversi Berat Tradisional Dasar (Mitsqal) ke Gram

Maka perhitungan syar’i konversi berat tradisional uang ke gram adalah sebagai berikut

1 mitsqal = 1 dinar

Berat 1 mitsqal = 72 biji gandum dipotong kedua ujungnya ≈ 68-69 biji gandum utuh

  • Penghitungan berat ke gram dengan cara penimbangan 72 biji gandum ukuran sedang dan dipotong kedua ujungnya dilakukan di Bandung, pada Hari Sabtu, 12 Shafar 1432H bertepatan 16 Januari 2011 dan menghasilkan sebagai berikut

Berat 1 mitsqal = 4.443353828571429 gram

  • Konversi ke gram dengan cara penghitungan standar 68 biji gandum utuh didapatkan 4.40632588 gram; Konversi ke gram dengan cara penghitungan standar 69 biji gandum utuh didapatkan 4.47112479 gram.  Maka:

Berat 1 Mitsqal adalah antara 4.40632588 – 4.47112479 gram

  • Mengikuti pendapat Imam Al-Maqrizi [lihat Imam Al-Maqriziy, Ighatsat al-Ummah bi-Kasyf al-Ghummah: Syudzur al-Uqud fii Dzikr al-Nuqudاغاثة الامة – المقريزي], beliau mengatakan bahwa 1 mitsqal adalah 22 qirath dikurangi satu biji atau 21 3/7 qirath. Secara umum berat 1 qirath adalah = 200 mg; Sedangkan qirath di Mesir adalah 196 mg sedangkan yang ada di Syria beratnya adalah 212 mg; Sedangkan di Arab 2% lebih kecil dari qirath Syria jadi beratnya adalah 207.76 mg (Lihat Carat) maka

1 mitsqal = 21 3/7 x 207.76 mg = 4451.999… mg = 4.452 gram

Dikutip dari Islam Hari Ini:  Menurut Ibnu Khaldundalam Muqaddimah (اﻟﻤﻗﺩﻤﻪ)

”…… Ketahuilah bahwa ijma sejak permulaan Islam dan masa Para Nabi dan Rasul, masa Nabi Muhammad, Khulafa’ur-Rasyidun, para sahabat-sahabat serta tabi’in, tabi’it tabi’in bahwa Dirham yang sesuai syariah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 Mistqal (Dinar) emas. Berat 1 Mistqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga Dirham yang nilainya 7/10 setara dengan 50 dan 2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini….”

أما وزنه بالحبوب:  فقد قدر أكثر الفقهاء وزن الدينار الشرعي بزنة اثنتين وسبعين حبة شعير متوسطة لم تقشر وقطع من طرفيها ما امتد

Demikian pula menurut ‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad Dimasyqi dalam Fiqih 4 Madzhab [Rohmat al-Ummah: Al-Fiqhu ‘ala Madzahibi Al-Arba’ah], menyatakan bahwa :

Berdasarkan wahyu Allah, Emas dan Perak harus nyata dan memiliki ukuran dan penilaian tertentu (untuk zakat dan lainnya) yang mendasari segala ketentuannya, bukan atas sesuatu yang tak berdasarkan syari’ah (kertas dan logam lainnya). Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan Islam dan masa Para Nabi dan Rasul, masa Nabi Muhammad, Khulafa’ur Rasyidun, Sahabat serta tabi’in, tabi’it tabi’in bahwa dirham yang sesuai syari’ah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mitsqal (bobot dinar) emas. Berat 1 mitsqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang bobotnya 7/10-nya setara dengan 50+2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini.

Lihat juga Kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, halaman 65.

B. Perhitungan Denarius dan Drahm ke dalam Dinar dan Dirham (وزن سبعة)

Troy-ounce (ozt) adalah standar berat yang umum digunakan sebagai berat logam mulia (precious metal) seperti emas batangan dan koin di Dinasti Romawi, Yunani dan Persia yang diadopsi dari masa-masa sebelumnya. Berat ini digunakan untuk keping Denarius dan Drachma. Perlu dicatat bahwa istilah Denarius danDrachma (sedang di Persia disebut Drahm dan 1/6 drahm itu adalah 1 Danake atau دانيق ) didasarkan pada mata uang yang sudah digunakan pada sejak jaman Fir’aun Mesir awal atau sebelumnya yaitu pada jaman Nabi Jacob AS dan Jusuf AS. Perlu dicatat bahwa Peradaban Fir’aun di Mesir telah menjalin hubungan dagang dengan Nusantara, terutama ekspor impor Kapur/Kamfer untuk pengawet Mumi dari Barus, diperkirakan sejak 3,000 SM ada pula yang beranggapan sejak 5,000 SM. Mengenai ukuran kurensi historis lihat link ini.

Islam kemudian mengadopsi berat Denarius Romawi tanpa perubahan yaitu 20 qirath. Tujuan ini bukan untuk menentukan berat mitsqal tapi untuk menentukan standar perbandingan Dinar dan Dirham seperti yang akan ditunjukkan di bawah. Lihat Al-Baladzuri, Futuhul Buldan, Bab Amrun Nuqud.

Sedangkan untuk koin Drahm perak yang diambil dari Persia terdapat 3 jenis, Islam melakukan penyesuaian terhadapnya. Tiga jenis Drahm dengan ukuran berat yang berbeda-beda, yakni:

  1. Drahm besar 20 qirath (disebut juga الدرهم الكبار); Dirham ini beratnya hampir 1 mitsqal atau sama dengan 1 mitsqal. Disebut Dirham Baghliyah atau As-Su’ud Al-Wafiyah atau Sauda’ Wafiyah.
  2. Drahm kecil 10 qirath (disebut juga الدرهم الصغار); Dirham ini disebut juga Dirham Thibriyah atauThabariyah ‘Utuq karena berasal dari daerah Thibristan sebelah selatan Laut Caspienne (Qazwin).
  3. dan Drahm sedang 12 qirath (disebut juga الدرهم الوساط); Dirham ini disebut juga Dirham Jawariqiyahkarena berasal dari Jurqan, sebuah tempat di Isfahan. (Al Baghdadi, Serial Hukum Islam : Penyewaan Tanah Lahan, Kekayaan Gelap, Ukuran Panjang, Luas, Takaran, dan Timbangan. Al Ma’arif. Bandung, 1987; Lihat juga Al Maqrizi, اغاثة الامة)

Kemudian ketiganya dirata-ratakan kadar beratnya.

sehingga

(20+10+12)/3 = 42/3 = 14 qirath

 

Formula 14/20 ini setara dengan 7/10 yang merupakan prinsip waznu sab’ah (وزن سبعة) yang sesuai dengan standar kuno yang digunakan sejak jaman Nabi Yusuf AS (Menteri Keuangan Mesir) yang menetapkan kembali dinar/dirham sesuai dengan standar Raqim (الرَّقِيمِ) dan Wariq (الوريق) dari jaman Nabi Idris AS (Lihat QS 018:009) [Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rasyad Al-Qurthubi (w.450 H), Bab Kitab Zakat Adz-Dzahab Wa Al-Waraq, Beirut-Libanon: Penerbit Darul Gharbi Al-Islami, Cet.2, tahun 1988, Jilid 2, halaman 355- 422].

Nabi Idris AS (Hermes) adalah Nabi pertama yang menemukan penambangan emas dan perak, memiliki kejujuran yang tinggi dalam mencetak mata uang Islam, yaitu Raqim dan Wariq, hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Maryam [019]: 056; Juga dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya’ [021]: 085. Nabi Idris AS sebagai penemu Mata Uang pertama Islam, yaitu mata uang emas dan perak, sebagaimana diriwayatkan oleh Wahhab bin Munabbih dalam Kitab Qishotul Anbiya’, karya Ibnu Katsir.

Jadi ditemukan bahwa ada rumusan

1 Troy ounce = 7 Mitsqal = 10 Dirham = 31.1034768 gram

Mengenai konvergensi tersebut lihat riset sebelumnya di sini

Perhitungan wazn sab’ah tersebut akan tepat sama jika menghitungnya berdasarkan biji gandum

1 Mitsqal = 1 Dinar = 72 butir biji gandum

1 Dirham = 50+2/5 butir gandum


Berat 7 Dinar = Berat 10 Dirham

7*72 = 10*(50+(2/5))

Oleh karena itu wazn sab’ah apabila diterapkan kembali dari Dinar yang 21 3/7 qirath ke dalam Dirham adalah sebagai berikut

7 * (21 3/7) = 10 * 15 qirath

1 Dirham = 15 qirath (Arab)

 

Bersabda Rasulullah SAW

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَنْظَلَةَ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَالْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّةَ

Dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Takaran (yang benar) itu ialah takaran penduduk Madinah, dan timbangan (yang benar) itu ialah timbangan penduduk Makkah.” (Sunan Nasa’i: 2473 lihat juga 4517; Muwatta 1374; Sunan Abi Dawud 2899)

 

C. Konversi untuk satuan lain ke dalam Gram

Setelah mengetahui mitsqal konversinya ke dinar dan ke dirham, maka juga diketahui pula konversinya ke gram. Sedangkan ukuran-ukuran lain dapat diketahui yaitu:

Tabel C.1 Konversi Satuan Dinar

Konversi ukuran tradisional emas ke gram

Tabel C.2 Konversi Satuan Dirham

Konversi berat tradisional perak ke gram

Demikianlah ukuran-ukuran tersebut dikonversi ke dalam gram.

D. Beberapa Istilah dalam Uang

Dawud (1999, 3) dan Syabir (1999, 175) menyebut ada 3 istilah yang mengacu pada ‘uang’ yaitu nuqud, atsman dan fulus. Ada pula istilah ‘umlah yang artinya mata uang.

1) Nuqud (نقود)

Nuqud (bentuk jamak dari naqd). Para ulama berbeda pendapat dalam merumuskan pengertian nuqud. Al-Sayyid ’Ali (1967, 44) mengartikannya dengan “semua hal yang digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi, baik Dinar emas, Dirham perak maupun fulus tembaga.” Sementara Al-Kafrawi (1407, 12) mendefinisikannya dengan “segala sesuatu yang diterima secara umum sebagai media pertukaran dan pengukur nilai”.

Sementara itu, Qal’ah Ji (1999, 23) mengemukakan definisi yang memberikan penekanan pada aspek legalitas di samping juga memperhatikan aspek fungsi sebagaimana definisi di atas. Ia mengatakan, “nuqud adalah sesuatu yang dijadikan harga (tsaman) oleh masyarakat, baik terdiri dari logam atau kertas yang dicetak maupun dari bahan lainnya, dan diterbitkan oleh lembaga keuangan pemegang otoritas.” Atas dasar definisi ini ia berpendapat, seandainya masyarakat dalam melakukan transaksi menggunakan unta sebagai alat pembayaran, unta tersebut tidak dapat dipandang sebagai uang (nuqud) melainkan hanya sebagai badal (pengganti) atau ‘iwadh (imbalan). Hal itu karena sesuatu yang dipandang sebagai uang harus memenuhi sekurang-kurangnya dua syarat. Pertama, substansi benda tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara langsung melainkan hanya sebagai media untuk memperoleh manfaat; dan kedua, dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki otoritas untuk menerbitkan uang, yaitu Amir yang sah.

2) Atsman (أثمان)

Atsman (bentuk jamak dari tsaman), dilihat dari sudut bahasa, menurut Al-Ashfahani (1961,82) atsman memiliki beberapa arti; antara lain qimah, yakni nilai sesuatu, dan “harga pembayaran barang yang dijual” yakni sesuatu dalam bentuk apa pun yang diterima oleh pihak penjual sebagai imbalan dari barang yang dijualnya; sedangkan dalam tataran fiqih, kata itu digunakan untuk menunjukkan uang emas dan perak;

3) Fulus (فلوس)

Fulus (bentuk jamak fals) digunakan untuk pengertian logam bukan emas dan perak yang dibuat dan berlaku di tengah-tengah masyarakat sebagai uang dan pembayaran, misalnya terbuat dari perunggu, tembaga, atau besi.

4) ‘Umlah (العملة)

‘Umlah yang memiliki dua pengertian; pertama, satuan mata uang yang berlaku di negara atau wilayah tertentu, misalnya ‘umlah yang berlaku di Yordania adalah Dinar dan di Indonesia adalah Rupiah; kedua, mata uang dalam arti umum sama dengan nuqud. Namun demikian, para ulama fiqih pada umumnya lebih banyak menggunakan istilah nuqud dan tsaman dari pada istilah lainnya.

5) Sikkah (السكة)

Sikkah (bentuk jamaknya adalah sukak) dipakai untuk dua pengertian; pertama, stempel besi untuk mencap (mentera) mata uang, dan kedua, mata uang dinar dan dirham yang telah dicetak dan distempel (diotorisasi).

6) Qirthas (قرطاس)

Qirthas adalah uang kertas yang sekarang dipergunakan yang dikenal juga sebagai legal tender. Uang kertas tidak memiliki nilai tapi ‘dianggap’ bernilai karena otoritas yang menerapkan nilai itu atasnya. Istilah ini tidak dikenal dalam fiqh maupun sejarah Islam tapi sudah digunakan sebagai badal/pengganti dari emas ataupun perak sejak lama (istilahnya underlying value). Namun sejak Kesepakatan Bretton Woods 1944, kertas menjadi uang (fiat money) dan bukan badal/pengganti dari emas/perak. Beberapa ulama mengharamkan penggunaan kertas sebagai uang karena tidak memiliki nilai intrinsik yang dibawa dan hal ini merupakan riba.

Taqiyuddin An-Nabhani dalam Muqaddimah Dustur. t-tp. 1963 atau Muqaddimah ad-Dustur aw al-Asbâb al-Mujîbah Lahu, Jilid I, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan II, 2009 membagi uang kertas (qirthas) ini menjadi 3 yaitu:

  1. Nuqud waraqiyah ilzamiyah (inconvertible paper money / fiat money). Yaitu uang kertas yang tidak ditopang oleh sejumlah emas atau perak, maka menurut An-Nabhani, ia dinilai berdasarkan substansinya yaitu kertas, bukan nilai nominal yang ditunjukkannya.
  2. Nuqud waraqiyah watsiqah (representative money). Yaitu uang kertas yang dijamin oleh suatu benda tertentu tetapi bukan emas dan perak, sebagai tanda jaminan barang tersebut atau dianggap sebagai kertas janji (promising note). Menurut An-Nabhani, barang yang dimaksud harus dikonversi dengan nilai emas dan perak yang ada.
  3. Nuqud waraqiyah na’ibah (substitution money). Yaitu uang kertas yang ditopang/dijamin oleh sejumlah emas dan perak. An-Nabhani membolehkan penggunaannya.

Pendapat An Nabhani (An Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam. Darul Ummah. Beirut, cetakan IV, 1990) mengacu secara umum bagi adanya khilafah. Sedangkan dalam Islam telah ditetapkan bahwa alat tukar yang syar’i adalah emas dan perak (Abdul Qadim ZallumAl Amwal fi Daulatil Khilafah. Darul Ilmi lil Malayin. Beirut, cetakan I, 1983).

E. Istilah2 di dalam Al Qur’an

  • Nama dinar (دِينَارٍ) disebut dalam QS 003:075. Ayat ini menjelaskan bahwa Dinar adalah mata uang yang sudah diterapkan lama, dan juga berfungsi penyimpan nilai (memiliki nilai bawaan genuine).
  • Dan dirham (دِرَهِم) telah digunakan di Mesir masa Nabi Yusuf AS masih muda terlihat di QS 012:020. Jelas disebutkan bahwa Dirham pada saat itu telah digunakan sebagai alat pembayaran.

3 pemikiran pada “Mitsqal, Waznu Sab’ah dan Ukuran Uang Jaman Nabi SAW

  1. Ini tepat sesuai dengan standar Nusantara.

    Untuk emas pun kita bisa menerapkan 1 Troy-ounce (ozt) = 7 Mitsqal = 10 Mayam; kesemuanya diterapkan pada emas.
    Sedangkan standar Majapahit, yaitu Suwarna (Su) dibagi menjadi 3 berat yaitu Ma (Masa), Atak dan Ku (Kupang).

    1 Masa = 1/2 Mitsqal = 2.22 gram yang digunakan untuk pembayaran zakat
    1 Atak = 1/4 Mitsqal = 1.11 gram yang digunakan untuk pemnayaran diyat/hukuman/denda
    1 Ku = 1/8 Mitsqal = 0.555 gram adalah sama persis dengan 1 Daniq emas, untuk belanja di pasar

  2. wazn sab’ah adalah rumus mitsqal yang didasarkan pada biji gandum.

    7*72 biji gandum = 10*(50+(2/5)) biji gandum
    7*72 biji gandum = 10*50.4 biji gandum

    sedangkan penghitungan menggunakan qirath membutuhkan penyesuaian pada mitsqal-solidus (22) ke mitsqal-denarius (20) maupun pada 3 drachma yang ada (20, 12, 10). Apabila tidak dilakukan penyesuaian maka akan didapatkan:

    (20+12+10)/3 berbanding 21 3/7
    42/3 berbanding 21.4
    14 berbanding 21.4
    7 berbanding 10.7

    Hal ini masih diterima karena mendekati prinsip 7/10.5 [yaitu ketika qirathnya dibulatkan menjadi 21] sebagai pembanding

    • Al-Baladhuri’s narrated that Muhammad ibn Sa’d said, “The dirham wazn (comparison) of our dirhams is fourteen qirats from our mithqal’s qirats, that is twenty qirats. And it’s wazn of fifteen qirats from twenty one and three seventh.”

      Yes, there’s two different qirats here that cannot be mixed-up. My calculation use Ibn Sa’d’s mithqal, that’s 20 qirats. That’s make 1 dirham = 14 qirats. So, the weight of 1 dinar = 1 mithqal = the weight of the big 4.195g drahm. But if 1 mithqal = 21 3/7 qirats, then 1 dirham = 15 qirats. Note that 7:10 = 14:20 = 15:21 3/7 are the same wazn. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s