Bani Adam

Manusia disebut sebagai “Bani Adam” artinya anak keturunan (Nabi) Adam AS. Narasi ini tidak “secara langsung” mengatakan bahwa Adam AS manusia pertama, tetapi memberikan narasi kurang lebih sebagai berikut:

  1. Bahwa Manusia adalah masterpiece dalam kreasi penciptaan. Masterpiece ini karena ada esensi dasar yang menjadi bawaan yaitu Ruh. Hal ini menjadi dasar penolakan atas superioritas manusia karena akal rasional semata. Karena akal tanpa pencerahan ruh, menjadi rasionalitas iblis.
  2. Bahwa Manusia adalah mengikat perjanjian primordial yang merupakan perjanjian azali dan senantiasa diingatkan agar tidak dilupakan, semenjak masa konsepsinya. Manusia dalam perjalanan hidupnya seringkali lalai pada perjanjian azali ini.
  3. Bahwa Manusia adalah makhluk berketuhanan (bertauhid) sebagaimana yang diajarkan Adam sebagai “leluhur” semua manusia. Hal ini juga menolak adanya tesis ‘agama bumi’ atau ‘agama kultural’, termasuk ajaran dinamisme dan animisme, di mana manusia membentuk sendiri kebudayaan religius mereka, bahkan agama mereka, berdasarkan pencarian rasional. Dan kemudian narasi tentang masa lalu bukanlah narasi progresif keimanan dari politeisme sehingga monoteisme, tetapi narasi tauhid dan penyimpangannya.
  4. Bahwa Manusia dengan ruh suci, dengan perjanjian suci, dan dengan ideologi berketuhananlah diletakkan sebagai khalifah Allah di atas permukaan bumi. Di mana sujudnya malaikat tidak menjadikan ia lupa diri. Di mana godaan setan menjadi kemungkinan untuk tergelincir dan mengingatkan akan jalan kembali.
  5. Sebagai khalifah, sebagai amanat azali, manusia mengejawantahkan tatanan Tuhan, menjadi ko kreator, ko order dan ko desain. Inilah akar dari budaya luhur, budaya lestari, permanent culture.

Allahu a’lam