Dzurriyat Rasulullah

Sekilas Catatan tentang Riwayat Dzurriyat (Para Anak Cucu/ Keturunan) Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam

Pendahuluan

Ad Dailami meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Said ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata, “Kemurkaan Allah swt amat besar kepada orang yang menyakitiku dengan cara menyakiti keturunanku.”

Dalam al Ausath, Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Hasan bin Ali ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Pertahankanlah rasa cinta kalian kepada ahlul bait, karena barang siapa yang berjumpa dengan Allah swt sementara ia mencintai kami, maka ia akan masuk surga dengan syafaat kami. Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, ketahuilah bahwa perbuatan seorang hamba tidak akan berguna baginya kecuali ia mengetahui hak kami.”

Ad Dailami meriwayatkan sebuah hadits dari Ali ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “4 golongan yang akan aku tolong kelak di hari kiamat adalah orang yang memuliakan keturunanku, orang yang berusaha memenuhi kebutuhan mereka, orang yang berusaha membantu segala urusan mereka ketika terdesak, serta para pecinta mereka dengan hati & lisannya.”

Abu Na’im meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Utsman bin Affan ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa berbuat baik kepada salah seorang dari bani Muthalib di dunia, sementara salah seorang dari mereka (bani Muthalib) tidak mampu membalasnya, maka akulah yang akan membalasnya kelak di hari Kiamat.”

Imam at Tirmidzi dan Imam ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Cintailah Allah agar kalian memperoleh sebagian nikmat-Nya, cintailah aku agar kalian memperoleh cinta Allah, dan cintailah keluargaku (ahlul baitku) agar kalian memperoleh cintaku.”

Para ahlul bait dan para sahabat ra memang bukan ma’sum (Terpelihara), tetapi mereka itu mahfuzh (Dipelihara) dengan pemeliharaan Allah swt terhadap orang-orang soleh.

Mungkin saja, secara syariat, mereka terjatuh ke dalam kesalahan dan dosa. Akan tetapi, Allah swt memelihara mereka dengan pemeliharaan dari-Nya. Dengan demikian, tidaklah salah bagi kaum muslimin untuk mencintai keluarga & keturunan baginda Nabi saw dengan sepenuh hatinya.

Meskipun begitu, menurut Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syathiri, pengasuh Rubat Tarim Hadramaut, apabila kita menemukan dari keturunan Rasul ada yang menyimpang, sebagai bentuk rasa cinta kasih kita kepada kereka, kita wajib ber amar ma’ruf nahi munkar.

Riwayat singkat kedua cucu baginda Nabi Muhammad saw.

Sayyidina Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib ra.

Sayyidina Hasan bin Ali bin abi Thalib ra, bersama adiknya Sayyidina Husein bin Ali bin abi Thalib ra adalah cucu dan buah hati Baginda Rasulullah saw dari putri tercinta beliau saw, yaitu Siti Fathimah az zahra ra. Sayyidina Hasan ra, yang dilahirkan di Kota Madinah pada tanggal 15 Ramadhan tahun 3 Hijriah, merupakan cucu pertama baginda Nabi saw. Putra Imam Ali karamallahu wajhah ini sangat mirip dengan Rasulullah saw. Namun kebersamaan Rasulullah saw bersama Al Hasan dan saudara Al Husein tidak berlangsung lama, karena ketika Al Hasan masih berumur 7 tahun, Rasulullah saw meninggal dunia.

Kesedihan yang dirasakan oleh Siti Fathimah ra dan Imam Ali karamallahu wajhah atas wafatnya Rasulullah saw, juga dirasakan oleh Al Hasan. Maklum beliau sangat dekat dengan datuknya. Namun tidak lama kemudian, kira-kira enam bulan setelah Rosululloh SAW wafat, ibu tercintanya yaitu Siti Fathimah ra. meninggal dunia.

Sayyidina Hasan ra memegang tampuk pemerintahan sesudah ayahnya (Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra) wafat syahid terbunuh dipukul dengan pedang oleh Abdurahman bin Muljam, berdasarkan pembai’atan yang dilakukan oleh penduduk Kota Kufah. Beliau memerintah selama enam bulan dan beberapa hari, sebagai pemimpin yang benar, adil dan jujur.

Beliau (Sayyidna Hasan ra) membuat perjanjian damai dengan pemberontak Mu’awiyyah. Dengan terjadinya penyerahan kekuasaan dari Sayyidina Hasan ra ke Muawiyah yang terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Awal tahun 41 Hijriyah, maka kekhalifahan selanjutnya dipegang oleh Sahabat Muawiyah. Usia Muawiyah saat itu 66 tahun, sedang usia Sayyidina Hasan adalah 38 tahun. Dalam sejarah Islam, tahun dimana terjadi perdamaian antara Sayyidina Hasan ra dan Muawiyah ini, disebut ‘Aamul Jama’ah, karena pada saat itu kaum muslimin bersatu dibawah satu komando.

Selanjutnya beliau (Sayyidina Hasan ra) dan seluruh keluarganya segara meninggalkan Kufah dan kembali menetap di Madinah. Hampir 10 tahun Sayyidina Hasan ra tinggal di Madinah, dan waktunya banyak beliau habiskan dalam beribadah dan mengamalkan ilmunya. Apabila beliau selesai sholat subuh, beliau selalu mampir ketempat istri istri Rasulullah saw. Dan terkadang memberi mereka hadiah. Namun apabila beliau selesai sholat dhohor, beliau tetap duduk di Mas’jid mengajar, dan terkadang menambah ilmu dari para Sahabat Rasulullah saw yang masih ada.

Akhirnya, pada tanggal 28 Shafar tahun 50 Hijriyah, Sayyidina Hasan ra berpulang ke rahmatullah dalam usia 47 tahun dan dimakamkan di pemakaman umum Baqi’. Dalam kitab Al-Ishaabah, Al-Waqidi bercerita: “Pada hari (penguburan Sayyidina Hasan ra) orang-orang yang menghadirinya sangat banyak. Sekiranya jarum dilemparkan di atas mereka, niscaya jarum tersebut akan jatuh di atas kepala mereka dan tidak akan menyentuh tanah.”

Mengenai kematian Sayyidina Hasan ra ini, para ahli sejarah mengatakan, bahwa beliau wafat karena diracun. Saudaranya yaitu Sayyidina Husein ra, tatkala mengetahui sang kakak telah diracun, memaksanya agar memberitahu siapa pelakunya, namun beliau (Sayyidina Hasan ra) menolak.

Abul Faraj Al-Ishfahani dalam bukunya Maqatiluth Thalibiyin menulis: “Mu’awiyah ingin mengambil bai’at untuk putranya, Yazid. Demi merealisasikan tujuannya ini ia tidak melihat penghalang yang besar melintang kecuali Sayyidina Hasan ra dan seorang sahabat ra Sa’d bin Abi Waqqash. Dengan demikian, ia membunuh mereka berdua secara diam-diam dengan racun.”

As Sibth bin Jauzi meriwayatkan dari Ibnu Sa’d dalam kitab At-Thabaqat dan ia meriwayatkan dari Al-Waqidi bahwa Sayyidina Hasan ra ketika sedang menghadapi sakaratul maut pernah berwasiat: “Kuburkanlah aku di samping kakekku Rasulullah saw”. Akan tetapi, Bani Umaiyah, Marwan bin Hakam dan Sa’d bin Al-’Ash sebagai gubernur Madinah kala itu tidak mengizinkannya untuk dikuburkan sesuai dengan wasiatnya.Akhirnya, jenazah Sayyidina Hasan ra diboyong menuju ke pekuburan Baqi’ dan dikuburkan di samping kuburan neneknya (Ibunda dari Sayyidina Ali bin abi Thalib ra), yaitu Fathimah binti Asad.

Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya Tadzkirah Al-Khawas menukil dari Abu Sa’id dalam Thabaqat-nya menyebutkan putra putri Sayyidina Hasan ra adalah: Muhammad Al-Ashghar, Ja’far, Hamzah, Muhammad Al-Akbar, Zaid, Hasan Al-Mutsana, Fatimah, Ummul Hasan, Umul Khair, Ummu Abdurrahman, Ummu Salmah, Ummu Abdullah, Ismail, Ya’qub, Abubakar, Thalhah dan Abdullah.
Muhammad Ali Shabban dalam bukunya ‘Teladan Suci Keluarga Nabi’ mengatakan keturunan Sayyidina Hasan ra yang sahih yang ada sekarang adalah Zaid dan Hasan Al-Mutsana. Zaid lebih tua dari saudaranya Hasan Al-Mutsana. Sesudah pamannya (Sayyidina Husein ra) meninggal, ia membai’at Abdullah bin Zubair sebagai khalifah. Menurut salah satu pendapat, Zaid hidup selama seratus tahun.

Sedangkan Hasan Al-Mutsana, ikut pamannya (Sayyidina Husein ra) di Karbala, dan mendapat luka-luka dalam perang melawan pasukan Yazid Muawiyyah. Ketika pihak musuh hendak mengambil kepalanya, mereka dapati ia masih bernafas, lalu Asma bin Kharijah Al-Fazzari berkata: ‘Biarkan dia kubawa!” Kemudian dibawanya ke Kufah dan diobati sampai sembuh. Setelah itu, Hasan Al-Mutsana kembali ke Madinah.

Habib Ali Zainal Abidin Assegaf, pengurus Naqobatul Asyrof Al-Kubro (lembaga pemeliharan, penelitian, sejarah dan pencatatan silsilah Alawiyin) mengungkapkan mayoritas habib (sayyid) di Indonesia yang ber-fam Al-Hasani berasal dari putra Sayyidina Hasan yang bernama Hasan Al-Mutsana. Pemilik fam Al-Hasani, kata dia, tak sebanyak jumlah fam di keluarga Bani Alawi yang merupakan keturunan Sayyidina Husein ra. “Al-Hasani itu mastur (tidak banyak, langka dan tersembunyi, red),” ujar Chaidar.

Al-Hasani memang mastur, tapi diantara yang sedikit itu saat muncul ke permukaan sangat masyhur (sangat terkenal). Beberapa figur ternama yang memiliki fam Al-Hasani adalah Sulthanul Awlia (Pemimpin Para Wali) Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Syekh Saman Al-Madani (pendiri Tarekat Sammaniyah), Abul Hasan Asy-Syadzili (Sufi besar asal Maroko), Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliky dan putranya Al Imam As Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliky al Hasani.

Beliau, Al Imam As Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani (wafat dan di makamkan di pemakaman Ma’la, Makkah Al Mukarromah pada 15 Ramadhan 1425H / 29 Oktober 2004), adalah seorang Muhaddits & tokoh Ulama Sunni abad ini, seorang mufassir yang ahli dalam ilmu Fiqh, Aqidah, Tasawwuf, dan Sirah. Diantara kitab karya monumental beliau yang telah mendapat sambutan tidak kurang dari 40 ulama besar dunia. adalah : Mafahim Yajibu An Tushahhah (Pemahaman-pemahaman yang harus diluruskan).

Beliau (Abuya Al Maliki), sebagaimana diceritakan oleh Ketua Tanfidziyah PB NU, Prof DR. KH Said Agil Siraj MA dalam majalah Sabili No. 14 (4 Febr 2010), pernah melakukan debat terbuka dengan Syeikh Abdul Azis bin Baz (Mufti Kerajaan Arab Saudi). Debat tsb Alhamdulillah dimenangkan oleh Abuya Al Maliki, tapi oleh pemerintah Saudi dokumentasi debat ini tidak boleh disebarluaskan. Akhirnya, abuya Al Maliki menuliskan hasil debat tersebut dengan bahasa yang sudah diperhalus, serta dengan tidak menyebutkannya sebagai hasil debat, dalam kitab beliau: Mafahim Yajibu An Tushahhah.

Dari kediaman beliau di Makkah Al mukarromah yang juga merupakan Majelis Ilmu dan Ribath Sunni, telah bermunculan ulama-ulama besar yang membawa panji Rasulullah ke seluruh penjuru dunia. Murid-murid beliau dapat kita jumpai di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika dan terutama Asia. Di Indonesia, Haiah As Shofwah adalah wadah bagi para alumni dari ma’had beliau.

Sayyidina Husein Bin Ali Bin Abi Thalib ra.

Sayyidina Husein ra (Abu Abdillah) adalah cucu Rasulullah saw dan beliau adalah adik dari Sayyidina Hasan ra. Beliau ra lahir pada hari ke 5 bulan Sya’ban tahun ke 4 hijriyah. Sayyidina Husein ra gugur sebagai syahid dalam usia 57 tahun, pada hari Jum’at, hari ke 10 (Asyura) dari bulan Muharram, tahun 61 Hijriyah di padang Karbala, suatu tempat di Iraq yang terletak antara Hulla dan Kuffah.

Menurut al-Amiri, Sayidina Husein dikarunia 6 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Dan dari keturunan Sayyidina Husein ra yang meneruskan keturunannya hanya Ali al-Ausath yang diberi gelar “ALI ZAINAL ABIDIN”. Sedangkan Muhammad, Ja’far, Ali al-Akbar, Ali al-Asghar , Abdullah, tidak mempunyai keturunan (ketiga nama terakhir gugur bersama ayahnya sebagai syahid di Karbala). Sedangkan anak perempuannya adalah: Zainab, Sakinah dan Fathimah.

Kaum Alawiyyin adalah keturunan dari Rasulullah saw melalui Imam Alwi bin Ubaydillah bin AHMAD AL MUHAJIR bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin ALI ZAINAL ABIDIN bin SAYYIDINA HUSAIN RA. Istilah Alawiyin atau Ba’alawi digunakan untuk membedakan keluarga ini dari keluarga para Sayyid yang lain yang sama –sama keturunan Rasulullah saw.

Prof. Dr. Hamka mengutip kata-kata mutiara dari al Imam Asy Syafi’i saat menulis kata sambutan dalam sebuah buku karangan Al Habib Hamid Al Husaini yang berjudul Al-Husain bin Ali Pahlawan Besar sbb: “Jika saya akan dituduh (sebagai) orang Syiah karena saya mencintai keluarga Muhammad saw, maka saksikanlah oleh seluruh manusia dan jin, bahwa saya ini adalah penganut Syi’ah.”

Beliau juga pernah mengatakan : “Tidak layak untuk tidak mengetahui bahwa Alawiyyin Hadramaut berpegang teguh pada madzhab Syafi’i. Bahkan, yang mengokohkan madzhab ini di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, adalah para Ulama Alawiyin Hadramaut.”

Di beberapa negara, sebutan untuk dzurriyat rasul saw ini berbeda-beda. Di Maroko dan sekitarnya, mereka lebih dikenal dengan sebutan Syarif, di daerah Hijaz (Semenanjung Arabia) dengan sebutan Sayyid, sedangkan di nusantara umumnya mereka dikenal dengan sebutan Habib. Di Indonesia sendiri ada lembaga khusus yang berpusat di Jakarta, bernama Rabithah Alawiyah, yang mencatat nasab (silsilah) para Alawiyin. Sehingga benar-benar gelar Habib atau Sayyid tidak disalahgunakan oleh seseorang.

Dalam buku “Sejarah masuknya Islam di Timur Jauh”, Prof DR. Hamka menyebutkan bahwa: “Gelar Syarif khusus digunakan bagi keturunan Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husain ra apabila menjadi raja. Banyak dari para Sultan di Indonesia adalah keturunan baginda Rasulullah saw. Diantaranya Sultan di Pontianak mereka digelari Syarif. Sultan Siak terakhir secara resmi digelari Sultan Sayyid Syarif Qasim bin Sayyid Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Demikian pula dengan pendiri kota Jakarta yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati, beliau digelari Syarif Hidayatullah.”

Kemudian Buya Hamka menjelaskan bahwa dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, yang artinya “Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin (sayyid) pemuda ahli surga” (Seraya menunjuk kedua cucu beliau, Sayyidina Hasan dan Husain). Berlandaskan hadits tsb, sudah menjadi tradisi turun temurun bahwa setiap keturunan Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husain ra digelari Sayyid.

Dipandang sangat tidak hormat kepada Rasulullah, jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak memiliki keturunan dan mengatakan bahwa orang yang mengaku keturunan beliau adalah seorang yang berbohong. Tidak akan mengatakan perkataan seperti ini kecuali orang yang iri dan dengki. (Seperti didalam Al Qur’an Surat Al Kautsar).

Pada sekitar abad 9 H sampai 14 H, mulai membanjirnya hijrah kaum Alawiyin keluar dari Hadramaut. Mereka menyebar ke seluruh belahan dunia, hingga sampailah ke nusantara ini. Diantara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang masih dapat disaksikan hingga kini, diantaranya: Kerajaan Al Aydrus di Surrat (India), Kesultanan Al Qadri di Kepulauan Komoro dan Pontianak, Kesultanan Al Bin Syahab di Siak dan Kesultanan Bafaqih di Filipina. Tokoh utama Alawiyin pada masa itu adalah Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad (Shahibur Ratib Al Haddad). Sejarawan Hadramaut, Syaikh Muhammad Bamuthrif, mengatakan, bahwa Alawiyin atau Qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut, dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika.

Riwayat Al Imam Ahmad Al Muhajir

Beliau (Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain ra.) adalah dzurriyat (keturunan) baginda Nabi saw yang hijrah dari Baghdad (Iraq) menuju ke Hadramaut Yaman pada abad ke 4 Hijriah. Beliau memilih Hadramaut sebuah negeri miskin yang tandus sebagai tempat hijrahnya, demi untuk menyelamatkan akidah dan agamanya.

Pada saat itu (abad ke 4 Hijriah), merupakan masa yang paling gelap dalam sejarah Islam. Di kalangan muslimin, umat terpecah belah menjadi beberapa kelompok, diantaranya: Sunnah, Syiah, Khawarij, Mu’tazilah (Faham Rasionalisme pertama dalam Islam) dan lain – lainnya. Belum lagi datangnya kelompok Zanji (Komunitas budak kulit hitam asal Afrika) di kota Bashrah (Iraq), yang menjarah dan banyak menimbulkan kekacauan di segala bidang.

Disebutkan bahwa ketika terjadi serangan dari kelompok Zanji ini, ribuan warga Basrah terbunuh dalam tiap harinya (871 M). Ditambah lagi kehadiran kaum Qaramitha (Kelompok ekstrim Syiah yang berniat menumbangkan kaum Sunni) pada tahun 310 H, yang telah menjadikan kota Basrah semakin mencekam. Pada masa itu, sejarah mencatat, bahwa pada tahun 930 M, kaum Qaramitha masuk dan menyerang kota suci Makkah, bahkan Hajar Aswad berhasil dijebol dan dirampok dari tempat asalnya dan berada di tangan kaum Qaramitha selama 23 tahun. Suasana Makkah dan Madinah saat itu sangat mencekam, pembunuhan terjadi di berbagai penjuru kota.

Dalam keadaan seperti itulah, Al Imam Ahmad Al Muhajir meninggalkan tanah kelahirannya untuk menyelamatkan akidahnya, serta bagi generasi keturunan berikutnya. Ketika masuk ke Hadramaut, beliau menggunakan metode dakwah dengan akhlak yang lembut dan luwes. Menurut sumber sejarah yang shahih, dikatakan bahwa madzhab Khawarij merupakan madzhab yang paling banyak dianut masyarakat di Hadramaut kala itu. Mereka saling berebut pengaruh dengan kelompok Zaidiyah (Penganut Syiah yang ajarannya mendekati Ahlussunnah).

Namun dengan keluasan ilmu, akhlak yang lembut, dan keberanian Al Imam Ahmad Al Muhajir beliau berhasil mengajak para pengikut Khawarij untuk menganut madzhab Syafi’i dalam fiqih dan Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam akidah. Tidak sedikit dari kaum Khawarij yang dulunya bersifat brutal, akhirnya menyatakan taubat di hadapan beliau. Dan sebelum abad 7 H berakhir, madzhab Khawarij telah terhapus secara menyeluruh dari Hadramaut, dan Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah diterima oleh seluruh penduduknya.

Di Hadramaut kini, akidah dan madzhab Imam Al Muhajir yang adalah Sunni Syafi’i, terus berkembang sampai sekarang, dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang “ideal” terutama bagi kaum Alawiyin, karena kemutawatiran sanad serta kemurnian agama dan aqidahnya. Ini dapat dilihat bagaimana amalan mereka dalam bidang ibadah, yang tetap berpegang pada madzhab Syafi’i, seperti pengaruh yang telah mereka tinggalkan di Nusantara ini. Dalam bidang Tasawuf, meskipun ada nuansa Ghazali, namun di Hadramaut menemukan bentuknya yang khas, yaitu Tasawuf sunni salaf Alawiyin yang sejati.

Dari Hadramaut inilah, anak cucu Imam Al Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam sampai ke “ufuk Timur”, seperti di daratan India, kepulauan Melayu dan Indonesia. Saat ini negeri muslimin terbesar di dunia adalah Indonesia , dan yang membawa Islam ke Indonesia adalah penduduk Yaman (yang datang pada abad ke – 16 dari Hadramaut dan juga ada yang melalui Gujarat), dari keluarga Al Hamid, As Saggaf , Al Habsy dan As Syathiry, Assegaf dan lain lain (masih banyak lagi para keluarga dzurriyat baginda Nabi saw, yang sampai kini masih terus berdakwah membimbing ummat di bumi Indonesia seperti: Al Aydrus, Al Attas, Al Muhdhor, Al Haddad, Al Jufri, Al Basyaiban, Al Baharun, Al Jamalullail, Al Bin Syihab, Al Hadi, Al Banahsan, Al Bin Syaikh Abu Bakar, Al Haddar, Al Bin Jindan, Al Musawa, Al Maulachila, Al Mauladdawilah, Al Bin Yahya, Al Hinduan, Al Aidid (–bukan Aidit–), Al Ba’bud, Al Qadri, Al Bin Syahab, dan lain lain) termasuk juga para Wali Songo, yang menyebar ke pedalaman – pedalaman Papua , Sulawesi, Pulau Jawa , mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Ethopia, sampai kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasar Al Qur’an, As Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Khusus para Wali Songo, menurut Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syathiri (pengasuh Rubat Tarim Hadramaut), silsilah mereka sampai kepada Paman dari Al Faqih Al Muqaddam, yaitu Al Imam Alwi bin Muhammad Shahib Marbad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Alawiyin bin Ubaydillah bin Imam Ahmad Al Muhajir.

Mereka (para Wali Songo) selalu berpegang teguh kepada para leluhurnya, yaitu bermadzhab Syafi’i secara Fiqih, dan secara aqidah mereka menganut teologi Abu Hasan Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi, sedangkan manhaj dakwah mereka mengikuti thariqah Ba’alawi.

Maka benarlah sabda Baginda Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu :

أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

“ Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah pada penduduk Yaman, dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )

Para ulama ahlu Yaman sejak berabad –abad tahun yang lalu didakwahi pertama kali oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan sayyidina Mu’adz bin Jabal ra . Sayyidina Mu’adz bin Jabal ke Yaman Utara dan sayyidina Ali bin Abi Thalib ke Yaman Selatan, Hadramaut . Demikian dakwah kedua shahabat ini membuka Yaman menjadi wilayah muslimin , dan disabdakan oleh Rasul yang berdoa:

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

“ Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Yaman “

Syam adalah wilayah Jordan dan sekitarnya , mengapa Rasulullah mendoakan keberkahan untuk wilayah yaman ? , karena beliau mengetahui bahwa nanti stelah beliau wafat akan ada Al Imam Ahmad Al Muhajir keturunan beliau hijrah ke Yaman dari Baghdad dan kemudian terus menyebar Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan hadits ini , beliau berkata bahwa hadits ini terikat pada kaum Anshar karena ternyata kaum Anshar itu adalah keturunan orang –orang Yaman , yang mana Rasulullah telah bersabda :

مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُمُ اللهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُمُ اللهُ

“ Barangsiapa yang mencintai Anshar maka ia dicintai Allah , dan siapa yang membenci Anshar maka ia dibenci Allah “

Anshar adalah keturunan orang Yaman , bahkan Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam An Nawawy alaihi rahmatullah menjelaskan bahwa penduduk Makkah pun ketika di masa datangnya Siti Hajar ‘alaihassalam yang ditinggalkan oleh nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang ketika itu sayyidah Hajar bersama putranya yaitu nabi Ismail alaihissalam ditinggal di Makkah, ketika itu datang kafilah dari Bani Tihamah dari Yaman , jadi penduduk Makkah pun asal muasalnya dari Yaman juga , ternyata Makkah dan Madinah awalnya juga dari Yaman, demikian pula muslimin yang sampai ke Indonesia awalnya juga dari Yaman. Maka benarlah sabda Baginda Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemuliaan ahlu Yaman. Subhanallah.

(Diolah dari berbagai sumber)

Daftar Rujukan:

- 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia; Abdul Qadir Umar Mauladawilah.
- Petunjuk Monogran Silsilah Berikut Biografi dan Arti Gelar Masing-masing Leluhur Alawiyin; Al Habib Muhammad Hasan Aidid.
- 60 Hadits tentang Ahlul Bait Nabi saw; Al Imam al Hafizh Jalaluddin as Suyuthi.
- Katakan Inilah Jalanku; Ceramah Al Habib Jindan bin Novel bin salim bin Jindan.
- Kemuliaan Ahlu Yaman, Ceramah Al Habib Munzir Al Musawa, 8 Februari 2010.
- Mutiara Ahlul Bait dari Tanah Haram; Al habib Muhsin bin Ali Hamid Ba’alawi

Simak hadis Nabi SAW tentang Ahlulbait berikut ini :

1. Hadis shahih dalam kitab Mustadrak As Shahihain Al Hakim, Juz III hal 110.

“Rasulullah SAW berhenti di suatu tempat di antara Mekkah dan Madinah di dekat pohon-pohon yang teduh dan orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah SAW mendirikan shalat, setelah itu Beliau SAW berbicara kepada orang-orang. Beliau memuji dan mengagungkan Allah SWT, memberikan nasehat dan mengingatkan kami. Kemudian Beliau SAW berkata” Wahai manusia, Aku tinggalkan kepadamu dua hal atau perkara, yang apabila kamu mengikuti dan berpegang teguh pada keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah (Al Quranul Karim) dan Ahlul BaitKu, ItrahKu. ……….

2. Hadis dalam Sunan Tirmidzi jilid 5 halaman 662 – 663

‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaku dalam keduanya”.

3. Hadis shahih dalam Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148

“Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“

4. Hadis shahih dalam kitab Mustadrak As Shahihain Al Hakim, Juz III hal 110.

……Aku tinggalkan kepadamu dua hal atau perkara, yang apabila kamu mengikuti dan berpegang teguh pada keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah (Al Quranul Karim) dan Ahlul BaitKu, ItrahKu…..

Dan, masih banyak lagi hadis – hadis serupa.

Dari 4 hadis di atas kita dapat menyimpulkan :

1. Umat Islam harus berpegang teguh kepada Kitab Allah dan ‘Itrah, Ahlulbait Nabi SAW, sepeninggal Rasulullah SAW

2. Berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Itrah,Ahlulbait Nabi SAW sepeninggal Rasulullah SAW adalah syarat untuk tidak tersesat.

3. Itrah,Ahlulbait Nabi SAW dan Kitab Allah tidak akan terpisah sampai keduanya kembali bertemu dengan Rasulullah SAW di Al Haudh.

Bahwa Itrah, Ahlulbait Nabi SAW harus diikuti, berpegang kepada mereka adalah syarat untuk tidak tersesat dan mereka tidak terpisah dengan Al Qur’an, apakah ini tidak mengindikasikan ‘kemaksuman’ Ahlulbait Nabi SAW ?.

Alhamdulillah, jumhur ulama berpendapat para ahlul bait dan para sahabat ra memang bukan ma’sum (terpelihara), tetapi mereka itu mahfuzh (dipelihara) dengan pemeliharaan Allah swt terhadap orang-orang sholeh.

Ahlul Bait memang mepunyai kelebihan yakni karunia Allah Azza wa Jalla berupa jasmani atau sulbi ke sulbi dari orang-orang yang telah mencapai ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an namun semua itu tergantung pencapaian mereka sendiri dalam ke-ruhani-an sehingga mencapai ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an. Pencapai ke-ruhani-an merekapun lebih mudah karena mereka mendapatkan sunnah Rasulullah melalui lisan ke lisan dalam rantai yang paling singkat/pendek.

Perhatikanlah wasiat Sayyidina Ali kw, “Ketahuilah wahai putraku, bahwa sebaik-baiknya wasiat adalah taqwa kepada Allah, bersunguh-sungguh menjalankan tugas yang diwajibkan-Nya atasmu, dan mengikuti jejak langkah ayah-ayahmu yang terdahulu (Rasullullah) dan orang-orang yang sholeh dari keluargamu. ”

Beliau mewasiatkan agar mengikuti orang-orang yang sholeh karena ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an adalah bukti seseorang berada (istiqomah) di jalan yang lurus. Orang-orang sholeh/ihsan adalah mereka yang dengan sholatnya terjaga dari perbuatan keji dan mungkar atau secara hakikat akan terjaga/terpelihara dari kesalahan. Jadi pada umumnya semua muslim dapat terjaga/terpelihara dari kesalahan ketika mereka telah mencapai ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an. Ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an hanya terbagi dalam dua tingkatan yakni tingkatan utama adalah mereka yang dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati atau hakikat keimanan dan tingkatan di bawahnya adalah mereka yang selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala perbuatan.

Jadi menurut pendapat kami tidaklah bertentangan antara perkataan Rasulullah kepada umat muslim pada umumnya, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw” (HR. Muslim) dengan perkataan-perkataan Rasulullah kepada lingkungan dekatnya bahwa harus berpegang teguh kepada Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’ kemudian berpegang teguh kepada Ahlul Bait yang berpegang teguh kepada Kitab Allah yang keteguhan tersebut dibuktikan dengan ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an.

Sepanjang yang kami ketahui bahwa hadis Nabi SAW yang berbunyi “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw”, tidak terdapat di dalam kitab – kitab hadis sahih dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Akhi menyebutkan bahwa hadis ini terdapat di dalam Sahih Muslim. Mohon disebutkan di jilid berapa, halaman berapa dan hadis nomor berapa, teks hadis ini bisa kita temukan di dalam Sahih Muslim.

Kami telah melakukan penelitian terhadap hadis ini. Hasilnya, semua riwayat – riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi SAW berkata : Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw” atau yang senada dengannya adalah riwayat – riwayat yang lemah ( dho’if ).

Sementara, riwayat – riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi SAW berkata : “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Itraku, Ahlul Bait”. adalah riwayat – riwayat yang sahih dan bahkan ada yang mengatakan riwayat – riwayat tersebut mutawatir.

Tentang kewajiban mengikuti Ahlul Bait sepeninggal beliau ditegaskan oleh Imam Ali AS dalam berbagai khutbahnya sbb :

1. Tentang Keluarga Nabi. “Tengoklah anggota keluarga Nabi. Bertautlah pada arahan mereka, ikuti langkah mereka karena mereka tak pernah membiarkan kalian tanpa petunjuk dan tak akan pernah melemparkan kalian ke dalam kehancuran. Apabila mereka duduk, duduklah kalian dan apabila mereka bangkit, bangkitlah kalian. Janganlah mendahului mereka, karena dengan itu kalian akan tersesat dan jangan ketinggalan di belakang mereka karena dengan itu kalian akan runtuh.
Aku telah melihat para sahabat Nabi, tetapi tidak aku temukan seseorang yang menyerupai mereka
( Kitab Nahjul Balaghah, Khotbah 97, hal. 272 ).

2. Tentang Kedudukan Ahlubait AS. “Dimanakah mereka secara batil dan lalim mengaku bahwa mereka berilmu secara mendalam dibanding dengan kami, padahal Allah SWT mengangkat kami dalam kedudukan dan menahan mereka di bawah, menganugerahi kami pengetahuan tetapi tidak memberikannya kepada mereka, dan memasukkan kami ( ke dalam benteng pengetahuan ) tetapi membiarkan mereka di luar. Pada kami bimbingan harus dicari dan kebutaan diubahmenjadi kecerlangan.
( Kitab Nahjul Balaghah, Khotbah 143, halaman 368 )

Pertanyaannya ialah sudah sejauh manakah kita mengikuti bimbingan dan petunjuk dari Ahlulbait Nabi SAW sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW ?.

Walaupun kita selalu mengatakan bahwa kita mencintai Ahlulbait Nabi SAW, kita menghormati Ahlulbait Nabi SAW, namun sayang sekali, pada saat yang sama – dalam kenyataannya – kita justru meninggalkan Ahlulbait, tidak mau mengikuti ajaran – ajaran Islam yang mereka sampaikan bahkan menentang dan memusuhi mereka. Sebagian diantara kita malah mendukung ,berpihak dan mengikuti orang – orang yang memusuhi mereka.

Pada saat Rasulullah SAW masih hidup, memang ketika umat Islam menghadapi berbagai persoalan hidup baik yang menyangkut agama maupun yang bukan agama, mereka dapat langsung mendatangi Rasulullah SAW dan mendapatkan jawaban dari ‘Sunnah Nabi’ langsung dari Rasullah SAW yang masih hidup.

Namun, setelah Rasulullah SAW wafat, kepada siapa atau kepada apa umat Islam akan merujuk jika menghadapi persoalan – persoalan agama/non agama ?. Pasti jawabnya adalah Sunnah Nabi SAW ! .

Tetapi, masalahnya ialah sesaat setelah Rasulullah SAW wafat, Sunnah Nabi SAW belum terbukukan atau belum terwujud dalam bentuk kitab – kitab hadis seperti yang kita kenal sekarang ini. Kitab hadis pertama dibukukan lebih kurang 100 tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Jadi, 100 tahun setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, baru muncul kitab hadis pertama yang merekam Sunnah Nabi SAW.

Pertanyannya ialah sesat setelah Rasulullah SAW wafat lewat siapa atau melalui apa umat Islam pada waktu itu memperoleh Sunnah Nabi SAW tersebut ?. Apakah kepada para Sahabat Nabi ?. Sahabat yang mana, diantara 114 ribu orang Sahabat Nabi SAW pada waktu itu ?.

Dan…Inilah jawaban Nabi buat mereka dan kita semua :

“Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu KITAB ALLAH, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘ITRAHKU, AHLULBAITKU. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga Al Haudh. Maka perhatikanlah aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaku dalam keduanya” .

Hadis ini sangat kuat. Bahkan ‘gembong’ Salafi Wahabi ( SAWA ), Nashiruddin Al Albani ( alm ) mengakuinya sebagai hadis sahih di dalam kitabnya ‘SILSILAH HADIS SAHIH’ . Sebagian ulama lain menyebutnya, hampir mencapai tingkat mutawatir.

Berdasarkan hadist tersebut, maka setelah Rasulullah SAW wafat, satu – satunya orang/kelompok yang diberikan otoritas untuk menyampaikan ‘ajaran-ajaran Rasulullah SAW’ dan yang bertindak sebagai ‘mandataris’ yang memiliki wewenang untuk menafsirkan Kitabullah, tentunya berdasarkan apa yang diwariskan Rasulullah SAW, ….adalah para Imam yang merupakan ‘Itrah ( Keturunan ) dari Ahlulbait beliau.

Namun, yang dimaksudkan para Imam dari ‘Itrah Ahlulbait disini bukanlah semua keturunan Rasulullah SAW atau bukan sembarang dzurriyat Rasulullah SAW. Rasulullah SAW juga menyebutkan puluhan kelebihan dan keutamaan mereka. Ini memerlukan bahasan yang khusus

Jadi, dalam pandangan kami, mengikuti ‘Itrah Ahlulbait merupakan konsekwensi dan konsistensi dari tunduk dan patuh terhadap apa yang diwajibkan oleh Rasulullah SAW kepada kita semua. Walhasil, itu juga merupakan Sunnah Nabi SAW.

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya) (QS An Nisaa [4]:59 )”

Alhamdulillah, pada prinsipnya kita sepakat bahwa jika terjadi perbedaan pendapat maka kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Setelah Rasulullah SAW wafat, kepada siapa atau kepada apa umat Islam akan merujuk jika menghadapi persoalan – persoalan agama/non agama ?. Pasti jawabnya adalah Sunnah Nabi SAW ! .

Kemudian antum mengungkapkan bahwa Sunnah Nabi SAW belum terbukukan atau belum terwujud dalam bentuk kitab – kitab hadis seperti yang kita kenal sekarang ini. Kitab hadis pertama dibukukan lebih kurang 100 tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Jadi, 100 tahun setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, baru muncul kitab hadis pertama yang merekam Sunnah Nabi SAW.

Memang Sunnah Nabi SAW baru dibukukan lama setelah wafat Rasulullah namun “kelebihan” atau “keterjagaan” hadits adalah melalui penghafalan hadits. Dari Rasulullah ke para sahabat terus ke tabi’ini (yang “bertemu” dengan Sahabat ) terus ke tabi’ut tabi’in (yang bertemu dengan yang bertemu dengan Sahabat) . Jadi tidak ada keterputusan dengan waktu dibukukannya hadits. Justru permasalahan timbul ketika hadits setelah dibukukan karena memahami melalui tulisan/buku/literatur/transkript mempunyai kelemahan dibandingkan dengan melalui “bertemu”.

Antum ndak perlu khawatir karena umat muslim ahlussunnah wal jamaah atau di singkat sunni juga mengikuti Imam Sayyidina Ali ra, Imam-imam ahlul bait lainnya. Lihat saja pada blog kami ini kami berpegang kepada Imama Sayyidina Ali kw, sang penutup khulafaur rasyidin yang telah menauladankan bagaimana zuhud terhadap dunia sebenarnya. Namun kami tidak melebih-lebihkan beliau sebagaimana yang diriwayatkan Imam Sayyidina ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Oh ya ada juga hadits yang berbunyi,
“Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selagi berpegang teguh atau mengamalkan keduanya, yaitu al Qur’an dan Sunnahku. Keduanya tidak terpisahkan sampai mengantarkan aku ke al-haudl/telaga.”(H.R. al Baihaqy).

Dalam posting sebelumnya, Akhi menyebutkan bahwa hadis “Kitabullah wa Sunnati” ( Kitab Allah dan Sunnahku ) terdapat di dalam Sahih Muslim. Mohon disebutkan di jilid berapa, halaman berapa dan hadis nomor berapa, teks hadis ini bisa kita temukan di dalam Sahih Muslim.

Sepanjang penelitian ana, hadis “Kitabullah wa Sunnati” yang diriwayatkan oleh Al Baihaqy adalah hadis yang lemah. Hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqy di dalam Sunan-nya, bersumber dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Kedua riwayat ini lemah karena – pada riwayat Ibnu Abbas – terdapat perawi yang bernama IBNU ABI UWAIS , sedangkan pada riwayat Abu Hurairah – terdapat SALEH BIN MUSA- dan keduanya adalah lemah.

Sekali lagi ,menurut penelitian kami, tidak ada hadis “Kitabullah wa Sunnati” yang bisa dikategorikan sebagai hadis sahih atau hasan. Hadis “Kitabullah wa ‘Itrati,Ahlulbaiti’ adalah hadis yang sahih/sangat kuat dan bahkan menurut sebagian ulama dikategorikan sebagai hadis mutawatir.

Antum mengatakan :

” Memang Sunnah Nabi SAW baru dibukukan lama setelah wafat Rasulullah namun “kelebihan” atau “keterjagaan” hadits adalah melalui penghafalan hadits. Dari Rasulullah ke para sahabat terus ke tabi’ini (yang “bertemu” dengan Sahabat ) terus ke tabi’ut tabi’in (yang bertemu dengan yang bertemu dengan Sahabat) . Jadi tidak ada keterputusan dengan waktu dibukukannya hadits…..”

Pertanyaan ana :
1. Apakah betul semua hadis – hadis Nabi benar – benar terjaga melalui penghapalan dari Rasulullah SAW kepada para Sahabatnya terus ke tabi’in dan terus ke tabi’ut tabi’in ?.

2. Sahabat mana yang kita yakini memiliki kemampuan menjaga hadis secara tepat dan benar persis seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW ?. Apakah semua Sahabat Nabi SAW yang jumlah lebih dari 100 ribu orang ?.

Saya ingin kita mendiskusikannya pada posting berikutnya.

Antum juga mengatakan :

“Antum ndak perlu khawatir karena umat muslim ahlussunnah wal jamaah atau di singkat sunni juga mengikuti Imam Sayyidina Ali ra, Imam-imam ahlul bait lainnya…”

Apakah benar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti Imam Ali dan para Imam Ahlulbait ?. Mohon ma’af, banyak riwayat – riwayat yang sampai ke kami, tidak menunjukkan apa yang akhi sampaikan tersebut, bahkan – sekali lagi, ma’af, bertolak belakang dengan apa yang antum katakan tersebut

Silahkan merujuk di sini http://www.rabithah-alawiyah.org/id/?page_id=151

Berkata Habib Munzir bin Fuad Al Musawa :

Ahlulbait memilih dan masuk pd semua madzhab, tidak memiliki madzhab sendiri,

namun ada Thariqah sendiri, yaitu thariqah alawiyyah, dan ini dipertahankan dan terus diperbaharui, dan pembaharu thariqah alawiyyah yg terkemuka adalah Imam Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawiy, dan dikenal sebagai pimpinan thariqah alawiyyah, namun hakikatnya Thariqah alawiyyah adalah tuntunan Rasul saw, yaitu pemaduan antara Syariah dan haqiqah, tanpa berat sebelah kesalah satunya. demikian yg diajarkan oleh Rasul saw.

banyak orang yg bukan ahlulbait mengikuti thariqah alawiyyah karena ia induk dari semua thariqah, namun sebaliknya banyak pula ahlulbait yg masuk pada Thariqah lainnya, kesemuanya satu tujuan, menuju keridhoan Allah swt.

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=25029#25029

para ulama ahlussunnah pun selalu berpegang,mengikuti para ahlul bait..bnyak dari mereka berguru pada ahlul bait

jadi aswaja dan ahlulbait adalah kolaborasi yg solid untuk terus membantu perjuangan Nabi


Mari kita diskusikan pernyataan yang pernah antum sampaikan dan pertanyaan yang ana lontarkan.

Antum mengatakan :

” Memang Sunnah Nabi SAW baru dibukukan lama setelah wafat Rasulullah namun “kelebihan” atau “keterjagaan” hadits adalah melalui penghafalan hadits. Dari Rasulullah ke para sahabat terus ke tabi’ini (yang “bertemu” dengan Sahabat ) terus ke tabi’ut tabi’in (yang bertemu dengan yang bertemu dengan Sahabat) . Jadi tidak ada keterputusan dengan waktu dibukukannya hadits…..”

Pertanyaan ana :
1. Apakah betul semua hadis – hadis Nabi benar – benar terjaga melalui penghapalan dari Rasulullah SAW kepada para Sahabatnya terus ke tabi’in dan terus ke tabi’ut tabi’in ?.

2. Sahabat mana yang kita yakini memiliki kemampuan menjaga hadis secara tepat dan benar persis seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW ?. Apakah semua Sahabat Nabi SAW yang jumlah lebih dari 100 ribu orang ?.

Jawaban kami

Sayang sekali , dalam kenyataannya, tidak semua Sunnah Rasulullah SAW terjaga melalui penghapalan para Sahabat beliau. Kita ambil contoh sebagian kecil.

Sebagian Sahabat Nabi SAW lupa terhadap Sunnah yang pernah mereka dengar dari Nabi SAW, diantara mereka adalah ZAID BIN ARQAM. Simak riwayat berikut ini.

“Dari Yazid bin Hayyan, ia berkata : “Saya berangkat bersama Hushain bin Saburah dan Umar bin Muslim menjumpai Zaid bin Arqam, dan ketika kami duduk menghadapnya, Hushain berkata kepadanya : “Wahai Zaid, anda telah mendapat kebaikan yang banyak, maka sampaikan sesuatu kepada kami yang anda dengar dari Rasulullah SAW”. Zaid berkata : “Hai putra saudaraku, demi Allah, usiaku telah lanjut, masaku telah lama dan AKU-PUN LUPA sebagian yang telah aku pahami dari Rasulullah SAW………

( SAHIH MUSLIM, Kitab Fadha’il Ash Shahabah, Bab Min Fadha’il Ali bin Abi Thalib ).

Paman Rasulullah SAW, Ibnu Abbas, salah seorang sahabat utama dan mufassir terkemuka, juga tak luput dari melupakan Sunnah Rasulullah SAW. Berikut riwayatnya.

” Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : “Hari Kamis !, apakah hari Kamis itu ?”. Kemudian ia menangis sehingga airmatanya membasahi pasir. Katanya : “Rasulullah SAW sakit keras pada hari Kamis, beliau lalu bersabda : “Bawalah kemari kertas !. Aku akan menyuruh menuliskan untuk kalian sesuatu yang dengannya kalian tidak akan tersesat sesudah itu selama – lamanya. Mereka lalu berselisih, sedangkan berselisih itu tidak pantas di dekat Nabi SAW. Mereka berkata : “Rasulullah SAW mengigau/meracau ( hajara ) “. Beliau bersabda : “Biarkanlah saya !. Keadaan saya sekarang lebih baik daripada apa yang kalian katakan”. Beliau berwasiat ketika akan wafat dengan tiga perkataan : pertama, keluarkanlah orang musyrik dari jazirah Arab, kedua, sambutlah perutusan sebagaimana saya pernah menyambut mereka, dan yang ketiga : SAYA ( Ibnu Abbas ) LUPA ! – NASITU ATS TSALITSATA.

( SAHIH BUKHARI, TERJEMAHAN, JILID III, HAL 145, HADIS NO.1375 ).

Bahkan seorang Sahabat sekaliber Ibnu Abbas, bisa melupakan perkataan Nabi SAW yang sangat penting dan yang akan menentukan ‘nasib’ umat sepeninggal beliau ?. Padahal, wasiatnya cuma 3 point saja !.

Pasca wafatnya Rasululah SAW, masih di zaman Sahabat , Sunnah Nabi SAW sudah berubah – ubah tidak lagi ‘asli’ sebagaimana di terapkan ketika Rasulullah SAW masih hidup. Kenyataan ini disampaikan sendiri oleh para Sahabat beliau. Mari kita simak riwayat berikut ini.

1. Suatu ketika seorang tabi’in, Al Musayyab, memuji Al Barra Ibn ‘Azib : “Beruntunglah anda, anda menjadi Sahabat Rasulullah SAW, anda berbai’at kepadanya di bawah pohon”. Al Barra menjawab, “Hai anak saudaraku, engkau tidak tahu hal – hal baru yang kami adakan ( ma ahdatsna ) sepeninggal Rasulullah SAW ”

( Abu Zahrah, Tarikh Al Madzahib Al Islamiyyah, Dar Al Fikr Al Arabi, h.267 )

2. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi SAW diusir dari Al Haudh ( Telaga ), Nabi SAW berkata : “Ya Rabbi, mereka Sahabatku !”. Dikatakan kepadanya : “Engkau ( Muhammad ) tidak tahu apa – apa yang mereka ada -adakan sepeninggal kamu ”

( SAHIH BUKHARI, BAB AL GHAZWAH AL HUDAIBIYAH , KITAB AL MAGHAZI HADIS KE 4170 ).

Ini hanyalahh sebagian kecil dari riwayat – riwayat tersebut

Jadi, menurut pendapat kami, tidak benar bahwa seluruh Sunnah Rasulullah SAW benar benar telah dijaga oleh para Sahabat beliau. Beberapa riwayat lain bahkan menunjukkan adanya perbedaan pemahaman, kesalahan, kekeliruan , kesalahan penafsiran dan ketidaktahuan dari Sahabat Nabi akan Sunnah Rasulullah SAW.

Melihat kenyataan – kenyataan semua ini tentunya membuat kita bertanya – tanya : “Apakah mungkin kita bisa tenang dan aman beramal dengan Sunnah Nabi SAW sebagaimana disampaikan lewat Sahabat Nabi SAW ?.

apakah benar ada yang mengatakan bahwa zurriyah rasul itu sudah terputus mengingat mengambl keturunan dari pihak ibu ( siti Fatima )

pada 27 April 2011 pada 6:41 am | BalasSofyan Samaun
@ deni : ” apakah benar ada yang mengatakan bahwa zurriyah rasul itu sudah terputus mengingat mengambl keturunan dari pihak ibu ( siti Fatima ) ”

Jawab : Ada !.

Pertanyaan oposisi : ” apakah ada yang mengatakan bahwa zurriyah Rasul itu TIDAK TERPUTUS walau keturunan Rasul melalui Siti Fatimah Az Zahrah binti Muhammad Rasulullah SAW ? ”

Jawab : ” Juga ada !”

Al Faqir : “kenapa anda sibug dengan opini tentang tu, seakan-akan anda meragukan hadist-hadist yg dsampaikan oleh para perawi hadist ”

Jawaban kami :

a. Saya hanya merespon dan mengkritisi apa yang disampaikan oleh akhi Zon Jonggol yang menyebutkan bahwa ‘“keterjagaan” hadits adalah melalui penghafalan hadits” dari para Sahabat Nabi dst, yang disampaikan pada posting sebelumnya.

b. Saya tidak bermaksud meragukan semua hadis yang disampaikan oleh para perawi hadis. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa TIDAK SEMUA ( sekali lagi, TIDAK SEMUA ) Sunnah Nabi SAW yang disampaikan lewat Hadis dapat terjaga oleh SEMUA ( sekali lagi, SEMUA ) Sahabat ‘ melalui penghapalan mereka’. Apa buktinya ?.

Buktinya, seperti sudah saya sampaikan pada comment terdahulu, para Sahabat sendirilah yang mengakui bahwa mereka melupakan sebagian dari apa yang pernah mereka dengar dan lihat dari Rasulullah SAW, seperti – yang secara jujur – disampaikan oleh Sahabat Zaid bin Arqam RA dan Ibnu Abbas RA. Sahabat lain mengatakan bahwa mereka telah merubah – rubah ‘apa yang ditinggalkan’ oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bukan saya yang mengatakan hal ini, tetapi para Sahabat sendirilah yang menyampaikannya kepada kita. Saya hanya mengutipnya saja.

2. Al Faqir :
“padahal semua perawi hadist sangat hati-hati ketika membukukannya…karena mereka tahu, menipu dengan mengatasnamakan Nabi saw, tempatnya pastilah di neraka..mereka tidak menerima sembarang menerima hadist, mereka akan mncari tahu, hadist ini dari siapa, terus menerus hingga ke Rasulullah saw.

Jawaban kami :

Kita tentu harus menghargai jasa – jasa para perawi hadis yang telah bersusah payah dan bekerja keras untuk meriwayatkan dan membukukan kitab – kitab hadis.

Namun, dalam kenyataannya tidak semua hadis yang mereka riwayatkan dan bukukan itu dapat dikategorikan sebagai riwayat yang benar – benar berasal dari Nabi SAW. Karena itu di kalangan ahli hadis muncullah istilah hadis dho’if , hadis maudhu’, hadis palsu dst. Nah, untuk menyaring mana hadis yang ‘benar – benar berasal dari Rasulullah SAW atau yang hanya sekedar dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, maka para muhadist mengembangkan cabang ilmu hadis yang bernama ‘Jarh wa Ta’dil’, yang digunakan untuk menilai kualitas dari para perawi hadis seperti tingkat keadilannya, daya ingatnya, kesolehannya dst.

Tetapi, di kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) , ‘Jarh wa Ta’dil ini tidak diberlakukan kepada para Sahabat Nabi SAW. Kenapa ?. Karena para ulama Aswaja menganut doktrin ‘Ashabi Kulluhum ‘Udul’ ( Semua Sahabat Nabi Adil ).

Imam ahli Jarh wa ta’dil, Abu Hatim Al Razi, misalnya, menuturkan : “……Mereka ( para Sahabat ) dibersihkan dari keraguan, dusta, kekeliruan, kesombongan dan celaan…… Merekalah ‘Udul Al Ummah, pemimpin – peminpin hidayah, hujjah agama…..dst ( Taqdimah Al Ma’rifah li Kitab Al Jarh wa Al Ta’dil, Haiderabad, 1371 hal. 7-9 ).

Menurut Ibn Hazm, “ SELURUH Sahabat itu mukmin yang saleh, SEMUANYA mati dalam iman, petunjuk dan kebaikan ; SEMUANYA masuk surga, TIDAK SEORANGPUN masuk neraka “.

Begitu ‘sucinya’ para Sahabat itu sehingga Abu Zar’ah menegaskan : “ Siapa yang mengkritik salah seorang diantara Sahabat Rasulullah SAW, ketahuilah bahwa dia itu zindiq ( ateis ) “. Karena posisi mereka yang begitu istimewa, maka tidak mengherankan bila para Sahabat Nabi SAW dijadikan sebagai rujukan utama di dalam mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Demikianlah keyakinan para ulama Aswaja dan hal tersebut ‘sah – sah’ saja.

Namun, izinkanlah kami berbeda pendapat dengan ulama Aswaja ini.

Para ulama kami, dari mazhab Ahlulbait yang senantiasa konsisten dan konsekwen berpegang teguh kepada para Imam Ahlulbait AS, menolak doktrin ini.

Menurut pemahaman ulama kami, TIDAK SEMUA Sahabat Nabi SAW itu ‘udul, mukmin yang saleh dan pasti masuk surga. Apa hujjah ( dalil ) yang mendasari pemahaman ini ?. Hujjahnya, bahkan terdapat di dalam hadis – hadis yang diriwayatkan di kalangan tokoh ulama Aswaja sendiri.

Mari kita simak beberapa hadis berikut ini

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SA : “ Akan ( datang ) di hadapanku kelak sekelompok Sahabatku ( min Ashhabi ) , tetapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya : “Wahai Tuhanku, mereka adalah Sahabat Sahabatku – ya Robbi Ashhabi “. Lalu, dikatakan : “ Innaka ‘ilma laka bi ma ahdatsu ba’daka – Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu, Innahum irtaddu ‘ala adbarihim al qahqoro – Sesungguhnya mereka murtad ( irtaddu ) dan berpaling dari agama “. ( Sahih Bukhari, 8/150 ) .

Di dalam hadis lain disebutkan : “……. Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah unta yang tersesat dari rombongannya – fala arohu yakhlushu minhum illa mitslu hamalin na’am” ( Kitab Sahih Bukhari, 8/150 ).

Salah satu peristiwa yang menunjukkan ‘kekurangsalehan’ para Sahabat Nabi SAW telah diabadikan di dalam Kitab Allah SWT, sebagaimana diriwayatkan di dalam Sahih Bukhari Kitabuttafsir, Surah Al Jumu’ah, juga termuat di dalam Tafsir Ibnu Katsir, 4/367.

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah RA, ia berkata : “ Ketika Nabi SAW sedang berkhotbah di hari Jum’at, datanglah konvoi dagangan ke kota Madinah. Maka para Sahabat Rasulullah SAW berebut menghampirinya sehingga tidak tersisa dari mereka kecuali 12 orang. Maka, Rasulullah SAW bersabda : “ Demi Zat Yang jiwaku di tangannNya, andai kalian keluar semua sehingga tidak tersisa satu orangpun, maka pastilah lembah ini akan dipenuhi api dan kalian akan dihanyutkan olehnya. Dan, turunlah ayat “Dan, apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri ( berkhotbah ) ……. ( Surah Jumu’ah ).

Mungkin agak sulit kita membayangkan bagaimana mungkin para Sahabat Nabi SAW yang sedang khusyuk mendengarkan Nabi sedang khotbah Jum’at, tiba – tiba berhamburan keluar mesjid karena mendengar hiruk pikuk jual beli dan permainan di luar mesjid. Bahkan, peristiwa semacam ini sudah sering terjadi berulang – ulang

Lalu, sekarang, sapalah hati nuranimu dengan sebuah pertanyaan : “ apakah perilaku seperti ini bisa dikatakan sebuah perilaku yang saleh, baik dan benar ? “.

Kendatipun, Asy Syaukani di dalam Tafsir nya menyebutkan bahwa karena dorongan kemiskinan dan kebutuhan mendesaklah yang mendorong mereka melakukan hal tersebut, namun tetaplah apa yang mereka lakukan itu –ma’af, menurut kami – merupakan sebuah pelanggaran yang luar biasa dan tidak hanya dilakukan oleh 1 atau 2 orang Sahabat, akan tetapi oleh seluruh Sahabat yang menghadiri ibadah sholat Jum’at, kecuali 12 orang saja. Sehingga, Nabi SAW mengancam, kalau bukan karena masih tersisanya Sahabat – Sahabat yang setia yang walau jumlah mereka sangat sedikit, maka mereka akan terkena siksa yang akan dikirimkan Allah SWT atas mereka.

Lalu, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa SELURUH Sahabat Nabi SAW adalah pribadi – pribadi yang ‘udul dan saleh serta bisa diandalkan untuk ‘menjaga Sunnah Nabi SAW’ ?. Mari kita renungkan.

3. Al Faqir : “jadi janganlah ragu..karena keraguan itu dari setan…”.

Na’uzubullahi minasy syaitonirrozim. Insya Allah, kami tidak ragu dalam hal ini.

4. Al Faqir : “klo anda ragu dngan Hadist yg dsampaikan oleh para Sahabat, sama ajah anda meragukan Al Qur’an..karena dalam perjalanannya Al Qur’an dijilid oleh para sahabat, dengan mengumpulkannya dari kulit-kulit, tembok2, dan ingatan para sahabat…apakah anda tdak ragu dngan apa yg mereka tulis?

Jawab :

Keraguan kami terhadap ‘udul dan salehnya semua Sahabat dikarenakan adanya ‘riwayat/hadis’ yang menunjukkan hal tersebut. Karena itulah, para ulama kami, tidak begitu saja percaya dengan riwayat/hadis yang disampaikan oleh para Sahabat Nabi SAW. Hanya hadis – hadis yang disampaikan oleh para Sahabat Nabi terpilih dan – tentunya, dari Ahlulbait Nabi SAW – sajalah yang menjadi rujukan kami dalam mengamalkan ajaran Islam, termasuk – diantaranya – yang meriwayatkan tentang pengumpulan Al Qur’an.

Namun, secara tegas kami menolak hadis dari para Sahabat Nabi SAW yang meriwayatkan adanya perubahan , penambahan dan pengurangan ayat – ayat Al Qur’an seperti dapat kita baca di dalam kitab – kitab sahih di kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Walllau’alam bis Sawab

Apa yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?. Kapan munculnya istilah Ahlus Sunnay Wal Jama’ah ?. Mohon diberikan hujjah bahwa : 1. Mazhab yang benar adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. 2. Bahwa mayoritas Ahlulbait/dzurriyat Nabi SAW menganut mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Ahlus sunnah wal jamaah benar karena dianut oleh mayoritas Ahlul Bait.

dan byk hadits yg menjelaskan keutamaan para ahlul bait & dzurriyat Nabi SAW, spt telah dikutip artikel diatas..sy akan menambahkan bbrp saja spt :

Dari Zaid bin Arqom bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berkhutbah: Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku (sampai tiga kali) maka Husain bin Sibroh (perawi hadits) bertanya kepada Zaid “Siapakah Ahlul Bait beliau wahai Zaid bukankah istri-istri beliau termasuk ahlil baitnya? Zaid menjawab para istri Nabi memang termasuk Ahlul Bait akan tetapi yang di maksud di sini, orang yang di haramkan sedekah setelah wafatnya beliau. Lalu Husain berkata: siapakah mereka beliau menjawab:“Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas ? Husain bertanya kembali Apakah mereka semuanya di haramkan zakat ? Zaid menjawab Ya… [Shahih muslim 7/122-123].

Di sebutkan oleh Ats-tsa’labi dan qodzi Iyadz bahwa mereka adalah bani Hasyim secara keseluruhan. Dan yang termasuk dalam kategori Ahlul bait adalah sebagai berikut:

1. Keluarga Ali yaitu mencakup sahabat Ali sendiri, Fathimah (putrinya) Hasan dan Husain beserta Anak turunnya.
2. Keluarga Aqil Yaitu mencakup Aqil sendiri dan Anaknya yaitu muslim bin Aqil beserta Anak cucunya.
3. Keluarga Ja’far bin Abu Tholib yaitu mencakup Ja’far sendiri berikut anak-anaknya yaitu Abdullah, Aus dan Muhammad.
4. Keluarga Abbas bin Abdul Muttolib yaitu mencakup Abbas sendiri dan sepuluh putranya yaitu Abdullah, Abdurrahman, Qutsam, Al-harits, ma’bad, katsir, Aus, Tamam, dan puteri-puteri beliau juga termasuk di dalamnya.
5. Keluarga Hamzah bin Abdul Muttalib yaitu mencakup Hamzah sendiri dan tiga orang anaknya yaitu Ya’la, ‘Imaroh, dan Umamah
6. Para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm tanpa kecuali.

Kemulyaan para Dzurriyah tdk diragukan lg krn Nabi SAW sendiri menyebut mrk secara lebih spesifik tdk hanya disebut sbg Ahlul Bait:

Dari Abu Hurairah ra.hu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau telah bersabda, “Barangsiapa ingin pahalanya ditimbang dengan timbangan yang lebih berat dan sempurna ketika bersholawat atas kami, dan bersholawat atas ahli bait kami, hendaklah orang itu mengucapkan sholawat seperti ini:
“Allahumma sholli ‘ala Muhammadinin Nabiyyi wa azwajihi ummahatil mu’miniina wadzuriyyatihi wa ahli baitihi kama shollayta ‘ala ali Ibrohim innaka hamiidun majid”
(Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad sang Nabi itu, juga kepada isteri-isterinya sebagai ibu-ibunya orang mu’min, kepada keturunan beliau dan keluarga beliau sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu kepada keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).”
(Hadis Riwayat Abu Dawud, Bab Sholawat Atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Dalam Sholat Setelah Tasyahhud, nomor 982).

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ (صحيح البخارى)

Ya Allah berilah keselamatan atas muhammad dan istri-istrinya serta keturunannya (dzurriyatihi). [Diriwayatkan Imam Bukhari]

hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi’ dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :‘Barangsiapa tidak mengenal hak keturunanku dan Ansharnya, maka ia salah satu dari tiga golongan : Munafiq, atau anak haram atau anak dari hasil tidak suci, yaitu dikandung oleh ibunya dalam keadaan haidh‘.

Di Malam pernikahan Al Imam Ali bin Abi Tholib dengan Sayidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW, beliau (Rasulullah SAW) memanjatkan do’a untuk mereka berdua, diantara do’a-do’a tersebut sebagai berikut :

“Ya Allah, berkahilah keturunan mereka berdua” (H.R. An Nasai),

“ Semoga Allah mengeluarkan dari mereka berdua keturunan yang banyak dan baik”.(H.R. Ahmad),

dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW berdo’a “ Semoga Allah merukunkan mereka berdua dan memperbaiki kualitas keturunannya dan menjadikan keturunan mereka berdua pembuka pintu rahmat, sumber-sumber hikmah dan pemberi rasa aman bagi umat”. Hadits-hadits tersebut disebutkan dalam kitab Ash Shawaiq karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamy.

Di dalam Shohih Bukhori diriwayatkan ketika seseorang bertanya cara bersholawat, maka Rasulullah SAW mengajarkan :

اللهم صل على محمد وازواجه وذريته

“Ya Allah Bersholawatlah atas Muhammad dan Istri-istrinya dan keturunannya (dzurriyatihi)” shohih Bukhori hadits ke 6360.

anda juga sudah baca khan..bagaimana penyebaran dzurriyat Imam Hasan dan Husein ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.

hanya sedikit dr mrk yg bermazhab Syiah atau sempalan Sunni seperti wahabi, dll.

jadi Syiah yg mengaku pengikut ahlul bait adalah berdusta krn mayoritas ahlul bait adalah Sunni.

jika syiah beranggapan para dzurriyat yg bermazhab Sunni akan masuk neraka krn tdk bermazhab Syiah, maka Nabi sendiri telah menjawab tentang nasib keturunan mrk:

At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasab yang bersambung denganku”.

jika para dzurriyat Sunni masuk neraka tentu putus donk nasabnya dengan Nabi? padahal nabi menjamin nasab mrk tdk terputus di hari kiamat.

pada 11 Juni 2011 pada 8:16 pm | Balasrejeb
ini prinsip utama Ahlus Sunnah yg dianut mayoritas dzurriyat Nabi SAW :

“Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam.” (H.R. Thabrani)

Redaksi hadis ini bermacam-macam, antara lain: Rasulullah saw bersabda,

مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق وهوى

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam dan celaka.”
(Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak menyatakan bahwa hadis ini shahih berdasarkan persyaratan Muslim).

Berkata Abu Musa, ” Kemudian Nabi mengangkat kepala beliau ke arah langit dan memang Nabi sering mengangkat kepala beliau ke arah langit.”
Kemudian Nabi bersabda, ” Bintang-bintang adalah pengaman langit. Jika bintang-bintang telah pergi (hilang), maka datanglah kepada langit perkaranya, dan aku (Nabi) adalah pengaman bagi para sahabatku, jika aku telah pergi (wafat), maka datanglah kepada para sahabatku apa yang telah dijanjikan. Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika para sahabatku pergi (wafat), datanglah kepada umatku apa yang telah dijanjikan (perpecahan).”
(HR. Muslim 2531 / Bashoir Dzawis Syarof hal.64-65).

Dari Abi Said ra., Rasulullah Saw, berkata: “Tidaklah seseorang membenci ahlulbait kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”
(HR. Hakim dalam mustadraknya, hadis-hadis shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim tapi tidak dikeluarkan di kitab shahih mereka)

Dari Abdullah bin Abbas r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mencaci sahabatku maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia,”
(Hasan, lihat Shahih al Jam’i ash-Shaghir [6285]).

Abul Faraj Al-Ishfahani dalam bukunya Maqatiluth Thalibiyin menulis: “Mu’awiyah ingin mengambil bai’at untuk putranya, Yazid. Demi merealisasikan tujuannya ini ia tidak melihat penghalang yang besar melintang kecuali Sayyidina Hasan ra dan seorang sahabat ra Sa’d bin Abi Waqqash. Dengan demikian, ia membunuh mereka berdua secara diam-diam dengan racun.”

Abul Faraj Al Ishfahani adalah seorang Syi’i, sebagaimana disebutkan oleh Muhsin Al Amin dalam kitabnya “A’yan Asy-Syi’ah”.

entah apa maksudnya penulis artikel mencomot perkataan Abul Faraj Al Ishfahani. baik sengaja atau tidak sengaja, baik tahu kalau dia itu Sy’i atau tidak tahu, namun seharusnya penulis berhati-hati dalam menukil sesuatu yang bersubstansi menjelek-jelekkan sahabat.

Ibrohim bin Maisaroh berkata: ”Aku tidak pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul seseorang pun kecuali orang yang mencerca Mu’awiyah. Beliau memukulnya dengan beberapa kali cambukan.” (Fitnatul Kubro 76)

Tinggalkan ucapan orang Syi’ah itu. Lalu, bacalah hadis berikut ini. Hadis ini bersumber dari kitab Ahlus Sunnah.

حدثنا خلف حدثنا عبد الوارث بن سعيد بن جمهان عن سفينة مولى أم سلمة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان جالساً فمر أبو سفيان على بعير ومعه معاوية وأخ له أحدهما يوقود البعير والآخر يسوقه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن الله الحامل والمحمول والقائد والسائق

Telah menceritakan kepada kami Khalaf yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah mawla Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk kemudian melintaslah Abu Sufyan di atas hewan tunggangan dan bersamanya ada Muawiyah dan saudaranya, salah satu dari mereka menuntun hewan tunggangan tersebut dan yang lainnya menggiringnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “laknat Allah bagi yang memikul dan yang dipikul, yang menuntun dan yang menggiring” [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/121].

“Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam.” (H.R. Thabrani)

Redaksi hadis ini bermacam-macam, antara lain: Rasulullah saw bersabda,

مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق وهوى

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam dan celaka.”
(Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak menyatakan bahwa hadis ini shahih berdasarkan persyaratan Muslim).

Berkata Abu Musa, ” Kemudian Nabi mengangkat kepala beliau ke arah langit dan memang Nabi sering mengangkat kepala beliau ke arah langit.”
Kemudian Nabi bersabda, ” Bintang-bintang adalah pengaman langit. Jika bintang-bintang telah pergi (hilang), maka datanglah kepada langit perkaranya, dan aku (Nabi) adalah pengaman bagi para sahabatku, jika aku telah pergi (wafat), maka datanglah kepada para sahabatku apa yang telah dijanjikan. Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika para sahabatku pergi (wafat), datanglah kepada umatku apa yang telah dijanjikan (perpecahan).”
(HR. Muslim 2531 / Bashoir Dzawis Syarof hal.64-65).

Dari Abi Said ra., Rasulullah Saw, berkata: “Tidaklah seseorang membenci ahlulbait kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”
(HR. Hakim dalam mustadraknya, hadis-hadis shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim tapi tidak dikeluarkan di kitab shahih mereka)

Dari Abdullah bin Abbas r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mencaci sahabatku maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia,”
(Hasan, lihat Shahih al Jam’i ash-Shaghir [6285]).

Dari Abdullah bin Abbas r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mencaci sahabatku maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia,”
(Hasan, lihat Shahih al Jam’i ash-Shaghir [6285]).

TIDAK BOLEH MENCACI /MENCELA SAHABAT NABI SAW KARENA ALLAH, MALAIKAT DAN MANUSIA AKAN MELAKNAT ORANG YANG MENCACI/MENCELA SAHABAT.

Mohon tanggapan anda terhadap riwayat berikut ini. Semuanya diambil dari kitab Ahlus Sunnah.

1. Bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. beliau mempersiapkan sebuah pasukan besar yang melibatkan para pemuka sabahat Muhajirin dan Anshar, di bawah pimpinan panglima muda bernama Usamah ibn Zaid ibn Haritsan- putra anak angkat Rasulullah saw-, akan tetapi sayangnya sebagian sahabat enggan bergabung meskipun telah diperintah berkali-kali oleh Rasulullah saw. bahkan dalam keedaan sakit beliau memaksa diri menaiki mimbar dengan dipikul Imam Ali as. Abbas paman beliau, dalam pidato itu beliau saw. menegaskan kembali agar pasukan segera diberangkatkan dan beliau mengatakan, “Berangkatkan pasukan Usamah, SEMOGA ALLAH MELAKNAT ( MENGUTUK ) SIAPA SAJA YANG ENGGAN BERANGKAT DAN BERGABUNG DENGAN PASUKAN USAMAH

( Al-Milal wa al-Nihal, mukaddimah ketiga. Vol.1,23 ).

2.Diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi SAW bersama para sahabat beliau , beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit . Beliau bersabda “ Jangan seorang mendahului saya ke tempat air itu.” Tetapi sekelompok orang dengan sengaja mendahului beliau mengambil air dari tempat itu. Kata Hudzaifah ra., “Maka NABI MELAKNAT MEREKA.”

( Shahih Muslim. 17,125-126 ).

3.Aisyah berkata kepada Nabi saw.: “Sesungguhnya engkau mengaku sebagai Rasul/utusan Allah!”.
Nabi saw. berkata menjawabnya: “Apakah engkau hai Ummu Abdillah (panggilan Aisyah) dalam keraguan bahwa aku adalah Rasul Allah?”.
Aisyah berkata: “Jika engkau rasul Alllah, mengapakah engkau tidak berlaku adil?!”.
Dan adalah Abu Bakar seorang yang keras/kasar, maka ia menempeleng wajahku. Maka RASULULLAH MENCELANYA (atas tindakan itu). Abu Bakar berkata, “Tidakkah engkau mendengar apa yang ia (Aisyah) katakan ?!.
Rasulullah saw. berkata kepada Abu bakar: “Sesungguhnya seorang wanita pencemburu berat jika emosi ia tidak mengenal atas gunung dari bawahnya.”

( As-Sirah al Halaibiyah; Ali ibn Burhanuddin al-Halabi asy -Syafi’i, 3/260. Cet. Al Maktabah al-Islamiyah. Beirut ).

4.“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu KALIAN BERDUA MEMANDANGNYA SEBAGAI PEMBOHONG , PENDOSA, PENIPU DAN PENGKHIANAT. Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu KALIAN BERDUA MEMANDANGKU SEBAGAI PEMBOHONG , PENDOSA, PENIPU DAN PENGKHIANAT…. “

( HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152 ).

5. Murrah berkata, “Telah sampai kepada Umar bahwa Samurah ibn Jundub berjualan khamar/minuman keras yang memabukkan.” Maka Umar berkata, “SEMOGA ALLAH MEMBUNUH SAMURAH. Rasulullah saw. bersabda, ‘Semoga Allah mengutuk bangsa Yahudi, diharamkan atas mereka lemak babi maka mereka melelehkannya kemudian menjualnya.

( Musnad Imam Ahmad, hadis no.171 ).

Katakan (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah apapun kepada kalian dalam dakwah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (Surat Asy-Syura: 23)

1. Mohon dibuktikan bahwa hadis 10 Sahabat yang dijamin masuk surga itu adalah hadis yang sahih.

2. Pengikut Syi’ah memang tidak sebanyak pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Setahu saya, pengikut Syi’ah sekarang ini hampir mencapai 100 juta orang. Mereka tersebar di berbagai negara seperti Iran, Irak, Libanon, Bahrain, Yordania, Palestina, Saudia Arabia, Indonesia, Malaysia dan lain – lain.

3. Anda keliru mas, Syi’ah tidak membenci seluruh Sahabat Nabi SAW. Yang dibenci Syi’ah adalah : 1. Sahabat yang dibenci Allah dan RasulNya. 2. Sahabat yang terang – terang melanggar syariat Islam. Sahabat – sahabat yang melanggar syariat Islam ini tidak saja kita dapatkan di dalam kitab – kitab Syi’ah, tetapi juga terdapat di dalam kitab – kitab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Syi’ah sangat mengagungkan Sahabat yang berakhlak mulia. Anda bisa lihat teks do’a – do’a munajat dan tahlil kami yang penuh dengan penghormatan kepada para Sahabat.

4. Sebagian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpindah ke mazhab Syi’ah atau menghormati mazhab Syi’ah bukan karena adanya dana dari Iran, tetapi setelah mengkajinya dengan akal fikiran yang sehat dan hati nurani yang bersih.

5. Setuju, saya dan anda cenderung kepada perdamaian dan silaturahmi. Kalaupun kami berbeda pendapat dengan anda bukan karena kami benci dan dendam kepada kalian, tetapi lebih kepada mendudukkan perkara pada tempat yang semestinya sebagai upaya mencari kebenaran.

1/ Sunni dr semua aliran sepakat sahih..klo ente ga percaya hadits itu sahih tunjukkan aja dimana dhoifnya?

2/ jumlah umat Islam dunia lebih dr 1,6 milyar..dan tdk sampe 10 persen yg syiah..sudah cukup sbg bukti jika syiah tdk diminati padahal umurnya dah 14 abad..rasis bin fasis sih kayak Hitler & Yahudi..hehe

3/ Syiah membenci dan mengatakan hampir semua sahabat di neraka trutama sahabat utama spt Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra, Abu Hurairah ra, dll..termasuk istri2 Nabi khususnya Aisyah ra dan Hafshah ra

4/ sebagian besar sunni yg masuk syiah krn dana dr Iran spt beasiswa..khususnya setelah revolusi Iran 79..dan makin menjadi dimasa Ahmadinejad.

5/ gimana mau damai klo menghina org2 dekat Nabi yg dimulyakan sunni?

1/ Sunni dr semua aliran sepakat sahih..klo ente ga percaya hadits itu sahih tunjukkan aja dimana dhoifnya?.

J : Sebutkan aliran apa saja yang anda katakan sepakat ?. Tolong ditunjukkan di kitab apa adanya hadis itu ?.

2/ jumlah umat Islam dunia lebih dr 1,6 milyar..dan tdk sampe 10 persen yg syiah..sudah cukup sbg bukti jika syiah tdk diminati padahal umurnya dah 14 abad..rasis bin fasis sih kayak Hitler & Yahudi..hehe.

J : Anda mengukur kebenaran itu dari banyaknya penganutnya. Kenyataan, agama non Islam mayoritas di dunia ini. Apa ini bisa dijadikan bukti bahwa Islam tidak diminati orang padahal usianya sudah lebih dari 14 abad ?. Sementara itu , para Orientalis yang benci kepada Islam biasa menyebut dan menggambarkan Nabi SAW dengan gambaran – gambaran yang buruk dan menjijikkan.

3/ Syiah membenci dan mengatakan hampir semua sahabat di neraka trutama sahabat utama spt Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra, Abu Hurairah ra, dll..termasuk istri2 Nabi khususnya Aisyah ra dan Hafshah ra.

J: tolong tunjukkan fatwa ulama Syi’ah mu’tabar ( bukan ulama Syi’ah rekayasa dan bohong – bohongan ) yang mengatakan seperti apa yang anda katakan itu. Kalau anda tidak bisa menunjukkannya berarti anda dusta dan fitnah.

4/ sebagian besar sunni yg masuk syiah krn dana dr Iran spt beasiswa..khususnya setelah revolusi Iran 79..dan makin menjadi dimasa Ahmadinejad.

J : Jadi anda menuduh ulama Sunni itu gampang tergiur dengan uang ya ?. Mereka berpindah ke mazhab Syi’ah setelah mengkajinya dengan akal sehat dan hati yang jernih. Saya dan puluhan teman – teman saya pindah ke mazhab Syi’ah bukan karena adanya dana dari Iran. Sepeserpun tak pernah kami terima dari Iran atau siapapun. Bodoh sekali kali kami mau mengorbankan keyakinan kami hanya karena diimingi -imingi uang.

5/ gimana mau damai klo menghina org2 dekat Nabi yg dimulyakan sunni?

J: Penghinaan terhadap orang – orang dekat Nabi justru terdapat di dalam kitab – kitab ulama kalian sendiri. Coba baca posting saya terdahulu ; bagaimana tanggapan kalian terhadap riwayat yang menceritakan adanya Sahabat yang dilaknat Nabi SAW, Sahabat saling melaknat satu sama lain, Imam Ahmad bin Hambal menghina Yazid, Syaikh Al Albani menghina Sahabat dengan menyatakan Sahabat itu ada yang bodoh dst..dst.

6. padahal Imam Syafi’i aja demi melindungi ahlul bait rela mengatakan dirinya rafidhah hingga msk penjara..tp ga ada Rafidhah yg demi melindungi istri2 dan sahabat2 utama Nabi rela masuk penjara..

J: Apa betul Imam Syafi’iy mengatakan dirinya rafidhah untuk melindungi Ahlulbait ?.Coba tampilkan ucapannya, supaya bisa kita bahas.
Rafidhah ( Syi’ah ? ) sendiri tidak bisa melindungi dirinya sendiri karena sepanjang sejarah mereka dikejar – kejar, dianiaya, dizalimi dan diburu untuk dibunuh oleh ‘para dinasti/penguasa yang mengaku Islam’. Bagaimana mungkin mereka bisa melindungi diri orang lain dengan kondisi mereka seperti itu ?.

Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya”. (HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635).

berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu”
(Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

Berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”,

berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

dan Nabi sudah memerintahkan supaya berpegang tegung pada jamaah mayoritas

Dari Anas bin Malik ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas.” [HR. Ibnu Majah (3950), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069).

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : ‘Ada’. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimaullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari Rahimahullah yang menyatakan : “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa Jama’ah adalah Sawadul A’dzam (Mayoritas Umat). Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama’ah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah sati firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.

jadi kesimpulannya secara logika dan dalil naqli..maka yg benar adalah :

1/ memiliki sanad ilmu bersambung hingga ke Nabi SAW.
2/ didukung pendapat jumhur ulama trutama yg memiliki sanad ilmu bersambung ke Nabi dan mayoritas umat.

dan sebagai dalil logika penguat keabsahan dan kredibilitas sanad ilmu yg bersambung ke Nabi SAW adalah para Dzurriyat Nabi dari Imam Hasan ra dan Imam Husein ra bermazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah non wahabi.

---

Habibana Umar bin Hafidz, Habibana Munzir Al Musawa ….
Ketika al-Imam Syafi’i dituduh termasuk pengikut golongan Rofidloh (Syi’ah), karena beliau mencintai dan menghormati Ahlu Bait, beliau menjawab dengan syair yang artinya :
“Jika yang dimaksud dengan golongan Rafidloh hanya semata-mata mereka yang mencintai Ahlu Bait, maka saksikanlah wahai bumi dan langit, bahwa aku adalah termasuk dari golongan Rofidloh”
Al-Imam as-Suyuthi menulis sebuah kitab yang khusus memuat beberapa Hadits yang menunjukkan keutamaan Ahlu Bait.
Di antaranya adalah Hadits berikut:
“Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam.”(H.R. Thabrani)
“Aku meninggalkan kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat. Kitab Allah, dan keturunanku.”(H.R. Turmudzi)
“Umatku yang pertama kali aku beri pertolongan (Syafa’at) kelak di hari Kiamat, adalah yang mencintai Ahli bait-ku.”(H.R. al-Dailami)
“Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal; Mencintai Nabi kalian, Mencintai Ahli bait-ku, Membaca al-Qur’an. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardaweih, dan at-Thabrani dalam kitab tafsir-nya)
Ketika turun ayat:”Katakanlah wahai Muhammad, Aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali mencintai kerabat”.
Kemudian Ibnu Abbas ra bertanya pada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: Ali, Fatimah, dan anak keturunannya”.
Demikian sebagian dalil-dalil dari Hadits Rasulullah SAW yang secara jelas menyatakan keutamaan Ahlu Bait. Karena itulah kami memilih jadi MUHIBBIN bagi Ahlu Bait Nabi Saw.
Untuk lebih jelasnya lagi, silahkan baca sendiri kitab Imam As-Suyuthi yang berjudul: “Ihya’ al-Mayt fi Fadlo’il Ahli al-Bait”, yang memuat 60 Hadits tentang keutamaan Ahlu Bait. Koalisi12 ini ana copasin di UMMATI PRESS.COM kalao nt ngga puas silahkan klik http://ummatiummati.wordpress.com/ …….salam

---

Apa yang dimaksud dengan Madzhab Ahlul Bait ?

Madzhab Ahlul Bait adalah nama samaran dari sekian banyak aliran-aliran Syi’ah. Dimana setiap aliran Syi’ah mengklaim alirannya sebagai Madzhab Ahlul Bait.

Sebagai contoh, aliran Syi’ah Zaidiyah mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait. Begitu pula aliran Syi’ah Isma’iliyah, mereka juga mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait. Bahkan aliran Syi’ah yang paling sesat saat ini, yaitu aliran Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (Ja’fariyah) juga berani mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait.

Penyebab mereka sampai berani menyebut alirannya sebagai Madzhab Ahlul Bait, dikarenakan saat ini masyarakat dunia Islam sudah mengetahui bahwa aliran-aliran Syi’ah tersebut sesat dan menyesatkan dan ajarannya sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Ahlul Bait.

Karena itu dalam usahanya menipu dan menyesatkan umat Islam, mereka menggunakan nama samaran sebagai Madzhab Ahlul Bait. Dan ternyata usaha mereka tersebut berhasil, sehingga ada dari umat Islam yang tertipu dan akhirnya terjerumus masuk Syi’ah.

Oleh karena aliran-aliran Syi’ah yang mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait tersebut berbeda rukun imannya, maka mereka saling mengkafirkan, Syi’ah yang satu mengkafirkan Syi’ah yang lain.

Jika aliran-aliran Syi’ah yang saling mengkafirkan itu benar-benar sebagai Madzhab Ahlul Bait, berarti hal itu menggambarkan bahwa pendiri madzhab-madzhab tersebut saling mengkafirkan, maka pertanyaan yang timbul adalah; mungkinkah Ahlul Bait yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah itu saling mengkafirkan ?

Jawabnya, pasti tidak mungkin, dan itu hanyalah rekayasa dan tipu daya tokoh-tokoh Syi’ah yang tidak memikirkan akibatnya.

Dengan demikian yang namanya Madzhab Ahlul Bait itu tidak ada, yang ada adalah Madzhabnya Ahlul Bait, bukan Madzhab Ahlul Bait tapi madzhabnya Ahlul Bait atau akidah-nya Ahlul Bait. Yaitu akidah yang sekarang dikenal dengan nama akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Satu akidah yang berpegang kepada apa-apa yang diyakini dan dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ahlul Bait dan para sahabatnya.

Jika yang namanya Madzhab Ahlul Bait itu ada dan benar, pasti yang mengikuti madzhab tersebut adalah keturunan Ahlul Bait, yaitu para habaib bukan orang-orang ‘ajam (non arab) dari Iran.

Tapi kenyataannya para habaib hampir semuanya mengikuti akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mengikuti akidah itu secara sambung menyambung sampai ke datuk mereka baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini dapat dibaca dalam kitab Iqdul Yawaqid Al-Jauhariyyah, karya Al-‘Allamah Al-Habib Edrus bin Umar Al-Habsyi, dan dapat dibaca dalam puluhan bahkan ratusan kitab-kitab yang ditulis oleh para habaib dzurriyaturrasul.

Jadi yang benar, akidahnya golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah akidahnya Ahlul Bait atau madzhabnya Ahlul Bait yang sampai sekarang diikuti oleh keturunan Ahlul Bait atau para habaib Al-Alawiyin dzurriyaturrasul.

Apabila dari sekian juta habaib itu ada dua, tiga orang yang menyimpang (syad), maka orang-orang tersebut tidak tergolong sebagai tokoh habaib yang menjadi panutan. Tapi mereka adalah korban-korban yang rusak akidahnya akibat membaca buku-buku yang ditulis oleh orang-orang orientalis dan Zionis Yahudi.

Demikian sedikit mengenai Madzhab Ahlul Bait dan madzhabnya Ahlul Bait. Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari tipu daya tokoh-tokoh Syi’ah yang sering mengaku sebagai pengikut Madzhab Ahlul Bait.

sumber albayyinat dikutip:
syiahindonesia.com/index.php/kajian-utama/ahlul-bait-nabi/217-apa-yang-dimaksud-dengan-madzhab-ahlul-bait

---

Asal Usul Keluarga Dzurriyat Rasulullah

Ketika Al-Qasim, putra Rasulullah SAW, wafat dalam usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan berita itu, mereka mengejek Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliau, sementara orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan mereka. Untuk menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il itu, Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi:

“Sesungguhnya Kami memberimu karunia yang agung.”

Al-Kautsar artinya karunia yang agung, dan karunia yang dimaksud dalam ayat itu adalah bahwa Allah akan memberi banyak keturunan pada Rasulullah SAW melalui putri beliau, Fatimah Az-Zahra’. Sementara Abu lahab dan ‘Ash bin Wa’il dinyatakan oleh ayat terakhir surat Al-Kautsar, bahwa justru merekalah yang tidak akan memiliki keturunan, yaitu ayat..

“Sesungguhnya orang yang mengejekmu itulah yang tidak sempurna (putus keturunan).”

Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah, sampai kini keturunan Rasulullah SAW, melalui Al-Hasan dan Al-Husain putra Fatimah Az-Zahra’, benar-benar memenuhi belahan bumi, baik mereka yang dikenal sebagai cucu Rasulullah oleh masyarakat, maupun yang tidak.

Sekedar gambaran, IKAZHI memiliki banyak data tentang silsilah Ulama-ulama Pesantren yang dikenal sebagai “Kiai” Indonesia, khususnya Jawa (termasuk Madura), dimana kebanyakan dari mereka memiliki garis nasab pada Rasulullah SAW, seperti Kiai-kiai keturunan keluarga Azmatkhan, Basyaiban dan sebagainya. Kemudian, di berbagai daerah, kaum santri sangat didominan oleh keluarga-keluarga yang bernasab sama dengan Kiai-kiai itu, bedanya hanya karena beberapa generasi sebelum mereka tidak berprestasi seperti leluhur “keluarga Kiai”, sehingga setelah selisih beberapa generasi, merekapun tidak dikenal sebagai “keluarga Kiai”, tapi hanya sebagai “keluarga santri”.

Di Madura ada semacam “pepatah” yang mengatakan bahwa kalau ada santri yang sampai bisa membaca “kitab kuning” maka pasti dia punya nasab pada “Bhujuk”. Bhujuk adalah julukan buat Ulama-ulama zaman dulu yang membabat alas dan berda’wah di Madura. Semua Bhujuk Madura memiliki nasab pada Rasulullah SAW. Kebanyakan mereka keturunan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus. “Pepatah” itu memang hanya dibicarakan di kalangan “orang awam”, namun kenyataan memang sangat mendukung, karena hampir semua masyarakat santri di Madura adalah keturunan “Bhujuk”, sehingga tidak mustahil apabila di Madura orang yang memiliki “darah Rasulullah” lebih banyak daripada yang tidak. Kami banyak mendapati perkampungan yang mayoritas penduduknya masih satu rumpun dari keturunan seorang Bhujuk yang bernasab pada semisal Sunan Ampel dan sebagainya.

Mungkin hal itu akan menimbulkan pertanyaan “mengapa bisa demikian?”. Maka jawabannya adalah bahwa keluarga Bhujuk dan Kiai Madura dari zaman dulu memiliki anak lebih banyak daripada orang biasa, apalagi hampir semua mereka dari zaman dulu -bahkan banyak juga yang sampai sekarang- memiliki istri lebih dari satu, maka tentu saja setelah puluhan generasi maka keturunan Bhujuk-bhujuk itu lebih mendominan pulau Madura.

Kalau ada yang berkata bahwa tidak semua Kiai keturunan “Sunan” itu bergaris laki-laki, bahkan kebanyakan mereka (?) adalah keturunan “Sunan” dari perempuan, maka pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan “kenapa kalau bergaris perempuan?”. Islam dan “budaya berpendidikan” telah “sepakat” untuk membenarkan “status keturunan” dari garis perempuan. Paham “garis perempuan putus nasab” berakibat pada penolakan terhadap keturunan Rasulullah sebagai Ahlul-bayt. Ada orang awam yang berkata bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan dari anak laki-laki, Hasan-Husain adalah putra Fathimah yang berarti putus nasab dari Rasulullah SAW. Paham ini sebenarnya adalah warisan bangsa Arab jahiliyah yang pernah diabadikan dalam syair mereka:

“Anak-anak kami adalah keturunan dari anak-anak laki-laki kami.

Adapun anak-anak perempuan kami, keturunan mereka adalah anak-anak orang lain.”

Cucu dari anak perempuan itu hanya keluar dari deretan daftar ahli waris, dalam istilah ilmu “Fara’idh” disebut “mahjub” (terhalang untuk mendapat warisan). Namun dalam deretan “dzurriyyah” (keturunan), cucu dari anak perempuan tidak beda dengan cucu dari anak laki-laki; mereka sama-sama cucu yang akan dipanggil “anakku” oleh kakek yang sama. Apabila kakek mereka adalah orang shaleh maka mereka sama-sama masuk dalam daftar keturunan yang akan mendapat berkah dan syafa’at leluhurnya, sebagaimana firman Allah:

“Dan orang-orang yang beriman dan anak-cucu mereka mengikuti mereka dengan beriman, maka Kami gabungkan anak cucu mereka itu dengan mereka .. “ (Q.S. Ath-Thur : 21)

Jadi, madzhab mayoritas para Kiai adalah bahwa cucu dari garis perempuan dan dari garis laki-laki itu sama-sama cucu, kalau kakek mereka ulama shaleh maka -insyaallah- mereka sama-sama akan mendapat berkah. Termasuk anak cucu Rasulullah SAW, baik yang garis silsilahnya laki-laki semua hingga ke Fathimah binti Rasulillah SAW, maupun yang melalui garis perempuan.

Madzhab ini telah lama dianut oleh Kiai-kiai keturunan Walisongo, terbukti dengan banyaknya kiai-kiai yang menulis nasab mereka yang bersambung pada Walisongo melalui garis perempuan. Terbukti pula dengan yang dikenal oleh Kiai-kiai bahwa Syekh Kholil adalah cucu Sunan Gunung Jati, padahal nasab Syekh Kholil pada Sunan Gunung Jati melalui garis perempuan, sedangkan dari garis laki-laki bernasab pada Sunan Kudus.

Kembali ke bab kita, bahwa di Madura banyak terdapat keluarga-keluarga yang memiliki nasab pada Rasulullah, maka seperti di Madura, begitu pula yang terjadi di berbagai wilayah masyarakat Pesantren lainnya di Jawa. Maka bayangkan saja, betapa keturunan Rasulullah SAW telah memenuhi pulau Jawa, belum lagi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Ditambah dengan “jamaah habaib” yang memang sudah dikenal dengan “status menonjol” sebagai keturunan Rasulullah SAW.

Ini yang terjadi di Indonesia, dan demikian pula di negeri-negeri non Arab yang lain, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Afrika dan sebagainya. Banyak dari mereka yang sudah membaur dengan penduduk setempat sehingga mereka tidak lagi dikenal sebagai “Habib”, “Sayyid” atau julukan-julukan lainnya. Dalam kitabnya, “’Allimu Auladakum Mahabbata Aalin Nabi”, Syekh Muhammad Abduh Yamani mengatakan bahwa di Afrika banyak terdapat orang-orang kulit hitam yang ternayata memegang sisilsilah pada Rasulullah. Hal itu dikarenakan leluhur mereka berbaur dengan orang kulit hitam, bergaul dan menikah dalam rangka menjalin hubungan sebagai jembatan da’wah. Kenyataan ini menyimpulkan bahwa masih banyak keturunan Rasulullah SAW yang tidak terdata dan tidak dikenal. Itu adalah gambaran jumlah keturunan Rasulullah SAW yang keluar dari tanah Arab dan tidak lagi dikenal sebagai orang Arab. Jumlah yang amat besar ditambah dengan jumlah keturunan Rasulullah SAW yang di Arab.

Maka kenyataan ini membenarkan apa yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat Al-Kautsar, bahwa Rasulullah SAW akan diberi karunia agung dengan memiliki keturunan yang amat banyak. Sehingga kalau saja beliau dan orang-orang sezaman beliau masih hidup saat ini, maka beliau akan memiliki keluarga terbesar yang tak tertandingi oleh yang lain. Bisa jadi, bila kita mengumpulkan semua keturunan Rasulullah SAW sejak zaman beliau hingga kini, kemudian kita mengumpulkan seratus orang dari sahabat-sahabat beliau beserta keturunan mereka hingga kini, maka jumlah keturunan beliau akan mengalahkan keturunan seratus orang sahabat beliau.

alawiyyin-indonesia.org/2008/12/20/asal-usul-keluarga-dzurriyat-rasulullah/

---

Kalau ingin memahami mazhab orang lain yang berseberangan dengan anda, alangkah bijaksananya anda jika merujuk kepada para ulama yang meyakini dan mengamalkan ajaran – ajaran dari mazhab tersebut ketimbang mengambilnya dari orang – orang diluar mazhab tersebut atau bahkan dari para pembenci – pembenci mazhab yang bersangkutan.

Apakah masuk akal jika saya belajar tentang ‘mazhab alawwiyyin’ misalnya dari para ulama Wahabi atau dari para ulama yang antipati terhadap mazhab anda ?.

Anda ingin menjelaskan mazhab Ahlulbait atau Syi’ah, tetapi sayangnya anda merujuk kepada pendapat – pendapat dari orang yang ‘sok tahu tentang syiah sekaligus membenci dan memusuhi Syi’ah ‘ seperti situs/link yang anda kutip itu. Anda tidak pernah mengutip sepotong katapun dari para ulama Syi’ah. Lalu,dimana letak rasa keadilan anda, akhi ?.

Mengenai masalah klaim mengklaim.Kenapa anda risau dengan banyaknya klaim berbagai aliran Syi’ah sebagai mazhab Ahlulbait ?. Biarkan saja. Begitu juga dengan berbagai tuduhan. Buat saya tidak ada masalah dengan klaim mengklaim dan berbagai tuduhan itu. Yang lebih penting ialah apakah klaim klaim dan tuduhan tuduhan itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah atau tidak. Kalau tidak bisa, maka klaim – klaim itu bisa dianggap hanya ‘pepesan kosong saja’ dan tuduhan – tuduhan itu bisa dikategorikan sebagai dusta dan fitnah. Bagaimana anda dapat mempertanggungjawabkan perkataan anda yang menyebutkan bahwa antara aliran di dalam Syi’ah itu saling mengkafirkan ?. Coba buktikan bahwa Syi’ah Imamiyah Its’na ‘Asyariyah – yang anda vonis paling sesat itu – pernah mengkafirkan Syi’ah Zaidiyah ?.

Adalah suatu hal yang sudah lazim terjadi di dalam komunitas muslim adanya perbedaan pendapat dan pandangan tentang satu atau beberapa beberapa masalah agama yang kemudian berujung kepada polarisasi umat mengikuti ‘tokoh,kiyai,ulama atau imamnya’ dan membentuk suatu mazhab. Hal ini juga terjadi di dalam mazhab Ahlus Sunnah . Anda bisa membaca belasan atau bahkan puluhan sekte yang mengklaim sebagai mazhab Ahlus Sunnah dan tidak jarang diantara mereka saling cela mencela dan bahkan ‘memusyrikkan’ saudara – saudaranya yang lain. Sebagai contoh, aliran Salafi Wahabi yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah mencela dan bahkan ‘me-memusyrikkan ajaran – ajaran dari aliran – aliran Ahlus Sunnah yang Non Wahabi. Dan masih banyak lagi contoh – contoh yang lain.

Maka mengukur kebenaran suatu mazhab atau suatu aliran hanya semata – mata berdasarkan atas ada atau tidak adanya perpecahan di dalam mazhab atau aliran itu adalah sebuah pemikiran yang dangkal/sesat dan suatu ‘hil yang mustahal’. Apalagi sampai menuduh dan menghujat orang lain berdasarkan pemikiran semacam ini, padahal hal yang sama juga terjadi di dalam mazhab yang dia anut. Jadi, ibarat pepatah melayu yang mengatakan ‘KUMAN DI SEBERANG LAUTAN TAMPAK, TETAPI GAJAH DI DEPAN PELUPUK MATA NGGAK KELIHATAN.

---

jika begitu, sudahkah antum baca artikel Ustadz Abul Jauza yang mengkritik Syi’ah? di dalamnya antum akan menemukan bahwa i’tiqod beliau yang mewakili i’tiqod wahabiyun (insyaAlloh) sangat memuji dan memuliakan ahli bait nabi.

lalu kenapa antum menuduh bahwa wahabiyun tidak memuliakan ahli bait nabi? apakah antum membaca artikel Ustadz Abul Jauza hanya untuk memuaskan hawa nafsu antum semata, sehingga antum hanya mengambil yang menguntungkan dan meninggalkan yang merugikan?

silakan antum baca artikel berikut:

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/ahlul-bait-nabi-shallallaahu-alaihi-wa.html

---
tentang artikel itu ane gak menolak kecuali pendapat Abu Jauza terhadap para Habib yaitu:

“Oleh karena itu, orang-orang yang mengaku punya nasab dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam namun ternyata mereka termasuk golongan penyeru bid’ah dan penggalak kesyirikan (seperti banyak habaaib di tanah air); kita tidak perlu mencintai mereka. Bahkan, mereka menjadi ‘musuh’ kita dalam agama, karena pada hakekatnya mereka merongrong dan ingin merubuhkan sendi-sendi agama dari dalam.”

mayoritas Habib mengadakan maulid, tawasul, tabarruk, istigoshah, mengirim pahala kepada mayit, dll.

para Habib itu sanad ilmunya bersambung hingga ke datuk mereka yakni Rasulullah SAW. Lalu bagaimana dengan sanad ilmu abu Jauza? jika dia tidak memiliki sanad maka batil fatwanya karena bertentangan dengan jumhur ulama yg bersanad..!

perhatikan perkataan ustadz Abul Jauza, “orang-orang yang mengaku punya nasab dengan Rasulullah”, ini artinya beliau mengingkari atau setidak-tidaknya beliau meragukan bahwa orang2 yang mengaku2 bernasab pada Nabi itu adalah betul2 mempunyai nasab pada nabi.

kalau masih diragukan, buat apa diperlakukan sama dengan apa yang sudah diyakini oleh ustadz sebagai ahli bait Nabi yang asli, seperti istri2 nabi, saudara2 nabi, dan anak cucu nabi.

kecuali jika ustadz Abul Jauza sudah mengakui bahwa habaib itu memang betul2 punya nasab pada Nabi, kemudian beliau mencela mereka, maka benarlah perkataan antum bahwa beliau telah mencela ahli bait.

lagipula tidak ada bukti otentik bahwa mereka adalah betul2 bernasab pada Nabi. dan lagipula, perkataan mereka memang penuh dengan bid’ah, khurofat, syirik, hadits2 palsu dll.

---

teman2 kalau antum mau bermubahalah sliahkan nt semua kunjungi http://artikelislami.wordpress.com/mubahalah/

--

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S An-Nisa’ : 112)

“Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya)

”Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S An-Nisa’ : 112)

“Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya)

---

APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

3. Isteri-isteri beliau.

4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, kalau mau konsisten seharusnya tetap diambil dari nasab perempuan dan seterusnya.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

“Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

---

Al Hafizh Muhammad Murtadla az- Zabidi (W. 1205 H) dalam Syarh Ihya Ulum ad-Din Juz II, h. 6, mengatakan: “Jika dikatakan Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah”.
Kemudian beliau mengatakan: “Al Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahwa aqidah Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al Hanabilah). Apa yang dikemukakan oleh al ‘Izz ibn Abd as- Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushari pimpinan ulama madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki”. Al Hakim meriwayatkan dalam al Mustadrak dan al Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al Muftari bahwasanya ketika turun surat almaidah ayat 54, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menunjuk kepada sahabat Abu Musa al Asy’ari dan bersabda: “Mereka adalah kaum orang ini”. tafsir AlQurthubi, Juz VI, h. 220 “Al Qusyairi berkata: pengikut Abu alHasan al Asy’ari adalah termasuk kaumnya”. (Telah maklum bahwa al Imam Abu al Hasan al Asy’ari, imam Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah keturunan sahabat Abu Musa al Asy’ari)

Habib Munzir dalam tulisannya pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=27095 menyampaikan bahwa “Syiah adalah muslim selama mengakui syahadat, namun siapapun yang mengkafirkan Sahabat atau orang muslim, maka ia kufir, apakah ia Syiah atau bukan Syiah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda janganlah memvonis kafir atau mengeluarkan dari Islam akibat perbuatan dosa apalagi hanya karena perbedaan pemahaman atau pendapat

Dari Anas radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal merupakan pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kelaliman orang yang lalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir”.

Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 671 H) berkata : “Adapun seorang muslim dia tidak dikafirkan walaupun melakukan dosa besar.

Majalah dakwah Islam “Cahaya Nabawiy” Edisi no 101, Januari 2012 memuat topik utama berjudul “SYIAH-WAHABI: Dua seteru abadi” , Berikut sedikit kutipannya,

***** awal kutipan ****
“Sebenarnya ada fakta lain yang luput dari pemberitaan media dalam tragedi itu.

Peristiwa itu bermula dari tertangkapnya mata-mata utusan Darul Hadits oleh orang-orang suku Hutsi yang menganut Syiah. Selama beberapa lama Darul Hadits memang mengirim mata-mata untuk mengamati kesaharian warga Syiah. Suku Hutsi merasa kehormatan mereka terusik dengan keberadaan mata-mata ini.

Kehormatan adalah masalah besar bagi suku-suku di Jazirah Arab. Tak ayal, suku Hutsi pun menyerbu Darul Hadits sebagai ungkapan amarah mereka.

Selama beberapa hari Darul Hadits dikepung orang-orang Hutsi yang kebanyakan tergabung dalam milisi pemberontak

Dua warga Indonesia tewas dalam baku tembak, sementara yang lainnya bersembunyi di kampus. Anehnya, meskipun beberapa kali dibujuk , para mahasiswa tetap tak mau dievakuasi pihak kedutaan. Mereka berdalih bahwa diri mereka sedang berjihad melawan musuh. Doktrin yang ditanamkan kepada mahasiswa Darul Hadits cukup, sangar yakni, “Jihad terhadap syiah rafidah al-Houtsi”
***** akhir kutipan *****

Ironis sekali , kedua sekte masing-masing merasa berjihad dan memerangi sesama manusia yang telah bersyahadat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Apakah kamu yang telah membunuhnya? ‘ Dia menjawabnya, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi: ‘Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’, jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ‘ (HR Muslim 142)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)

Dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/06/25/akibat-mencela/ telah disampaikan bahwa akibat mencela Sahabat Nabi atau mencela kaum muslim lainnya adalah sama saja.

Dari Abu Sa’id Al Khudriy Radhiyallahu’anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung uhud tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Bukhari dan Muslim dan Lainnya)

Asbabul wurud :

Ucapan ini ditujukan kepada sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan dalil sebab adanya hadits ini adalah kisah yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu perkataan Abu Sa’id : “Antara Khalid bin Al Walid dan Abdurrahman bin ‘Auf terjadi perseteruan, lalu Khalid mencelanya”

Jadi orang yang mencontohkan kesalahan mencela Sahabat Nabi adalah Sahabat Nabi juga yakni Khalid bin Al Walid mencela Abdurrahman bin ‘Auf. Namun kesalahan yang dilakukan para Sahabat Nabi dikoreksi langsung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga para Sahabat Nabi mempunyai kesempatan memperbaiki kesalahannya ketika masih di dunia.

Berikut contoh kesalahan lainnya yang dilakukan oleh Sahabat Nabi.

Sahabat Abu Dzar pernah memanggil Bilal, “Hai si hitam.” Rasul pun mendengar dan berkata, “Hai, apakah orang putih itu lebih mulia dari mereka yang hitam. Tidak, tidak ada keutamaan dalam diri seseorang kecuali taqwa.” Lantas Abu Dzar sadar dan berkata pada Bilal, “Aku telah mengolokmu dan aku mengaku salah.” “Aku telah memaafkanmu,” kata Bilal. “Tidak, belum, ini wajahku kutaruh di tanah dan injaklah hingga keluar virus kesombongan dariku,” kata Abu Dzar. “Aku telah mengampunimu,” kata Bilal. “Tidak demi Allah hatiku takkan tenang hingga kau menaruh kaki di wajahku ini, hingga penyakit ini hilang,” kata Abu Dzar.

Begitulah Rasululullah mengkoreksi dan mendidik umat la ilaha illallah agar saling menghormati, toleran, tidak menyakiti dan sikap inilah yang mesti kita implementasikan ketika bertemu dengan sesama umat la ilaha Illallah, dari sekte apapun atau bagaimanapun kesalahpahaman mereka dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).

Orang yang fasik adalah orang yang secara sadar melanggar larangan Rasulullah atau larangan agama sebagaimana firmanNya yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al Baqarah [2]:27)

Bagi orang-orang yang fasik, tempat mereka adalah neraka jahannam

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam” (QS Sajdah [32]:20)

Dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/10/20/tetaplah-sebagai-ormas/ bahwa Prof. Dr Yunahar Ilyas, Lc, MA menyampaikan slogan ““Muhammadiyah bukan Dahlaniyah” artinya Muhammadiyah hanyalah sebuah organisasi kemasyarakatan atau jama’ah minal muslimin bukan sebuah sekte atau firqoh yang mengikuti pemahaman KH Ahmad Dahlan karena KH Ahmad Dahlan sebagaimana mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham ) pada masa sekarang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Jadi ketika sebuah jama’ah minal muslimin atau sebuah kelompok kaum muslim atau sebuah ormas menetapkan untuk mengikuti pemahaman seseorang atau pemahaman sebuah majlis dari kelompok tersebut terhadap Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak atau ahli istidlal maka berubahlah menjadi sebuah sekte atau firqoh.

Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan kita bahwa jika kita menemukan perselisihan karena perbedaan pendapat maka ikutilah mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) dan hindarilah semua sekte atau firqoh yang menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan (menyempal), maka ia menyeleweng (menyempal) ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jama’ah adalah as-sawadul a’zham (mayoritas kaum muslim)“

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim).” (HR.Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih).

Pada masa sekarang mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) adalah bagi siapa saja yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengikuti para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Sebagaimanapula yang telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/18/islam-adalah-satu/ bahwa Islam adalah satu pada masa sekarang adalah Islam sebagaimana yang telah disampaikan dan dijelaskan oleh para penunjuk yakni para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Allah Azza wa Jalla telah berfirman bahwa solusi jika kita berselisih karena berlainan pendapat tentang sesuatu maka ikuti dan taatilah ulil amri setempat yakni para fuqaha yang faqih dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah

Firman Allah ta’ala yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS An Nisaa [4]:59)

Siapakah ulil amri yang harus ditaati oleh kaum muslim ?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafaur Rasyidin seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali radhiyallahuanhum, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara.

Ibnu Abbas ra sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya telah menyampaikan bahwa ulil amri yang ditaati adalah para pakar fiqih atau para ulama yang menguasai hukum-hukum Allah.

Syarat-syarat atau kompentensi sehingga termasuk ulama yang menguasai fiqih (hukum-hukum dalam Islam) adalah sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Muhammad Nuh Addawami sebagai berikut,

*****awal kutipan *****
a. Mengetahui dan menguasai bahasa arab sedalam-dalamnya, karena al-quran dan as-sunnah diturunkan Allah dan disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam bahasa Arab yang fushahah dan balaghah yang bermutu tinggi, pengertiannya luas dan dalam, mengandung hukum yang harus diterima. Yang perlu diketahui dan dikuasainya bukan hanya arti bahasa tetapi juga ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’).

b. Mengetahui dan menguasai ilmu ushul fiqh, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin menggali hukum secara baik dan benar dari al-Quran dan as-Sunnah padahal tidak menguasai sifat lafad-lafad dalam al-Quran dan as-Sunnah itu yang beraneka ragam yang masing-masing mempengaruhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya seperti ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat. ada pula nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.

c. Mengetahui dan menguasai dalil ‘aqli penyelaras dalil naqli terutama dalam masalah-masalah yaqiniyah qath’iyah.

d. Mengetahui yang nasikh dan yang mansukh dan mengetahui asbab an-nuzul dan asbab al-wurud, mengetahui yang mutawatir dan yang ahad, baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah. Mengetahui yang sahih dan yang lainnya dan mengetahui para rawi as-Sunnah.

e. Mengetahui ilmu-ilmu yang lainnya yang berhubungan dengan tata cara menggali hukum dari al-Quran dan as-Sunnah.

Bagi yang tidak memiliki kemampuan, syarat dan sarana untuk menggali hukum-hukum dari al-Quran dan as-Sunnah dalam masalah-masalah ijtihadiyah padahal dia ingin menerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara utuh dan kaffah, maka tidak ada jalan lain kecuali taqlid kepada mujtahid yang dapat dipertanggungjawabkan kemampuannya.

Diantara para mujtahid yang madzhabnya mudawwan adalah empat imam mujtahid, yaitu:

- Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit;
- Imam Malik bin Anas;
- Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i ; dan
- Imam Ahmad bin Hanbal.

Mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad atau ittiba’ dalam arti mengikuti pendapat orang disertai mengetahui dalil-dalilnya terhadap orang awam (yang bukan ahli istidlal) adalah fatwa sesat dan menyesatkan yang akan merusak sendi-sendi kehidupan di dunia ini.

Memajukan dalil fatwa terhadap orang awam sama saja dengan tidak memajukannya. (lihat Hasyiyah ad-Dimyathi ‘ala syarh al- Waraqat hal 23 pada baris ke-12).

Apabila si awam menerima fatwa orang yang mengemukakan dalilnya maka dia sama saja dengan si awam yang menerima fatwa orang yang tidak disertai dalil yang dikemukakan. Dalam artian mereka sama-sama muqallid, sama-sama taqlid dan memerima pendapat orang tanpa mengetahui dalilnya.

Yang disebut muttabi’ “bukan muqallid” dalam istilah ushuliyyin adalah seorang ahli istidlal (mujtahid) yang menerima pendapat orang lain karena dia selaku ahli istidlal dengan segala kemampuannya mengetahui dalil pendapat orang itu.

Adapun orang yang menerima pendapat orang lain tentang suatu fatwa dengan mendengar atau membaca dalil pendapat tersebut padahal sang penerima itu bukan atau belum termasuk ahli istidlal maka dia tidak termasuk muttabi’ yang telah terbebas dari ikatan taqlid.

Pendek kata arti ittiba’ yang sebenarnya dalam istilah ushuliyyin adalah ijtihad seorang mujtahid mengikuti ijtihad mujtahid yang lain.
***** akhir kutipan *****

Oleh karenanya setelah masa kehidupan Imam Madzhab yang empat, para mufti yakni orang yang faqih untuk membuat fatwa selalu merujuk kepada salah satu dari Imam Madzhab yang empat.

Ustadz Ahmad Sarwat,Lc,.MA dalam tulisan pada http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1357669611&title=adakah-mazhab-salaf.htm mengatakan

***** awal kutipan ****
Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm, kalau dilihat angka tahun lahirnya, mereka juga bukan orang salaf, karena mereka hidup jauh ratusan tahun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat. Apalagi Syeikh Bin Baz, Utsaimin dan Al-Albani, mereka bahkan lebih bukan salaf lagi, tetapi malahan orang-orang khalaf yang hidup sezaman dengan kita.

Sayangnya, Ibnu Taymiyah, Ibnul Qayyim, apalagi Bin Baz, Utsaimin termasuk Al-Albani, tak satu pun dari mereka yang punya manhaj, kalau yang kita maksud dengan manhaj itu adalah arti sistem dan metodologi istimbath hukum yang baku. Bahasa mudahnya, mereka tidak pernah menciptakan ilmu ushul fiqih. Jadi mereka cuma bikin fatwa, tetapi tidak ada kaidah, manhaj atau polanya.

Kalau kita ibaratkan komputer, mereka memang banyak menulis file word, tetapi mereka tidak menciptakan sistem operasi. Mereka punya banyak fatwa, mungkin ribuan, tetapi semua itu levelnya cuma fatwa, bukan manhaj apalagi mazhab.

Bukan Salaf Tetapi Dzahihiri

Sebenarnya kalau kita perhatikan metodologi istimbath mereka yang mengaku-ngaku sebagai salaf, sebenarnya metode mereka itu tidak mengacu kepada masa salaf. Kalau dipikir-pikir, metode istimbah yang mereka pakai itu lebih cenderung kepada mazhab Dzhahiriyah. Karena kebanyakan mereka berfatwa hanya dengan menggunakan nash secara Dzhahirnya saja.

Mereka tidak menggunakan metode istimbath hukum yang justru sudah baku, seperti qiyas, mashlahah mursalah, istihsan, istishhab, mafhum dan manthuq. Bahkan dalam banyak kasus, mereka tidak pandai tidak mengerti adanya nash yang sudah dinasakh atau sudah dihapus dengan adanya nash yang lebih baru turunnya.

Mereka juga kurang pandai dalam mengambil metode penggabungan dua dalil atau lebih (thariqatul-jam’i) bila ada dalil-dalil yang sama shahihnya, tetapi secara dzhahir nampak agak bertentangan. Lalu mereka semata-mata cuma pakai pertimbangan mana yang derajat keshahihannya menurut mereka lebih tinggi. Kemudian nash yang sebenarnya shahih, tapi menurut mereka kalah shahih pun dibuang.

Padahal setelah dipelajari lebih dalam, klaim atas keshahihan hadits itu keliru dan kesalahannya sangat fatal. Cuma apa boleh buat, karena fatwanya sudah terlanjur keluar, ngotot bahwa hadits itu tidak shahih. Maka digunakanlah metode menshahihan hadits yang aneh bin ajaib alias keluar dari pakem para ahli hadits sendiri.

Dari metode kritik haditsnya saja sudah bermasalah, apalagi dalam mengistimbath hukumnya. Semua terjadi karena belum apa-apa sudah keluar dari pakem yang sudah ada. Seharusnya, yang namanya ulama itu, belajar dulu yang banyak tentang metode kritik hadits, setelah itu belajar ilmu ushul agar mengeti dan tahu bagaimana cara melakukan istimbath hukum. Lah ini belum punya ilmu yang mumpuni, lalu kok tiba-tiba bilang semua orang salah, yang benar cuma saya seorang.
***** akhir kutipan *****

Allah ta’ala berfirman yang artinya “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar“. (QS at Taubah [9]:100)

Dari firmanNya tersebut dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah Azza wa Jalla adalah orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh. Sedangkan orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh yang paling awal dan utama adalah Imam Mazhab yang empat.

Memang ada mazhab yang lain selain dari Imam Mazhab yang empat namun pada kenyataannya ulama yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang lain sudah sukar ditemukan pada masa kini.

Tentulah kita mengikuti atau taqlid kepada Imam Mazhab yang empat dengan merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Imam Mazhab yang empat patut untuk diikuti oleh kaum muslim karena jumhur ulama telah sepakat dari dahulu sampai sekarang sebagai para ulama yang berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak, pemimpin atau imam ijtihad dan istinbat kaum muslim.

Kelebihan lainnya, Imam Mazhab yang empat adalah masih bertemu dengan Salafush Sholeh.

Contohnya Imam Syafi”i ~rahimahullah adalah imam mazhab yang cukup luas wawasannya karena bertemu atau bertalaqqi (mengaji) langsung kepada Salafush Sholeh dari berbagai tempat, mulai dari tempat tinggal awalnya di Makkah, kemudian pindah ke Madinah, pindah ke Yaman, pindah ke Iraq, pindah ke Persia, kembali lagi ke Makkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir. Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama. Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’i ~rahimahullah lebih banyak mendapatkan hadits dari lisannya Salafush Sholeh, melebihi dari yang didapat oleh Imam Hanafi ~rahimahullah dan Imam Maliki ~rahimahullah

Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh dari kalangan “orang-orang yang membawa hadits” yakni membawanya dari Salafush Sholeh yang meriwayatkan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Jadi kalau kita ingin ittiba li Rasulullah (mengikuti Rasulullah) atau mengikuti Salafush Sholeh maka kita menemui dan bertalaqqi (mengaji) dengan para ulama yang sholeh dari kalangan “orang-orang yang membawa hadits”.

Para ulama yang sholeh dari kalangan “orang-orang yang membawa hadits” adalah para ulama yang sholeh yang mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang empat.

Para ulama yang sholeh yang mengikuti dari Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh yang memiliki ketersambungan sanad ilmu (sanad guru) dengan Imam Mazhab yang empat atau para ulama yang sholeh yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang empat.

Jadi bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat adalah sebuah kebutuhan bagi kaum muslim yang tidak lagi bertemu dengan Rasulullah maupun Salafush Sholeh.

Orang-orang yang meninggalkan Imam Mazhab yang empat memang sering mengungkapan pendapat seperti “kita harus mengikuti hadits shahih. Bukan mengikuti ulama. Al-Imam Al-Syafi’i sendiri berkata, “Idza shahha al-hadits fahuwa mazhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah mazhabku)”.

Banyak kalangan yang tidak memahami dengan benar perkataan Beliau. Sehingga, jika yang bersangkutan menemukan sebuah hadits shahih yang menurut pemahaman mereka bertentangan dengan pendapat mazhab Syafi’i maka yang bersangkutan langsung menyatakan bahwa pendapat mazhab itu tidak benar, karena Imam Syafi’i sendiri mengatakan bahwa hadits shahih adalah mazhab beliau. Atau ketika seseorang menemukan sebuah hadits yang shahih, yang bersangkutan langsung mengklaim, bahwa ini adalah mazhab Syafi’i.

Imam Al-Nawawi sepakat dengan gurunya ini dan berkata, “(Ucapan Al-Syafi’i) ini hanya untuk orang yang telah mencapai derajat mujtahid madzhab. Syaratnya: ia harus yakin bahwa Al-Syafi’i belum mengetahui hadits itu atau tidak mengetahui (status) kesahihannya. Dan hal ini hanya bisa dilakukan setelah mengkaji semua buku Al-Syafi’i dan buku murid-muridnya. Ini syarat yang sangat berat, dan sedikit sekali orang yang mampu memenuhinya. Mereka mensyaratkan hal ini karena Al-Syafi’i sering kali meninggalkan sebuah hadits yang ia jumpai akibat cacat yang ada di dalamnya, atau mansukh, atau ditakhshish, atau ditakwil, atau sebab-sebab lainnya.”

Al-Nawawi juga mengingatkan ucapan Ibn Khuzaimah, “Aku tidak menemukan sebuah hadits yang sahih namun tidak disebutkan Al-Syafii dalam kitab-kitabnya.” Ia berkata, “Kebesaran Ibn Khuzaimah dan keimamannya dalam hadits dan fiqh, serta penguasaanya akan ucapan-ucapan Al-Syafii, sangat terkenal.” ["Majmu' Syarh Al-Muhadzab" 1/105]

Kajian qoul Imam Syafi’i yang lebih lengkap, silahkan membaca tulisan, contohnya pada http://generasisalaf.wordpress.com/2013/06/15/memahami-qoul-imam-syafii-hadis-sahih-adalah-mazhabku-bag-2/

Perlu kita ingat bahwa hadits yang telah terbukukan dalam kitab-kitab hadits jumlahnya jauh di bawah jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Al-Hafidz (minimal 100.000 hadits) dan jauh lebih kecil dari jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Al-Hujjah (minimal 300.000 hadits). Sedangkan jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Imam Mazhab yang empat, jumlahnya lebih besar dari jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Al-Hujjah

Asy-Syeikh Abu Amru mengatakan: ”Barang siapa menemui dari Syafi’i sebuah hadits yang bertentangan dengan mazhab beliau, jika engkau sudah mencapai derajat mujtahid mutlak, dalam bab, atau maslah itu, maka silahkan mengamalkan hal itu“

Penjelasan tentang derajat mujtahid mutlak dan tingkatan mufti dalam madzhab As Syafi’i, silahkan baca tulisan pada http://almanar.wordpress.com/2010/09/21/tingkatan-mufti-madzhab-as-syafi’i/

Kesimpulannya ketaatan umat Islam kepada ulil amri setempat yakni para fuqaha (mufti) yang dipimpin oleh mufti agung lebih didahulukan dari pada ketaatan kepada pemimpin ormas maupun penguasa negeri dalam rangka menyunjung persatuan dan kesatuan kaum muslim sesuai semangat piagam Madinah yang memuat keharusan mentaati Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang ketika itu sebagai ulil amri dalam jama’atul muslimin

***** awal kutipan *****
Pasal 1

Sesungguhnya mereka satu bangsa negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia.

Pasal 17

Perdamaian dari orang-orang beriman adalah satu

Tidak diperkenankan segolongan orang-orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Tuhan, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka

Pasal 36 ayat 1

Tidak seorang pun diperbolehkan bertindak keluar, tanpa ijinnya Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
***** akhir kutipan *****

Kita dapat mengambil pelajaran dari kerajaan Islam Brunei Darussalam berideologi Melayu Islam Beraja (MIB) dengan penerapan nilai-nilai ajaran Agama Islam dirujuk kepada golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Al Asyari dan mengikut Mazhab Imam Syafei. Sultan Brunei disamping sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan merangkap sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan dengan dibantu oleh dewan penasihat kesultanan dan beberapa menteri, juga bertindak sebagai pemimpin tertinggi Agama Islam dimana dalam menentukan keputusan atas sesuatu masalah dibantu oleh Mufti Kerajaan.

Negara kitapun ketika awal berdirinya memiliki lembaga tinggi negara yang bernama “Dewan Pertimbangan Agung” yang berunsurkan ulama yang sholeh yang dapat memberikan pertimbangan dan usulan kepada pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan agar tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Lembaga negara yang berunsurkan kata “agung” seperti Mahkamah Agung , Jaksa Agung pada hakikatnya adalah wakil-wakil Tuhan dalam menegakkan keadilan di muka bumi agar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Salah satu contoh ulama yang menjadi anggota “Dewan Pertimbangan Agung” adalah Syaikh Muhammad Jamil Jambek ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatera Barat awal abad ke-20 yang pernah berguru dengan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang merupakan ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Namun dalam perjalanannya Dewan Pertimbangan Agung perannya dalam roda pemerintahan di negara kita “dikecilkan”. Bahkan pada zaman era Surharto, singkatan DPA mempunyai arti sebagai “Dewan Pensiun Agung” karena keanggotaanya terdiri dari pensiunan-pensiunan pejabat. Sehingga pada era Reformasi , Dewan Pertimbangan Agung dibubarkan dengan alasan sebagai lembaga yang tidak effisien.

Jadi cara mengawal syariat Islam dalam sistem pemerintahan di negara kita dengan cara mengembalikan wewenang para ahli fiqih untuk menasehati dan membimbing penguasa negeri sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah sehingga tidak ada keraguan lagi bagi kaum muslim untuk mentaati penguasa negeri

Bulan Sabit ☪ awalnya adalah Simbol Yahudi

Penelitian modern di Kerajaan Yahudi Arab “Himyar” (390-626 M), menunjukkan bahwa Bulan Sabit ☾★ itu sebenarnya simbol Yahudi!

Penelitian modern di Kerajaan Yahudi Arab “Himyar” (390-626 M), menunjukkan bahwa Bulan Sabit ☾★ itu sebenarnya simbol Yahudi!

Sekitar 200 M, Yehudah ha-Nasi menyusun Mishna dari berbagai tulisan tafsir dan kompilasi yudisial (hukum) dari sekolah Rabinis dari abad pertama dan kedua. Pemerintah Romawi menganggap Yehudah sebagai salah seorang pejabat pemerintah mereka dan dibayar dengan status Prefek (wilayah otonom), namun demikian pemerintah juga menjadi semakin bertentangan dengan kepemimpinan Yahudi. Pemerintah berulang kali melarang penggunaan kalender Yahudi sebagai simbol nasionalisme Yahudi.

Padahal Kalender Alkitab diperlukan untuk menentukan bulan baru datangnya Sanhedrin. Pada tahun 358 M, Kaisar Theodosius melarang perayaan Sanhedrin sebagai reaksi terhadap sikap Kaisar Julian sebelumnya yang pro-Yahudi. Akhirnya sebuah aritmatika Kalender Yahudi diadopsi dan digunakan di bawah tanah dan digunakan untuk pertemuan terakhir Sanhedrin. Kemudian muncul perpecahan atas penetapan kalender Yahudi di antara orang-orang Yahudi dari Antiokhia Suriah dan Palestina sehingga memaksa patriark atau Nasi, Rabbi Hillel II, untuk mempublikasikan hasil perhitungan astronomi untuk masuk ke dalam peraturan kalender Yahudi. Orang-orang Yahudi dari Arab, bagaimanapun, tidak menerima putusan ini. Mereka terus membutuhkan peninjauan ulang bulan dan bintang-bintang. Akhirnya, apa yang semula dianggap sebagai argumen rabbi menyebabkan penggunaan sabit sebagai simbol politik identitas. Bulan sabit ini berbeda dari simbol bulan Sabaean, yaitu  miring sekitar 45 derajat untuk mencerminkan cara bulan diamati oleh seorang “saksi” akan datangnya bulan baru (rukyah).

Pada tahun 425 M, Rabi Gamliel VI, patriark terakhir meninggal dunia. Rabbi Gamliel adalah keturunan dari Tanna, Hillel I (wafat 10 M), yang merupakan keturunan Raja Daud. Rabbi Gamliel adalah seorang dokter terkenal dan dihormati oleh Kaisar Theodosius II, namun hal ini tidak mencegah Theodosius II untuk menghapuskan posisi Nasi ketika ia mengeksekusi Gamliel karena membangun kembali rumah-rumah ibadat tanpa izin kekaisaran. Gamliel meninggal tanpa seorang pewaris laki-laki, dengan demikian mengakhiri pula organisasi nasional Yahudi di Israel. 

Qushay bin Kilab bin Murrah (Qussay) (c. 400-480) adalah kakek buyut dari Shaiba bin Hasyim (Abdul-Mutallib, yang punya istri Yahudi). Dia kelima di garis keturunan kepada Nabi Muhammad SAW. Qushay adalah nenek moyang dari Quraisy. Ketika Qushay dewasa, seorang pria dari suku Khuza’a bernama Hulail (Hillel) yang juga pelindung Ka’bah, dan Na’sa (Nasi) – diberi berwenang untuk intercalate kalender. Qushay menikah dengan putrinya dan, sesuai dengan kehendak Hulail’s, memperoleh hak-hak ini setelah dia. Ia mengumpulkan Sanhedrin “balai kota”. Para pemimpin klan yang berbeda bertemu di ruang ini untuk membahas masalah-masalah sosial, komersial, budaya dan politik. Berdasarkan izin kerajaan Abu Karib As’ad Tubba ‘, Qushay membangun kembali Kabah, dan mengijinkan para kahin (dukun) Arab (keluarga Cohen) membangun rumah mereka di sekitar Ka’bah.

Ada tiga Kalender digunakan di Arab.

  • Kalender matematis, diimpor dari Babilon, dan digunakan oleh para pengungsi Yahudi Babilonia – sedikit di Arabia. 
  • Kalender antara (intercalated) digunakan oleh orang-orang Yahudi Arab dan pro-Muslim yang mengikuti keturunan Qushay. 
  • Dan kalender lunar ketat yang digunakan oleh Jurham/Jurhum, yang menolak untuk menerima interkalasi apapun. Kalender sangat lunar ini merupakan kalender resmi antara waktu dari Hillel (358 M) sampai Qushay (440 M).

Dalam Al-Quran, ayat tentang “membelah bulan” mengacu pada adanya perbedaan penghitungan dari dua kalender (intercalated dan lunar ketat), yang pada gilirannya mencerminkan perpecahan antara orang Yahudi dan proto-Muslim. Kalender lunar ketat akhirnya kembali digunakan pada tahun 622 M, tetapi 45 derajat bulan sabit terus melambangkan keutamaan Quraisy, seperti halnya burung merpati melambangkan Tubba (Tobiad) raja-raja Himyar. 

Tidak ada keraguan bahwa Islam melihat diri mereka sebagai “orang-orang Yahudi yang benar”, dan menawarkan agama mereka sebagai alternatif bentuk Yudaisme. Islam lebih mirip dengan Yudaisme selama dua generasi pertama (masa para nabi).

☾★

Sumber http://www.eretzyisroel.org/~jkatz/crescent.html

Berziarah ke Makam Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وآلہ وسلم

Oleh KH Ali Ma’shum رحمهم الله

A.   PENDAHULUAN

Pada suatu ketika Nabi Muhammad ﷺ membaca ayat berisi keluhan Nabi Isa AS sebagai berikut :

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana”. (QS. Al-Maidah : 118)

Dan beliau membaca lagi ayat berisi keluhan Nabi Ibrahim AS sebagai berikut :

“Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, barang siapa yang mengikutiku maka ia termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Penyayang“. (QS. Ibrahim : 36)

Lalu Nabi Muhammad ﷺ berdoa, mengangkat kedua tangannya dan bersabda :

اَلّلهُمَّ أُمَّتِي“ Ya Allah, Umatku…………. “.

Beliau bersujud dan menangis ( sudah barang tentu menangis benar-benar memohon agar dikabulkannya dari Allah سبحانه وتعالى ).

Selanjutnya, Allah Maha Mendengar doa keluhan itu dan mengutus malaikat Jibril AS untuk menanyakan apa sebab Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menangis. Setelah Malaikat Jibril AS melakukan tugas lalu melaporkan kembali kepada Allah Ta’ala. Lalu Allah memerintahkan kembali Malaikat Jibril untuk menyampaikan keputusanNya kepada Nabi sebagai berikut :

إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوْءُكَ (رواه المسلم) “Sesungguhnya Aku meluluskan kerelaanmu buat umatmu, dan Aku tidak menimpakan kejelekan atasmu“. (Semua ini dari Hadits Riwayat Imam Muslim ).

Melihat kisah tersebut kita mengetahui betapa besar tanggung jawab Nabi صلى الله عليه وسلم untuk menyelamatkan umatnya kaum Muslimin. Dan betapa besar anugerah Allah yang dilimpahkan kepada kita lantaran permohonan beliau itu.

Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم benar-benar agung jasanya buat kita bahkan terlalu agung. Tidakkah kita perlu membalas jasanya itu ? dalam batas yang paling kecil saja, misalnya; seberapa besar kecintaan (mahabbah) kita kepada Nabi ﷺ ?

Mahabbah kepada Nabi adalah pertanda keimanan. Nabi pernah mendoakan Harmalah bin Yazid RA yang datang menghadapnya, sebagai berikut :

اَلّلهُمَّ اجْعَلْ لَّهُ لِسَانًا صَادِقًا وَقَلْبًا شَاكِرًا وَاْرزُقْهُ حُبِّي وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّنِيَ (رواه الطبراني)

“Ya Allah jadikanlah lisan Harmalah berkata jujur, hatinya Syukur, dan anugerahilah kecintaannya kepadaku dan kepada sekalian orang yang mencintaiku………… “.(H.Riwayat Ath-Thabrani).

Dari hadits ini bisa kita petik suatu hikah, yaitu betapa besarnya nilai mahabbah kepada Nabi ﷺ.

Mahabbah atau rasa cinta bukanlah sekedar diucapkan dengan lisan tetapi yang terpenting adalah sikap hati. Setelah hati cinta, maka lisan akan menyatakan dan dengan sendirinya perbuatan anggota badan akan siap mengabdi dan berkorban. Apabila kita benar-benar mencintai Nabi ﷺ, maka hati kita selalu tertambat pada beliau, lisan kita selalu menyebut asma beliau, dan kita kerahkan diri kita untuk memenuhi petunjuk beliau.

Tuntutan rasa cinta murni tidak sekedar begitu. Tetapi kita selalu ingin duduk berdampingan, melihat beliau dan mengunjungi kediaman beliau. Seperti inilah cinta yang sejati. Hal ini tidak beda dari sebait syair yang di gubah oleh seseorang yang mencintai nona leyla sebagai berikut :

أَرَاْلأَرْضَ تُطْوَى لِي وَ يَدْ نُوْ بَعِيْدُهَا

وَكُنْتُ إِذَا مَا جِئْتُ ليلي أَزُرُوْهَا

“Dan jika aku berkunjung kepada Leyla

Kurasakan sang bumi terlipat kecil

Jarak jauh terasa dekat “.

Dengan demikian kita bisa mengukur seberapa kadar Mahabbah kita kepada Nabi Muhammad ﷺ. Berapa menit sehari hati kita tertambat kepada Nabi ﷺ, berapa puluh kali sehari lisan kita membaca Shalawat Nabi ﷺ, dan berapa banyak tuntunan nabi telah kita kerjakan. Demikian pula, berapa kali kita telah mengunjungi Nabi ﷺ –tempat kediaman Nabi. Atau berapa kali kita telah niat untuk ziarah kepada Nabi ﷺ, dan seterusnya.

B.   ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD ﷺ

Ziarah makam Nabi adalah salah satu bentuk ekspresi rasa mahabbah kepada beliau. Selain itu,Nabi sendiri telah bersabda :

ّ مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِى بَعْدَ وَفَاِتي فَكَأنَّمَا زَارَنىِ فِى حَيَاتى(رواه البيهقى والطبراني وغيرهما)

“Barang siapa pergi untuk berhaji lalu ziarah ke kuburku setelah aku mati, maka bagaikan mengunjungiku ketika aku masih hidup“. (Riwayat Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, dan lainnya)

مَنْ زَارَ قَبْرِى وجبت له شفِاعتى.   (رواه البيهقى والدارقطنى)

“Barang siapa ziarah ke kuburku, maka pastilah mendapat syafa’atku“.

( Riwayat Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni )

مَنْ جَاءَنِى زَائِراً لَايَعْلَمُ حَاجَةً إِلاَّزِيَارَتِى كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًايَوْمَ اْلقِيَامَةِ.   (رواه الطبراني والدارقطنى)

“Barang siapa dating ziarah kepadaku dan hanya itu saja keperluannya, maka kewajiban atasku untuk mensyafa’atinya di hari kiamat“.

( Riwayat Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni ).

Demikianlah tiga dalil hadits secara tegas menerangkan keutamaan ziarah ke makam Nabi. Dalam Hadits berikut bias kita ketahui adanya anjuran untuk kita melakukannya.

مَامِنْ أَحَدٍ مِنْ اُمَّتِي لَهُ سَعَةٌ ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِى فَلَيْسَ لَهُ عُدْرٌ (رواه ابن النجار)

“Tidak seseorangpun dari umatku yang telah berkesempatan (untuk ziarah) kemudian tidak mau melakukan ziarah kepadaku, melainkan tiada lagi alasan baginya“.

( Riwayat Ibnu Najjar )

C.   KEUTAMAAN ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD ﷺ

Dari Hadits di atas kita telah mengetahui bahwa ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW adalah sama utamanya dengan ziarah kepada Nabi sewaktu Nabi ﷺ masih hidup.

Dalam Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim menyebutkan sebagai berikut :

لاَتُشَدُّالرَّجَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ  وَمَسْجِِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى  (رواه البحاري ومسلم)

“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga ( 3 ) Masjid ; Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjidil Aqsa“. (Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim )

Hadits ini menegaskan bahwa ada tiga ( 3 ) masjid yang mempunyai keutamaan. Selain yang tiga itu tingkat keutamaannya sama saja; masjid besar terletak di kota besar dan dihuni oleh orang-orang besar, tingkat keutamaannya sama saja dengan masjid kecil di kota kecil di bangun dan huni oleh orang-orang kecil.

  1. Masjidil Haram di Makkah mempunyai keutamaan Shalat di dalamnya bernilai 100.000 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungan nya sebagai Baitullah dan disini pula terletak Ka’bah yang menjadi kiblat kaum Muslimin.
  2. Masjidil Aqsa di Palestina mempunyai keutamaan Shalat di dana bernilai 500 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid tempat peribadatan para Nabi Bani Israil dan bahkan disini pula mereka disemayamkan.
  3. Masjid Nabawi di Madinah mempunyai keutamaan Shalat didalamnya bernilai 1000 kali lipat yaitu dua kali keutamaan Masjidil Aqsa. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid yang dibangun oleh Nabi, tempat beribadahnya Nabi, pusat pennyiaran Islam di hari-hari pertamanya, dan bahkan di situ pula Nabi dikuburkan. Jadi keutamaan yang besar yang dimiliki Masjid Nabawi adalah semata-mata karena diri Nabi. Nabilah yang menjadi sumber keutamaan masjid tersebut. Kalau bukan karena Nabi ada disitu, maka niscaya sama saja dengan masjid-masjid yang lain.

Sekarang kita sudah mengetahui masjid Nabawi mempunyai keutamaan sebesar itu dikarenakan ada Nabi, hal ini berarti sumber keutamaannya adalah Nabi dan Masjid Nabawi tersebut dapat menimbulkan curahan rahmat dan berkah bagi orang yang mengunjunginya dan beribadah didalamnya.

Ada suatu pertanyaan dari sekelompok orang yang salah memahami dalil. Bahwa “Memang benar ziarah ke Masjid Nabawi akan memperoleh berkah, tetapi ziarah ke makam Nabi yang menjadi sumber berkah masjid tersebut justru tidak memperoleh berkah, dan bahkan dilarang melakukannya“.

Menurut pembaca risalah ini, benarkah logika kaum yang salah paham tersebut ?

Kami yakin, anda sepakat dengan kami dan bahwa logika sekelompok orang itu salah. Anak yang baru tingkat ‘Ibtidaiyyah / Sekolah Dasar pun akan mampu menunjukkan kesalahan logika tersebut.

Syaik Abu Said Al-Hammami رحمهم الله seorang Ulama Al-Azhar Mesir menilai bahwa logika itu hanya mungkin diucapkan oleh :

المَجَانِيُن اْلَّذِيْنَ لاَيَعُوْنَ مَا يَقُوْلُوْنَ أَوْ يَقُوْلُهُ عَدَوُّالإِسْلاَمَ وَرَسُوْلِ اْلإِسْلاَمِ

“Orang-orang gila yang tidak paham lagi perkataannya sendiri atau perkataan itu dikemukakan oleh musuh Islam dan musuh Rasulullah “ *

D.   ADA YANG SALAH PAHAM

Seperti telah kami singgung di atas ada sekelompok orang yang melarang untuk ziarah ke makam Nabi. Mereka berdalil pada hadits :

لاَتُشَدُّالرِّحَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ  وَمَسْجِِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى  (رواه البحاري ومسلم

“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga ( 3 ) Masjid ; Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjidil Aqsa “.(Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim )

Kami merasa aneh bin ajaib. Mengapa Hadits tersebut dikatakan menunjukkan adanya larangan ziarah ke makam Nabi ? Uraian lebih lanjut dan lebih lengkap terlalu panjang di tulis disini. Kami persilahkan anda membaca buku kami yaitu “Hujjatu Ahlissunnah wal Jama’ah “ halaman 27 – 35.

Untuk menambah keterangan, dalam kitab Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Mushthofa. Al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ziarah makam Nabi adalah merupakan keutamaan dan hal itu telah menjadi Ijma’ seluruh kaum Muslimin.

Demikian, Wallahu A’lam._______________________________________________

Catatan akhir

*Lihat Ghautsul ‘Ibad karangan Syaikh Abu Yusuf Al-Hammami, cet. Isal Babil Halabi, Mesir, tahun 1350 H, halaman 105.

عن داود بن أبي صالح : أقبل مروان يوما فوجد رجلا واضعا وجهه على القبر فأخذ مروان برقبته ثم قال : هل تدري ما تصنع ؟ فأقبل عليه فإذا أبو أيوب الأنصاري، فقال : نعم إني لم آت الحجر إنما جئت رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم آت الحجر سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لا تبكوا على الدين إذا وليه أهله ولكن ابكوا على الدين إذا وليه غير أهله.
أخرجه الحاكم في ” المستدرك ” 4 ص 515، وصححه هو والذهبي في تلخيصه، ورواه أبو الحسين يحيى بن الحسن الحسيني في [ أخبار المدينة ] بإسناد آخر عن

Tiga Sekawan: El Dorado, El Sapek dan El Desperado

Tiga Kawan: El Dorado, El Sapek dan El Desperado

Terkisahlah tiga teman dari negeri Spain, El Dorado, El Sapek dan El Desperado. Mereka ini telah berteman semenjak kanak hingga dewasa. Akan tetapi ketiganya memiliki perangai yang berbeda-beda. Apalagi jika berkaitan dengan uang atau kekayaan.

Negeri Spain adalah negeri emas. Dahulu disebut Andalusia diserupakan dengan dengan Andalas yaitu negeri Suwarnabhumi, tanah emas. Bertetangga dengan Anatolia atau Anatul yaitu jazirah yang memanjang, namun bukan itu artinya.

Pada suatu ketika, di sebuah zaman, berdekatan dengan zaman seolah-merdeka padahal berkesusahan, Kala Bendu orang Jawi katakan. Pada jaman itu, tersebutlah bahwa semua negeri telah menjadi satu di bawah kepemimpinan seorang tampan bermata satu dari negeri tengah. Si mata satu sangatlah sakti, mampu melihat segalanya. Pembantunya dari Uruba dan Araba serta Iriba.  Kononnya, ia adalah akan membawakan kepada kesejahteraan kepada semua. Membawa keajaiban-keajaiban. Membawa rasa suka tapi tanpa bahagia. Meriangkan malam karena pedihnya hari. Perbudakan tiada lagi karena semuanya telah menjadi budak. Semua orang suka membeli dan membeli. Mencari harta memperkaya diri, dan berlebih-lebih dalam apapun jua. Memakan makanan imitasi, dari ayam yang bukan ayam, telur yang bukan telur, daging yang membawa rasa gila di kemudian hari.

Tidaklah demikian, tidaklah demikian duhai tuan. Orang-orang mengejar mimpi, yang dicetak oleh tivi. Dan semua, segala sesuatunya, diukurkan pada uang. Seolah uang adalah kekayaan, seolah uang adalah sumber kebahagiaan. Mencuri tak pernah dihalalkan, tapi mencuri sedikit bisa dihukum mati sedang mencuri dalam jumlah banyak, yaitu korupsi, bisa tertawa. Karena uang sudah hilang hakikinya, dibawa lari bankir dan tukang cetak uang.

Saling berbunuh demi uang. Apatah lagi beribadah kepada Tuhan, uang lah yang jadi ukuran. Uanglah yang menjadi tuhan. Menghadapi masalah ini, ketiga sekawan ini, yang sentiasa berbeda dalam sikap dan perbuatan, termasuk ikhwal uang pun mereka berbeda dalam apa yang akan mereka lakukan.

El Desperado sentiasa seperti ketakutan dan ngeri. Dia mengatakan inilah akhir dunia. Inilah kiamat. Ianya membangun citra, dikatakan meneliti, membentang gambar grafik serta skema, lektur dan ceramah, analisis serta uraian, dan kesemua untuk membuktikan bahawa akhir dunia telah dekat. Semua mesti berhati-hati dan berjaga-jaga.

El Desperado kemudian menumpuk emas banyak-banyak, kerana, katanya, ia aman daripada sebarang kecelakaan. Penuh biliknya dengan kilauan bata-bata emas sehingga pula tilamnya dari emas. Hingga suatu waktu tiada lagi ia punya kecuali emas-emas itu. Ia bagaikan Sang Midas yang lepas kendali. Dia tidaklah sakti seperti Midas yang menyentuh semuanya dari emas, tapi dia begitu takut sehingga ia jual segalanya untuk mengamankan diri dengan membeli emas.

Maka matilah El Desperado kerana tidak ada yang ia bisa makan. Tak mungkin ia mengunyah emas-emas itu pula. Dialah Midas dalam bentuknya yang lain.

Berbeda dengan El Desperado, adalah El Dorado. Bagaikan legenda dari Amerika namanya. Mungkin masih ada saudara dengan Sir Walter Raleigh. Ia ini memang jagonya investasi. Dia banyak tahu tentang emas. Segala emas. Ia cetaklah emas-emas itu menjadi koin. Kononnya jadi uang.

Tapi ia sendiri tak memiliki, tidak beruang. Ucapan-ucapannya seperti ahli agama, bahkan seorang asketik. Konon tidak cinta dunia, konon mati selagi hidup, konon pemimpin para peziarah dan pecinta, konon sekh atau guru suci. Tap bajunya, tempat tinggalnya, makanannya, dan semua kartu kreditnya menampakkan sebaliknya.

El Dorado mengajarkan bahwa hari dekat ini setakat semua manusia mesti guna emas sebagai uang. El Desperado keliru kalo hanya guna simpan. Mestilah guna emas sebagai uang agar selamat. Ia cetak koin besar-besar agar orang suka beli karena alasan agama. Sebutlah sentimen, sebutlah emosi, tapi sebutlah beribadah kepada tuhan… tuhan uang, agama uang.

El Dorado berpindah-pindah negeri untuk menawarkan jasa menyetak koin. Adapun ia tidak pandai menyetak koin kecuali kepada rekan Rusianya. Dari negeri Spain ia ke negeri Palem. Di negeri ini jualannya tak seberapa laku, ia pun menipu. Sehingga pulalah puak-puak negeri itu memanggilnya “The Spaniard Bastard”.

Kecewa ia lari ke ujung selatan. Seorang master berpindah-pindah negeri satu ke negeri lain menghapus catatan lamanya. Memang pendek ingatan kita. Seorang peminum yang menjumput sedikit ilmu hikmah kebaikan, namun mensalahgunakan untuk kepentingan duniawi. El Dorado pun berpindah negeri ke Anatolia, ia pun berkahwin dengan puteri anak negeri.  Di sana ia pula melancarkan aksinya. Apa daya segala kesaktiannya hanya di mulut saja. Gagal ia lari ke negeri lain.

Gagal satu ia buahkan yang baru, di negeri jauh. Namun akhirnya mendekati akhir. Bubar kocar kacir semua rencana. Tentulah kerana ia berteman baik dengan si mata satu, meski seolah memusuhinya. Kesian sungguh kesian.

Kini ia berpindah negeri dan kahwin pula dengan puteri yang baru. Tapi rumus ia tetaplah sama, berjual koin untuk menipu. Ia tidak kaya hanya tampak kaya. Puterinya menyimpan baik kotak hartanya. Tapi kerana emas adalah emas, ia membawa penipuan dengan penipuan. Seperti halnya El Desperado yang tertipu, El Dorado menjadi penipu.

Bagaimana El Sapek. Ah… El Sapek ini tak seberapa punya uang. Ia mengumpul plastik dan karet, dan sedikit besi yang ditempa. Dari ketiganya itu ia membuat gerobak. Dalam gerobaknya diisi pasir dan dibawanya ke kota. Orang kota membangun rumah dari pasir-pasir si El Sapek. Negeri sentosa dan berkemajuan. El Sapek… berjasa membawa dan berjual pasir dan mengangkut tanah.

Koin tidak akan membuatmu kaya, emas pun demikian. Keduanya adalah akar kejahatan, baik penipu dan tertipu. Aku memilih El Sapek karena pasir lebih berharga daripada emas atau koin emas, selama anda berusaha dan membangun daripadanya. El Sapek tidak tergoda uang, tapi tergoda tanah yang subur…

Pendapat ulama tentang uang

Uang adalah barang budaya (hasil karya manusia) dan hanya terbatas dinar (emas) dan dirham (perak) yang dicetak sebagai uang [Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn al-Haim, Nuzhah fi Bayan Hukmi at-Ta'amul bil Fulus, hal.33]. Fulus walaupun berharga tidaklah sama dengan emas dan perak karena tidak ada zakat padanya [hal. 47]

Al Ghazali berkata tentang emas dan perak, “Di antara nikmat Allah Ta’ala adalah penciptaan dirham dan dinar, dan dengan keduanya tegaklah dunia. Keduanya adalah batu yang tiada manfaat dalam jenisnya, tapi manusia sangat membutuhkan keduanya” [Ihya' 'Ulumuddin, 4:96, 97-98]

Ibnu Qudamah berkata, “Sesungguhnya harga -emas dan perak- adalah nilai harta (intrinsik) dan nilai pekerjaan, yang dengan itu terjadilah mudhorobah dan syarikah, dan dia diciptakan untuk itu. Maka disebabkan keasliannya (kemurniannya) dan penciptaannya terjadilah perdagangan yang dipersiapkan untuknya.” [Al Mughni, 2:265 dan 3:17]

Al Maqrizi mengatakan, “Sesungguhnya uang yang menjadi harga barang-barang yang dijual dan nilai pekerjaan adalah hanya emas dan perak saja. Tidak diketahui dalam riwayat yang sahih dan yang lemah dari umat yang manapun dan kelompok manusia manapun, bahwa mereka di masa lalu dan masa sekarang selalu menggunakan uang selain keduanya.” [Ighotsatul Ummah fi Kasyf al-Ghummah hal. 47]. Dan “uang yang dinilai secara syar’i, akal, dan ‘urf adalah emas dan perak saja, sedangkan selain keduanya tidak layak sebagai uang.” [hal. 81]. “Sikap manusia menjadikan fulus sebagai uang adalah bid’ah yang mereka ada-adakan dan kerusakan yang mereka ciptakan; tidak ada dasarnya sama sekali dalam ajaran Nabi, dan dalam menjalankannya tidak bersandarkan pada sistem syari’ah”. [hal. 77]. “Uang selain emas dan perak menjadikan rusaknya segala urusan, kehancuran segala keadaan, dan menyebabkan manusia kepada ketiadaan dan kebinasaan.” [hal. 80].

“Fulus merusakkan nilai uang, merugikan orang-orang yang memiliki hak, mahalnya harga, terputusnya suplai, dan bentuk-bentuk kerusakan yang lain.” [Imam Nawawi, Al-Majmu', 5:494 dan Suyuthi, Al-Hawi lil Fatwa, 1:134]

Dikutip dari DR. Jaribah ibn Ahmad Al-Haritsi, Fikih Ekonomi Umar ibn Al-Khathab, Khalifa:2003, hal 327 dan 329.

Dinar terbuat dari Emas, tapi Emas bukanlah Dinar: Refleksi atas Pandangan Imam Al Ghozali

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على سيدنا محمد و آل سيدنا محمد

Dinar adalah “uang” yang terbuat dari emas (murni). Banyak orang, berbondong-bondong menjual aset mereka, melepas uang kertasnya, bahkan berutang ke bank untuk membeli emas atau dinar, karena harga emas melambung tinggi dalam tempo cepat.

Motivasi masyarakat pada umumnya adalah :

Untuk menyelamatkan aset dan kekayaan (para analis memberikan banyak sekali catatan betapa emas adalah safe haven terbaik untuk lindung nilai (hedging) dan seterusnya) atau untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga emas terhadap rupiah, sehingga meningkatkan daya beli atau keuntungan-rupiah.

Betul dalam jangka pendek emas mengalami volatilitas “harga” (naik turunnya nilai tukar US Dollar terhadap per unit emas, biasanya troy-ounce), tapi secara umum masyarakat percaya, dengan grafik multitahun, yang menunjukkan kenaikan harga emas bersifat “konstan”, yang ternyata juga sebagai refleksi menurunnya nilai tukar kurensi, dalam hal ini Dollar, atau uang kertas lainnya terhadap barang dan jasa. Meskipun grafik harga emas dalam enam bulan terakhir agak diluar kebiasaan (paruh awal 2013).

Tetapi emas bukanlah dinar. Dinar memang diukur dengan mitsqal, artinya ia memiliki suatu standar pengukuran yang pasti (meski dinamis). Mitsqal adalah suatu mizan atau timbangan standar yang menjadi pengukur nilai dari benda yang dibawanya, jika dinar yang diukur maka nilai emas yang dibawa itu yang distandarisasi, dan jika dirham yang diukur maka nilai peraklah yang distandarisasi.

Akan tetapi emas bukanlah konsep “uang” tetapi konsep “stock“. Maka emas lebih longgar untuk menjadi apa saja dan/atau disimpan saja untuk kemudian diperjualbelikan atau menjadi bahan proses industri.

Uang adalah konsep “flow” (vis-a-vis stock). Jadi dinar adalah konsep flow, yang mengalir, yang senantiasa pindah dari tangan ke tangan, yang ditashorufkan. Meskipun demikian memang disadari bahkan kurensi hari ini, yaitu uang yang sekarang digunakan masyarakat, apakah dollar atau euro atau rupiah malahan menggunakan konsep stock (value reserve), terutama dengan adanya aktivitas perbankan (investasi dan tabungan). Konsep money supply yang berkaitan dengan money demand (permintaan uang), seperti ditunjukkan dengan angka-angka M1, M2 dan M3 di setiap akhir tahun. Dan selain itu uang dianggap sebagai aset dan wealth, dan aset adalahstock concept.

Dinar menurut Imam Al Ghozali, bukanlah “gold as good as money” karena emas adalah aset danstock concept sedangkan Dinar adalah uang dengan pendekatan flow concept. Bahkan Imam Al Ghozali menegaskan bahwa sebaiknya konsep tentang aset terhadap emas mesti ditinjau ulang. Karena emas sebaiknya diubah dari stock menjadi flow, sehingga ia “bermanfaat” bagi kemaslahatan bersama. Emas sebagai “barang” bisa disubstitusi oleh material lainnya.

Perhatikan pernyataan beliau:

“Jika seseorang menimbun dinar dan dirham, ia berdosa. Dinar dan dirham tidak memiliki manfaat langsung pada dirinya. Dinar dan dirham diciptakan agar beredar dari tangan ke tangan, untuk mengatur dan memfasilitasi pertukaran, sebagai simbol untuk mengetahui nilai dan kelas barang. Barang siapa yang menggunakan emas dan perak sebagai barang-barang rumah tangga, wadah atau bejana atau semacamnya, maka sesungguhnya ia telah berbuat yang bertentangan dengan tujuan penciptaan emas dan perak dan hal itu dilarang oleh Allah. Dan berarti ia telah berbuat dosa dan maksiat kepada الله سبحانه وتعالى. Keadaan orang tersebut bahkan lebih buruk daripada keadaan orang yang menimbunnya atau menyimpannya. Karena ada logam  dan material lainnya seperti besi, tembaga, atau tanah liat yang dapat digunakan untuk membuat peralatan. Akan tetapi  tanah liat tidak dapat digunakan untuk mengganti fungsi yang jalankan oleh dinar dan dirham”.

Ihya Ulumuddin pada Kitab Syukur (Ihya Ulum al-Din, Jilid IV, diterbitkan di Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 1424 H/2003 M, hal.121-122)

Kemudian, beliau mengatakan:

“Hikmah tersembunyi dari penciptaan dinar dan dirham tidak akan ditemukan di dalam hati yang berisi sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan. Sebab, tidak ada yang bisa mengambil pelajaran dari hikmah tersebut kecuali orang-orang yang menggunakan akalnya. Menurut Imam Ghazali, bagi mereka yang mengambil pelajaran dan hikmah tersebut, dinar emas tidaklah bedanya dengan secuil batu yang tak bernilai, meskipun pada saat yang sama dinar emas sangat bernilai.”

Artinya bahwa Dinar bukanlah emasnya,  tapi uangnya. Dan uang adalah ‘barang publik’ (awqaf). Dinar sebagai uang tidak memiliki “nilai intrinsik” per se. Karena nilai intrinsik, sebagai hasil bawaan dari bahan emas pada dinar, ketika dalam keadaan sebagai dinar, harus ditambahkan nilai guna atau nilai manfaat. Uang tidaklah memiliki nilai jika diukur dari banyaknya uang atau jumlah uang beredar. Tetapi uang dinilai atau memiliki nilai ketika ditransaksikan dalam muamalah. Akibatnya secara makro, uang dihitung bukan dari seberapa banyak suplai uang yang beredar, tetapi seberapa banyak transaksi terjadi menggunakan uang. Karena bisa saja dengan jumlah uang beredar yang terbatas tetapi memiliki nilai uang yang besar karena seringnya terjadi interaksi dan transaksi sehingga uang tidak “diam” dan selalu dinamis. Laporan keuangan bukanlah berapa uang yang dimiliki tapi seberapa sering uang ditransaksikan. Cashflow tidak lagi melihat berapa besar aliran kas masuk (cash in flow) dan aliran kas keluar (cash out flow), tetapi berapa banyak “tangan” yang menggunakan cash yang sama.

Prinsipnya sebanyak apapun uang di tangan (cash in hand) itu rugi. Sesering mungkin uang ditransaksikan itu yang penting (cash in flow).

Jika dinar dimaknai sebagai emas (yang bisa dimiliki) dengan berat dan kadar tertentu, dalam hal ini mitsqal, maka ia memiliki nilai bawaan yang melekat (intrinsik). Inilah yang membedakan sekaligus memberikan warna pada kepingan dinar, yaitu sebagai mitsqal emas dan sebagai uang. Dan inilah, dalam pandangan Imam Al Ghozali, sebagai “hati yang berisi sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan.” na’udzubillah… godaannya memang disitu.

Pendapat Imam Al Ghozali diperkuat oleh Abu Ubaid:

Dikatakan oleh Abu Ubaid bahwa dinar dan dirham mempunyai fungsi sebagai standar nilai pertukaran (standard of exchange value) dan media pertukaran (medium of exchange). Dalam hal ini Abu Ubaid menyatakan, ‘Hal yang tidak diragukan lagi bahwa emas dan perak tidak layak untuk apapun, kecuali keduanya menjadi harga dari barang dan jasa. Keuntungan yang paling tinggi yang dapat diperoleh dari kedua benda ini adalah penggunannya untuk membeli sesuatu’ (Pemikiran Ekonomi Islam, hal 181, Al-Amwal)

Sehingga Dinar adalah konsep exchange atau berbagi, bukan konsep menyimpan atau reserve. Dengan demikian pernyataan bahwa dengan emas kita “tidak kaya tapi akan tetap kaya”, yaitu konsep wealth, konsep aset, adalah konsep stok yang digunakan sebagai alasan dalam investasi emas, golden constant, zero inflation, dan hedging berbasis emas. Dinar tentu saja bisa difungsikan sedemikian bila dalam kesadaran kita adalah kesadaran stock concept of money. Banyak pegiat dinar terjebak di sini ketika menjelaskan mengenai apa itu dinar.

Flow concept of money pada dinar adalah dalam pertukaran (exchange) yang tidak mengharapkanreturn atau keuntungan dari esensi uang itu sendiri, karena keuntungan itu didapatkan dari bekerja dan berproduksi. Meski pada awal mulanya Islam dipenuhi dengan norma perdagangan, tetapi yang diharapkan adalah bahwa producer lah yang menjadi trader. Dan ini yang disebut sebagai pasar yang adil (fair trade). Kaum Muhajirin (pedagang) dipersaudarakan dengan Kaum Anshor (petani/produsen) dalam rasa persaudaraan diniyah (religius) dan muamalah (sosial). Di sinilah gilda-gilda produksi, dari produksi ekstraktif pertanian (on farm) hingga pengolahan hasil pertanian (off farm) bernilai tambah (added value) diwarnai persaudaraan mereka yang hijrah dan kemudian ngenger atau nyantrik (mubtadi’) kepada para ahli produksi (mu’alim).

Definisi uang bukan lagi store of value tapi medium of exchange. Kebermaknaan uang hanya padaexchange. Value dari uang bukan disimpan (store) tapi dipertukarkan (exchange).

Kutipan berikut ini menjelaskan pendirian Imam Al Ghozali:

“Jika seseorang memperdagangkan dinar dan dirham untuk mendapatkan dinar dan dirham lagi, maka dia menjadikan dinar dan dirham sebagai tujuannya. Hal ini berlawanan dengan fungsi dinar dan dirham. Uang tidak diciptakan untuk menghasilkan uang. Melakukan hal ini dilarang dalam Islam. Dinar dan dirham adalah alat untuk mendapat barang-barang lainnya. Dinar dan dirham tidak dimaksudkan bagi dirinya sendiri. (Dalam hubungannya dengan barang lainnya, dinar dan dirham adalah pengukur yang digunakan untuk memberikan nilai terhadap transaksi jual beli barang dan jasa) atau seperti cermin yang memantukan gambar atau warna, tetapi tidak memiliki warna dan gambar sendiri. Apabila orang diperbolehkan untuk menjual (atau mempertukarkan) uang dengan uang (untuk mendapatkan laba), transaksi seperti ini menjadi tujuannya, sehingga uang akan tertahan dan ditimbun. Menahan pemerintahan atau tukang pos adalah pelanggaran, karena mereka dicegah dari menjalankan fungsinya. Demikian pula, dengan uang”.

Maka mari kita mensyukuri adanya dinar dan dirham ini sebagaimana mestinya, mengikuti taqdir diciptakannya dinar dan dirham itu, sesuai sunnatullah dari dinar dan dirham itu.

Dari Abu `Abdullah (ada yang memanggil Abu `Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud pelayan Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang untuk sekeluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan / keperluan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu kawan seperjuangannya di jalan Allah”.

(Hadits Riwayat Muslim).

Dari Abu Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu. berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Satu dinar yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu maka yang paling besar pahalanya yaitu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu”.

(Hadits Riwayat Muslim).

Dari sinilah kita memahami konsep zakat di mana “agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja“. Karena harta apapun, termasuk dinar dan dirham akan bisa mengarah pada akumulasi aset (stock). Padahal dinar dan dirham harus senantiasa dipergilirkan bagaikan pergiliran malam dan siang, dari tangan ke tangan, dari kaya ke miskin, dari tua ke muda, dan seterusnya. Dan itu bukanlah wealth transfer semata.

Imam al-Ghozali mengatakan, “min ni’amillahi ta’ala kholqu ad-darahim wa ad-dananir wa bihima qiwam ad-dunya”. (Dari sekian nikmat Allah ta’ala adalah penciptaan dirham dan dinar, dengan kedua mata uang ini maka tegaklah dunia).

Allahu a’lam.

Bacaan :

  1. Imam Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin pada Kitab Syukur (Ihya Ulum al-Din, Jilid IV, diterbitkan di Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 1424 H/2003 M, hal.121-124)
  2. http://dinarfirst.org/rencana-allah-dalam-penciptaan-emas-dan-perak/
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Stock_and_flow
  4. http://www.planetseed.com/relatedarticle/stock-and-flow3

Catatan tambahan:
1. Banyak orang melalaikan konteks Makkah dan Madinah yang memiliki perbedaan pola produksi, yang mempengaruhi perbedaan sosiologis masing-masing penduduk kedua kota. Padahal Ibnu Khaldun sangat jeli dalam membahas ini.
2. Yang disebut flow concept semata-mata bukan uang itu berpindah tangan, tetapi berkaitan dengan persepsi mengenai property (kepemilikan) pada uang sebagai akibat dari komoditas yang menempel pada uang. Sehingga bukan pada ukuran berapa banyak uang beredar (money supply) tapi pada berapa banyak orang (exchange)…

Warning about a Shady Cult: Murabitun and Ian Dallas

Concerning the group Murabitun and their shady leader “Shaykh Abdalqadir al-Murabit” formerly known as Ian Dallas, this is pertinent information and warning from a former member of that cult and respected author AbdurRahman Lomax. This is being reproduced here for the benefit of the Muslim community, particularly new converts who are often preyed on by the members of this group. Brother Lomax writes:
as-salamu ‘alaykum.
I lived for a time, in 1978-79, in Tucson, with the followers of the shaykh, AbdulQadir, and edited and helped to publish a number of books by him. I was ejected from the community rather abruptly, an event which I very rapidly came to appreciate with deep gratitude. I caution my reader against jumping to conclusions about this.
The majority of the people whom I knew as AbdulQadr’s people at that time subsequently left or were thrown out. But I did follow up the web site suggested by Othman and apparently some of the people, especially among the English fuqara, are still with the shaykh. (“Fuqara” literally means “the poor,” but it is used to indicate the followers of a shaykh.)
But what really fascinates me is that, in the United States at least, quite a few of the most knowledgeable Muslims have been associated, at one time or another, with AbdulQadir, some quite closely. AbdulQadr encouraged his followers to pursue their education in traditional ways (at al-Azhar and elsewhere) and he also attracted Muslims who were already well-educated and knowledgeable in the diyn.
So when I saw the article on the Murabitun, which is the name by which his followers are now known, I immediately followed up on it and downloaded the documents at the site. I was immediately struck by one oddity: the style of the writing seemed familiar.
It does, in fact, resemble the style of AbdulQadr himself. I am drawing no conclusions from that fact.
othman@sinet.it (Othman The Italian) wrote:
>The Murabitun sect has for over 25 years used Islam and his people as
>a trampolin to launch freemasonic projects. Its founder, scottish Ian
>Dallas alias Shaykh Abdalqadir al-Murabit, has been an infiltrate
>working closely with right wing neo-nazis and the royal colonial
>family of England.
The article claims that the origins of Ian Dallas are unknown. Probably that is true for him, but Ian Dallas was fairly well-known before he accepted Islam. In the film “Don’t Look Back,” Bob Dylan mentioned him:

“There is only one interesting man in England, and it’s that man Dallas.” Dallas also played the magician, I am told, in the most famous Fellini film, the name of which escapes me at the moment. But I never heard him talk about his pre-islamic life, nor much about himself at all.
>The damage they have inflicted on the Muslim Ummah
>almost can’t be measured:
Well, can it or can’t it be measured? Does that mean that it is very great or very small?
>in Spain they have sold the mosque they ran
>for over a decade to the vatican, ignoring the offers put forth by
>local Muslims; in the UK they attempted a similar act with the Norwich
>Ihasan mosque, but they were promptly stopped by the local Muslim who
>reacted by all possible means.
In Spain, I hope they got a good price.

There are dark implications in the charges. AbdulQadr is called an “infiltrate” (the grammar in the announcement is not as good as on the web page); this is, frankly, ridiculous. He is the leader of a cult, no doubt, and it might be possible that he is “working with the royal colonial [sic] family” in England, but, if so, it would be either calling them to Islam, or working with some of them after they have accepted Islam, or doing business as one would do business with a leading family in a country where one is active.
If a mosque is waqf, it is somewhat offensive that it be sold, but the owner of a building has a right to sell it. Presumably, if they sold a building, they had the right to sell it, else the building was not sold at all…. And that a building is sold to the Vatican (whatever that means: does it mean the Catholic Church or some agency thereof?) is pretty irrelevant.
>Ian Dallas has held secret meetings with ex-CIA agents, freemasons and
>notorious satanist; his litterature is full of reference to the works
>of such people. He went as far as stating that:
And now we come to the meat of the charges. Essentially, the charge is that AbdulQadr is a Sufi. Shocked, I’m shocked….
>– the light of Allah is BLACK,
>– Allah is everywere,
>– the the ummah went astray with Abu Hanifah,
>– Abu Hanifah might have poisoned Ja’far as-Siddiq,
>– The blackstone of the Ka’bah is in reality the Templars’ Holy Grail,
>– Hitler was a Muslim,
>– Saudis are fire-worshippers because they trade in oil,
>…and much more.
Some of these are quite interesting. About the “light of Allah,” what color is it *not*? The one about the Templars is fascinating. AbdulQadr may or may not have said any or all of these things at one time or another, though I somewhat doubt that he said “Allah is everywhere.” However, AbdulQadr was known for saying pretty much whatever needed to be said to shake his people out of their complacency.
> The incredible thing is that for so long he got away
>with it! But then a small group of his follower understood that things
>were wrong and turned against him: they exposed the whole truth,
>working against all odds. Now, after a long struggle, the full text of
>this explosive exposure-book is available on the Net:
What odds? How difficult is it to write a piece and put up a web page? I have not read much of the piece yet, just the first screen of each page and then a fair amount of the postface, a piece by a disgruntled follower — for a short time — of AbdulQadr who clearly has not integrated his experience.
> http://www.sinet.it/Islam/murabit/dall-00.htm
> ,,,,don’t miss it. Before it gets censured!!! After all: you have
>been affected too!!
It would be pretty effective, if one actually fears that there might be some censorship, to post each of the chapters here on s.r.i. But this fear of censorship betrays the paranoia which permeates the book.
Yes, I have been affected, yes, al-hamdu lillah.
I doubt that I would be Muslim today if not for AbdulQadr, though, of course, Allah is the doer of what he intends. In his company and in the company of his followers, I experienced what might be possible in a Muslim society, and then the whole thing was demolished, and I was left to try to rebuild it on my own. This, I think, is his project.
Those who remain attached to him, one should be aware, are not necessarily his true followers. When he told me that I “must” leave, one of his followers said to me, “Don’t pay any attention to that, just hang around and in a few weeks it will all blow over.” I was astounded to hear this.
AbdulQadr had told the story of a faqir of Al-Alawi, I think it was, who was told by his shaykh something like “Go away,” and the man travelled for the rest of his life. He once sent two question to the zawiya for the assembled fuqara to consider. “Are you hobbits, and do you want to change?” (The reference is to Tolkien’s little creatures of comfort and habit.)
The fuqara solemnly considered the question, and decided to send back the message, “Yes, and Yes.” But there was one dissent. I said, for me, the answer was “Yes, and No.” After all, if I wanted to change, surely I would be changing….
I think I may have previously written in s.r.i. how I was asked to leave, but it might have been in private e-mail, so here it is:

I was put into retreat by AbdulQadr, to make hadra. At first, I was not told how long this would go on. I was simply told to stand and make dhikr from fajr to maghrib, and then recite a certain litany until ‘isha, and to continue this until further notice. During the day, other fuqara were sent into the room to stand with me.
Now, I had an image of myself as pretty much of a wimp. But I was amazed to find that, after an hour or two with me, the other fuqara had to stop. They could not keep up.
But, after the first half of a day and the next full day, I was beginning to be pretty sore. And I had business matters which had not been turned over. Anyway, in the middle of the night, I left the retreat and walked home, a few miles away. Shortly thereafter, a message arrived from AbdulQadr. I was to meet him at the zawiya. So I went there and was told that the instructions were that I was to drink a quart of water and have a meal with some meat and wait for him to arrive. Not much later he showed up, and we were left alone.
He said “Don’t worry, I expected you to walk out. But I thought it would take three days.” (Actually, when the khilwa started, I had thought, I could do this for three days, then I’ll have to leave because of the business.)
But I said to him, “I’ve been thinking …” He seemed a bit surprised. “… You told everyone, the other day, that you have been assuming that we have a contract, and that we must tell you if we do not have a contract. Well, we do not have a contract.”
I was referring to “contract” as it is understood in law, which means an agreement between two or more parties where one will do A in consideration of another doing B. It is the essence of a contract that the respective duties be clear. If they are not clear, there is no contract, and it is of the essence of a contract that it cannot be entered into unilaterally. I did not mean that I was not willing or did not *want* to have a contract, but was only indicating that it was not clear.
AbdulQadr’s immediate response was, “you must leave.” Then he said, “It is a shame. You were so close….” Then he said, “You must not talk about fana.” And then he said to go out and eat the meal which had been prepared for me.
So I went out and ate, and the muqaddim (who was subsequently to become another refugee from the fuqara) came and sat with me, and we talked. I said, “when a baby is born, if you try to pull the cord out of the mother too quickly, you can kill the mother.” The muqaddim then went in and spoke with AbdulQadr. He came out shortly and said, “AbdulQadr has three messages for you:”
(1) When you explain a metaphor you kill it.”
(2) You are teaching without knowledge.
(3) You must leave immediately.
When I went home, I found that the fuqara who had been living with me had abruptly moved out. I went to my business, which was being run by fuqara, and it had a note on the door, “closed for the day, sorry for the inconvenience.” I sent a letter to AbdulQadr, I forget what I wrote, probably some bubbles rising from my nafs, and it was returned unopened.
A year or so later, I was travelling in California and I passed through Santa Barbara, where Harun Sugich was living. He had been the muqaddim in Tucson before, somewhat mysteriously, he had been replaced by the man mentioned above. He told me that a few weeks after the incident described, AbdulQadr told him, “I don’t know what AbdulRahman was talking about. I don’t have a contract with anyone.”
Harun gave me a phone number for AbdulQadr who was then in Los Angeles. I called it and one of the English fuqara answered. I said that I had a message for AbdulQadr. He asked me what it was, and I said, “As-salamu ‘alaykum.” The man left the phone for a moment, and then came back. He said, “AbdulQadr returns your salaam and says that whatever you do, you will find success.”
This was, I think, in 1980. I have had no further contact with AbdulQadr.
When the company of the fuqara was taken from me, I was left with nothing but Allah. How could I be other than grateful?
When I was with the fuqara, we spent most of our time sitting around, drinking tea, and talking about how superior Islam was over all the kufr around us. But when I was left to myself, I started to actually read the Qur’an, to put my time into its company. I left Tucson, sold my business (which was a minimum-wage trap for me) for a debt owed, found a new profession (which still supports me and my wife and allows me the time to write), went through personal changes, numerous and extensive, and am still travelling. Perhaps we’ll show up in Philadelphia, perhaps not.
My greetings to the fuqara. Surely the Messenger is found with the fuqara.
Abdulrahman Lomax

Read more: http://www.grandestrategy.com/2012/05/848392928282-warning-about-shady-cult.html

Re-Write Australian History

The discovery that could rewrite Australian history: Ancient copper coins suggest the country was found SIX CENTURIES before Captain Cook arrived

  • Coins found date back as early as the 900s – six centuries before Captain Cook claimed the island for the British throne in 1770
  • They were thought to have originated from a former African sultanate in Kilwa, near modern-day Tanzania

By VICTORIA WOOLLASTON

Five copper coins found in northern Australia could rewrite the country’s history.

The coins are thought to date back as early as the 900s and are believed to have originated in Africa.

Written history of Australia only dates back to 1606, when Dutch explorers landed in the region, and researchers from Indiana University want to find out how the thousand-year-old copper coins ended up on the other side of the Indian Ocean six centuries earlier.

Copper coins, thought to have originated in Africa and dating back as early as the 900s, were discovered on the Wessel Islands on the north coast of Australia in 1944.

+4

Copper coins, thought to have originated in Africa and dating back as early as the 900s, were discovered on the Wessel Islands off the north coast of Australia in 1944. Researchers from Indiana University now want to find out how the coins got to Australia and their findings could suggest the country was found six centuries before British explorer Captain Cook arrived in 1770

WRITTEN HISTORY OF AUSTRALIA

Aboriginal Australians are thought to have first arrived on the Australian mainland by boat from the Malay Archipelago between 40,000 and 60,000 years ago.

However, the first known landing in Australia by Europeans was by Dutch navigator Willem Janszoon in 1606.

Other Dutch navigators explored the western and southern coasts in the 17th century, and dubbed the continent ‘New Holland.’

In 1770, British explorer Captain James Cook explored the east coast of Australia.

The British penal colony was then first established at Botany Bay in January 1788.

During the following century, the British established other colonies on the continent.

This reduced the number of indigenous Australians because of conflict with the colonists and new diseases bought over from Europe.

Australia fought with the British during both world wars.

Lead researcher, Australian scientist Ian McIntosh said the coins were first discovered by soldier Maurie Isenberg in 1944.

Isenberg was stationed on the Wessel Islands – an uninhabited group of islands of the north coast of Australia – during World War II and he found the coins buried beneath the sand.

In 1979, Isenberg sent the coins to an Australian museum and now McIntosh wants to investigate how they arrived on the island.

More…

Isenberg also marked the location the coins were found on a map using an ‘X’.

At the same time, Isenberg found four coins that came from the Dutch East India Company, dating back to 1690.

This discovery supports claims that Dutch explorers discovered the island before Captain James Cook in 1770.

Australian scientist and professor at Indiana University, Ian McIntosh points to the location where the copper coins were found.

+4

Australian scientist and professor at Indiana University, Ian McIntosh, points to the location where the copper coins were found

McIntosh and his team are arranging an expedition to the region in July.

The coins are thought to be of African descent and originated from the former Kilwa sultanate.

Kilwa used to a trade port and had links to India in the 13th to 16th century.

The region is now a World Heritage ruin on an island off Tanzania.

The copper coins were the first coins to ever be produced in sub-Saharan Africa and they have only been found outside of Africa twice.

Once in Oman at the start of the century, and again by Isenberg in 1944.

Australian soldier Maurie Isenberg found the African copper coins under sand on a beach on the Wessel Islands.

+4

The coins were found on a beach on the Wessel Islands. The islands, pictured here at marker A, are off the coast of the Northern Territory of Australia. They were a key strategic position during the Second World War

The copper coins found off the north coast of Australia are said to have originated from Kilwa, a former sultanate island near modern-day Tanzania in Africa

+4

The copper coins found off the north coast of Australia are said to have originated from Kilwa, a former sultanate island near modern-day Tanzania in Africa

It was originally thought that Dutch explorers first ‘discovered’ Australia in the 1600s.

In 1770, British explorer, Captain James Cook was the first European to explore the eastern coast of Australia and claimed the country for the British throne.

McIntosh believes that the coins may indicate that there were maritime trading routes connecting east Africa, Arabia, India and the Spice Islands over 1,000 years ago – much earlier than first thought.

If this theory is proved correct it will mean that other civilisations discovered and made contact with Australia six centuries before the Europeans.

This could mean the history of Australia needs to be rewritten.

Another theory suggests that the coins may have been washed ashore the Wessel Islands following a shipwreck.

McIntosh’s expedition in July may help scientists and archaeologists discover how the coins arrived in Australia.

He will revisit the location marked with an ‘X’ on Isenberg’s map, as well as look for a secret Aboriginal cave. 

The cave is said to be near Isenberg’s beach and is thought to be filled with other treasures.

Read more: http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2327362/Coins-suggest-Australia-discovered-SIX-CENTURIES-Captain-Cook-arrived-island.html

Ajaran Leluhur…

Filosofi Nusantara

Dalam filosofi dasar Nusantara dikenal adanya motto “Memayu hayuning bawana” atau menyelematkan dan mensejahterakan alam semesta raya”. Identik dengan doktrin Islam yakni ”Hablumin alami”. Oleh sebab itu dalam menghargai sesama  mahkluk Tuhan Seru Sekalian Alam, nenek moyang menamakan bumi dengan Ibudan angkasa (langit) dengan Bapa (ayah). Dan sebagai negara agraris telah dipetakan adanya “Pawukon” yakni  Ilmu Perbintangan Jawa (30 rasi berumur 210 hari) dan pedoman perputaran iklim yang memiliki siklusnya masing – masing yang disebut dengan “Pranata Mangsa” yang dikenal sejak abad XIX SM, dua abad sebelum ditemukannya ilmu perbintangan purba bangsa Peru.

  1. A. FILOSOFI  IBU BUMI

Bumi oleh nenek moyang disebut sebagai Ibu Bumi, Ibu Pertiwi atau Ibu Shinta. Mengapa karena bumi sebagai tempat dimana manusia lahir dan ke mana jasad kelak berbaring. Bumi yang memberikan kehidupan seluruh mahkluk hidup di dunia ini. Manusia makan dan minum dari sari – sarinya bumi lewat flora – fauna maupun air. Oleh sebab itu setiap bapak tani memulai menanam padi ataupun  memanennya senantiasa diiringi dengan upacara ritual termasuk rasa syukur dengan istilah sedekah bumi, bersih desa dll.  Mereka pantang pula meludah langsung ke bumi. Kini bumi dikotori, diperah, dijarah, dibor tanpa adab. Maka peristiwa Lapindo nampaknya merupakan pelajaran yang amat berharga. Secara filosofis bisa jadi menyiratkan makna bahwa   “laku – lampah bangsa Indonesia ini telah penuh dengan lumpur dosa”.

  1. B. BAPA KUASA

Langit disebut dengan Bapa Angkasa atau Bapa Kuasa ? Mengapa ?

Manusia masih dapat bertahan hidup dengan tidak makan maupun minum  yang dihasilkan dari bumi. Namun manusia tidak akan mungkin mampu hidup tanpa oksigen (udara) selama 2 jam saja, yang diberikan oleh angkasa raya ini. Oleh sebab itulah dinamakan Bapa Kuasa (bukan Bapa Maha Kuasa).  Karena demikian vital ke dua mahkluk Tuhan Seru Sekalian Alam tersebut keduanya selalu disebut  dalam setiap doa mereka. Sedang sebutan bagi Yang Maha Kuasa adalah “GUSTI” yang digambarkan dengan “Cedhak tanpa senggolan  adoh tanpa wangenan, lan tak kena kinaya ngapa” (Dekat tiada bersentuhan jauh tanpa batas dan tiada dapat diserupakan dengan apapun juga).

  1. C.TANAH AIR

Keberadaan keduanya yakni Ibu Bumi dan Bapa Kuasa yang dilambangkan merah dan putih adalah merupakan tanah air – atau tumpah darah. Bangsa barat hanya mengenal istilah “Father Land” saja. Oleh sebab itulah warna merah dan putih disamping melambangkan tanah air juga asal muasal terjadinya manusia dari sel darah merah (Sang Ibu) dan darah putih (Sang Bapa) yang unsurnya disamping : bumi dan udara juga air dengan api (panas). Oleh sebab itu manusia dianggap sebagai mikro kosmos, yang juga memiliki miniatur kutup utara (Iceland), yakni kepala dan kutub selatan (greenland) yakni kedua belah kaki serta anasir kehidupan tadi dalam organ manusia. Maka untuk menghormati keberadaan asal usul manusia tersebut oleh   Kerajaan Majapahit yang kala itu mengembangkan agama “Siwa – Buddha Tatwa”, dijadikan umbul – umbul “Gula – Klapa

  1. D. PAWUKON & PRANATA MANGSA

Ilmu perbintangan Jawa adalah terkaya karena berjumlah 30 rasi yang siklusnya 7 (tujuh) hari yang dimulai setiap hari Ngaad (Minggu), yang ditandai dengan rasi pertama “Shinta” (Sang Ibu) dan terakhir (ke 30) “Prabhu Watu Gunung” (Sang anak sekaligus suami). Adapun nama – nama haripun menggunakan lambang planet yakni : Radi/Radite (Senin) = Matahari; Anggara (Selasa) = Mars; Respati/Wrahespati = Yupiter; Budo (Rabo) = Mercurius; Sukro (Kamis) = Venus; Soma (Jumat) = Rembulan dan Sinta (Saptu) = Bumi (dunia). Filosofi awal (Matahari) dengan akhir (Bumi) kembali termanifestasi ke dalam huruf HA dan NGA yang luluh menjadi “HONG”. Sejalan dengan Alkitab Wahyu 22 : 13 “DIA – lah yang Awal dan Yang Akhir”. Aku adalah Alpha & Omega“, juga Al – Qur’an Surat Al Hadid 57 : 3 “DIA – lah yang awal dan akhir, Yang Lahir dan Yang Batin. DIA Maha Mengetahui Segalanya”. Dan dalam alphabetik Jawa ” HA NA CA RA KA” bila dibalik ternyata identik dengan huruf Arab yang bunyinya “Qur’an”. Dan huruf Jawa yang jumlahnya 20 itu bukankah memiliki makna filosofis tentang “Sangkan Paraning Dumadi” ? Bukankah 20 itu merupakan sifat – sifat Sang Khaliq sendiri

  1. E. KEBENARAN FILOSOFI NUSANTARA

Disamping filosofi tersebut dalam dunia pewayangan dalam awal dan akhir pementasan selalu didahului dan diakhiri dengan “Gunungan” yang merupakan simbul alam semesta raya.

Oleh sebab itu sehebat apapun manusia dia hanyalah wayang belaka maka pemahaman“sak derma hanglakoni” (sekedar menjalankan ketentuan Tuhan Seru Sekalian Alam) adalah benar adanya.

Dalam buku “Menguak Hiruk Pikuk Tahun 2005 – 2006, Menunggu Munculnya Semar Super Seiring Suro 1938 SJ” salah satu bahasannya adalah  adanya “Pencanangan Semiliar Pohon“.Sembari menunggu hasil kongkrit   konferensi Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, mari kita berjuang bersama – sama menyelamatkan bumi seisinya secara syariati dan secara batini.  Kita rekat kembali dan hayati  filosofi Nusantara “Memayu Hayuning Bawana”  & “Ngawula dumateng kawulaning GUSTI”.

Ajaran illahi akan kembali ke diri ummat manusia,Ajaran itu datang melalui wahyu sebagai penenang / pengingat,karena Ia merupakan rangkuman perjalanan semesta…beserta isinya..sebelum dan sesudah…dengan wahyu manusia bisa di ukur kapasitasnya, Al Quran Surat Albaqarah 29.” Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. hal terkait menurut sejarah ajaran  leluhur Nuswantara ada 7 tingkatan di urut dari strata paling bawah :

1.Manggala Kasungka

2.Manggala Seba

3. Manggala Raja

4. Manggala Wening

5. Manggala Wangi

6. Manggala Agung

7. Manggala Hyang.

tujuh hal tersebut menjadi takaran para leluhur untuk mengukur kualitas manusia. Jejak ajaran ini ada di Nuswantara,kemudian terangkum dalam ajaran Illahi (Alquran) sampai di pahami penjuru semesta,hanya kemudian ada yg menyalahgunakan untuk   saling menghancurkan..

Untuk itu mari kita bangun Nuswantara dengan ajaran Illahi yang telah di terapkan oleh leluhur hingga mencapai peradaban luhur yang bertatanan adiluhung,untuk generasi masa depan, yang berbudi pekerti luhur.

QS. Al-Alaq 1-4 (terjemahan) :”Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan Kalam.”
Dalam Brahama Sutra disebutkan : ““Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.
Q.S.Al-Baqarah(2):213:”Manusia itu adalah umat yangsatu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkarayang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orangyang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orangyang beriman kepada kebenaran tentang halyang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orangyang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

AGAR TIDAK ADA LAGI KEKERASAN DI SEMUA SISI KEHIDUPAN,BAIK FISIK MAUPUN SEPIRITUAL…NYAWIJI MARANG HYANG WIDHI..BERTAOHID..maka JAYA NUSWANTARA….

Bhinneka Tunggal Ika : Berbeda tapi satu tujuan

Menjadi budaya pribadi dan bangsa menuju pendidikan antar bangsa. Capai perdamaian, hak asasi, demokrasi, pembangunan berkelanjutan, dunia sejahtera. Membangun budaya pribadi yang mandiri. Siap trampil yang hakiki mengisi masa depan gemilang.

Membangun negara, hapus diskriminasi, lindungi lingkungan, padukan nilai kemanusiaan.
Kontemporer, tradisional secara berimbang, adil dan manusiawi.

Membangun dunia, terus tebarkan rahmat, tanamkan ta’aruf kemanusiaan.
Ajaran Illahi untuk semua. …Ajaran Illahi untuk semua….

Kisah Nuswantara…

Inilah negeri Nuswantara

Bismillahirrahmanirrahim…

“..Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S Ar-Ra’d: 11)

Berawal dari kisah Kobil dan Habil yang merupakan keturunan langsung dari Nabi Adam AS maka proses penyebaran penduduk bumi ini yang disebut sebagai khalifah telah melalui proses yang sangat panjang sekali (Q.S Al Maidah : 27) 

Tetapi dari cerita di atas ternyata ada sebuah kisah dan hikmah yang nyaris tidak pernah dipublikasikan kepada umum dikarenakan sumbernya yang masih berdasarkan cerita turun temurun dari nenek moyangnya. 

Alkisah dahulu kala Nabi Adam AS beserta Hawa setiap melahirkan anak yang selalu “kembar” laki-laki dan perempuan. 

Hingga akhirnya dari 3 anak laki-lakinya (beserta istrinya ; dengan cara kawin silang antar saudara) tersebut diperintahkan untuk mengisi masing-masing negeri yang masih kosong. 

  • Satu anaknya yang pertama mendiami daratan Afrika.
  • Satu anaknya yang kedua mendiami daratan Arabia.
  • Dan yang ketiga mendiami daratan Asia (tanah jawa).

Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa diantara anaknya yang paling “CERDAS” itu tiada lain bernama Nabi Sis AS ditunjuk untuk menempati daerah yang disebut sebagai tanah Jawi. 

Beliau inilah yang merupakan cikal bakal nenek moyang kita yang diturunkan di tanah JAWA ini. 

Sebagai seorang Nabi beliau selalu mengemban tugas untuk saling memperingatkan kaumnya  satu dengan yang lainnya untuk saling berbagi rezeki dan mempersembahkan Kurbannya “hanya” untuk Allah SWT sebagai tanda ujud syukur atas ketaqwaannya sebagai pemimpin di tanah jawa ini. 

Selain itu, sifatnya Nabi Sis AS yang lembut, sopan santun dan berilmu tinggi serta diberikan kecerdasan yang sangat luar biasa oleh Allah menjadikan beliau ini selalu menghasilkan hal-hal yang bersifat baru dan berteknologi sangat tinggi dan akurat untuk kurun waktu / masa saat itu. 

Hal ini dtandai dengan penemuannya tentang caranya bercocok tanam yang baik dengan memperhatikan musim yang bersadarkan pada perhitungan bintang (Falak), pembuatan tempat persembahan berbentuk Piramida untuk Tuhannya (baik berupa binatang maupun hasil bumi) maupun bagaimana memproses tanah (logam) menjadi sebuah benda yang dapat dipergunakan untuk keperluan hidup sehari-hari (Nujum). 

Itulah keistimewaan Nabi Sis AS dengan kelemah-lembutannya, kepekaan sosialnya yang tinggi serta kecerdasannya yang luar biasa akhirnya sama penduduknya digambarkan sebagai seorang ‘SEMAR’. 

Kata ini di ambil dari kata “samiri” yang artinya samar-samar / kasat mata karena beliau sehari-hari laku / kerjanya hanya beribadah kepada Tuhannya. 

Tiada laku hidupnya hanya untuk dipersembahkan kepada Tuhannya saja, tidak lebih. 

Makanya emas, perak, dan semua perhiasan maupun hasil bumi yang melimpah di bumi jawa  ini hanya sebagai “sarana” saja untuk menuju ketakwaan kepada Tuhannya. 

Dilain sisi, dengan kecerdasannya yang sangat tinggi itu melahirkan bangunan kota modern yang tersistematis dengan desa-desa beserta irigasinya yang tertata rapi serta tata kota pemerintahan berada dipusatnya (epicentrum). 

Inilah negeri yang selama ini disebut sebagai negeri Atlantis yang telah hilang itu (Arysio Santos – The Lost Continent Finally Found). 

Negeri kita Indonesia Raya, dimana sang nyiur tak pernah lelah melambai-lambai memanggil ibu pertiwi. 

Negeri peradaban dunia yang banyak dicari orang selama ini. 

Bukti bahwasanya kita adalah  negeri yang sangat tinggi ditandai dengan kebudayaannya yang beraneka warna, beragam bahasa, beragam adat istiadat, beragam suku yang membaur dalam balutan sang “Merah Putih”. 

Negeri kemerdekaan untuk semua ummat. 

Negeri yang cinta damai. 

Tetapi seiring dengan perkembangan waktu di negeri Atlantis ini, sang keseimbangan alam “Raksasa” (Gunung Toba dan Gunung Krakatau) mulai menunjukkan tanda-tanda “saat”-nya sudah mau tiba. 

Maka berbondong-bondonglah sebagian besar penduduknya dengan menggunakan perahu Raksasa menaiki itu kapal dan meninggalkan negeri Atlantis menuju negeri asing lainnya. 

Hingga “saat” itu benar-benar terjadi yaitu dengan meletusnya gunung Toba yang konon diameter kawahnya sekitar 50 km meledak, mendesak magma ke segala arah lalu meledakkan gunung Krakatau juga dan membumi hanguskan semua yang ada disekitarnya, membuat dunia gelap gulita selama 100 tahun lamanya serta mencairkan lapisan es yang menutupi daratan yang sekarang disebut benua Eropa itu. 

Begitu juga air laut-pun naik hingga mencapai 200 meter ! menenggelamkan lembah-lembah pertanian yang subur dulu menjadi sebuah lautan. 

Seiring berakhirnya masa “Banjir” bandang sedunia itu maka para khalifah yang baru inipun mulai berpencar ke seantero daratan yang “baru” seperti bumi eropa, amerika, arabia  maupun afrika. 

Dinegeri baru  inilah mereka mengajarkan ilmunya kepada penduduk lokal sebagai rasa sumbangsihnya terhadap daratan yang baru dihuninya. 

Berhubung mereka ini termasuk ummat-nya yang paling cerdas maka lambat laun mulai ramailah peradaban baru ditanah yang baru ini. Tapi mereka juga tak luput menceritakan asal usul tanah kelahirannya yang nun jauh di seberang dalam berbagai ragam kisah yang unik yang termaktub dalam berbagai kitab para nabi-nabi / pujangga sesudahnya. 

Wallaahu Alam Bishshowab. 

Jadi seandainya seluruh penduduk dunia ini disuruh tinggal di bumi Nuswantoro ini maka mereka akan “betah” dan merasa tidak asing, mengapa ? jawabnya ya karena sebetulnya Indonesia terutama tanah jawa ini merupakan ‘MOTHER HOME” city untuk seluruh ummatnya Nabi Adam AS. 

Kalaupun ada yang mengklaim bahwasanya Bani Israel itu adanya hanya di negeri Arab, itu juga nggak salah, karena nenek moyang kita juga menyebar kesana. Tapi kalau kita minder dan merasa sebagai bangsa yang terbelakang maka jawabannya nanti dulu… 

Karena kitalah sesungguhnya RAS PALING UNGGUL diseluruh dunia ini. 

Kadang dengan kecerdasan kita yang MasyaAllah menjadikan kita saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Saling beradu mulut, adu gengsi, dan seterusnya. Dan tidak akan diketemukan dinegeri manapun dimuka bumi ini kecuali Indonesia. 

Itulah ciri negeri para FILSAFAT yang “ADA” dan “BERADA” sebelum negeri-negeri “Teknologi” maupun negeri KEYAKINAN” saling bermunculan di bumi ini. 

Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mah…era.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi.
Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.
Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.

kemungkinan nabi Sis A.S adlh nabi syit..

Dalam bahasa Jawi Kuno, arti jawa adalah moral atau akhlaq, maka dalam percakapan sehari-hari apabila dikatakan seseorang dikatakan : “ora jowo” berarti “tidak punya akhlaq atau tidak punya sopan santun”,
Menurut “mitologi jawa” yang telah menjadi cerita turun temurun, bahwa asal usul bangsa Jawa adalah keturunan BRAHMA DAN DEWI SARASWATI dimana salah satu keturunannya yang sangat terkenal dikalangan Guru Hindustan (India) dan Guru Budha (Cina) adalah Bethara Guru Janabadra yang mengajarkan “ILMU KEJAWEN”. Sejatinya “Ilmu Kejawen” adalah “Ilmu Akhlaq” yang diajarkan Nabi Ibrahim AS yang disebut dalam Alqur’an “Millatu Ibrahim” dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam wujud Alqur’an dengan “BAHASA ASLI (ARAB)”, dengan pernyataannya “tidaklah aku diutus, kecuali menyempurnakan akhlaq”.

Dalam buku kisah perjalanan Guru Hindustan di India maupun Guru Budha di Cina, mereka menyatakan sama2 belajar “Ilmu Kejawen” kepada Guru Janabadra dan mengembangkan “Ilmu Kejawen” ini dengan nama sesuai dengan asal mereka masing2, di India mereka namakan “Ajaran Hindu”, di Cina mereka namakan “Ajaran Budha”.dan ditimur tengah Islam Dalam sebuah riset terhadap kitab suci Hindu, Budha ,Injil dan Alqur’an, ternyata tokoh BRAHMA sebenarnya adalah NABI IBRAHIM, sedang DEWI SARASWATI adalah DEWI SARAH yang menurunkan bangsa2 selain ARAB. sedangkan dalam bahasa Ibrani ABRAHAM.,

#Brahma adalah Nabi Ibrahim

terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.

Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).

Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Jadikan semua perbedaan yang ada ini sebagai satu kekuatan nasional yang dahsyat untuk membangun jati diri bangsa ini menggapai mercusuar dunia yang tidak lama lagi ada dihadapan kita. 

ingatlah wahai kaum bani jawi! dulu kamu pernah jaya. Kini ibumu Keturah telah memanggilmu.
Baiklah aku mengalah, dengarkan lagi ceritaku sekedar usaha menyadarkan, wahai bani jawi ….. carilah tentang siapa dirimu? dari mana kamu berasal? ini semua aku lakukan agar kamu teringat kembali akan asal-usulmu ….. aku menangis meraung-meraung melihat kamu tertidur bagaikan mayat …. ya bagaikan mayat berjalan.
Bangunlah dari tidurmu, jika kamu bangun aku percaya pasti kamu akan ingat akan“hirup” dan “ngahuripkeun” tali Allah, itulah keadaanmu dulu mengemban amanah leluhur kita nabi ibrahim a.s. …. itulah janjimu “hidup” di dunia ini, jika keadaanmu telah “hidup” kamu akan seperti nama ibumu Keturah yg selalu harum mewangi selamanya …… 

WASIAT TERAHASIA NABI IBRAHIM A.S.

Nb ibrahim a.s. bapak para nabi, mempunyai 3 (tiga) istri yaitu Siti Sarah, Siti Hajar dan Siti Qanturah (Qatura/Keturah). Sarah melahirkan Ishak (Isaac), Hajar (Hagar) melahirkan Ismail (Ishmael) dan Keturah melahirkan 6 (enam) org anak yaitu Zimran, Jakshan, Medan, Midian, Ishbak dan Shuah.
“Now the sons of Keturah, Abraham’s wife:she bare Zimran, and Jokshan, and Medan, and Midian, and Ishbak, and Shuah. And the sons of Jokshan; Sheba, and Dedan.” (Genesis 1:32

Silsilah  Bani Jawi

Dari istri Keturah lahir bani jawi, agama jawi adalah agama nabi Ibrahim a.s. dan dari sinilah kelak akan lahir SP/RA/al-mahdi.
Fitnah telah terjadi thdp istri2 nb Ibrahim a.s., hanya Sarah sj yg disebut istri. sedangkan Hajar dan Keturah disebut gundik. Rahasia terbuka, ternyata Siti Hajar yg difitnah sbg budak ternyata adalah putri Firaun yg dihadiahkan kpd Nabi Ibrahim a.s. untuk menebus rasa bersalah Firaun ketika berkali2 ingin memperkosa Siti Sarah semasa nb Ibrahim a.s. & Siti Sarah dalam tahanan. Dengan kuasa Allah swt setiap kali Firaun datang hendak berbuat senonoh memperkosa Siti Sarah, perbuatannya selalu terhalang secara aneh berkat doa nb Ibrahim a.s.. Dari situlah baru Firaun sadar bahwa nb Ibrahim bukanlah orang sembarangan, beliau orang suci yg harus dihormati. Akibat rasa bersalah yg teramat sangat maka bukan saja Firaun membebaskan kedua2nya tetapi malah menghadiahkan kpd mereka dgn seorang perempuan muda yg tertutup wajahnya sbg “kifarat” dan hadiah kpd Nb Ibrahim. Rahasia perempuan muda ini terbongkar ketika berjalan pulang dimana nb Ibrahim membuka tutup kepala perempuan itu sambil mempertanyakan asal-usulnya. Alangkah terkejutnya Nb Ibrahim dan Siti Sarah mendengar pengakuan bahwa dia adalah anak perempuan Firaun, dia seorang putri raja agung. Tersentuh hati nb Ibrahim sambil berucap rasa syukur kpd Allah swt yg hendak berkehendak menjaga keturunan sebaik-baiknya.
Jadi keturunan nb Ibrahim yg bernama Ismail yg turun kpd nb Muhammad saw adalah keturunan raja dari raja yg agung Firaun yg pengaruhnya melewati Anatolia dan Kanaan ketika itu (Firaun ini berbeda dgn Firaun pd jaman nb Musa, karena Firaun ini hidup lebih lama dari Ramses II karena sejaman dgn Nb Ibrahim a.s.).
Pada jaman nb Ibrahim tdk ada bangsa yg disebut sbg Yahudi dan sesungguhnya nb Ibrahim bukanlah seorang Yahudi, beliau berasal dari satu kaum purba yg sejaman dgn bangsa Hittites yg telah raib dan bangsa misteri di mesir (Firaun tadi) yg mungkin mewarisi rahasia piramid  dan teknologi canggih zaman itu kpd bangsa Qibti yg menjadi pemerintah setelah itu termasuk Ramses II di jaman nb musa a.s.
Al-Qur’an surah Ali Imran 65-68 :
“Wahai ahli-ahli kitab! mengapa kamu berani berbantah-bantahan tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim, apakah kamu tidak berfikir?
Beginilah kamu, kamu ini bantah-bantahan ttg hal yg kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah ttg hal yg tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yg lurus lagi berserah diri dan sekali-sekali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musrik 

Siapakah istri ke-3 yg bernm Keturah yg melahirkan bangsa Mala? atau bani Jawi?
Didalam mitologi jawa, diceritakan bahwa salah satu leluhur bangsa sunda (jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda yg bermukim di Gunung Mahera.
(Mala itu artinya gunung? bukankah Walwatika & saelendra juga yg dimaksud adalah orang2 gunung? ia ada dimana? ada di tanah nusantara ini?)
.
Kitab al-kamil fial tarikh karya ibnu athir, menyatakan bahwa bani jawi (bangsa sunda, jawa, melayu sumatera, bugis ….. dsb) adalah keturunan nabi ibrahim a.s.
Bani Jawi sbg keturunan nb ibrahim semakin nyata ketika baru2 ini penelitian prof. Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mendapatkan data bahwa di dalam DNA melayu tdp 27% variant mediterranaen (merupakan DNA bangsa2 EURO-semetik). Variant mediterranaen sendiri tdpt juga dalam DNA keturunan nb ibrahim yg lain spt pd bangsa arab dan bani israil.
BRAHMA ADALAH NB IBRAHIM? . mitos brahma sbg leluhur bangsa2 di nusantara boleh jadi merupakan peristiwa sejarah yakni mengenai kedatangan nb ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristri Siti Qanturah (Qatura/Keturah) yg kelak akan menjadi leluhur bani jawi.
Nb Ibrahim berasal dari bangsa ibriyah atau ‘abara yg berarti menyebrang, nama ibrahim merupakan asal dari nama brahma. Beberapa fakta :
# nb ibrahim memiliki istri bernama sara, sementara brahma pasangannya bernama Saraswati.
# nb Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya Ismail, sementara brahma terhadap anak sulungnya atharva.
# brahma perlambang monotheisme yaitu keyakinan kpd TYME (brhaman), sementara itu nb Ibrahim adalah rasul yg mengajarkan ke esaan Allah.
# nb ibrahim mendirikan baitullah (ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara brahma membangun rumah tuhan agar tuhan di ingat di sana. 

Suku jawa sdh sejak dulu menganut monotheisme spt keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau sangkan paraning dumadi. Selain suku jawa pemahaman monotheisme juga tdpt di dalam masyarakat sunda kuno. hal ini bisa kita jumpai pd keyakinan sunda wiwitan mereka meyakini adanya Allah Yang Maha Kuasa yg dilambangkan dgn ucapan bahasa “nu ngersakeun” atau disebut juga Sang Hyang Keresa.
Adalah wajar mayoritas bani jawi menerima islam sbg penyempurna ajaran monotheisme (tauhid) yg dibawa leluhur nb Ibrahim a.s. 

Kita telusuri bait 28 kitab Musarar Jayabaya
“Prabu tusing waliyullah, kadhatone pan kalih, ing mekah ingkang satunggal, tanah jawi kang sawiji ……………….”
(raja utusan waliyullah berkedaton dua di mekah yg pertama, tanah jawi yg satu ….) 

Mungkin cucu cicit gadis misteri Kuturah ini tadi ada di situ? Bangsa Keturah telah bersatu di tanah jawa di tanah yg dijanjikan “the land of the east”. Akan tetapi apakah mrk masih teringat akan amanat nb Ibrahim a.s.?
ajaran Ibrahim janganlah dilupakan, bangsa ini telah lupa ingatan ……………!
wahai bani jawi cobalah ingat2 lagi amanah wasiat terahasia nb Ibrahim, dengarkan !
saat detik-detik nb ibrahim akan menutup mata terakhir! Beliau mengumpulkan anak2 Keturah ……………………..
“Abraham took another wife, whose name was Keturah.She bore him Zimran, Jokshan, Medan, Midian, Ishbak and Shuah.Jokshan was the father of Sheba and Dedan; the descendants of Dedan were the Asshurites, the Letushites and the Leummites.The sons of Midian were Ephah, Epher, Hanoch, Abida and Eldaah. All these were descendants of Keturah.” (Genesis 25:1-4)

Nb Ibrahim pun memanggil anak2nya dari Keturah, zimra, jukshan, madyan, ishbak, medan dan shuah pun mengelilingi ayahnda yg sudah sepuh. Mereka semua sudah melewati usia remaja dan tumbuh sbg anak2 yg kuat dan cerdas menuruni kehebatan bapak mereka serta sifat tenang siti keturah wanita misteri dari timur. Nb Ibrahim berpesan kpd mereka suatu PESAN YG TERAMAT PENTING. kelihatan satu persatu air mata mengalir ke pipi pada wajah anak2nya. 

Nabi Ibrahim a.s. menjelang menunggu dijemput oleh malaikat maut, terkenang akan masa lalu yg telah ia lalui, dalam hati nb Ibrahim amat bersyukur kpd Allah swt karena memberikan anugrah yg berlimpah2 selepas kehamilan Sarah istri pertama yg sekian lama tidak melahirkan anak dan nyaris dianggap mandul (QS Hud :72).
Ketenangan lebih terasa di wajah nb Ibrahim setelah Siti Sarah tidak lagi menunjukan perasaan cemburu kpd siti Hajar dan anaknya Ismail. Semua misi dan perintah Allah swt telah dijalankan dgn tabah dan bijaksana, seperti berjalan melitasi empayar firaun kuno (Allah swt menakdirkan beliau bertemu dgn istri keduanya yaitu siti Hajar), perdebatan dgn raja Namrud (nimrod), peristiwa di bakar api besar, peristiwa hijrahnya siti Hajar dgn Nb Ismail serta perintah mengorbankan anaknya.
Disaat-saat ajan sudah dekat, Allah swt pun mewahyukan kpdnya untuk melaksanakan satu misi penting sebelum menutup mata di dunia fana ini. SATU MISI TERAHASIA yg hanya terungkap dalam munuskrip kuno yg dicari-cari, yang tersembunyi …………. 

“Jika itu yg Allah swt perintahkan kpd ayahanda, kami sanggup melaksanakan, semoga Allah swt memberkati kita semua dengan rahmat dan kasih sayangNya”

Nb Ibrahim tersentak dari lamunannya takkala mendengar seorang anaknya berkata demikian. Lega hati nb Ibrahim demi mendengar kata2 anak2nya, satu persatu menyatakan KESANGGUPANNYA melaksanakan perintah Allah swt, maka Nb Ibrahim pun bangkit dari tempat duduknya. Beliau kelihatan MENGAMBIL SESUATU …… anak2nya berpandangan satu sama lainnya. APA YG INGIN DILAKUKAN OLEH AYAHNDA MEREKA? 

“Abraham left everything he owned to Isaac.But while he was still living, he gave gifts to the sons of his wife and sent them away from his son Isaac to the land of the east” (Genesis 25:5-6)

Nb Ibrahim pun MEMBERIKAN SESUATU yg amat BERHARGA kepada anak2nya, SESUATU YG MENJADI RAHASIA KPD KETURUNAN KETURAH. KUNCI-KUNCI RAHASIA PERMATA-EMAS atau MEWARISKAN PUSAKA (KERIS) juga sebagai tanda menunjukan mrk adalah keturunan nb Ibrahim “patriach” bertaraf rasul yg bergelar kekasih Allah swt. RAHASIA YG DICARI-CARI DIBURU DAN DI IDAM2KAN KAWAN DAN LAWAN. 

Musarar Jayabaya (asmarandana) no.10.
Ecis wesi udharati, ing tembe ana maulana, pan cucu rasul jatine, alunga mring tanah jawa, nggawa ecis punika, kinarya dhuwung puniku, dadi punden bekel jawa”

(sejata pusaka keris berguna untuk mengatasi masalah, kelak kemudian hari ada maulana, masih cucu rasul yg mengembara sampai ke pulau jawa membawa pusaka tsb kelak menjadi cikal bakal tanah jawa) 

“…sent them away from his son Isaac to the land of the east.” (Genesis 25:6 New International Version) 

maka mereka anak2 Keturah bergerak ke arah timur …
melintasi padang pasir dan kota-kota Akkadia-Babilon, di suatu tempat mereka pun berhenti dan membincangkan sesuatu, melaksanakan perintah Allah swt yg diwariskan oleh ayahnda mereka dibaca kembali satu persatu. mereka pun berdiskusi dan kelihatannya mereka berpencar menjadi dua. 

Diatas adalah petikan dari kitab kejadian dan kitab injil yg merupakan penyimpanan rahasia terbesar berkenaan satu bangsa yg berkerak ke timur dunia bagi pengembangan keturunan manusia seperti yg diperintahkan Allah swt.
Bangsa terahasia inilah yg merupakan PEMEGANG RAHASIA AKHIR JAMAN, SEKALIGUS YG MENJADI SUMBER ALTER TERAHASIA BANGSA MISTERI. 

Apakah yg dimaksud ALTER?
alter (kemampuan spritual luar biasa yg menakjubkan) selalu tersembunyi dibelakang personaliti utama yg membayang2i alter2 tersembunyi di belakang personaliti utama yg membayangi alter2 tadi. ttp apabila subyek berada dalam keadaan tertentu dimana personaliti utama tidak mampu menangani, alter ini akan tiba2 muncul dan bereaksi (menakjubkan), maka subyek td akan berubah menjadi alter lain berbeda dari alter utama (personaliti utama). Alter inilah yg tersembunyi didalam setiap orang bani jawi YANG KENAL DIRINYA, ASAL USULNYA DAN SIAPA DIRINYA YG SEBENARNYA? 

Kini mereka keturunan Keturah telah sampai ditempat yg dimaksud, mereka bertemu kembali dan berpeluk-pelukan dan merayakan kemenangannya telah menemukan benua yg dijanjikan. Kerena kelelahan mereka tertidur panjang, istirahat dengan lelapnya. tanpa ada yang mengganggu. bangsa yg hilang tetap tersembunyi. AJARAN IBRAHIM MAKIN BANYK DILUPAKAN, TIADA SIAPA LAGI YG MENGETAHUI TTG TUHAN YG MAHA ESA ……… 

Akan tetapi generasi bangsa jawi yg tumbuh tetap mencari Tuhan di tanah Jawi, datanglah Hindu, Budha, Islam ….. telah menemui sesuatu yg hilang sejak ribuan tahun silam, mengingatkan wahyu warisan dari ayahnda nabi Ibrahim a.s. …maka tdk heranlah klo masyarakt Indonesia menerima islam karena nenek moyang kita mengajarkan MONOTAISME…
Kemudian datang UJIAN …… datang imperalis Portugis, Belanda, Inggris …… nusantara sebagai bangsa Mala yg dulunya bersatu telah cerai berai terbelah belah ……… 

Dalam bait Uga Wangsit Siliwangi:”Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.”

  • ”Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli, memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omong­an, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Sudah pasti: bunga teratai hampa sebagian, bunga kapas kosong buahnya, buah pare banyak yang tidak masuk kukusan. Sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar keblinger.”

Mangan ora mangan asal kumpul katanya setelah di jajah oleh imperalis, menjadi bangsa yg tidak bersemangat. Layu …
Dimanakah alter terahasia bangsa jawi? dimana?
Bangsa terbaik, agama terbaik …… apabila bangsa ini menghayati agama sendiri, maka akan terangkatlah ALTER TERAHASIA BANGSA JAWI. 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Hujuraat : 13.)

“..Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan [768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(Q.S Ar-Ra’d: 11)
Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.(Q.S.Ar-Ra’d :18)

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,.(Q.S.Ar-Ra’d :19)

yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian..(Q.S.Ar-Ra’d :20)

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do`a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya [769]. Dan do`a (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka…(Q.S.Ar-Ra’d :14)

Q.S.Al-Baqarah(2):213:”Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”

Q.S.AL-Maaidah(5):48 :”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian [421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu [422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat(saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu

bila bangsa ini ditata dgn baik dgn hukum ilahi dan benar dengan dilandasi Kerjasama,Toleransi dan damai. …maka jayalah negri ini…

Asal kata Nama Indonesia

mungkin masih ada yang penasaran tentang asal kata nama INDONESIA… 

Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama.
Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai (“Kepulauan Laut Selatan”).
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (“Pulau Emas”, diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi (“kemenyan Jawa”), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil ”orang Jawa” oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi (“semuanya Jawa”).
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut ”Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai ”Hindia Belakang”, sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah ”Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu Insulinde, yang artinya juga ”Kepulauan Hindia” (dalam bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20. 

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis

Sumber : http://ruangpelangi.wordpress.com/nusantara/