Kebangkrutan Amerika Serikat

Apakah Amerika Serikat akan Bangkrut? Saya tidak akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, tetapi saya yakin Anda akan bisa menyimpulkannya sendiri berdasarkan fakta yang akan ditampilkan dalam artikel ini.  Pertama-tama, coba meneliti grafik dibawah ini, yang menunjukkan hutang Amerika Serikat dari tahun 1940 hingga sekarang.

Seperti dapat Anda lihat, hutang AS kini lebih dari US$14 trillion, dan sejak 2008 telah meningkat sebesar US$1 trillion setiap 7 bulan!  Sebagai perbandingan, dari 2002 sampai 2008, peningkatan hutang sebesar 1 trilyun dolar AS terjadi dalam 20 bulan.  Sementara di periode 1995-2000, peningkatan US$1 trillion tersebut terjadi dalam 5 tahun.

Selain itu, perlu dicatat bahwa pada awal abad ke-21, hutang Amerika Serikat tidak sampai setengah dari nilai hutangnya sekarang (lihat tabel diatas ini).  Dengan kata lain, pembuat kebijakan AS sudah meminjam lebih banyak uang selama dasawarsa terakhir dibandingkan seratus tahun sebelumnya!  Memang sulit untuk dipercaya, tetapi itulah kenyataan …

Produk Domestik Bruto atau GDP di AS kini hampir sama dengan jumlah hutang yang ditanggung oleh Amerika Serikat.  Lalu the Congressional Budget Office (CBO) telah menetapkan estimasi defisit untuk 2011 pada US$1.5 trillion.  Oleh karena itu, hutang AS diprediksi akan melebihi PDB-nya mulai tahun ini, seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini.

Defisit diprediksi sebesar 5% sampai 10% dari PDB selama beberapa tahun kedepan.  Bahkan mungkin untuk selamanya apabila kondisi perekonomian tidak segera pulih.  Apabila PDB misalnya bertumbuh antara 3% dan 4%, berarti jumlah hutang selalu lebih cepat membesar daripada pertumbuhan ekonomi.

Apakah suatu negara bisa menambah hutang lebih banyak dari PDB secara nominal untuk selamanya?  Tentu tidak, karena suatu saat pelaku pasar akan mulai meragukan kemampuannya untuk melunasi semua pinjamannya.  Ini sama sekali tidak berbeda dengan suatu rumah tangga yang juga tidak dapat menambah hutang lebih cepat daripada pendapatannya.

Ketika hutang sebuah rumah tangga ataupun negara semakin besar, beban bunga akan naik.  Dengan demikian biayanya akan lebih banyak menyedot anggaran dimana peningkatan hutang pada akhirnya akan menambahkan beban bunga yang diluar kemampuan.  Dan pada titik itulah, batasan akan tercapai …

Kondisi fiskal yang mengerikan

“When Franklin Roosevelt became president in 1933, the deficit was already running at 4.7% of GDP.  It rose to a peak of 5.6% in 1934.  The federal debt burden rose only slightly – from 40 to 45% prior to the outbreak of the second world war.  It was the war that saw the US embark on fiscal expansions of the sort we have seen since 2007.  So what we are witnessing today has less to do with the 1930s, than with the 1940s: it is world war finance without the war.”

-Niall Ferguson-

Hutang publik AS kini telah mencapai angka yang tidak pernah terjadi sebelumnya, yaitu sekitar US$14.1 trillion.  Namun ini pada dasarnya seperti peribahasa dimana kita hanya bisa memandang “ujungnya dari gunung es”.

Kenyataannya ternyata jauh lebih buruk dari yang dilaporkan oleh pemerintah karena jumlah tersebut tidak pernah memperhitungkan unfunded liabilities atau tanggungan pemerintah yang dananya belum tersedia (seperti MedicareSocial Security,Medicaid, maupun federal pension liabilities).

Jika semua tanggungan itu termasuk, hutang AS secara mengejutkan akan bernilai sebesarUS$126.5 trillion.  Bahkan profesor Laurence Kotlikoff, seorang ekonomis dari BostonUniversity, mengatakan hutang pemerintah AS sudah mencapai US$200 TRILLION! Ia berseru: “Let’s get real.  The U.S. is bankrupt.”

Maka dengan jumlah aset nasional yang hanya bernilai US$72 trillion, boleh disimpulkan bahwa Amerika Serikat telah “tenggelam” dalam seluruh kewajibannya.  Agar dapat mengikuti perkembangan posisi fiskal AS dengan baik, coba saja mengunjungi http://www.usdebtclock.org. Anda pasti akan merasa heran betapa cepat hutang naik secara terus-menerus.

Mengapa bisa begitu?

“History teaches us that such imprudent monetary and fiscal behavior has always led to economic disaster.”

-Jim Rogers-

Anda tidak perlu pemikiran yang cemerlang untuk memahami masalah ini.  Alasannya sangat sederhana; grafik dibawah ini dengan jelas menunjukkan mengapa hutang makin hari makin membengkak.

Saat pendapatan pajak turun dalam krisis ke level yang sama dengan 2004, pengeluaran malahan membubung tinggi. Sebagai catatan pendapatan pemerintah hanya bertumbuh rata-rata 0,9% selama dasawarsa terakhir, sedangkan pengeluarannya pada periode yang sama rata-rata meningkat 7,9%.  Jadi sulit sekali untuk mengurangi defisit negara.

Apa solusinya?

“America today looks like Russia in 1998.  Consumers, companies and the government are all highly indebted. America as a result is a bankrupt Mickey Mouse economy.”

-Jochen Wermuth, Chief Investment Officer at Wermuth Asset Management-

Anda tidak bisa menyelesaikan kelebihan hutang dengan meminjam makin banyak.  Anda juga tidak dapat meminjam jumlah uang yang melebihi pendapatan Anda terus, baik sebagai suatu rumah tangga maupun suatu pemerintahan, tanpa menjadi bangkrut pada akhirnya.

Maka hanya ada dua pilihan: Anda melunasi hutang Anda … atau Anda gagal membayarnya.  Apabila Anda menjadi bangkrut, tidak ada seorangpun yang akan meminjamkan uang kepada Anda lagi jadi Anda harus hidup sesuai dengan kemampuan Anda.  Namun jika Anda melunasi hutang, Anda terpaksa akan menguras pendapatan Anda dan menyisakan lebih sedikit uang untuk dibelanjakan.

Berbagai pemerintahan di dunia, termasuk Amerika Serikat, sekarang bertingkah laku seperti pecandu stimulus/hutang.  Lalu mereka lupa bahwa krisis ini BUKAN suatu masalah yangTEMPORERTETAPI masalah yang STRUKURAL.  Oleh karena itu, mereka seharusnya mengikuti program rehabilitasi agar mampu mengurangi pengeluarannya dan/atau menaikkan pendapatannya.

Apa bahayanya?

“Highly indebted governments, banks, or corporations can seem to be merrily rolling along for an extended period, when bang! – confidence collapses, lenders disappear, and a crisis hits.”

-Professors Carmen Reinhardt and Ken Rogoff in their book This Time is Different-

Amerika Serikat telah meluncurkan suatu kampanye yang sangat lihai untuk mengalihkan perhatian dari ekonomi maupun bank mereka yang bangkrut kepada negara kecil di Eropa seperti Yunani, Irlandia atau Portugal.  Meskipun negara tersebut memang mengalami kesulitan, kebutuhan pembiayaan mereka sebetulnya kecil dibandingkan masalah yang dihadapi oleh pemerintah pusat, negara bagian dan kota di AS (lihat grafik dibawah ini).

Peringkat hutang dari berbagai negara di Eropa sudah diturunkan oleh lembaga pemeringkat AS, sementara peringkat hutang AS tetap dipertahankan pada AAA.  Tanpa ragu saya berpendapat peringkat tersebut adalah sebuah PENIPUAN yang didorong oleh kepentingan politik.  Sama dengan subprime mortgages sebelumnya, lembaga pemeringkat hutang hanya akan menurunkan peringkat AS setelah hutangnya sudah menjadi junk atau “sampah”.  Maka saran saya adalah: Jangan teperdaya oleh peringkat hutang AS yang tinggi agar Anda tidak menderita kerugian yang fatal bagi portofolio Anda.

Lebih Lanjut

Sampai tahun 1970an, Amerika Serikat adalah kreditur terbesar di dunia.  Kemudian pada pertengahan 1980an AS menjadi sebuah debitur dan … sejak akhir 1990an merupakan DEBITUR TERBESAR di dunia.

Artinya pemerintah AS berhutang lebih banyak uang daripada negara manapun di dunia.  Kecuali bila penambahan hutang pemerintah tersebut pada akhirnya diselesaikan dengan menaikkan pajak dan mengendalikan pengeluaran, hanya dua pilihan yang tersisa: default(ketidaksanggupan memenuhi kewajiban) atau inflasi yang tinggi.

Namun hampir mustahil AS melunasi hutangnya dengan pajak yang lebih tinggi karena itu pasti menyebabkan a second Great Depression atau Depresi Besar yang kedua.  Jadi satu-satunya cara untuk mengatasi kelebihan hutang ini adalah melalui suatu DEVALUASI dolar AS yang hebat.

Menurut economists Joshua Aizenman dan Nancy Marion, inflasi bantu mengurangi hutang pemerintah AS dari 122% ke 25% terhadap PDB dari 1945 hingga 1973.  Maka jangan heran apabila the Fed (bank sentral AS) memutuskan untuk melanjutkan pelonggaran moneternya agar pemerintah AS tetap dapat membiayai defisitnya.

Kesimpulan: rupanya QUANTITATIVE EASING to infinity atau PENCETAKAN UANG tanpa batas adalah pemecahan yang terbaik pada saat ini.  Namun investor tetap disarankan untuk mengingat bahwa pemerintah Amerika Serikat hanya dapat mencetak uang secara terus-menerus selama dolar AS tetap merupakan the world’s reserve currency.  Jika tidak, kita akan menyaksikan keruntuhan yang luar biasa dari mata uang utama di dunia.

Perang Dingin Cina lawan AS

“We are very concerned about the lack of stability in the US dollar.”

-Chinese Premier Wen Jaibao-

Untuk membiayai pengeluaran yang sangat besar, pemerintah AS terpaksa perlu menjual banyak surat hutang.  Berhubungan semua negara maju berada dalam kondisi yang serupa, mereka harus melaksanakan penjualan tersebut dalam lingkungan yang makin kompetitif.

Empat bulan yang lalu, the U.S. Treasury Department merilis data yang menunjukkan sebuah penurunan sebesar 11% dalam official Chinese holdings of U.S. government bonds dari US$938.1 billion ke US$843.7 billion antara September 2009 dan Juni 2010.  Itu suatu pengurangan senilai hampir US$95 billion selama 9 bulan (lihat grafik diatas ini).

Berarti pemerintah Cina tidak menambah obligasi AS, dan juga tidak memperpanjang pembelian yang sebelumnya.  Dengan kata lain, Cina mengurangi hutang AS maupun penyikapannya terhadap dolar AS, dan pada gilirannya kerawanannya terhadap perekonomian AS yang melambat.

Uang menjadi mahal

Amerika Serikat – negara yang berhutang paling banyak uang di dunia – tergantung pada kepercayaan investor untuk membiayai kebutuhan pinjaman yang sangat besar.  Maka jika kekhawatiran Cina makin meningkat, bersamaan dengan investor lainnya di dunia, kreditur akan meminta tingkat pengembalian yang lebih tinggi.  Dengan demikian bond yields akan naik, dan harga obligasi akan turun.

Teliti saja grafik diatas ini, yang memperlihatkan dengan jelas bahwa yields atau tingkat suku bunga telah naik sejak awal bulan Oktober tahun lalu.  Secara sederhana, kenaikan ini diperkirakan berlangsung terus sepanjang pencetakan uang, bailouts dan sosialisasi dari hutang privat di AS maupun negara Eropa tidak segera dihentikan.

Kesimpulan: apabila investor yang khawatir mengenai solvabilitas pemerintah dalam jangka panjang menyebabkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, nilai aset di neraca bank besar  dunia – yang memiliki banyak obligasi pemerintah – beresiko mengalami penurunan kembali.  Selain itu, kenaikan suku bunga tentunya juga akan menimbulkan biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk perusahaan, konsumen maupun bank, dan memberikan pukulan yang besar kepada pemulihan ekonomi global.

Apakah dolar AS akan bertahan?

“There is no subtler, no surer means of overturning the existing basis of society than to debauch the currency.”

-Lord John Maynard Keynes (1883-1946)-

Sekarang Ben Bernanke – Kepala bank sentral AS – sedang mencetak uang untuk memulihkan perekonomian.  Tetapi tidak lama lagi, dia kemungkinan besar akan mencetak uang hanya untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang makin besar.

Ketika investor akhirnya menyadari apa yang terjadi, mereka langsung akan mengurangi kepemilikan dolar maupun obligasi AS mereka.  Sebagai akibatnya, makin lama the Fedmalahan akan mencetak makin banyak uang untuk menutupi defisit AS sampai … nilai tukar dolar AS jatuh lebih cepat daripada kemampuan bank sentral AS untuk mencetak uang baru.

Pada dasarnya the Federal Reserve sedang melakukan permainan yang sungguh berbahaya, yang dapat mengancam kestabilan dari sistem keuangan dunia.  Sekali pasta gigi telah keluar dari tabung, memang sangat sulit untuk memasukinya kembali.

Namun hutang publik dan kewajiban lainnya pada kenyataan sudah tidak mampu dibayar.  Oleh karena itu, tanpa jalan keluar penurunan nilai tukar dolar AS akan diteruskan (lihat gambar diatas ini).

Kesimpulan: the Fed mampu untuk monetize (membeli obligasi AS dengan uang yang baru dicetak) hutang pemerintah, dan sama sekali tidak perlu meminta bantuan dari siapapun di masa yang akan datang.  Tetapi … mencetak uang yang begitu banyak kemungkinan akan mengakibatkan KEJATUHAN NILAI DOLAR AS terhadap mata uang utama dunia, seperti the Russian ruble pada tahun 1998, dan hyperinflation atau inflasi yang tinggi sekali.

Selalu ingat bahwa reserve currency status bukan sebuah birthright (hak azasi).  Sekali kepercayaan menghilang sepenuhnya, kedudukan tersebut bisa lenyap secara tiba-tiba.

Greenback versus redback

“The United States would be mistaken to take for granted the dollar’s place as the world’s predominant reserve currency.  Looking forward, there will increasingly be other options to the dollar.”

-Robert B. Zoellick, World Bank president-

Tidak puas dengan devaluasi tukar dolar AS maupun euro, Rusia dan Cina telah sepakat untuk melunasi perdagangan bilateral mereka senilai US$50 billion dalam mata uang masing-masing.  Disamping itu penerbitandim-sum bonds, yaitu obligasi dari peminjamnon-Chinese yang berdenominasi renminbi sudah berkembang dengan pesat.  Sebagai contohnya, Caterpillar dan McDonald’s telah meminjam dana dalam mata uang Cina.

Berkat kepopulerannya yang meningkat, beberapa orang kini menyebut yuan the “hongbi” atau “redback”.  Pelan tapi pasti, pelaku usaha akan berpindah hati dari greenbacks ke redbacks.  Akhirnya, mata uang Cina akan diperdagangkan secara bebas.  Dan ketika itu terjadi, jumlah cadangan devisa yang signifikan diprediksi akan ditanamkan kedalamnya.

Logam mulia adalah uang

“Clueless governments still don’t understand that it is their ruinous actions that have created a credit infested and bankrupt world.  They will continue to prescribe the same remedy that caused the problem in the first place, namely more credit and more printed money.  The consequences are clear; we will have hyperinflation, economic and human misery as well as social unrest.”

-Egon von Greyerz, Matterhorn Asset Management-

Pada saat ini dunia penuh dengan ekonomi maupun mata uang yang “sakit”.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini emas telah mengalami kenaikan secara signifikan, yang disebabkan oleh hilangnya daya beli berbagai mata uang, terutama dolar AS.  Peredaran uang selama beberapa tahun terakhir nampaknya tidak terbatas, sedangkan persediaan emas tidak bisa ditingkatkan dengan mudah.

Sebagai akibat dari pencetakan uang yang makin dipercepatkan, semua uang kertas akan terkoreksi terhadap emas dalam 3 sampai 5 tahun kedepan.  Oleh karena itu, dolar AS, pound sterling dan euro sebaiknya dihindari.

Selain itu investor juga perlu mengingat bahwa ekspansi defisit yang cepat selama tahun 1970an disertai dengan tingkat inflasi yang kurang terkendali, sementara disiplin fiskal pada tahun 1990an menghasilkan suatu periode dengan tekanan inflasi yang rendah (lihat tabel dibawah ini).  Maka boleh disimpulkan bahwa dimanapun juga inflasi selalu merupakan a fiscal phenomenon!

Seperti Peter Bernholz mencatat dalam Monetary Regimes and Inflation, “there has never occurred a hyperinflation in history which was not caused by a huge deficit of the state.” (tidak pernah dalam sejarah terjadi suatu inflasi yang sangat tinggi yang tidak disebabkan oleh sebuah defisit pemerintah yang besar sekali)

Maka kita harus siap mengantisipasi kenaikan inflasi dalam beberapa tahun kedepan, dimana emas akan berfungsi sebagai INFLATION HEDGE yang menguntungkan.

Kesimpulan: saya tetap menyarankan investor  untuk mengalokasikan setidaknya 10% dari portofolio pada emas dan/atau perak.  Emas memang telah menguat lebih dari 400% selama dasawarsa terakhir, tetapi ketika dolar AS kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia, harga emas baru akan meroket puluhan persen.

Saya sungguh akan terkejut apabila emas tidak berhasil mencapai US$5,000/toz dalam beberapa tahun kedepan.  Jadi apakah Anda akan membeli emas, atau malahan “apes” (oleh inflasi yang mengerikan)?

Kesimpulan

“The U.S. has no way of avoiding a financial Armageddon.”

-John Williams, shadowstats.com-

The solution to a hangover is not more alcohol atau pemecahan untuk orang mabuk bukan lebih banyak alkohol.  Coba memikirkan hal berikut ini dengan seksama: Jika sebuah bank kecil menjadi bangkrut, masalahnya selesai ketika bank itu diambil alih oleh bank lebih besar yang menyuntikkan modal baru kedalamnya.

Apabila sebuah bank yang lebih besar berada diambang kebangkrutan, persoalannya terpecahkan ketika bank tersebut diambil alih oleh pemerintah, yang menyuntikkan modal tambahan kedalamnya. Tetapi … seandainya sebuah negara dengan perekonomian terbesar di dunia menjadi bangkrut … kita akan mengalami goncangan yang dahsyat!  Dari mana dana baru akan datang untuk menyelamatkannya?

Kenyataan yang menyakitkan adalah bahwa kita sebenarnya sudah melewati the point of no return atau telah memasuki jalan buntu.  Secara sederhana pemerintah AS sama sekali tidak mempunyai cara apapun untuk melunasi semua kewajibannya tanpa gagal bayar ATAU menghancurkan dolar AS (yang pada dasarnya sama saja).  Dan itu tentu juga berlaku untuk berbagai pemerintahan yang lain.

Dalam artikel berikutnya akan saya bahas bagaimana Anda bisa memanfaatkan peluang investasi yang berhubungan dengan sovereign debtdi negara maju, terutama di AS.  Yang penting adalah bahwa Anda sebagai seorang investor sadar akan soal ini, dan siap untuk menghadapi krisis yang jauh lebih buruk daripada tahun 2008-2009.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda dan sukses selalu dalam berinvestasi!

*Ini adalah catatan Nico Omer, Vice President, Research & Analysis Valbury Asia Futures yang dimuat di http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/02/07/apakah-amerika-serikat-bangkrut/

Apakah hyperinflation bisa menghantam Amerika Serikat?

Sekarang ada sejumlah indikator yang menunjukkan peningkatan dalam pencetakan uang dan ancaman permulaan sebuah periode yang hyperinflationary (dengan inflasi yang terlampau tinggi), seperti berikut ini:

  1. defisit yang makin besar di berbagai negara maju;
  2. suku bunga atas obligasi jangka panjang cenderung naik;
  3. banyak komoditas, baik itu hard maupun soft commodities, telah mencetak atau mendekati harga tertinggi sepanjang sejarah;
  4. mayoritas mata uang utama terkoreksi terhadap logam mulia;
  5. emas sudah berada diatas US$1,400/toz dan perak menguat lebih dari 80% tahun yang lalu.

Apa itu hyperinflation?

“By a continuing process of inflation, government can confiscate, secretly and unobserved, an important part of the wealth of their citizens.”

-John Maynard Keynes, Economic Consequences of Peace-

Pertama-tama, saya ingin menggarisbawahi bahwa hyperinflation bukan merupakan suatu pembesaran dari inflasi.  Inflasi dan hyperinflation adalah dua “binatang” yang sangat berbeda.  Sekilas mereka tampak sama, karena mata uang kehilangan daya belinya dalam 2 hal tersebut, tetapi pada kenyataannya mereka berbeda.

INFLASI terjadi pada waktu ekonomi terlampau panas.  Ketika permintaan terhadap sumber daya seperti tenaga kerja dan komoditi begitu tinggi, bersamaan dengan pemberian kredit yang makin banyak, harga sumber daya tersebut pasti akan meningkat.  Ini memaksa harga semua barang dan jasa ikut naik, agar produsen dapat mengimbangi pertambahan biaya.  Maka boleh dikatakan bahwa inflasi pada intinya merupakan sebuah peristiwa yang diakibatkan oleh permintaan.

Sedangkan HYPERINFLATION adalah turunnya kepercayaan terhadap mata uang.  Harga juga ikut naik saat hyperinflation sama halnya dengan suatu kondisi inflasi yang tinggi.  Namun kenaikan harga tersebut bukan karena tingginya permintaan, melainkan karena orang ingin segera membelanjakan uangnya.  Dengan kata lain orang lebih rela membayar berapa saja untuk suatu hal (barang atau komoditas) yang bukan mata uang mereka.

Jadi kita perlu membedakan antara inflasi dan hyperinflation.  Tingkat inflasi yang tinggi sering dialami oleh banyak negara.  Namun kondisi hyperinflation adalah suatu hal yang sangat istimewa, dimana tingkat inflasi bisa naik lebih dari 50% dalam sebulan.  Bahkan tingkat inflasinya bisa naik begitu tajam dengan angka yang kadang sungguh menakjubkan (lihat tabel diatas ini).

Apa yang menyebabkan hyperinflation?

“I’m convinced the US government will go bankrupt, but not tomorrow.  Before they go bankrupt, they’ll print money, and then you’ll get very high inflation rates.  Then you get a depression with high inflation.  Then eventually they’ll go to war.”

-Dr. Marc Faber-

Sejak 1920, dunia telah mengalami 29 kali hyperinflation – terakhir kali terjadi di Zimbabwe awal 2007.  12 diantaranya telah diteliti oleh Peter Bernholz dan ternyata ada kesamaan, yaitu hyperinflations selalu ditimbulkan oleh defisit anggaran yang sebagian besar dibiayai oleh pencetakan uang.

Selain itu, Bernholz juga mencari level dimana hyperinflations pada umumnya bermula.  Ia menemukan bahwa defisit yang mencapai 40 persen atau lebih dari pengeluaran tidak dapat dipertahankan, dan biasanya menuju ke inflasi yang tinggi sekali atau hyperinflations.  Yang menarik adalah bahwa Jepang maupun Amerika Serikat pada saat ini berada tidak jauh dari level yang mendahului hyperinflations, seperti dapat Anda lihat pada gambar dibawah ini.

Kesimpulan: hyperinflations tidak disebabkan oleh kebijakan bank sentral yang longgar.  Namun mereka berasal dari pemerintah yang membelanjakan uang diluar kemampuan mereka, dan dibantu oleh bank sentral yang membiayai pengeluaran pemerintah tersebut.

Proses ini disebut MONETIZING THE DEBT.  Dengan demikian monetizing debt adalah sebuah proses dengan dua tahap: 1) pemerintah menerbitkan obligasi untuk membiayai pengeluarannya; 2) bank sentral langsung membelinya dengan uang yang baru dicetak.  Oleh karena itu, peredaran uang pada akhirnya meningkat secara signifikan dan mata uang melemah tajam.

Dua contoh yang menakutkan

“It was horrible.  Horrible!  Like lightning it struck. No one was prepared.  The shelves in the grocery stores were empty.  You could buy nothing with your paper money.”

-from Ralph Foster’s Fiat Paper Currency: The History and Evolution of Our Money, via Shadowstats.com-

Hanya untuk memperlihatkan betapa “gilanya” tingkat inflasi sekali mulai tidak terkendali, coba pandang saja gambar dibawah ini yang menunjukkan inflasi di Weimar Germany.  Anda dapat lihat bahwa menjelang akhir 1923, tingkat inflasi bahkan mencapai 16 juta persen per tahun!

Pada waktu itu mata uang Jerman menjadi begitu tidak bernilai sampai orang benar-benar menggunakannya untuk kertas WC atau kertas dinding.  Lalu Anda bisa pergi ke restoran yang bagus misalnya dimana Anda makan enak dan memesan sebuah botol anggur yang mahal.  Tetapi … hari berikutnya botol anggur yang kosong itu bernilai lebih tinggi dibandingkan malam sebelumnya ketika botolnya masih terisi dengan anggur mahal.

Belum lama kita juga menyaksikan hyperinflation yang luar biasa di Zimbabwe.  Bahkan tingkat inflasi tersebut kemungkinan yang paling ekstrem sepanjang sejarah (lihat gambar disamping ini).

Perbedaan antara Amerika Serikat ataupun Jepang dan negara yang telah mengalami hyperinflation adalah bahwa bank sentral kini belum mencetak banyak uang untuk menutupi sebagian besar dari defisit.  Tetapi jika mereka berencana untuk melakukan hal demikian, orang Amerika dan/atau Jepang harus siap-siap membayar ribuan untuk sebuah roti atau semangkok mie.

Mungkinkah terjadi di AS?

Kongres pada saat ini “menghamburkan” uang seperti tidak ada hari esoknya, dan the Fed(bank sentral AS) suka menyuntik uang kedalam ekonomi setiap suatu permasalahan muncul.  Berdasarkan kenyataan yang kurang bijaksana ini, kira-kira berapa besar probabilitas Amerika Serikat akan mengalami inflasi yang tinggi sekali atau malahan hyperinflation?

Sebagai contohnya, yang mungkin akan membuat banyak orang merasa keheranan, hanya Inggris kini terancam hyperinflation karena 100% dari defisit anggaran ditutupi oleh bank sentralnya.  Maka sejak itu, tingkat inflasi di Inggris secara terus-menerus melebihi prediksi yang ditetapkan oleh Bank of England sendiri, dan pada bulan Februari sudah sebesar 4,4% dalam basis tahunan.

Kita hanya dapat berharap bank sentral di AS kedepan akan bersikap cukup bijaksana pada waktu menghadapi krisis berikutnya.  Namun saya secara pribadi berpendapat bahwa the Fedtetap akan mencetak uang baru lagi ketika ekonomi melambat kembali.

Sebagai buktinya, bank sentral AS sudah membeli hampir 95% obligasi pemerintah selama beberapa bulan terakhir dengan QE2 (lihat tabel diatas ini).  Jadi pertanyaan yang penting adalah: “Apakah the Fed akan kembali menerapkan program pelonggaran moneter tambahan pada saat ekonomi AS terancam resesi?  Jika iya, hyperinflation akan menjadi suatu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan oleh investor agar siap dalam menyesuaikan portofolio sebelum terlambat.

Emas adalah satu-satunya safe haven

“The Fed’s quantitative easing enables reckless federal spending like an accommodating bartender enables an alcoholic.”

-Rep. Ron Paul-

Pada tahun ini the Treasury atau Kementerian Keuangan AS perlu menerbitkan hutang baru dan membiayai ulang hutang lama sebesar US$4 trillion lebih.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini per September 2010, Cina dan Jepang memegang paling banyak obligasi pemerintah AS.

Apabila kedua negara tersebut mulai meragukan kemampuan Amerika Serikat untuk melunasi hutangnya dan mengkhawatirkan bank sentral yang akan mencetak uang terus untuk membayar hutang tersebut, maka dolar AS berpeluang anjlok dengan cepat.  Dan … jika dolar AS benar-benar jatuh karena berbagai negara menjual Treasuries (bahkan dengan rugi yang besar) secara bersamaan, emas kemungkinan besar akan “diborong” olehnya sebagai gantinya.

Kesimpulan: makin cepat jumlah hutang bertambah, makin besar tekanan the Fed untuk mencetak uang, yang tentunya akan meningkatkan peredaran uang.  Dan … makin jauh peredaran uang bertambah, makin besar desakan investor di seluruh dunia untuk membeli emas, perak, dan hard assets yang lainnya.

Dengan kata lain, permintaan untuk emas dalam jangka menengah-panjang seharusnya naik terus, menyusul Ben Bernanke dkk. dengan sengaja tidak mau tahu dampak dari tindakan mereka terhadap inflasi.

Diambil dari http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/03/28/apakah-hyperinflation-bisa-menghantam-amerika-serikat/

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s